Optimisme untuk Kelapa Sawit

Ada optimisme yang menyeruak ketika sejumlah analis memperkirakan kinerja harga minyak sawit pada 2020.

Pascaditerpa pelemahan harga selama 2 tahun terakhir, nilai komoditas andalan ekspor itu diproyeksi terkerek
bersamaan dengan implementasi mandatori B30.

Konsumsi minyak sawit global diperkirakan bertambah ketika pasokannya berkurang seiring meningkatnya serapan domestik negara produsen melalui program diesel. Laju pertumbuhan produksi yang melambat ini tak linier dengan tingginya serapan dan berpengaruh pada menipisnya stok minyak sawit global.

Direktur Godrej International Rd Dorab E. Mistry saat menjadi pembicara dalam Indonesian palm oil Conference ke-15 di Nusa Dua, Bali pada akhir pekan lalu menyatakan kondisi di atas berpotensi memacu kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) di angka 2.700 ringgit Malaysia per ton.

Perkiraan ini ditetapkan Mistry di tengah asumsi harga minyak Brent di kisaran US$60-US$80 per barel dan kondisi sosio-ekonomi dan dolar AS. “2020 akan menjadi tahun ketika kenaikan konsumsi CPO untuk biodiesel meningkat dan pertumbuhan produksi melambat,” kata Mistry. Perlambatan produksi ini disebut

Mistry terjadi baik di Malaysia maupun Indonesia. Dia mematok produksi CPO Malaysia akan lebih rendah pada paruh pertama 2020 dan stagnan pada semester n. “Perkiraan awal saya produksi CPO Malaysia akan turun sekitar 1 juta ton pada semester pertama 2020 dan stagnan pada semester kedua,” ujarnya.

Mistry memperkirakan produksi CPO Malaysia tahun ini hanya akan menyentuh 20,3 juta ton sedangkan di Indonesia sebesar 43 juta ton. Hasil panen yang tak sesuai ekspektasi di Malaysia pada masa puncak banyak dipengaruhi oleh kemarau yang panjang dan pemangkasan penggunaan pupuk penyubur oleh para petard di tengah tekanan harga yang rendah.

Hal serupa terjadi di Indonesia, Mistry mematok pertumbuhan produksi CPO Indonesia hanya akan menyentuh 1 juta ton dan dipengaruhi oleh faktor yang serupa dengan Malaysia.

Direktur Eksekutif ISTA Mielke GmbH Oil World Thomas Mielke pada kesempatan yang sama memperkirakan pasokan global delapan komoditas minyak nabati akan tumbuh 3,2 juta ton selama periode Oktober-September 2019/2020, lebih rendah dibandingkan dengan setahun sebelumnya yang mencapai 5,4 juta ton.

Dari jumlah tersebut, sumbangan pertumbuhan pasokan sawit tetap yang paling tinggi meski lajunya turun dari 4,6 juta ton pada

2018/2019 menjadi 1,6 juta ton pada 2019/2020. Faktor penyebabnya pun serupa dengan yang dikemukakan Mistry.

Perlambatan produksi ini secara nyata terlihat di Indonesia. Perkiraan awal Mielke memperlihatkan produksi CPO Indonesia pada 2020 yang hanya akan tumbuh 1,8 juta ton, lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan produksi pada 2019 sebesar 2 juta ton dan 2018 dengan volume 4,2 juta ton.

JAGA PASOKAN

Perlambatan produksi dan serapan lokal yang meningkat hampir pasti akan menurunkan pasokan global. Sebagai eksportir sawit terbesar dunia, kebijakan Indonesia untuk tak menggantungkan pendapatan dari penjualan minyak nabati untuk pasar global dan mengalihkannya ke sektor energi dalam negeri merupakan sebuah kebijakan yang berani.

Mistry mengatakan langkah Presiden Joko Widodo untuk mewajibkan pelaku usaha menambah bauran CPO dalam bahan bakar merupakan pengubah konstelasi minyak nabati dunia. Dia mengatakan pasar mulai bereaksi karena potensi menipisnya stok yang berujung pada kenaikan harga.

Namun, kenaikan harga ini tak bisa hanya dilihat sebagai suatu keuntungan bagi produsen. Lebih dari itu, Mielke menyatakan Indonesia tidak bisa mengabaikan permintaan dari negara-negara berkembang yang selama ini membutuhkan CPO sebagai bahan baku pangan.

Stok minyak nabati yang menipis dikhawatirkan bakal mendongrak harga terlalu cepat. Dia memprediksi harga CPO pada periode Januari-Juni 2020 akan bergerak rata-rata di level US$650-US$700 per ton (FOB), nilai yang nyaris mendekati harga komoditas minyak nabati lain.

Kondisi ini tentunya merugikan konsumen dan bisa saja mempengaruhi permintaan.

“Sebagai produsen terbesar Indonesia memiliki peran untuk menjaga permintaan konsumen. Terdapat target peningkatan biodiesel sampai B50 pada 2025, namun jangan lupa bahwa konsumen di Afrika dan Asia sangat bergantung pada CPO Indonesia.”

Dalam menyikapi hal ini, Mielke dan Mistry sepakat menyarankan Indonesia untuk bersikap fleksibel dalam implementasi biodiesel. Dengan demikian, harga CPO bisa terjaga di level moderat dan tetap terjangkau bagi konsumen yang sebagian besar datang dari negara-negara emerging markets.

PRODUKTIVITAS DIPACU

Menjaga produktivitas dan keberlanjutan minyak sawit sendiri dipastikan akan tetap menjadi agenda penting nasional. Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar mengemukakan dibanding komoditas minyak nabati lain, sawit merupakan tanaman yang menjamin keberlanjutan karena produktivitasnya tinggi.

Meski memastikan bahwa sawit merupakan kepentingan nasional yang tak bisa diabaikan dalam kerja sama internasional, Mahendra mengemukakan kebutuhan dalam negeri tetap menjadi perhatian utama. Dia memperkirakan dalam 5 sampai 10 tahun ke depan serapan sawit dalam negeri kemungkinan akan lebih besar dibandingkan dengan ekspor.

Peningkatan produktivitas menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi sawit agar tetap kompetitif di tengah permintaan minyak nabati yang diproyeksi tumbuh.

Percepatan peremajaan diharapkan dapat mendongkrak daya saing sawit Indonesia. Pasalnya, dari total 14,3 juta hektare (ha) lahan sawit di Tanah Air, sekitar 2,4 juta ha di antaranya berada dalam kondisi tak menghasilkan (Tanaman Belum Menghasilkan/ TBM) dengan produktivitas yang menurun atau telah memasuki usia tua.

“Dengan perkiraan 180.000 hektare diremajakan mulai 2020, peremajaan untuk 2,4 juta hektare baru selesai pada 2032 mendatang,” kata Direktur Jenderal Perkebunan Kasdi Subagyono.

Kasdi pun menyatakan 2,4 juta ha bukanlah angka yang stagnan. Terdapat potensi perubahan mengingat tanaman yang masuk usia peremajaan bisa bertambah setiap tahunnya.

 

Sumber: Bisnis Indonesia