DONGKRAK PASAR RUSIA, INDONESIA TEKEN MEMORANDUM OF COOPERATION

 

JAKARTA – Pada awal Agustus 2017 lalu, Kementerian Perdagangan beserta asosiasi dan perusahaan dari sektor kelapa sawit melakukan misi diplomasi ke Rusia. Misi diplomasi ini bertujuan untuk mengenalkan lebih jauh bahwa produk minyak sawit asal Indonesia diperoleh dengan cara-cara yang ramah lingkungan.

Pada kesempatan tersebut, kerja sama juga dilakukan dan dituangkan dalam Memorandum of Cooperation (MoC) antara Dewan Minyak Sawit Indonesia dengan Pengusaha Minyak Sawit Rusia.

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita memandang, MoC sangat penting untuk meningkatkan perdagangan antarkedua negara, terutama Indonesia dan juga untuk memperluas promosi dan diseminasi informasi produk minyak sawit Indonesia di Rusia.

Menanggapi adanya kerja sama antara dua negara tersebut, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia(GIMNI), Sahat Sinaga, yang juga merupakan salah satu inisiatior MoC, optimis dengan adanya MoC ini. “Perdagangan minyak sawit Indonesia dapat meningkat dua kali lipat dalam satu sampai dua tahun kedepan,” tandas Sahat Sinaga. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Andal Mengolah Alam

 

Selain kekayaan minyak bumi yang ada di bawah tanah. Provinsi Riau juga memiliki limpahan minyak di atas permukaan tanah, yakni minyak kelapa sawit. Demikian disampaikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat meresmikan pabrik oleokimia Sinar Mas Cepsa di Dumai, Provinsi Riau, pekan lalu.

Sebelumnya, Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman pun sempat menyuarakan keinginan pemerintah daerah agar pemerintah pusat mendukung penyiapan sumber daya manusia (SDM) masyarakat setempat Harapan yang masuk akal, agar warga Riau dapat berperan aktif dalam dinamika kegiatan investasi di daerah sendiri.

Minyak bumi dan produk turunannya selama ini berperan penting untuk kebutuhan energi dan bahan baku di berbagai sektor industri. Demikian pula minyak kelapa sawit yang laku sebagai komoditas dan potensial pula menurunkan berbagai produk derivatif bernilai tambah tinggi. Tak terkecuali sumber daya alam (SDA) lainnya.

Peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi industri belakangan menjadi fokus pemerintah. Pengembangan industri hilir pun diatur dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional 2015-2035. Merujuk data dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin), ada berbagai industri yang memproduksi berbagai produk berbahan baku sawit Apalagi sawit dapat diolah menjadi beragam produk mulai margarin, biodiesel, hingga bioavtur atau bahan bahan bakar jet .

Bahkan ada pula potensi mengarahkan pengolahan produk sawit untuk menghasilkan produk substitusi impor, seperti bioplastik. Bijih plastik dari sawit ini dinilai akan mampu menggantikan impor bahan baku plastik di industri petrokimia.

Tak tertutup kemungkinan, seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, akan semakin banyak lagi produk yang bisa dihasilkan atau dikembangkan dari SDA Indonesia. Di titik ini, peran SDM berkompetensi menjadi hal sentral.

Penyediaan dan peningkatan kompetensi SDM industri pun disebutkan sebagai perwujudan kebijakan Kemenperin dalam meningkatkan daya saing dan produktivitas. Upaya dilakukan melalui pendidikan vokasi industri dengan jenjang sekolah menengah kejuruan (SMK) dan diploma.

Selain itu, bekerja sama dengan pihak industri, juga diselenggarakan pelatihan industri dengan sistem 3-in-l. Sistem ini mencakup pemberian pelatihan, sertifikasi kompetensi, dan penempatan kerja. Merujuk data dari Kemenperin, pada 2016 dunia kerja telah menyerap 4.566 lulusan pendidikan vokasi unit pendidikan Kemenperin dan 10.820 SDM industri yang telah melalui pendidikan dan pelatihan sistem 3-in-l tersebut.

