MAKSI Informasikan Keunggulan Sawit Lewat “Sawit Goes to Campus”

 

InfoSAWIT, TERNATE – Bukan lagi menjadi rahasia umum, bahwa perkembangan industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia tercatat semakin pesat, tidak terkecuali perkembangannya di Provinsi Maluku Utara khususnya di tiga lokasi yaitu Halmahera Selatan, Halmahera Tengah dan Halmahera Timur.

Sebab itu, guna memberikan infromasi dan fakta yang benar mengenai perkebunan kelapa sawit, khususnya di Provinsi Maluku Utara, Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang di dukung sepenuhnya oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), menyelenggarakan kuliah umum dengan tema “Sawit Goes to Campus: Membangun Kebanggaan Generasi Penerus Terhadap Keunggulan Sawit”.

Dalam paparannya, Ketua MAKSI, Darmono Taniwiryono menjelaskan, bahwa sawit memiliki peranan penting sebagai pelengkap dan percepatan asupan pro vitamin A dan Vitamin E terutama di era pandemi Covid-19.

Lebih lanjut kata dia, buah sawit kaya akan fitonutrien sebagai antioksidan dan anti-inflamasi. Fitonutrien juga dapat meningkatkan kekebalan dan meningkatkan komunikasi antar sel, memperbaiki kerusakan DNA akibat paparan racun, mendetoksifikasi karsinogen, dan mengubah metabolisme estrogen.

“Lemak jenuh yang terdapat pada sawit sangat dibutuhkan sel-sel sebab membran sel dilindungi oleh dua pasang lapisan lemak (fatty bilayers) selain itu organel di dalam sel juga membutuhkan fatty bilayers,” katanya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT.

Sementara, Wakil Sekjen GAPKI, Agam Fatchurrochman Menjelaskan, kelapa sawit merupakan tanaman strategis yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dan perkembangannya mengalahkan negara tetangga Malaysia sejak 2005.

Lantas, dari segi penerapan praktik sawit berkelanjutan, Indonesia merupakan produsen sawit yang lahan perkebunan kelapa sawitnya telah disertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) lebih dari 2 juta ha, dan sebanyak 4,5 juta ha kebun sawit yang telah mengantongi sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Dengan sebanyak 668 perusahaan yang telah memperoleh sertifikat ISPO, serta 410 diantara perusahaan yang telah memperoleh sertifikat ISPO tersebut adalah anggota Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonsia (GAPKI). “Fakta ini mematahkan argumen beberapa pihak yang mengatakan bahwa tanaman sawit tidak sustainable,” tutur Agam.

Komite Litbang BPDPKS Kemenkeu, Arief Rahmad Maulana Akbar, menjelaskan bahwa dalam 24 jam kehidupan kita tidak terlepas dari produk turunan yang dihasilkan sawit seperti pakaian, perlengkapan mandi, kosmetik dan bahkan makanan.

Arief juga memaparkan bahwa industri sawit Indonesia akan dihadapkan pada tantangan seperti isu lingkungan & sosial, isu kesehatan dan keamanan pangan, ketergantungan pada teknologi asing, trend berkurangnya TK perkebunan, gap produksi di perkebunan dan diversifikasi produk turunan dan pasar terbatas. Road map penelitian juga disampaikan oleh Arief dimana riset-riset yang sedang berjalan diantara untuk peningkatan produktivitas/efisiensi, peningkatan aspek sustainability dan awareness terhadap lingkungan serta penciptaan produk/pasar baru. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

,

Kupas Tuntas Regulasi Minyak Jelantah Dari Aspek Tata Niaga dan Kesehatan

 

Mohon izin menyampaikan Undangan Dialog Webinar Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) dan Majalah Sawit Indonesia yang bertemakan:

“Kupas Tuntas Regulasi Minyak Jelantah Dari Aspek Tata Niaga dan Kesehatan”

Hari/Tanggal : Rabu, 23 Juni 2021

Waktu : 09.00 WIB – 12.30 WIB
(Jam 08.30 WIB Room Meeting sudah dibuka)

Tempat : Zoom Cloud Meeting

Registrasi :
https://events.sawitindonesia.com/registrasi-webinar-gimni-msi-2021

Flayer :
https://drive.google.com/file/d/15y27Dj8Hrw1YFxguXJlMa61ErS7R9kBA/view?usp=sharing

Keynote speaker dan Pembukaan: Dr. Musdhalifah Machmud, Deputi Bidang Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian

Sambutan:
1. Eddy Abdurrachman, Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit
2. Bernard Riedo, Ketua Umum Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia

Pembicara:
1. Veri Anggrijono, Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan RI
2. Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif GIMNI
3. Rita Endang, Deputi Bidang Pangan Olahan BPOM RI
4. Prof. Erliza Hambali, Guru Besar IPB

GRATIS dan terbuka untuk umum. Ada doorprize dan e-sertifikat bagi peserta yang mendaftar.

