Mengikis Isu deforestasi

Dalam 2 tahun terakhir, berita hangat mengenai kebakaran hutan, titik api, dan ekspor asap ke negeri tetangga yang berasal dari pembakaran untuk pembukaan lahan, termasuk lahan sawit, hampir tidak terdengar. Tampilan peta titik panas atau titik api dari citra satelit dalam berbagai media pun tak terlihat

Deforestasi yang berasal dari pembakaran lahan dan hutan yang disinyalir berasal dari aktivitas perkebunan, terutama sawit, selama ini menjadi isu menarik kampanye negatif dari sejumlah pihak terhadap perkebunan sawit Namun, dalam 2 tahun ini, isu deforestasi dari perkebunan sawit barat tak bertaring karena de facto kebakaran hutan berkurang drastis.

Itu berarti, masyarakat dan pelaku usaha sebenarnya dapat diajak bertanggungjawab dalam mengelola lahan perkebunan. Aparat berwenang pun diajak mengawasi praktik-praktik perkebunan secara benar. Bahkan, Presiden Joko Widodo mengultimatum aparat yang tak bisa menjaga wilayah dari ancaman dan bahaya kebakaran hutan akan diberi sanksi

Dalam 2 tahun terakhir,kebakaran hutan memang turun drastis. Dari laporan kinerja 2017 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, disebutkan titik panas (hot spot) yang terpantau dari citra satelit pada kasus kebakaran hutan dan lahan turun signifikan pada 2015 sampai 2017.

Pada 2015, terdapat 70.971 titik panas, lalu pada 2016 sebanyak 3.884, dan pada 2017 sebanyak 2.370. Luas lahan yang terbakar juga berkurang drastis, yaitu dari 2,61 juta hektar pada 2015 menjadi 438.363 hektar pada 2016, dan 165.528 hektar pada 2017. Dengan kondisi itu, pengiriman atau “ekspor” asap ke negara tetangga atau jumlah hari asap lintas batas juga berkurang, yaitu selama 21 hari pada 2015, 4 hari pada 2016, dan 0 hari pada 2017.

Kondisi penurunan kasus kebakaran hutan dan lahan itu tentu harus terus dijaga dan ditekan agar kasus kebakaran hutan benar-benar bisa mencapai titik terendah atau bahkan hilang. Salah satu upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan adalah memberdayakan ekonomi masyarakat di kawasan hutan.

Salah satunya adalah perusahaan Sinar Mas Agri business and Food. Perusahaan tersebut berupaya memberikan penyuluhan mengenai bahaya kebakaran hutan dan cara-cara berkebun yang benar tanpa harus membakar lahan kepada masyarakat Masyarakat pun diajak untuk menanam tanaman yang dibutuhkan, seperti padi, cabai, sayur-sayuran seperti kacang panjang, terung, dan jagung.

Mengubah pola bertanam pada suatu kelompok masyarakat memang tak mudah. Dibutuhkan tenaga penyuluh yang tak sedikit dan memiliki dedikasi Selain itu, juga dibutuhkan sejumlah proyek percontohan yang melibatkan masyarakat agar masyarakat dapat melihat secara langsung, menerapkan, dan menerima manfaat dari kegiatan tersebut

Upaya itu tak sia-sia. Masyarakat yang dibina perusahaan Sinar Mas Agribusiness and Food sedikit demi sedikit mampu mengelola kebun sayur dengan benar dan mendapatkan hasil perkebunan yang dapat meringankan beban ekonomi rumah tangga. Kebiasaan membakar lahan dan hutan pun sedikit demi sedikit terkurangi.

Ada berbagai alasan mengapa masyarakat berladang atau menanam secara berpindah-pindah dengan membakar lahan selama ini Misalnya, masyarakat beranggapan bahwa tanah bekas pembakaran menjadi subur. Apalagi, ketersediaan pupuk di dekat kawasan hutan atau ladang sangat kurang. Jika ada, harga pun tidak murah. Karena itu, masyarakat perlu diberi pemahaman bahwa pupuk berupa kompos dapat dibuat oleh masyarakat sendiri. Mengelola peternakan juga dapat menjadi salah satu solusi dalam penyediaan pupuk buatan dari kotoran hewan.

Dengan berbagai upaya itu, diharapkan isu deforestasi dalam perkebunan sawit bisa lenyap dari kampanye negatif perkebunan dan industri sawit di kancah global. Di masa mendatang diharapkan Indonesia bisa bebas dari kasus kebakaran hutan yang terjadi secara masif dan luas.

Namun, isu negatif terhadap perkebunan dan industri sawit tidak hanya terkait dengan isu deforestasi. Banyak isu negatif lain yang berkembang di negara-negara di Eropa atau lembaga swadaya masyarakat untuk memberi persepsi buruk terhadap produk sawit

Hal itu tentu dapat dipahami karena negara-negara Eropa mengembangkan produk nabati lain, seperti minyak bunga matahari, kanola, atau kedelai. Itu dapat diartikan bahwa persepsi negatif terhadap produk sawit tidak terlepas dari masalah perang dagang. Pasokan bahan baku minyak nabati di tingkat global semakin dibutuhkan masyarakat dunia dengan populasi yang diperkirakan mencapai 9,6 miliar orang pada 2050.

Sumber: Kompas