Komoditas Bangkit

 

JAKARTA-Kenaikan harga minyak mentah tahun ini berpotensi memicu kebangkitan saham-saham sektor komoditas yang menjadi substitusi minyak bumi, terutama batubara. Dalam jangka menengah-panjang, kenaikan harga minyak juga diprediksi turut mendongkrak saham-saham berbasis minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO).

Sinyal kebangkitan saham sektor komoditas sudah muncul sejak awal tahun ini. Selama tahun berjalan (year to date/ytd), saham sektor pertambangan yang dimotori saham-saham berbasis batubara tumbuh 14,36%. Dengan penguatan itu, saham sektor pertambangan mencatatkan pertumbuhan tertinggi di antara sembilan sektor lainnya. Adapun saham sektor perkebunan, yang didominasi CPO, menguat 0,84%. (lihat tabel)

Saham komoditas tambang dan perkebunan, terutama batubara dan CPO, pernah mengalami masa gilang-gemilang pada 2009. Selama fase booming harga batubara dan CPO itu, saham pertambangan yang didominasi batubara secara sektoral melambung 151,1% pada 2009. Tren serupa dialami saham-saham perkebunan yang dimotori CPO. Pada tahun tersebut, saham CEO secara sektoral melonjak 107,71%.

Penguatan saham komoditas tahun ini bakal turut mendorong penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pengujung 2018 ke level 7.310-7.440, tumbuh 15-17% dari penutupan akhir tahun lalu di posisi 6.355,65.

Di New York Mercantile Exchange, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari kini berada di level USS 63,73 per barel. Angka itu menjauh dari level konsensus USS 50 per barel dan makin meninggalkan asumsi harga minyak nasional OCP) yang dipatok pemerintah dalam APBN 2018 sebesar USS 48 per barel.

Sejalan dengan itu, harga minyak mentah Brent North Sea, untuk pengiriman Maret turun berada di posisi USS 69,15 per barel di London ICE Futures Exchange. Kalangan analis global memprediksi harga minyak bisa menyentuh level US$ 80 per barel tahun ini.

Bersamaan dengan meningkatnya harga minyak, harga batubara ikut merambat naik. Kementerian ESDM mematok harga batubara acuan (HBA) periode Januari 2018 sebesar US$ 95,54 per ton, naik dibandingkan bulan sebelumnya US$ 94,04 per ton, dan menguat tajam dari Januari 2017 sebesar US$ 86,23 per ton.

Analis PT Binaartha Sekuritas M Nafan Aji Gusta Utama mengungkapkan, sejalan dengan prediksi penguatan harga minyak, saham-saham sektor pertambangan akan menjadi salah satu yang paling prospektif tahun ini. Penguatan harga minyak mentah, kata dia, tak cuma bakal mendongkrak batubara yang menjadi substitusi minyak bumi, tapi juga mengangkat komoditas tambang mineral, seperti nikel, emas, bahkan baja.

“Permintaan terhadap komoditas-komoditas tersebut diperkirakan meningkat tahun ini, sehingga harganya bakal membaik,” ujar Nafan kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (17/1).

Hal senada dikemukakan Direktur Investor Relations dan Chief Economist PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat Menurut dia, harga batubara dan komoditas tambang mineral, seperti tembaga dan nikel, berpeluang naik tahun ini.

“Khusus batubara, potensi penguatannya dilatarbelakangi keputusan Tiongkok mengurangi produksi batubaranya. Kemudian tahun ini potensinya harga minyak dunia juga akan menguat,” tutur Budi Hikmat saat ditemui Investor Daily di Jakarta, Rabu (17/1).

Selain dipicu permintaan di luar negeri, harga batubara di dalam negeri terdorong oleh meningkatnya permintaan terutama karena sejumlah PLTU mulai beroperasi. Selain itu, rencana pembatasan LPG bersubsidi kemasan 3 kg akan membuat permintaan terhadap produk briket batubara muncul lagi.