Terima kasih,
GIMNI dan Majalah Sawit Indonesia

,

Hilirisasi Sawit Ungkit Permintaan Domestik

 

JAKARTA – Proses hilirisasi sawit yang kian meluas di sektor pangan, kosmetik, hingga energi telah mengungkit permintaan di pasar domestik. Konsumsi minyak sawit di dalam negeri diproyeksikan meningkat 6,60% menjadi 18,50 juta ton tahun ini. Sementara itu, sepanjang 2020, konsumsi minyak sawit domestik mencapai 17,35 juta ton atau meningkat 3,60% dari tahun sebelumnya.

Ketua Umum Gabungan Pengusahakelapa sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan, kinerja industri sawit nasional tak hanya ditopang pasar ekspor, namun juga dari pasar domestik. Pada 2020 misalnya, konsumsi minyak sawit domestik naik 3,60% dari tahun sebelumnya. Peningkatan sepanjang tahun tersebut karena naiknya permintaan oleokimia untuk konsumsi sabun dan bahan pembersih, serta meningkatnya permintaan konsumsi untuk biodiesel terkait kebijakan mandatori B30. “Secara umum, ekspor minyak sawit Indonesia mengalami kontraksi dibandingkan tahun lalu, namun secara nilai tercatat lebih tinggi,” kata dia melalui keterangannya, Jumat (18/6).

Dia mengatakan, hingga saat ini pasar minyak sawit masih didominasi pasar ekspor mencapai 70%, namun tahun ini diperkirakan pasar ekspor akan menurun menjadi 65%. Karena itu, pasar minyak pasar domestik menjadi harapan. Sepanjang 2020, pasar domestik naik 3% akibat pandemi Covid-19, yang meningkatkan konsumsi kebutuhan produk turunan minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) dari oleokimia naik 60,51% menjadi 1,69 juta ton. Ini antara lain untuk sabun dan bahan baku disinfektan, dan peningkatan konsumsi biodiesel terkait mandatori B30 sebesar 24% menjadi 7,23 juta ton. Melihat kondisi yang ada dan pemulihan ekonomi yang berlangsung, industri sawit nasional memiliki potensi yang cukup besar untuk terus tumbuh pada 2021.Gapkimemproyeksikan untuk konsumsi domestik akan mengalami peningkatan 6,60% atau menjadi 18,50 juta ton pada 2021. \’Tahun ini, kami optimistis produksi minyak sawit 2021 akan naik signifikan karena pemeliharan kebun yang baik, cuaca yang mendukung, harga yang menarik sehingga produksi 49 juta ton untuk CPO dan 4,65 juta ton untuk minyak kernel (palm kernel oil/ PKO). Pemerintah berkomitmen melaksanakan mandatori B30, yang mana konsumsi biodiesel sebesar 9,20 juta kiloliter yang setara dengan 8 juta ton minyak sawit. Selain itu ada permintaan dari industri lainnya 2 juta ton untuk domestik,” kata Joko.

Sejalan dengan implementasi kebijakan mandatori B30, Ketua Bidang Pemasaran dan Promosi Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Irma Rachmania menyatakan komitmennya untuk mendukung program tersebut. “Program B30 ini diharapkan dapat mendorong tercapainya target bauran energi Indonesia serta meningkatkan kemandirian energi nasional,” ujar Irma. Sejauh ini, volume minyak nabati yang terserap untuk program B30 sepanjang 2020 mencapai 7,23 juta ton.

Sedangkan tahun ini, Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah menetapkan volume biodiesel untuk program B30 mencapai 9,20 juta kiloliter (kl) atau setara 8 juta ton minyak sawit. Saat ini, Indonesia merupakan negara terdepan yang telah mampu terbukti mengimplementasikan B30 yang merupakanEnergi Terbarukandan ramah lingkungan. Tren konsumsi biodiesel di dalam negeri juga terus meningkat dari tahun ke tahun.

Genjot Produksi

Sementara Ketua Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Bernard Riedo optimistis dengan konsumsi domestik seiring proses hilirisasi yang berjalan masif. GIMNI tidak mengkhawatirkan ancaman ekspor maupun larangan Uni Eropa (UE) yang akan meniadakan minyak sawit pada 2030 mendatang. Hal ini dikarenakan pada 2025 kebutuhan fatty acid methyl ester (FAME) untuk B30 sudah mencapai 12,70 juta ton, biohidrokarbon untuk bensin 16,50 juta ton, kebutuhan untuk makanan dan oleokimia 13,80 juta ton. Jika ditotal sudah mencapai 43 juta ton. “Justru yang perlu dipikirkan adalah menggenjot produksi, salah satunya melalui program peremajaan sawit rakyat (PSR),” kata Bernard.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) Rapolo Hutabarat menjelaskan, permintaan oleokimia di dalam negeri akan meningkat 165-168 ribu ton setiap bulan sepanjang tahun ini. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri itu, dibutuhkan upaya hilirisasi sawit. “Pertumbuhan domestik rerata 10-12% sehingga dalam setahun dapat mencapai 1,98-2 juta ton,” papar Rapolo.

Di tempat terpisah, Guru Besar IPB University Purwiyatno Hariyadi mengungkapkan, sawit sebagai bahan makanan berkontribusi dalam pemecahan masalah gizi dunia. Hingga saat ini, sekitar 75-85% penggunaan sawit untuk sektor pangan. Di sisi lain, limbah sawit kini mulai digunakan bagi sumber energi ramah lingkungan. Sebagai limbah industri, cangkangkelapa sawitmenjadi solusi dari faktor penghambat produksi biomassa. Pasokan cangkang sawit yang melimpah menjadi alasan penting penggunaan biomassa ini untuk cofiring PLTU di Indonesia.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia

,

Program B30 Diharapkan Dorong Target Bauran Energi Indonesia

 

Medanbisnisdaily.com – Medan. Ketua Bidang Pemasaran dan Promosi Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Irma Rachmania, mengatakan, komitmen pihaknya untuk mendukung program mandatori B30. “Karena program B30 ini diharapkan dapat mendorong tercapainya target bauran energi Indonesia serta meningkatkan kemandirian energi nasional,” katanya, Sabtu (19/6/2021).

Sejauh ini, volume minyak nabati yang terserap untuk program B30 mencapai 7,226 juta ton. Sedangkan untuk tahun ini, Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah menetapkan volume biodiesel untuk program B30 mencapai 9,2 juta kiloliter atau setara 8 juta ton minyak sawit.

Irma mengatakan, saat ini, Indonesia merupakan negara terdepan yang telah mampu terbukti mengimplementasikan B30 yang merupakan energi terbarukan dan ramah lingkungan. Tren konsumsi biodiesel di dalam negeri terus meningkat dari tahun ke tahun.

Sementara itu, Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) optimistis dengan konsumsi domestik seiring proses hilirisasi yang berjalan masif. GIMNI juga tidak mengkhawatirkan hal terkait ancaman ekspor maupun larangan Uni Eropa yang akan meniadakan minyak sawit pada 2030 mendatang.

Hal ini dikarenakan, pada 2025 kebutuhan fatty acid methyl ester (FAME) untuk B30 sudah mencapai 12,7 juta ton, biohidrokarbon untuk bensin mencapai 16,5 juta ton, kebutuhan untuk makanan dan oleo mencapai 13,8 juta ton. Jika ditotal sudah mencapai 43 juta ton. “Justru yang perlu dipikirkan adalah menggenjot produksi, salah satunya melalui program peremajaan sawit rakyat,” kata Ketua GIMNI, Bernard Riedo.

Saat ini, limbah sawit pun mulai dipergunakan bagi sumber energi ramah lingkungan. Sebagai limbah industri, cangkang kelapa sawit menjadi solusi dari faktor penghambat produksi biomassa. Pasokan cangkang kelapa sawit yang melimpah (mencapai 2,4 juta ton per tahun pada 2019 menurut data Badan Pusat Statistik) menjadi alasan penting penggunaan biomass ini untuk co-firing PLTU di Indonesia.

Sumber: Medanbisnisdaily.com

,

Minyak (Bekas) Mahal

 

Pekan lalu, ada berita kemalingan sempat ramai di New York, Amerika. Bukan apa-apa, pasalnya barang yang diambil pencuri rada aneh : minyak goreng bekas alias minyak jelantah. Salah satu restoran yang kemalingan adalah Shogun. Manajer resto tersebut tak tahu, bagaimana cara maling mengambil jelantah mereka dan pakai kendaraan apa. Lou Sulindro, sang manajer bilang sebenarnya pihak resto tidak mengalami kerugian.

Benar, karena yang rugi adalah perusahaan pengolah jelantah di sana, seperti Buffalo Biodiesel. Seperti dikutip NewslO, Buffalo biodiesel mengaku rugi US$15 juta atau sekitar Rp 217 miliar setahun, gara-gara ulah pencoleng jelantah ini. Mereka menuding maling jelantah ini sudah terorganisir lantaran permintaan yang makin tinggi.

Kedengarannya memang lucu, bahwa permintaan jelantah meroket. Namun, belakangan jelantah atau used cooking oil, lazim digunakan untuk bahan baku biodiesel. Pamor biodiesel juga kian meningkat. Bulan lalu, misalnya, biodiesel dari jelantah digunakan oleh salah satu pesawat Air France dalam penerbangan panjang mereka. Dalam rilisnya, Air Prance-KLM berkolaborasi dengan Total, Airbus, dan ope- rator bandara Groupe ADP, menggunakan 16% campuran sustainable aviation fuel (SAF) dari biodiesel dalam penerbangan dari Charles de Gaulle, Paris ke Montreal di Kanada. Penerbangan ini makan waktu 6 jam 50 menit dan berjalan lancar.

Saudi Arabia, salah satu eksportir minyak bumi di planet ini, juga akan memakai olahan jelantah untuk transportasi di Red Sea Project. Ini adalah destinasi wisata ramah lingkungan mereka.

Di Indonesia, menurut catatan Gabungan Industri Minyak Nabati (Gimni), punya potensi besar untuk menghasilkan minyak jelantah. Mereka mencatat, minyak jelantah di negara kita berkisar 18%-22% dari konsumsi minyak goreng. Kalau saban tahun, Indonesia butuh 5,8 juta ton minyak goreng, berarti ada sekitar 1,1 juta ton jelantah.

Ironisnya, sampai kini, belum ada upaya pengelolaan jelantah secara masif. Di tingkat rumah tangga, masyarakat mulai terbiasa mengolah sampah dapur jadi kompos dan memilah sampah plastik. Tapi, minyak jelantah entah ke mana nasibnya

Bahkan, Gimni mengindikasikan penyalahgunaan jelantah yang diolah lagi untuk dijual jadi\’minyak curah dan dilepas lagi ke pasar. Sungguh sayang. Dalam skala kecil, jelantah lazim di-recycle jadi sabun. Dalam skala besar, seharusnya jadi potensi ekspor.

 

Sumber: Harian Kontan

,

Hilirisasi Sawit Menguatkan Permintaan Domestik

 

Proses hilirisasi sawit yang kian meluas untuk sektor pangan, kosmetik, hingga energi telah mengungkit permintaan domestik. Konsumsi domestik minyak sawit diproyeksikan meningkat sebesar 6,6%, atau menjadi 18,50 juta ton pada tahun ini.

Sepanjang 2020 lalu, kinerja industri sawit nasional tak hanya ditopang pasar ekspor, namun juga dari pasar domestik. Konsumsi domestik pada 2020 meningkat sebesar 3,6% jika dibandingkan tahun sebelumnya, atau menjadi sebesar 17,35 juta ton.

Peningkatan sepanjang tahun tersebut dikarenakan naiknya permintaan oleokimia untuk konsumsi sabun dan bahan pembersih, serta meningkatnya permintaan konsumsi untuk biodiesel terkait kebijakan mandatori B30.

 

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan, secara umum ekspor minyak sawit Indonesia mengalami kontraksi dibandingkan tahun lalu, namun secara nilai tercatat lebih tinggi.

Hingga saat ini pasar minyak sawit masih didominasi pasar ekspor mencapai 70%, namun tahun ini diperkirakan pasar ekspor akan menurun menjadi 65%. Karena itu, pasar minyak pasar domestik menjadi harapan.

