Litbang Kementan buktikan bahan bakar B100 hemat 40 persen

Hasil inovasi dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian membuktikan penggunaan bahan bakar biodiesel 100 persen (B100) lebih hemat hingga 40 persen per liter daripada menggunakan biosolar.

Dalam kunjungannya ke Balai Penelitian Tanaman Industri Penyegar, tempat pengolahan B100 di Sukabumi, Kamis, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memaparkan bahwa pemanfaatan B100 sebagai bahan bakar dari kelapa sawit, ini bisa menempuh jarak 13,1 kilometer per liter, sedangkan biosolar hanya menempuh 9,6 kilometer per liter.

Amran memaparkan bahwa minyak kelapa sawit yang diolah menjadi bahan bakar kendaraan dengan kandungan 100 persen, ini dihargai Rp8.000 per liter. Sementara itu, jika dibandingkan dengan Biosolar berkisar Rp9.800 sampai Rp10.000 per liter.

“Artinya jika dihitung per kilometer, kalau menggunakan bahan bakar fosil biayanya sekitar Rp1.000, sedangkan menggunakan biodiesel hanya Rp600 per km. Artinya ini menghemat 40 persen biaya bahan bakar,” kata Menteri Amran.

Amran menilai bahwa penggunaan bahan bakar B100 lebih murah dari segi biaya, ramah lingkungan dan dapat meningkatkan harga tandan buah segar di tingkat petani. Selain itu, energi ramah lingkungan ini bisa menghemat devisa karena Indonesia tidak perlu lagi mengimpor BBM energi fosil.

Menurut dia, dengan produktivitas CPO sebesar 38 juta ton, Indonesia mampu mencukupi kebutuhan energi bahan bakar nabati. Di sisi lain, Amran mengakui bahwa penyerapan CPO untuk bahan bakar dalam negeri, tentunya akan mengurangi ekspor CPO dan produk turunannya.

“Kita punya CPO 38 juta ton dan Indonesia produsen CPO terbesar di dunia. Kalau bisa kita penuhi kebutuhan dalam negeri dulu, ekspor akan berkurang, tapi harga CPO bisa naik dan menyejahterakan petani,” kata dia.

Ada pun hasil inovasi B100 ini dilakukan oleh Peneliti Utama Bidang Ekofisiologi Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar Kementerian Pertanian, Dibyo Pranowo.

Dibyo mengatakan dari seluruh analisis, hanya satu determinan yang perlu dikaji kembali, yaitu karbon residu yang dihasilkan dari B100 CPO Sawit, sedangkan 19 determinan lainnya sudah lolos uji.

“Sampai sekarang ini sudah memproduksi hampir 2 ton dengan menggunakan reaktor biodiesel ciptaan sendiri. Produksi ini merupakan penyempurnaan parameter dengan metode Dry Oil,” kata Dibyo.

Ia menjelaskan dalam satu bulan ini, percobaan telah dilakukan dengan pengaplikasian B100 CPO sawit untuk bahan bakar kendaraan. Kendaraan yang dipergunakan adalah Hilux.

Ia menambahkan bahwa sebenarnya bahan biodiesel dapat berasal dari kemiri sunan, nyampulung, pongamia, kelapa, kemiri sayur, termasuk dari biji karet. Namun, Dibyo menilai penggunaan CPO sawit merupakan yang terbaik sampai saat ini. Pasalnya, dilihat dari skala jumlah industri, minyak sawit sudah siap dan memiliki pasokan berlimpah.

Sumber: Antaranews.com