Melalui jalur-jalur tersebut, hingga Juni 2017 sudah ditempatkan 9.948 orang. Selain itu, ada pula program penjalinan untuk menghubungkan SMK dengan industri pada 2017. Tercatat ada 308 perusahaan industri yang membina 1.035 SMK di Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Barat.

Program pengembangan SDM industri tersebut menargetkan pencapaian 1 juta tenaga kerja industri yang memiliki sertifikasi kompetensi. Peningkatan daya saing produktivitas pun direncanakan berlanjut pada 2018 mendatang. Kapasitas SDM dan potensi sumber daya alam merupakan dua hal penting. Paduan keduanya akan memampukan suatu negeri mengoptimalkan keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif.

Semakin melimpah kekayaan alam Indonesia, kiranya semakin perlu sinergi itu untuk memastikan optimalisasi manfaat bagi negeri ini. Saatnya membangun SDM industri. Membangun industri. Membangun negeri ini.

(C ANTO SAPTOWALYONO)

Sumber: Kompas

Harga CPO Memoles emiten kebun

 

Harga minyak sawit mentah atawa crude palm oil (CPO) berada dalam tren menguat. Sektor perkebunan kelapa sawit pun akan diuntungkan dari membaiknya harga komoditas ini.

Sepanjang semester I-2017 lalu, harga CPO memang turun 14,19%. Namun, sejak akhir Juni sampai saat ini, harga CPO meningkat hingga 16,54%. Pada penutupan perdagangan Jumat (15/9) lalu, harga CPO kontrak pengiriman November 2017 di Malaysia Derivative Exchange mencapai RM 2.861 per metrik ton.

 

Jadi, kinerja emiten perkebunan pada paruh kedua tahun ini bisa jauh lebih baik dibandingkan semester pertama lalu. Yosua Zisokhi, Analis Henan Putihrai Sekuritas, mengatakan, dibanding tahun lalu harga jual CPO tahun ini memang cenderung naik.

Karena itulah beberapa emiten CPO sudah mulai menikmati pertumbuhan kinerja keuangan sejak awal tahun ini. “Tahun ini harga CPO sudah naik, rata-rata berkisar di level RM 2.800 hingga RM 3.000 per metrik ton,” ujar Yosua kepada KONTAN, akhir pekan lalu.

Kinerja positif emiten perkebunan diproyeksi masih bisa berlanjut hingga akhir tahun ini. Apalagi, jika melihat secara historis, produksi CPO pada semester kedua selalu lebih tinggi dibandingkan produksi semester pertama.

Meski peningkatan produksi berpotensi melemahkan harga, tetapi menurut Yosua, harga jual CPO masih akan tetap bertahan di kisaran RM 2.700 per metrik ton. “Kalaupun ada penurunan harga CPO, tidak akan terlalu dalam. Produsen juga sudah bisa mengantisipasi penurunan harga,” terang dia.

Novilya Wiyatno, Analis Mega Capital Sekuritas, juga mengatakan, kinerja positif emiten CPO bisa berlanjut sampai kuartal I-2018 mendatang. Produksi CPO juga masih didukung kondisi cuaca yang membaik.

Novilya mengatakan, permintaan CPO juga tengah meningkat. Salah satunya berasal dari program biodiesel. “Porsi kebutuhan minyak sawit untuk pengembangan energi terbarukan mencapai 20% dan akan bertambah menjadi 30% di 2020,” papar dia.

Kenaikan produksi

Pada semester I-2017, beberapa perusahaan kelapa sawit sudah membukukan kenaikan produksi CPO. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), misalnya, menorehkan kenaikan produksi CPO sebesar 13,7% sepanjang semester I-2017 lalu menjadi 762.000 ton.

Lalu, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), mencetak kenaikan produksi CPO mencapai 17,1% menjadi 180.525 ton. Produksi tandan buah segar (TBS) dari kebun inti LSIP juga melonjak 19,7% menjadi 585.576 ton.

Namun menurut Novilya, masih ada sentimen negatif yang membayangi nasib emiten CPO, yakni rencana boikot minyak sawit dari kawasan Uni Eropa. Jika negosiasi yang dilakukan sejumlah negara produsen gagal, maka permintaan CPO dari Benua Biru itu akan merosot.

