Menko Luhut: Indonesia Datang Sebagai Mitra, Bukan Mengemis

 

Tim Negosiasi RI yang dipimpin Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan telah bertemu dengan Komisioner Perdagangan Uni Eropa, H.E. Cecilia Malmström untuk membahas pembatasan penggunaan produk turunan sawit. Dalam pertemuan tersebut, Indonesia menekankan ingin kemitraan yang sama dengan Uni Eropa.

Luhut menyebutkan, “Kami tidak ingin melihat ini sebagai tindakan diskriminasi. Dalam prosesnya kami ingin membangun dialog antara mitra. Kami harap keputusan yang diambil, nantinya bisa memuaskan semua pihak.”

“Untuk itu, kami tidak datang untuk mengemis. Tetapi berdialog sebagai mitra. Dalam posisi yang setara, kami ingin membangun partnership,”tambahnya seperti dilansir dari situs resmi Kemenko Maritim.

Dalam pertemuan dengan Komisioner Malmstrom, Luhut menjelaskan bahwa banyak aspek yang dibicarakan mengenai isu lingkungan hidup, perdagangan, dan juga kelapa sawit.

“Palm oil bukan isu, tapi lebih ke persoalan kemiskinan. Riset Universitas Stamford, kelapa sawit mampu mengurangi kemiskinan hingga 10 juta orang. 51% lahan kelapa sawit dikuasai oleh petani.  Lebih dari 16 juta orang bergantung kepada sawit,” ujar Menko Luhut saat menjawab pertanyaan wartawan terkait isu pertemuan dengan Komisioner Malmstrom.

Dalam jumpa pers  di Press Club Brussel, dikatakan Menko Luhut bahwa Indonesia bukan negara miskin. Kami negara kaya dengan banyak pengalaman. “Anda tanya tentang radikalisme, kami pernah mengalaminya. Anda tanya tentang kemiskinan, kami sudah mengalaminya dan sekarang masih melakukan usaha untuk menguranginya, Anda tanya tentang lingkungan hidup kami pun pernah mengalami dan mengalokasikan banyak dana untuk mengatasi ini” ujar Menko Luhut.

Menko Luhut menegaskan ada yang janggal mengapa sawit yang disebutkan dalam kebijakan Uni Eropa. Mengapa tidak diterapkan kepada yang lain seperti rapeseed dan bunga matahari.

“Hampir semua sawit yang dikirim dari Indonesia telah mendapat sertifikasi internasional. Dari segi kesehatan kami sudah melakukan penelitian dan juga meminta konsultan independen dampak sawit pada kesehatan, tidak ada yang salah dengan sawit,” katanya.

Menko Luhut mengatakan kepada Komisioner Malmstrom bahwa komitmen Indonesia untuk mempercepat proses Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA) yang perundingannya masih berlangsung karena produk Indonesia yang diekspor ke EU bukan hanya sawit.

Ia mengatakan, sama seperti harapannya, Komisioner Malmstrom berharap keputusan yang diambil nantinya bisa memuaskan semua pihalk.

“Kepada Komisioner Malmstrom, saya sampaika kelapa sawit membantu meningkatkan kehidupan petani di negara-negara berkembang lainnya, bukan hanya di Indonesia,” pungkas Luhut wartawan.

Kepada media, Menko Luhut mengatakan kelapa sawit sudah ada lebih dari 150 tahun yang lalu, bukan sesuatu yang baru untuk Indonesia.

“Moratorium sudah diterapkan, menurut kami angka 14 juta hektar sudah cukup untuk sawit. Saat ini kami akan mendidik petani untuk peremajaan tanaman dan mengedukasi penggunaan bibit unggul, dan pertanian berwawasan lingkungan,” pungkasnya.

 

Kredit foto: Togar Sitanggang

 

Sumber: Sawitindonesia.com