Menko Luhut Buka-bukaan soal Green Diesel

Pemerintah berencana menerapkan kebijakan baru yakni Program Green Diesel untuk mendorong penggunan minyak sawit dalam negeri. Ini merupakan kebijakan kedua untuk mendorong penggunaan sawit dalam negeri.

Menteri Koordiantor bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, kebijakan tersebut rencananya akan diterapkan dalam dua tahun. Nantinya kebijakan ini tidak dilakukan secara sekaligus melainan bertahap.

“Kita cepat semua. Dia lebih friendly. Kalau dengan bensin dengan green diesel itu enggak masalah,” ujarnya saat ditemui di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (31/1/2019).

Namun nantinya sebagai tahap awal, penerapan green diesel ini ditargetkan untuk penggunaan avtur pesawat dan juga bensin. Luhut menargetkan, dalam jangka menengah bisa memproduksi 10 juta ton, dan akan dilakukan secara bertahap mulai dari 2-3 juta ton terlebih dahulu.

“Kita mau dalam 2 tahun ini harus jadi. Sepertiga dari produksi kelapa sawit kita sekarang ada 45 juta. 10 juta lah katakanlah. Kita mulai mungkin dengan 2-3 juta bertahap ke atas, mungkin bisa lebih cepat dari daya ukur nantinya,” katanya.

Luhut menambahkan dengan penerapan green diesel ini sendiri diharapkan bisa menekan angka impor bahan bakar yang selama ini masih sangat tinggi. Jika angka impor bisa dikurangi maka penggunaan green diesel ini juga bisa menekan menekan pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).

Seperti yang telah diketahui, neraca perdagangan tahun 2018 mengalami defisit terdalam sepanjang sejarah yakni sebesar USD8,57 miliar. Dari defisit tersebut, defisit migas USD 12,4 miliar., sedangkan defisit minyak mentah dan hasil minyak, masing-masing sebesar USD4,04 miliar dan USD15,95 miliar.

“Akan berdampak besar terhadap impor petani kita. Crude oil kita,” kata Luhut.

Di sisi lain lanjut Luhut, penggunaan green diesel juga bisa membuat harga minyak sawit Indonesia bisa lebih kompetitif. Apalagi belakangan harga minyak sawit terus menurun seiring sentimen negatif dari luar negeri tentang hutan sawit yang dianggap merusak lingkungan.

“Sehingga harga sawit tidak didikte negara lain dan Presiden maunya petani bisa menikmati,” katanya.

Sumber: Okezone.com