Sementara itu, Sharlita Malik, Analis Samuel Sekuritas Indonesia, melihat ada potensi kenaikan permintaan CPO akibat perayaan Diwali di India. Festival cahaya itu diperkirakan bisa mengerek permintaan CPO sekitar 5%-6%. Selain permintaan, produksi minyak sawit juga berpotensi meningkat sekitar 10%.

Tapi, seiring peningkatan produksi yang signifikan, harga jual CPO pun akan menyesuaikan dan bisa terkoreksi. Namun, tren pelemahan mata uang ringgit Malaysia masih bisa menjadi katalis positif yang mengimbangi pelemahan harga CPO. Sharlita merekomendasikan netral terhadap saham sektor perkebunan. Ia memprediksi, harga rata-rata CPO akan berada di level RM 2.750 per metrik ton.

Sepanjang tahun ini, harga saham sektor perkebunan masih turun sekitar 4,63%. Tapi, dengan adanya potensi kenaikan harga CPO, beberapa saham emiten perkebunan kelapa sawit masih menarik untuk dicermati.

Sharlita memberi rekomendasi buy untuk saham AALI dengan target harga Rp 17.000 per saham. Novilya juga menyukai saham AALI dan merekomendasikan buy dengan target harga Rp 18.675 per saham. Ia juga memberi rekomendasi buy untuk saham LSIP dengan target harga sebesar Rp 1.600 per saham.

Yosua juga menyebutkan, selain diuntungkan oleh kenaikan harga CPO, LSIP dan AALI juga punya keunggulan lain, yakni memiliki lahan kelapa sawit yang luas. Karena itulah, Yosua juga memberi rekomendasi buy untuk kedua saham tadi. Ia mematok target harga untuk AALI sebesar Rp 17.200 per saham dan target harga LSIP di Rp 1.700 per saham.

Sumber: Kontan.co.id

Produksi CPO Bakal Capai 42 Juta Ton, Industri Hilir Dipacu

 

Jakarta – Kementerian Perindustrian konsisten untuk mendorong pertumbuhan populasi industri hilir pengolahan minyak sawit di dalam negeri. Hal ini karena produksi CPO nasional diperkirakan mencapai 42 juta ton pada tahun 2020. Salah satu sektor hilir minyak sawit yang tengah dipacu pengembangannya adalah subsektor industri oleokimia.

neraca

“Hilirisasi industri akan meningkatkan nilai tambah dan kemampuan dalam menghasilkan produk yang beragam dan inovatif,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Peresmian Pabrik Oleokiinia PT. Energi Sejahtera Mas di Kawasan Lubuk Gaung, Dumai, Riau, pekan 1 alu, disalin dari siaran resmi.

Menurut Menperin, salah satu sektor hilir minyak sawit yang tengah dipacu pengembangannya adalah subsektor industri oleokimia. “Pasar produk oleokimia, baik di domestik maupun ekspor, masih terbuka luas karena merupakan kebutuhan balian baku bagi sejumlah industri,” ujarnya.

Airlangga menyampaikan, pemerintahmengapre-siasi langkah Sinar Mas Group dan Cepsa Spain sebagai penggagas Sinar Mas Cepsa atau PT. Energi Sejahtera Mas, yang membangun pabrik oleokimia di pusat produksi minyak sawit nasional sehingga terintegrasi proses produksinya dari hulu sampai hilir.

“Selain itu, perusahaan akan menyediakan fasilitas riset dan pengembangan teknologi untuk inovasi produk yang berdaya saing dalamupayamenyesuaikan tren terbarukan masyarakat dunia,” tutumya.

Menperin meyakini keberadaan pabrik ini bisa menghidupkan aktivitas ekonomi sekitar Kota Dumai dan Provinsi Riau. Untuk itu, pabrik oleokimia ini diharapkan menjalin kemitraan antara industri pengolahan dengan petani sawit sebagai pemasok bahan baku sehingga akan tercipta pemerataan kesejahteraan bersama.

“Sebagai pembina sektor industri nasional, kami senantiasamemberikandu-kungan agar pabrik ini dapat terus beroperasi secara berkelanjutan, menciptakan nilai tambah dengan aneka produk hilir yang inovatif, hingga mampumem-perkuat struktur industri hilir sawit yang terintegrasi di Indonesia,” ungkap Airlangga.

