Nilai Ekspor Bengkulu Meningkat Berkat Sarang Walet hingga Sawit

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) mengapresiasi para eksportir di Bengkulu atas pencapaian total nilai ekspor sebesar Rp 162,65 miliar atau naik 72,2% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Apresiasi tersebut disampaikan Kepala Barantan Ali Jamil pada acara Apresiasi Pelaku Usaha Agribisnis sekaligus pelepasan ekspor berbagai komoditas pertanian di Pelabuhan Pulau Baai, Kota Bengkulu senilai Rp 9,4 miliar pada Kamis (27/6/2019).

“Alhamdulillah, ini kita dorong terus, dari sistem pelayanannya maupun jaminan kesehatannya sesuai persyaratan negara tujuan,” ucap Jamil dalam keterangan tertulis Jumat (28/6/2019).

Jamil mengatakan salah satu komoditas pertanian yang diekspor berupa sarang burung walet tujuan Taiwan senilai US$ 4.138. Sebelumnya ekspor sarang walet dari Bengkulu dilakukan melalui tempat lain seperti Jakarta atau Semarang. Hal tersebut selain dikarenakan belum adanya rumah walet dan tempat produksi yang tersertifikasi, juga belum adanya penerbangan internasional langsung dari Bengkulu.

Jamil mendorong agar para petani walet dan pelaku industri walet meregistrasi rumah walet dan tempat produksinya ke Barantan agar hasil produksinya lebih memiliki daya saing. Ia juga berkomitmen dan berkomunikasi dengan instansi dan pemerintah daerah agar akses logistik internasional dapat dipersingkat dan disederhanakan. Saat ini, sarang walet asal Bengkulu diekspor ke Taiwan melalui kantor pos atau jasa titipan.

“Ini bisa jadi alternatif sementara, lewat jasa titipan atau bandara internasional terdekat. Intinya kita dorong agar bisa langsung lewat Bengkulu dan pastinya harus disertifikasi karantina agar sesuai persyaratan negara tujuan,” ungkap Jamil.

Selain sarang walet, komoditas pertanian lain yang diekspor dari Bengkulu adalah cangkang sawit tujuan Thailand senilai Rp 7,15 miliar dan karet lempengan tujuan Amerika Serikat senilai Rp 2,17 miliar.

Menurut Jamil, Barantan terus mendorong pertumbuhan ekspor komoditas pertanian daerah setidaknya dengan dua program, yaitu inline inspectionkarantina dan agro gemilang. Program inline inspection merupakan percepatan layanan karantina berupa fasilitas jemput bola, yaitu pemeriksaan karantina yang dilakukan di tempat pemilik sehingga tidak memerlukan waktu tambahan untuk pemeriksaan karantina di pelabuhan. Adapun program agro gemilang merupakan bimbingan teknis pada para milenial calon eksportir agar komoditas yang diekspor dapat memenuhi standar sanitary and phytosanitary (SPS) negara tujuan.

Jamil menjelaskan bahwa melalui dua program di atas, diharapkan peningkatan ekspor komoditas pertanian semakin bertumbuh. Menurutnya, setidaknya ada lima strategi yang bisa dilakukan melalui program tersebut. Pertama adalah dengan menambah jumlah eksportir baru terutama kalangan milenial. Yang kedua adalah dengan melakukan diversifikasi produk ekspor di mana Jamil menyarankan agar produk yang diekspor minimal produk setengah jadi. Strategi yang ketiga adalah dengan meningkatkan frekuensi jumlah ekspor. Yang keempat adalah dengan membuka akses pasar baru komoditas pertanian di mancanegara dan yang kelima adalah melakukan terobosan dan inovasi layanan perkarantinaan guna mempercepat proses bisnis ekspor komoditas pertanian.

Pada acara yang sama, Jamil juga menyerahkan secara simbolis akses aplikasi Indonesian Map of Agricultural Commodities Exports (I-MACE). “Lewat aplikasi ini dapat terlihat perkembangan dan potensi ekspor komoditas pertanian yang ada di daerah secara real time. Semoga dapat dijadikan masukan dalam membuat kebijakan pembangunan pertanian di daerah,” pungkas Jamil.

Kepala Karantina Pertanian Bengkulu M Ischaq menambahkan bahwa sesuai data dari sistem otomasi perkarantinaan, IQFAST di wilayah kerjanya tercatat tahun 2018 ekspor komoditas pertanian dari Provinsi Bengkulu sebanyak Rp 162,65 miliar, sedangkan hingga Juni 2019 nilai ekspor komoditas pertanian mencapai Rp 117,45 miliar.

Adapun komoditas unggulan di antaranya karet lempengan, kayu karet dan sengon, cangkang sawit, kulit kayu manis, dan kopi. Sementara negara mitra dagang yang menjadi tujuan ekspor di antaranya Amerika Serikat, Tiongkok, India, Kanada, Afrika, Thailand, Taiwan, Vietnam, Malaysia, Swiss, dan Jepang.

“Sarang walet menjadi potensial karena harganya mencapai Rp 25 juta per kg, sedangkan tujuan Tiongkok harganya hingga Rp 40 juta per kg. Dari data yang ada pada 2018 ekspor sarang walet Indonesia ke Tiongkok secara keseluruhan nilainya mencapai Rp 40,6 triliun,” ucap Ischaq.

Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pertumbuhan ekspor komoditas pertanian yang positif dengan pertumbuhan 25,19% dibandingkan tahun lalu (year on year) atau senilai US$ 0,32 miliar. BPS mencatat kenaikan nilai ekspor pertanian ini menjadi salah satu variabel penting yang menyebabkan kenaikan ekspor nasional bulan Mei 2019 yaitu sebesar US$ 14,74 miliar dan naik 12,42% secara bulanan (month on month). Hal tersebut juga yang mengakibatkan neraca perdagangan nasional surplus sebesar US$ 207,6.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Bengkulu Yuliswani yang juga hadir dalam acara tersebut, mengapresiasi inisiasi dan program Kementan yang mendorong produk lokal nusantara agar dapat tembus ke pasar mancanegara. Ia berkomitmen akan terus mendukung dengan melakukan kerja sama lewat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang ada di lingkungannya.

 

Sumber: Detik.com