Harga minyak mentah dunia terus mendekati level psikologis US$ 70 per barel yang merupakan level tertinggi selama tiga tahun terakhir. Sebagian analis yakin harga minyak bakal terus merambat naik, namun sebagian lagi percaya harga komoditas itu akan kembali turun setelah AS menggenjot produksi minyaknya.

Kesepakatan pemotongan produksi oleh negara-nagara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Rusia, dan para produsen lainnya telah mengangkat harga minyak. Selain murni faktor supply-demand, terutama akibat menggeli-atnya kembali industri manufaktor di AS dan Tiongkok, faktor geopolitik dan spekulasi bakal memengaruhi fluktuasi harga minyak dunia tahun ini.

Bank of America Merrill Lynch awal pekan ini menaikkan perkiraan harga Brent 2018 menjadi US$ 64 per barel dari semula US$ 56 per barel, dengan proyeksi defisit 430 ribu barel per hari (bpd) dalam produksi minyak global dibandingkan permintaan tahun ini. Bank AS, JP Morgan, dalam analisisnya menyatakan, fundamental-fundamental yang lebih ketat berupa pemotongan produksi merupakan pendorong utama rally harga minyak. “Namun risiko geopolitik dan pergerakan mata uang seiring dengan masifnya uang spekulatif secara bersamaan telah memperburuk pergerakan tersebut,” papar JP Morgan.

Meski demikian, sejumlah analis memperingatkan bahwa rally harga minyak sebesar 13% sejak awal tahun ini dapat mereda dalamjangka pendek. Soalnya, pemeliharaan kilang global segera berakhir dan produksi minyak di Amerika Utara bakal meningkat.

Jumlah rig yang beroperasi di ladang-ladang minyak AS bertambah 10 rig menjadi 752 rig minggu lalu. Di Kanada, perusahaan-perusahaan energi juga hampir melipatgandakan jumlah rig pengeboran minyak mereka minggu lalu menjadi 185 rig, jumlah terbanyak dalam 10 bulan terakhir.

Konsultan JBC Energy berbasis di Wina memperkirakan produksi minyak AS tumbuh 600 ribu bph pada kuartal 1-2018 dibandingkan setahun sebelumnya.

Nafan Aji memprediksi negara-negara anggota OPEC memilih menahan produksi sehingga harga minyak kembali naik. Apalagi permintaan dari AS sebagai konsumen terbesar minyak global, diperkirakan naik seiring membaiknya industri manufaktur di negara itu bersamaan dengan perbaikan ekonomi Negeri Paman Sam.

“AS tetap memerlukan impor minyak dari negara lain. Nah, sejuah ini cadangan minyak AS masih dalam posisi defisit. Jadi, ke depan, selama OPEC membatasi produks minyak, peluang kenaikan harga minyak dunia masih ada,” ujar dia.

Peluang kenaikan harga, menurut Nafan, juga terjadi pada batubara. Karena Tiongkok memutuskan untuk mengurangi produksi batubara untuk menekan polusi, stok dan pasokan batubara global bakalmenurun sehingga harganya naik.

“Hanya memang di tengah kenaikan harga minyak dunia, ada risiko untuk posisi inflasi di Indonesia. Di sinilah pentingnya pemerintah memiliki strategi yang jitu untuk mengendalikan inflasi,” tandas Nafan.

Nafan Aji menjelaskan, meski harga batubara sudah merambat naik, belum ada potensi kenaikan harga CPO yang cukup kuat ke depan. Itu terjadi antara lain akibat risiko cuaca dan kebijakan Uni Eropa melarang aktivitas impor CPO. “Produsen CPO yang biasa mengekspor CPO ke negara-negara Uni Eropa perlu mencari pasar baru,” tutur dia.

Direktur Investor Relations/Chief Economist Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat juga mengakui, meski harga minyak berpotensi mengangkat harga batubara dan komoditas tambang mineral, potensi penguatan CPO secara signifikan belum terlihat. Bisa saja dalamjangka menengah atau jangka panjang kenaikan harga minyak, batubara, dan mineral turut mendorong kenaikan harga CPO.

Menurut Nafan Aji, tim riset Binaartha Sekuritas menargetkan IHSG mencapai level resistance 7.333 pada akhir 2018, dengan prediksi harga minyak dunia dalam rentang US$ 65-80 per barel.

