Memperkuat Kontribusi Perkebunan Bagi Kemakmuran Bangsa di Hari Perkebunan-60

 

Sektor perkebunan telah membuktikan sebagai kontributor utama perekonomian dan pembangunan Indonesia. Ini terbukti dari sumbangan sektor perkebunan sebesar Rp 429 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, melebihi sektor minyak dan gas (migas). Pernyataan ini diungkapkan dalam Pembukaan Peringatan Hari Perkebunan ke-60 Tahun 2017, yang berlangsung di  Kampus Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta, Sabtu, 9 Desember 2017.

Dalam kata sambutannya, Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Bambang menyebutkan Hari Perkebunan tahun ini juga dimaknai untuk membangkitkan kesadaran bersama membangun sektor perkebunan. Untuk itu, dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang handal.

“Instiper dijadikan gerbang utama untuk mengawal SDM perkebunan nusantara,” ujar Bambang.

Menurutnya, perkebunan memberikan peran yang sangat penting bagi fundamental ekonomi bangsa Indonesia. “Dalam kondisi yang belum terurus dengan baik, perkebunan dapat memberikan kontribusi besar terhadap penerimaan Negara,” terangnya.

Meskipun, diakuinya, sumbangan terbesar berasal dari kelapa sawit yang mencapai Rp 260 triliun. Peringatan Hari Perkebunan tahun ini juga ingin meningkatkan daya saing perkebunan nasional, ditengah rendahnya produktivitas.

Dia menyebutkan, produktivitas kelapa sawit rata-rata nasional baru sekitar 2 ton/hektar, padahal perusahaan sudah mencapai 8-10 ton/hektar. Hal itu sama halnya yang dialami oleh tanaman kakao, kopi dan kelapa. Industri membutuhkan banyak kelapa, akan tetapi, produksinya terus menurun.

“Hari Perkebunan dapat dijadikan komunikasi dan diskusi membahas berbagai permasalahan tentang komoditas perkebunan. Baik itu pada perkebunan besar, perkebunan negara dan perkebunan rakyat untuk meningkatkan daya saingnya dalam mengawal kemajuan ekonomi nasional,” jelasnya.

Dia mengatakan, perkebuan dalam bahaya. “Kalau kita tidak sadar akan hal itu. Indonesia menjadi Negara penghasil pangan dan energi terbarukan paling produktif dan efisien di dunia. Banyak Negara lain tidak menghendaki kejayaan perkebunan Indonesia. Untuk itu, kita harus siap mengawal perkebunan Indonesia agar bebas dari tekanan luar negeri,” ungkap Bambang.

Dia menambahkan, berbagai isu negatif lahir utamanya yang dialami komoditas sawit. “Padahal sawit peyelamat hutan tropis dunia dan mengusahakan sawit dapat menghasilkan pangan maupun energi,” ujar Bambang.

Musdhalifah Machmud Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian mengatakan, peran perkebunan sebagai sumber kemakmuran karena melihat siklus pembangunn negara Indonesia.

“Daerah terpencil atau remote area mulai terbangun dari perkebunan, lnataran yang dapat membangun infrastruktur, komunitas sosial dan ekonomi baru berasal dari pengembangan tanaman perkebunan,” ujar Musdalifah.

Dia menuturkan, perkebunan juga menjadi sumber perekat bangsa karena merekatkan anggota masyarakat yang hidup di wilayah jauh dari perkotaan maupun pedesaan.

Mukti Sardjono, Staf Ahli Menteri Pertanian, menyebutkan bahwa tantangan terbesar sektor perkebunan bagaimana memperkuat aspek keberlanjutan (sustainability).  Dalam kerangka sustainability tidak hanya berpikir kelapa sawit karena ada komoditi lain sudah punya standar bagus.

“Ada kopi, kakao dan komoditas lain sudah saatnya kita merekatkan dan menguatkan standar komoditas perkebunan indonesia. Regulasi dan undang-undang kita sejatinya mendukung pembangunan berkelanjutan,” ujar Mukti Sardjono.

Achmad Mangga Barani, Ketua, meminta pemerintah untuk memperkuat instrumen kelembagaan sektor perkebunan di daerah. Dari 33 provinsi di Indonesia, hanya ada 15 provinsi mempunyai dinas perkebunan. “Dari ratusan kabupaten, berapa jumlah dinas perkebunan di kabupaten. Kita bicara ingin memperkuat perkebunan. Tetapi bagaimana memperkuat instrumennya, tidak ada yang urus itu,” pungkas Mangga  Barani.

Pada acara puncak Hari Perkebunan tanggal 10 Desember 2017, berbagai kegiatan akan dilakukan seperti sepeda santai, pameran, dan talkshow perkebunan. Selain itu, Komisi ISPO akan menyerahkan sertifikat ISPO kepada sejumlah perusahaan perkebunan.

 

Sumber: Sawitindonesia.com