Kelapa Sawit jadi Stimulus Kenaikan Industri Manufaktur

 

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan industri manufaktur bertumbuh sebesar 4,84 persen pada kuartal III ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni 4,52 persen. Angka ini lebih baik dibandingkan realisasi kuartal sebelumnya, yakni 3,34 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan, pertumbuhan ini didorong oleh kinerja industri nonmigas dengan pencapaian 5,49 persen atau lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 4,77 persen.

Sementara, industri migas, seperti batu bara, serta pengilangan migas bergerak negatif sebesar 0,49 persen, meskipun pencapaiannya tahun lalu masih positif 3,89 persen.

Menurut Suhariyanto, industri makanan dan minuman berkontribusi positif dengan pertumbuhan sebesar 9,46 persen. Ditambah lagi, peningkatan produksi minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) sepanjang kuartal III.

“Industri makanan dan minuman bergerak membaik ke angka 9,46 persen yang utamanya didorong oleh peningkatan produksi kelapa sawit dan berdampak pada produksi CPO,” terang Suhariyanto di Gedung BPS, Senin (6/11).

Lebih lanjut ia menuturkan, kinerja positif juga ditorehkan oleh industri mesin dan perlengkapan dengan besaran 6,35 persen dan industri alat angkutan dengan besaran 5,63 persen.

 

Peningkatan industri mesin ini dianggap sejalan dengan peningkatan aktivitas konstruksi dan memulihnya sektor pertambangan seiring membaiknya harga komoditas.

Meski begitu, ada pula sektor manufaktur yang mengalami kemunduran, yakni industri barang galian bukan logam dengan pertumbuhan negatif 2,29 persen. BPS mengaku masih akan mengecek penyebab utamanya.

“Meski demikian, tren ini membaik terus. Bahkan, angka ini merupakan yang tertinggi sejak kuartal I 2016,” paparnya.

Industri manufaktur masih jadi penyumbang terbesar bagi Produk Domestik Bruto (PDB) dari sisi kontribusi lapangan usaha dengan besaran 19,91 persen dan berkontribusi 1,02 persen terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga yang sebesar 5,06 persen.

Angka ini juga terbilang membaik dibanding kuartal I dan kuartal II 2017, di mana industri manufakur masing-masing berkontribusi terhadap 0,92 persen dan 0,75 persen di pertumbuhan ekonomi periode tersebut.

“Namun, kami harap, pertumbuhannya bisa segera membaik di kuartal IV mendatang,” pungkasnya.

 

Sumber: Cnnindonesia.com