Dalam mendukung kemudahan investasi sektor industri hilirminyaksawitdi dalam negeri, Pemerintah Indonesia telah mengimplementasikan dua kebijakan strategis, yaitu pengamanan bahan baku berupa tarif bea keluar dan dana perkebunan yangpro industri, serta pemberian insentif fiskal dan non fiskal untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif.

Alhasil, Kemenperin mencatat, terdapat pertumbuhan industri hilir minyak sawit sekitar 46 persen pada kurun waktu 201 l-2014pas-ca pemberlakukan PMK No. 128/2011 tentang tarif Bea Keluar dan PP No. 52 Tahun 2011 sena PMK No. 130 tahun 2011 tentang Insentif Tax Allowance dan Tax Holiday.

Sementara itu, Sinar Mas Cepsa telah memanfaatkan fasilitas Pembebasan Pajak Penghasilan Badan (PPh Badan) selama tujuh tahun. Fasilitas tersebut hanya dikhususkan bagi industri pioner dengan tingkat teknologi tinggi. Aspek ek-stemalitas yang luas, dan menciptakan rantai forward dan backward linkage bagi perekonomian regional dan nasional.

Pada kesempatan tersebut, Menperin juga mengatakan, kerja sama antara Sinar Mas Agribusiness and Food dengan Cepsa, perusa-haan energi asal Spanyol ini tidak hanya dilihat dari sisi bisnis, namun dapat memperluas pintu ekspor sawit indonesia ke pasar Eropa. “Jaringan bersama Eropa sangat penting. Untuk itu, joint venture diharapkan akan membawa nama baik bagi CPO Indonesia,” ujarnya.

Airlangga menambahkan, industri sawit merupakan salah satu sektor strate-gis bagi Indonesia karena sebagai produsen dan eksportir terbesar dunia. Sektor ini mampu menyerap tenagakerjamencapai21 juta orang baik secara langsung maupun tidak langsung. “Kontribusi Kelapa Sawit juga mencapai USD20 miliar pada tahun 2016,” tuturnya.

Dalam bidang industri pengolahan, Indonesia berpeluang menjadi pusat industri sawit global untuk keperluan pangan, non pangan, dan bahan bakar terbarukan. Kemenperin mencatat, Indonesia berkontribusi sebesar 48 persen dari produksi CPO dunia dan menguasai 52 persen pasar ekspor minyak sawit. “Ini menjadi kekuatan yang san-gatbesar pada konstelasi pasar domestik dan internasional bagi produk hilir minyak nabati” imbuh Airlangga.

Chairman Sinar Mas Agribusiness , and Food Franky O. Widjaja mengungkapkan, usaha patungan ini diciptakan dengan visi untuk menjadi produsen alkohol lemak berbasis nabati serta turunannya yang terdepan dengan skala global danden-gan pasokan bahan baku yang berkelanjutan.

Apalagi, penjualan alkohol lemak berbasis nabati kian diminati sebagai bahan baku untuk produk perawatan pribadidan deterjen cair. “Upaya kami ini untuk meningkatkan nilai tambah bagi produk turunan Kelapa Sawit dan terus menciptakan lapangan kerja di Indonesia,” ucapnya.

Pabrik oleokimia yang menelan nilai investasi mencapai Rp4,77 triliun ini akan memproduksi asam lemak dan lemak alkohol berkapasitas 160.000 metrik ton per tahun dan memiliki pangsa pasar di kawasan Asia, Eropa Timur dan Eropa Barat. Pabrik ini secara lang-sungmemberikan lapangan pekerjaan bagi 300 tenaga kerja Indonesia.

 

Sumber: Harian Ekonomi Neraca

Industri Hilir minyak Sawit Terus Berkembang

 

FILE PHOTO: A worker adjusts the netting on a lorry carrying palm oil fruits inside a palm oil factory in Sepang, outside Kuala Lumpur June 18, 2014. REUTERS/Samsul Said/File Photo

 

Indonesia semakin meningkatkan hilirisasi industri minyak sawit. Hal ini pun terlihat dari beberapa perusahaan yang berusaha mengembangkan produk turunan minyak sawit.