Nafan Aji merekomendasikan saham emiten berbasis batubara, PT Adaro Energy Tbk (ADRO), selain saham emiten yang terkait dengan produksi dan pendistribusian minyak bumi, seperti PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) dan PT Elnusa Tbk (ELSA).

Investor juga dapat mencermati saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), karena emas merupakan salah satu instrumen safe haven. Saham sektor baja pun berpeluang naik karena pemerintah sedang fokus membangun infrastruktur. Membangun infrastruktur tentu butuh banyak baja,” papar Nafan yang merekomendasikan saham PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS).

Di sisi lain, Nafan Aji menilai sektor timah berpeluang membaik tahun ini sejalan dengan masifnya pembangunan kabel bawah laut saat ini. Timah kan digunakan untuk kabel. Belakangan ini pembangunan kabel bawah laut sangat agresif,” ucap dia.

Merujuk data Bank Dunia, terdapat delapan komoditas dunia yang harganya diprediksi meningkat pada 2018. Harga minyak mentah {crude oil) naik 5,66% menjadi US$ 56 per barel dari 2017 yang hanya US$ 53 per barel, CPO naik 1,66% menjadi US$ 732 per MT, aluminium naik 0,92% menjadi US$ 1.968 per MT, dan harga tembaga naik 1,12% menjadi USS 6.118 per MT.

Selanjutnya harga timah hitam (timbal/ lead) naik 8,69% menjadi US$ 2.500 per MT, nikel naik 4,54% menjadi USS 10.559 per MT, timah naik 0,99% menjadi USS 20.426 per MT, dan harga seng naik 3,45% menjadi USS 3.000 per MT.

Tumbuh 20-25%

Pengamat pasar modal Reza Priyam-bada mengemukakan, harga saham berbasis batubara mulai menguat sejak tahun silam. Itu terjadi seiring membaiknya perekonomian.

“Membaiknya kegiatan pabrikan yang terlihat pada data indeks manufaktur di beberapa kawasan, seperti Tiongkok, Eropa, dan AS memberikan imbas bagi kenaikan sejumlah harga komoditas, terutama batubara sebagai salah satu sumber bahan bakar penggerak mesin-mesin pabrik,” papar dia.

Menurut Reza, para pelaku pasar memanfaatkan momentum kenaikan harga batubara tersebut untuk kembali masuk ke saham-saham batubara yang sebelumnya mengalami pelemahan seiring penurunan harga komoditas tersebut.

Reza menambahkan, sejalan dengan tren harga batubara yang menguat, kinerja keuangan emiten batubara juga perlahan-lahan terangkat, meski masih ada yang merugi.

Dia menjelaskan, membaiknya kinerja keuangan dan harga saham emiten batubara masih dapat berlanjut pada 2018. “Ada dua hal yang menjadi alasan. Pertama, terkait rencana pemerintah Tiongkok yang masih memangkas produksi batubara. Kedua, meningkatnya permintaan pabrikan terhadap bahan bakar batubara seiring berlanjutnya pemulihan ekonomi global,” tutur dia.

Reza Priyambada mengungkapkan, jika tren kenaikan harga batubara diasumsikan masih berlanjut, emiten batubara tahun ini berpotensi meningkat minimal 20-25%. “Emiten-emiten batubara, seperti BYAN, BSSR, ADRO, ITMG, PTBA, dan lainnya memiliki peluang mempertahankan kinerjanya pada 2018,” ucap dia.

Saham sektor pertambangan mencetak pertumbuhan tertinggi sebesar 14,36% selama tahun berjalan (year to date /ytd), diikuti sektor properti, real estat, dan konstruksi bangunan (4,32%), industri dasar dan kimia (3,14%), perdagangan, jasa, dan iv-estasi (1,27%), perkebunan (0,84%), infrastruktur, utilisasi, dan transportasi (0,53%), keuangan (0.52%), serta manufaktur (0,25%). Sedangkan saham sektor industri aneka minus 1,19%. Begitu pula sektor konsumsi, minus 0,32%.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia