Menggerakkan Kemandirian Ekonomi Pesantren

 

Kontak Santri Agribisnis Indonesia (Konsain) berupaya membangun kemandirian lembaga pendidikan, lembaga dawah, dan lembaga sosial melalui perkebunan sawit.

Ketua Umum Kontak Santri Agribisnis Indonesia (Konsain) KH Ali Cholil mengajak lembaga pendidikan seperti madrasah diniyyah, pesantren, organisasi massa seperti Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama, untuk menjadi anggota Konsain.

Pengasuh Pondok Pesantren Syaichona Cholil Balikpapan tersebut menjelaskan, Konsain didirikan untuk membangun sumber dana bagi lembaga pendidikan, lembaga dakwah dan lembaga sosial seperti pondok pesantren, madrasah, masjid, dan ormas-ormas Islam dan Badan Otonomnya, untuk kepentingan pendidikan, dakwah dan sosial se-Indonesia melalui perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur.

Untuk menjadi anggota Kosain, menurut dia, dengan cara berpartisipasi dalam kepemilikan saham di kebun tersebut. Satu saham seharga Rp 5.500.000. Angota yang menanam saham minimal satu pohon sawit seharga Rp 5.500.000 atau setara  10 % dari 1 hektar kebun sawit Konsain atau 10 saham = 100 %. Harga tersebut termasuk pemeliharaan pohon yang keuntungannya akan didapat enam tahun kemudian. Keuntungan tersebut diperuntukkan lembaga tersebut agar bisa mandiri.

“Satu saham kebun konsain atas nama lembaga atau ormas tersebut senilai 10 persen dari satu hektar kebun sawit yang ditanam dan terima hasil panen pada enam tahun kemudian dihitung sejak mendaftar,” seperti dikutip dari laman NU Online.

“Konsain atau Kontak Santri Agribisnis Indonesia lahir pada 2011 berdasarkan amanat  silaturahim ulama dan pengasuh ponpes se-Indonesia di Balikpapan. Tujuannya mengelola kemandirian (ekonomi) pesantren bersifat sosial,” kata Ustad Mohamad Syukron, Sekretaris Konsain, saat diwawancarai pada akhir April 2018.

Mohamad Syukron menjelaskan pemilihan sawit sebagai pengembangan bisnis Konsain karena kesesuaian iklim di Kalimantan Timur. Saat ini, lahan sawit yang sudah ditanam Konsain seluas 100 hektare, berada di Desa Di Desa Sukomulyo Kecamatan Sepaku Kabupaten Penajam Paser Utara. “Masih banyak lahan kami yang belum tertanam. Kendalanya modal untuk pembangunan kebun,” ujarnya.

Saat memulai penanaman pertama, dana yang dibutuhkan sekitarRp 30 juta per hektare sampai tanaman menghasilkan. Lantaran tidak punya dana besar, maka proses penanaman berjalan bertahap. Usta Supriadi, Pengurus Konsain, menceritakan ketika membuka kebun pertama kali, lahan dicangkul sendiri gotong royong bersama santri dan masyarakat. Pekerjaan membuka lahan bersifat swadaya dari masyarakat.

Syukron menuturkan sumber pendanaan Konsain berasal dari anggota. Saat ini, Konsain mempunyai  anggota dari kalangan pesantren, masjid, dan madrasah.  “Filosofi konsain sebagai bisnis santri yang mengandalkan kebarokahan. Anggota kami bukan dari perusahaan, melainkan pesantren dan masjid. Makanya, bisnis ini sifatnya sosial tidak semata profit,” tutur Syukron.

Kendati, banyak keterbatasan perkembangan Konsain mengarah bagus. Syukron menyebutkan Konsain berada di bawah entitas PT Santri Etam Nusantara. Pada akhir Januari 2018, pihaknya telah menyerahkan Sisa Hasil Usaha (SHU) perdana mencapai Rp 60 juta.

Berdasarkan Kajian PASPI, Kelapa sawit telah menjadi penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia di sektor perkebunan. Keberadaan perkebunan kelapa sawit yang tersebar di 190 kabupaten telah memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah sentra tersebut. Peningkatan produksi CPO sebagai produk utama kelapa sawit berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah-daerah sentra sawit tersebut. Melalui peningkatan produksi CPO juga, memberikan manfaat sebesar 40% bagi masyarakat di luar perkebunan kelapa sawit dengan berkembangnya lembaga keuangan, perdagangan/restoran, hotel, transportasi, infrastruktur, dan sektor-sektor lain. Perkebunan kelapa sawit juga masih berpotensi dikembangkan melalui integrasi dengan tanaman atau ternak. Program integrasi tersebut akan meningkatkan kesejahteraan petani sawit rakyat karena memiliki penghasilan lain diluar produksi sawit.

 

Sumber: Sawitindonesia.com