Direktur Eksekutif Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Iskandar Andi Nuhung mengungkapkan, saat ini ekspor turunan minyak kelapa sawit semakin melampaui ekspor minyak sawit mentah (CPO).

Meskipun tidak mengungkap berapa angka pasti besaran ekspor produk olahan CPO, Andi mengatakan saat ini jumlahnya sudah sekitar 65% dibandingkan ekspor CPO. Menurut Andi, kondisi ini harus terus ditingkatkan, mengingat semakin berkembangnya hilirisasi industri minyak sawit semakin memberi nilai tambah pada produk olahan CPO Indonesia.

Selain memberikan nilai tambah, Andi juga beranggapan dengan adanya hilirisasi ini Indonesia akan bisa menghentikan impor produk olahan CPO dari negara lain. Apalagi, barang-barang yang diimpor tersebut lebih mahal dibandingkan nilai ekspor CPO Indonesia. “Selama ini produk olahan CPO itu kita impor. Kalau industri hilurnya berekmbang kan lebih bagus, jadi kita tidak perlu impor lagi,” tutur Andi, Jumat (15/9).

Menurut Andi, perkembangan industri hilir CPO ini juga merupakan salah satu efek positif dari pemboikotan produk CPO Indonesia di beberapa negara, seperti yang dilakukan Uni Eropa dan Amerika. Dia berpendapat, dengan adanya pemboikotan tersebut Indonesia akhirnya bisa lebih fokus mengembangkan produk olahan CPO sendiri.

Meski begitu, Andi tidak menampik masih ada kemungkinan produk olahan CPO Indonesia akan mengalami hal yang sama dengan CPO Indonesia. “Negara lain itu kan bisa melakukan segala cara supaya produknya tetap berkembang. Dia juga akan melakukan penelurusan setiap produk yang diimpor, termasuk hasil olahan CPO kita. CPO kan dari sawit, sawitnya dari mana, jadi mereka akan menelusuri keaslian produk itu,” ungkap Andi.

Meski begitu, Andi berpesan supaya masyarakat Indonesia terus berpikiran positif terhadap tuduhan yang dilayangkan pada Indonesia. Pasalnya, dia berpendapat tuduhan tersebut bisa memberikan dampak positif serta memberikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi industri kelapa sawit di Indonesia. Menurutnya, upaya perwakilan Indonesia yang melakukan negoisasi dengan negaran lain terus menghasilkan dampak yang baik.

“Tampaknya usaha-usaha yang dilakukan oleh delegasi Indonesia untuk Eropa dan Amerika memberikan hal positif. Misalnya mereka memahami dan mereka ingin lebih banyak melihat sawit tersebut dikembangkan. Kita bisa menjelaskan cara menanam sawit di Indonesia, kita punya Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO), dan cara bertanam yang baik. Dan ada juga negara yang membuat kajian bagaimana pengaruh sawit ini. Akhirnya ada solusi yang diberikan,” tandas Andi.

Sumber: Kontan.co.id

Ekspor Indonesia Melejit Ditopang CPO Batubara

 

 

JAKARTA. Kinerja ekspor terus meningkat. Bahkan, nilai ekspor pada Agustus 2017 berhasil menciptakan rekor nilakerbesar baru sejak Oktober 2014, US$ 15,29 miliar.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada Agustus 2017 mencapai US$ 15,21 miliar atau meningkat 11,73% dibandingkan sebulan sebelumnya, dan tumbuh 19,24% Secara tahunan atau year on year (yoy).

Januari-Agustus 2017, nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 108,79 miliar atau naik 17,58% yoy. “Ekspor migas maupun nonmigas sama-sama naik secara month on month (mom),” kata Kepala BPS Suhariyanto, Jumat (15/9).

Nilai ekspor migas naik menjadi US$ 1,16 miliar menjadi US$ 1,28 miliar. Sedang ekspor nonmigas naik dari US$ 12,45 miliar menjadi US$ 13,93 miliar. “Kenaikan harga batubara, minyak sawit, minyak kernel, karet, tembaga, dan logam mendongkrak ekspor nonmigas,” ujar dia.

