Menteri Syahrul Yasin Limpo Belajar dari Mantan Menteri dan Senior Kementan

Belum seminggu menjabat Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo mengundang mantan menteri pertanian, wakil menteri pertanian, dan pensiunan pejabat kementerian periode sebelumnya untuk mendapatkan masukan dan gagasan di bidang pertanian.

“Saya ingin membangun silaturahmi dan  izin untuk memimpin Kementerian ini. Dengan dukungan dan bantuan  orang hebat di bidang pertanian pada masanya. Maka, kami ingin kehadiran mereka yang akan terus bersama saya, untuk membantu dalam pemecahan masalah pertanian,” ucap Syahrul Yasin Limpo dalam Tatap Muka dan Silaturrahmi dengan para mantan Menteri dan Pejabat Teras Kementerian Pertanian di Gedung PIA kantor pusat Kementerian Pertanian, Senin (28  Oktober 2019).

Hadir dalam pertemuan ini antara lain Prof. Dr. Sjarifuddin Baharsjah, M.Sc (Menteri Pertanian 1992-1997), Prof. Dr. Hj. Justika Baharsjah (Menteri Pertanian 1998-1999),  Prof.Bungaran  Saragih (Menteri Pertanian periode 2000-2004), Anton Apriantono (Menteri Pertanian 2004-2009), dan Suswono (Menteri Pertanian 2009-2014). Tampak pula Bayu Krisnamurthi (Wakil Menteri Pertanian 2010-2011), Rusman Heriawan (Wakil Menteri Pertanian 2011-2014), Delima Hasri Azahari (mantan Dirjen Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Departemen Pertanian),  Gamal Nasir (Mantan Dirjen Perkebunan).

Menteri Syahrul Yasin menjelaskan bahwa dirinya siap  dikoreksi dan diberikan masukan dalam pengelolaan pertanian. Menurutnya, sebuah negara kuat apabila pertaniannya juga kuat, sehingga fungsi Kementerian Pertanian luar biasa dengan kompleksitas dan dinamika yang berkembang sangat cepat. “Kita tidak bisa lagi menggunakan paradigma lama dan banyak cara-cara baru yang harus kita pelajari dikarenakan kemajuan teknologi sangat cepat,“ tegasnya.

Lebih lanjut Mentan SYL mengatakan kompleksitas masalah yang besar membuat sentralisasi strategi tidak harus di Jakarta. Kementerian pertanian tidak bisa bekerja sendiri dan harus bermitra dengan yang lain. “Kementan membutuhkan kemitraan dan kerjasama bersinergi dengan kementerian lain, dengan para Gubernur, Para bupati bahkan sampai di lapangan harus bermitra dengan para Camat dan para kepala desa maupun Lurah,” ungkap Syahrul.

Ia menambahkan akan fokus membangun Sistem Komando Strategis Teknis Pertanian (Kostra Tani) dalam 100 hari pertama, dan dalam level lapangan, pengendalian dan operasionalnya dipusatkan di kecamatan-kecamatan, dengan keterlibatan pihak lainnya seperti TNI Polri.

Menteri Pertanian Indonesia periode 1992 – 1997, Sjarifuddin Baharsjah mengungkapkan jika kemampuan lokal dan kemampuan petani, bersama dengan peneliti tanpa banyak campur tangan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. “Sebaiknya kita mengapresiasi kemampuan petani kita, tidak perlu diributkan dengan peraturan peraturan dan subsidinya tidak efektif,” ungkapnya.

Delima Hasri mengapresiasi Menteri Pertanian baru karena mau mendengarkan aspirasi dan semua masukan dari berbagai pihak termasuk pelaku usaha dalam  penyusunan kebijakan yang memberi kenyamanan berusaha.

“Sektor pertanian harus dikelola secara komprehensif dengan cara pandang  terintegrasi dengan memperhatikan penyediaan komoditas  pangan, hortikultura , peternakan dan perkebunan sesuai dengan yang diminta pasar  dan pemenuhan kebutuhan industri,” ujarnya.

Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif GAPKI, mengapresiasi pertemuan yang diinisiasi Menteri  Pertanian SYL karena memberikaN angin segar. Apalagi, peraih 244 penghargaan ini berkomitmen akan memperhatikan semua sektor pertanian maupun perkebunan. “Beliau membuka diri untuk saran dan masukan. Malahan beliau merencanakan pertemuan dengan mantan (menteri pertanian) dan senior sebulan sekali,” jelas Mukti yang pernah menjabat Staf Ahli Menteri Pertanian RI.

 

Sumber: Sawitindonesia.com