Apalagi sepanjang 2020 pasar domestik naik 3% akibat pandemik, yang meningkatkan konsumsi kebutuhan produk turunan CPO dari oleokimia naik 60,51% menjadi 1,695 juta ton. Ini antara lain untuk sabun dan bahan baku disinfektan, dan peningkatan konsumsi biodiesel terkait kebijakan mandatori B30 sebesar 24% menjadi 7,226 juta ton.

Melihat kondisi yang ada dan pemulihan ekonomi yang berlangsung, industri sawit nasional memiliki potensi yang cukup besar untuk terus tumbuh pada 2021. Gapki memproyeksikan untuk konsumsi domestik akan mengalami peningkatan sebesar 6,6%, atau menjadi 18,50 juta ton pada 2021.

 

“Tahun ini kami optimis produksi minyak sawit 2021 akan naik signifikan karena pemeliharan kebun yang baik, cuaca yang mendukung, harga yang menarik sehingga produksi 49 juta ton untuk CPO dan 4,65 juta ton untuk PKO. Pemerintah berkomitmen melaksanakan mandatori B30, di mana konsumsi biodiesel sebesar 9,2 juta kilo liter yang setara dengan 8 juta ton minyak sawit. Selain itu ada permintaan dari industri lainnya sebesar 2 juta ton untuk domestik dan ekspor 4,5 juta ton,” sebut Joko, Jumat (18/6).

Sejalan dengan implementasi kebijakan mandatori B30, Ketua Bidang Pemasaran dan Promosi Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Irma Rachmania menyatakan komitmennya untuk mendukung program tersebut.

 

“Program B30 ini diharapkan dapat mendorong tercapainya target bauran energi Indonesia serta meningkatkan kemandirian energi nasional,” ujar Irma.

 

Sejauh ini, volume minyak nabati yang terserap untuk program B30 sepanjang 2020 mencapai 7,226 juta ton. Sedangkan untuk tahun ini, Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah menetapkan volume biodiesel untuk program B30 mencapai 9,2 juta kiloliter atau setara 8 juta ton minyak sawit.

 

Saat ini, Indonesia merupakan negara terdepan yang telah mampu terbukti mengimplementasikan B30 yang merupakan energi terbarukan dan ramah lingkungan. Tren konsumsi biodiesel di dalam negeri terus meningkat dari tahun ke tahun.

 

Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Bernard Riedo optimistis dengan konsumsi domestik seiring proses hilirisasi yang berjalan masif. GIMNI juga tidak mengkhawatirkan hal terkait ancaman ekspor maupun larangan Uni Eropa yang akan meniadakan minyak sawit pada 2030 mendatang.

 

Hal ini dikarenakan, pada 2025 kebutuhan fatty acid methyl ester (FAME) untuk B30 sudah mencapai 12,7 juta ton, biohidrokarbon untuk bensin mencapai 16,5 juta ton, kebutuhan untuk makanan dan oleo mencapai 13,8 juta ton. Jika ditotal sudah mencapai 43 juta ton.

 

“Justru yang perlu dipikirkan adalah menggenjot produksi, salah satunya melalui program peremajaan sawit rakyat [PSR],” kata Bernard.

 

Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) Rapolo Hutabarat menjelaskan permintaan oleokimia di dalam negeri akan meningkat antara 165 ribu-168 ribu ton setiap bulan sepanjang tahun ini. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri itu, dibutuhkan upaya hilirisasi sawit. “Pertumbuhan domestik rerata 10 persen-12 persen sehingga dalam setahun dapat mencapai 1,98 juta-2 juta ton,” ungkap Rapolo.

 

Guru Besar IPB University, Purwiyatno Hariyadi mengungkapkan sawit sebagai bahan makanan berkontribusi dalam pemecahan masalah gizi dunia. Hingga saat ini sekitar 75%-85% penggunaan sawit untuk sektor pangan.

 

Dia menjelaskan, sejatinya sawit memiliki tiga keunggulan, yakni bersifat versatile (produk serba guna), bebas trans fat, dan kaya fitonutrien (vitamin A dan E), yang berguna untuk mengisi kebutuhan gizi di Indonesia dan dunia.

 

“Hal ini merupakan keunggulan olahan sawit bagi pangan,” kata Purwiyatno.

 

Di sisi lain, limbah sawit pun kini mulai dipergunakan bagi sumber energi ramah lingkungan. Sebagai limbah industri, cangkang kelapa sawit menjadi solusi dari faktor penghambat produksi biomassa.