Harga rata-rata minyak sawit atau crude Palm Oil (CPO) di bursa Malaysia pada Agustus 2017 RM 2.677,91 per metrik ton, naik 4,31% dari rata-rata harga Juli. Pada periode yang sama,, harga rata-rata batubara di bursa Newcastle naik 12,72% menjadi US$ 92,01 per metrik ton.

Ekspor CPO pada Agustus US$ 2,06 miliar, tumbuh 22,31% dari Juli. Untuk batu bara, naik 3,81% menjadi sekitar US$ 1,71 miliar.

Kenaikan ekspor ini menjadikan neraca perdagangan surplus US$ 1,72 miliar, melonjak dari Juli yang defisit USS 274,4 juta. Secara kumulatif Januari-Agustus 2017, surplus neraca perdagangan sebesar USS 9,11 miliar atau naik 77,59% yoy.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution meyakini ekspor masih akan meningkat. Alasan dia, kegiatan ekspor cenderung semarak pada semester II.

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan BI, Dody Budi Waluyo pun sepakat. Mengingat, kurs rupiah saat ini cukup kompetitif.

Tapi, kenaikan ekspor yang dipicu ekspor CPO dan batubara sesungguhnya rentan bagi Indonesia. Tatkala harga keduanya turun, nilai ekspor bakal goyah lagi. Akan lebih aman jika ekspor ini ditopang oleh non-komoditas.

Ghina Ghaliya Quddus

 

Sumber: Harian Kontan

INDONESIA BERUPAYA SERAP MASUKAN DARI PEBISNIS MINYAK SAWIT DI INDIA

 

MUMBAI – India merupakan salah satu negara tujuan utama ekspor Indonesia. Tahun 2016 sejumlah 8% total eksporIndonesia ditujukan ke India, dan 34% dari komoditas yang di ekspor merupakan minyak sawit dengan nilai ekspor sebesar US$ 3,4 Miliar. Tapi jumlah ini sedikit mengalami penurunan jika dibandingkan dengan nilai ekspor pada tahun 2012 sebanyak US$ 4,8 Miliar. Tahun 2016 India mengimpor 5,3 Juta Ton minyak sawit dari Indonesia, melebihi impor dari Malaysia sebesar 2,9 Juta Ton.

Jelas, sebagai importir minyak nabati terbesar di dunia, India merupakan pasar dan mitra yang sangat penting bagi Indonesia, khususnya untuk produk minyak sawit. Selain sebagai tujuan ekspor terbesar minyak sawit Indonesia saat ini, India juga merupakan pasar yang terus berkembang dengan kondisi makro ekonomi yang stabil dan jumlah penduduk yang sangat besar. Sayangnya terdapat kecenderungan penurunan pangsa pasar minyak sawit Indonesia di India.

Menyadari hal tersebut, Indonesia terus melakukan berbagai upaya agar ekspor minyak sawit Indonesia tidak mengalami penurunan dan bahkan mengalami peningkatan. Untuk itu Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), bersama-sama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Mumbai, India pada  (13/9/2017) melaksanakan Indonesia – India Business Forum on Palm Oil di Mumbai, India yang bertujuan untuk menyerap berbagai masukkan dari pelaku bisnis di India mengenai produk sawit Indonesia, serta menegaskan komitmen Indonesia untuk terus memenuhi permintaan minyak sawit di India yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Acara ini diselenggarakan atas kerjasama BPDPKS dengan KJRI Mumbai serta Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), dan Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI).

Duta Besar Indonesia untuk India Sidharto R. Suryodipuro yang membuka acara tersebut manyampaikan bahwa sebagai sesama negara eksportir, India dan Indonesia sama-sama memiliki kesamaan yang merupakan modal penting bagi kerjasama kedua negara. “Bagi Indonesia, India merupakan pasar penting CPO Indonesia. Kami juga memahami bahwa permintaan CPO di India terus mengalami peningkatan, dan Indonesia siap untuk terus bekerjasama agar dapat memenuhi tuntutan permintaan yang tinggi tersebut,” Jelas Dubes Sidharto dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT.

