Naikkan Nilai Tambah, Hilirisasi industri CPO Dipacu

JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu hilirisasi di sektor industri minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) agar dapat meningkatkan nilai tambah tinggi sehingga turut mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kami berupaya agar minyak kelapa sawit dan turunannya bisa diolah dan dijual ke luar negeri. Tetapi saat ini tengah dikaji agar produk tersebut bisa dijual dan tidak akan ada permasalahan nantinya,” kata Direktur Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, I Gusti Putu Suryawirawan melalui keterangannya di Jakarta, Rabu pekan ini.

Apalagi, tanbahnya, industri pengolahan sawit selama ini mampu memberikan kontribusi signifikan bagi Indonesia karena sebagai produsen dan eksportir terbesar dunia. Kemenperin mencatat, secara rata-rata tahunan, industri kelapa sawit hulu-hilir menyumbang 20 miliar dollar AS pada devisa negara. Selain itu, sektor ini juga menyerap tenaga kerja sebanyak 21 juta orang baik secara langsung maupun tidak.

Bahkan, Indonesia berkontribusi sebesar 48 persen dari produksi CPO dunia dan menguasai 52 persen pasar ekspor minyak sawit. Karena itu, Indonesia berpeluang menjadi pusat industri pengolahan sawit global untuk keperluan pangan, nonpangan, dan ba-han bakar terbarukan.

Menurut Putu, ada tiga jalur hilirisasi industri CPO di dalam negeri yang masih potensial untuk terus dikembangkan. Pertama, hilirisasi oleopangan (oleofood complex), yaitu industri-industri yang mengolah produk industri refinery untuk menghasilkan produk antara oleopangan (intermediate oleofood) sampai pada produk jadi oleopangan (oleofood product).

Kemudian, hilirisasi oleokimia (oleochemical complex), yaitu industri-industri yang mengolah produk industri refinery untuk menghasilkan produk-produk antara oleokimia, oleokimia dasar sampai pada produk jadi seperti produk biosurfaktan (seperti produk detergen, sabun, dan shampoo), biolubrikan (biope-lumas) dan biomaterial (contohnya bioplastik).

Selanjutnya, hilirisasi biofuel (biofuel complex), yaitu industri pengolah produk industri refinery untuk menghasilkan produk biofuel termasuk biodiesel.

Hadapi Embargo

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjajaran (Unpad) yang juga Peneliti Lembaga Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin Indonesia, Ina Primiana menjelaskan, strategi pemerintah memperkuat hilirisasi di sektor industri pengolahan sawit merupakan salah satu solusi dalam menghadapi pelarangan impor sawit Indonesia ke beberapa negara Uni Eropa (UE).

“Industri hilir yang bertugas mengolah sawit harus bisa menghasilkan produk olahan untuk memperluas ekspor,” tuturnya.

 

Sumber: Koran Jakarta