Lebih lanjut tutur Sidharto,  Pemerintah Indonesia dapat memahami beberapa concern dari pelaku bisnis india, dari petani maupun produsen dan Indonesia akan berupaya untuk memberikan respons yang baik terhadap concern tersebut. Lebih lanjut Dubes Sidharto juga mengharapkan agar GAPKI dan Asosiasi Minyak Nabati India, dapat terus bekerjasama.

Sementara, Staf Ahli Menteri Luar Negeri Bidang Diplomasi Ekonomi, Ridwan Hassan menegaskan, bahwa Indonesia menaruh perhatian terhadap pentingnya hubungan Indonesia dan India, dan meyakini bahwa sawit dapat menjadi tulang punggung hubungan yang penting tersebut. “Kita memahami bawa sawit sangat penting bagi Indonesia karena kontribusinya yang besar bagi perekonomian nasional, tapi sawit juga penting bagi India sebagai bahan baku untuk produk-produk lain yang dapat memberikan keuntungan bagi India,” Jelas Ridwan Hassan. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

,

Indonesia Perbesar Pasar Ekspor CPO ke India

 

 

 Indonesia terus mengembangkan ekspor minyak kelapa sawit (CPO) ke India. Terlebih pada 2016, sekitar 34% ekspor minyak kelapa sawit dari total keseluruhan di ekspor ke India.

Nilai ekspor tersebut sebesar US$ 3,4 miliar. Tahun 2016, India juga mengimpor 5,3 juta ton minyak sawit dari Indonesia, melebihi impor dari Malaysia sebesar 2,9 Juta Ton.

Meski begitu, jumlah ekspor minyak sawit ke India cenderung menurun dari tahun ke tahun. Nilai ekspor dari tahun 2012 pun mengalami penurunan. Dari 2012, nilai ekspor minyak sawit ke India sebesar US$ 4,8 miliar. Karena itulah Indonesia terus berupaya meningkatkan ekspornya ke Indonesia

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) bersama Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Mumbai, India melaksanakan Indonesia – India Business Forum on Palm Oil di Mumbai, India, Rabu (13/9).

Ini bertujuan untuk menyerap berbagai masukan dari pelaku bisnis di India mengenai produk sawit Indonesia, serta menegaskan komitmen Indonesia untuk terus memenuhi permintaan minyak sawit di India.

BPDPKS dan KJRI Mumbai juga bekerjasama dengan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), dan Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI).

Duta Besar Indonesia untuk India Sidharto R. Suryodipuro mengungkap, sebagai sesama negara eksportir, India dan Indonesia sama-sama memiliki kesamaan yang merupakan modal penting bagi kerja sama kedua negara.

“Bagi Indonesia, India merupakan pasar penting CPO Indonesia. Kami juga memahami bahwa permintaan CPO di India terus mengalami peningkatan, dan Indonesia siap untuk terus bekerjasama agar dapat memenuhi tuntutan permintaan yang tinggi tersebut,” tutur Sidharto dalam keterangan tertulis yang diterima KONTAN, Kamis (14/9).

Dia juga manyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia dapat memahami beberapa kekhawatiran pelaku bisnis India, dari petani maupun produsen dan Indonesia akan berupaya untuk memberikan respons yang baik terhadap concern tersebut. Sidharto juga mengharapkan agar GAPKI dan Asosiasi Minyak Nabati India, dapat terus bekerjasama.

Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono juga menegaskan bahwa sawit merupakan kontributor terbesar bagi perekonomian nasional. Tidak saja bagi industri besar tetapi juga untuk petani, karena Sawit memberikan lapangan pekerjaan dan penting untuk pengembangan pedesaan.

Sementara itu, Hesti Sinthya Paramita mewakili Kementerian Perdagangan menyampaikan bahwa terdapat beberapa hambatan dalam ekspor sawit Indonesia ke India. Salah satunya adalah kenaikan tarif impor yang saat ini berlaku dari 7,5% menjadi 15% atau sekitar US$ 699 per ton.

Menanggapi hal ini, B.V Mehta, Direktur Eksekutif the Solvent Extractors’ Association of India mengatakan bahwa kebijakan pajak ekspor minyak sawit yang diberlakukan oleh negara produsen di Indonesia cukup mempengaruhi impor minyak sawit ke India.

Oleh karena itu, B.V Mehta menyarankan agar Pemerintah Indonesia juga mempertimbangkan untuk menurunkan pajak ekspor tersebut.

 

Sumber: Kontan. co.id

,

GIMNI Tak Ingin Wajib Pasok Minyak Sawit di Dalam Negeri Diterapkan

 

Pangkalan Bun – Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) meminta Kementerian Perdagangan tidak melaksanakan kewajiban pasok domestik atau domestic market obligation (DMO).

“Kami anjurkan DMO tidak dilaksanakan oleh pemerintah,” kata Direktur Eksekutif GIMNI, Sahat Sinaga, di Jakarta, Rabu (13/9/2017).

Sahat menilai kebijakan tersebut kurang tepat dilakukan. Hal tersebut melihat tujuan dari diberlakukannya DMO adalah untuk menjaga pasokan minyak dalam negeri sehingga harga dapat terkendali.

“Saat harga rendah seperti ini DMO tidak tepat dilakukan. Kekhawatiran pemerintah adalah saat harga Crude Palm Oil (CPO) sedang tinggi, kondisi tersebut akan membuat industri mengekspor CPO sehingga pasokan dalam negeri akan berkurang dan momentum kenaikan harga CPO hanya sebentar,” papar dia.

Mencegah hal itu, lanjut Sahat, pihaknya menyarankan agar pemerintah membuat bendungan bagi CPO. Bendungan itu dibentuk dengan cara menaikkan harga tarif ekspor CPO.

“Bendungan tersebut, akan membuat minyak tidak mengalir ke luar Indonesia,” ujarnya.

Sahat menambahkan, DMO pernah dilakukan sebelumnya pada 2008. Namun, pelaksanaan kebijakan tersebut kacau akibat dari kurangnya kesiapan.

“Guna memberlakukan DMO, pemerintah harus menyiapkan tanki penampung minyak dengan kapasitas 300.000 ton. Tanki tersebut digunakan untuk menampung CPO dari perkebunan untuk didistribusikan ke industri. Bila hal tersebut tidak dilakukan, akan terjadi kekacauan dalam pendistribusian CPO,” tutur Sahat. (NEDELYA RAMADHANI/m)

 

Sumber: Borneonews.com

Potensi Besar Ekspor CPO ke Negara-Negara Muslim

JAKARTA. Indonesia akan mengembangkan pasar minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) ke negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Pengembangan pasar dilakukan karena negara-negara anggota OKI dinilai potensial menjadi tujuan ekspor CPO Indonesia di masa depan. “Satu hal yang ingin saya sampaikan adalah OKI ini pasar yang besar,” ujar Dody Edward, Staf Ahli Menteri Perdagangan (Mendag) Bidang Hubungan Internasional, Rabu (13/9).

Untuk itu, Dody bilang, pemerintah akan memanfaatkan pasar nontradisional CPO dan fokus Untuk memasarkan CPO kepada anggota OKI. Negara-negara muslim ini dinilai memiliki potensi yang luas karena terdapat 57 negara yang tergabung didalamnya Dari 57 negara tersebut memiliki sebanyak 1,6 miliar penduduk. Untuk menggarap pasar anggota OKI ini maka berarti pemerintah harus menggali pasar di Afrika dan Timur Tengah.

Dody menjelaskan, pada tahun 2016 neraca perdagangan Indonesia dengan negara OKI surplus sebesar US$ 914 juta. Angka tersebut meningkat sekitar 76% sejak tahun 2012. Berdasarkan data tersebut komoditas utama yang diekspor ke negara OKI adalah CPO beserta turunannya Hanya saja, anggota OKI masih menerapkan bea masuk yang tinggi untuk produk CPO ini

Dody bilang, rata-rata bea masuk produk komoditas asal Indonesia ke negara OKI masih di atas 10%. Makanya, dengan intensitas perdagangan CPO ini diharapkan tarif bea masuk akan ditekan dan pemerintah berharap pemangkasan bea masuk ini bisa turun setengahnya.

Abdul Basith Bardan

Sumber: Harian Kontan