 

Pasokan cangkang kelapa sawit yang melimpah (mencapai 2,4 juta ton per tahun pada 2019 menurut data Badan Pusat Statistik) menjadi alasan penting penggunaan biomass ini untuk co-firing PLTU di Indonesia.

 

Sumber: Analisadaily.com

,

Begini kata pengamat soal potensi ekspor minyak jelantah asal Indonesia

 

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indonesia punya peluang untuk mengoptimalkan ekspor minyak jelantah atau minyak goreng bekas ke luar negeri, khususnya Eropa. Hal ini seiring tingginya minat Eropa terhadap produk tersebut sebagai bahan baku biodiesel.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menyebut, berdasarkan perkiraan GIMNI, jumlah minyak jelantah di Indonesia saat ini berkisar 18%–22% dari total pemakaian minyak goreng biasa. Jadi, jika pemakaian minyak goreng biasa berkisar 5,8 juta ton per tahun, maka volume minyak jelantah berkisar 1,1 juta ton per tahun.

Sebagian minyak jelantah tersebut diekspor ke berbagai negara, termasuk Eropa. Sayangnya, GIMNI tidak memiliki data jumlah ekspor minyak jelantah Indonesia. Yang terang, ekspor tersebut dilakukan dalam volume yang besar. Adapun ekspor minyak jelantah dilakukan untuk kebutuhan bahan baku biodiesel, khususnya di Eropa.

Minyak jelantah sendiri dipandang sebagai subtitusi dari minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) untuk bahan baku biodiesel.

Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudistira menyampaikan, selain untuk kebutuhan industri makanan dan minuman, minyak jelantah telah teruji untuk dipakai sebagai bahan bakar biodiesel.

Ia pun mencontohkan, tahun 2008 lalu publik Amerika Serikat pernah dikejutkan oleh bus St. Cloud yang bahan bakarnya berasal dari sisa minyak goreng alias minyak jelantah. “Kalau Indonesia bisa ekspor minyak jelantah siap pakai untuk transportasi tentu sangat bagus. Teknologinya sudah memungkinkan untuk mesin yang menggunakan biodiesel dari minyak jelantah,” ungkap dia, Kamis (17/6).

Dia menambahkan, sebisa mungkin minyak jelantah asal Indonesia bisa masuk ke negeri tujuan ekspor di luar Uni Eropa dan AS. Beberapa negara seperti India, Pakistan, dan China bisa dilirik mengingat mereka tidak memiliki hambatan dagang setinggi Uni Eropa.

Sementara itu, Pengamat Pertanian Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori berpendapat, apabila memang ekspor minyak jelantah Indonesia ke Eropa benar adanya, maka hal ini menunjukkan sikap mendua negara-negara di Benua Biru tersebut. Pasalnya, di saat yang sama Eropa juga memboikot CPO Indonesia dengan berbagai alasan terkait isu keberlanjutan lingkungan dan sosial.

“Tampak sekali bahwa alasan boikot itu bukan benar-benar seperti yang mereka tuduhkan selama ini,” ujar dia, Kamis (17/6).

Di sisi lain, dia juga mengaku bahwa peluang ekspor minyak jelantah memang ada. Sebab, harga CPO yang merupakan asal dari minyak jelantah tengah dalam tren menanjak sepanjang tahun 2021.

Khudori juga menyebut, ada baiknya dijajaki pula peluang penggunaan minyak jelantah untuk kebutuhan biodiesel di dalam negeri. Hanya saja, hal seperti itu harus benar-benar dikaji secara matang. Ini mengingat suplai CPO di dalam negeri sebagai bahan baku biodiesel masih melimpah. Ditambah lagi, patut dipertimbangkan juga apakah pabrik-pabrik biodiesel yang ada perlu memodifikasi mesin atau tidak agar bisa memproses minyak jelantah.

Bhima sepakat bahwa minyak jelantah juga bisa dioptimalkan di dalam negeri untuk diolah menjadi biodiesel. Tak hanya untuk kebutuhan transportasi, melainkan juga pembangkit listrik. Namun, hal ini tentu membutuhkan insentif yang berkaitan dengan konversi teknologi pembuatan biodiesel dari minyak jelantah.

“Kalau untuk makanan tidak direkomendasikan karena polemik soal dampak kesehatan, tapi untuk biodiesel tentu minyak jelantah ini sangat cocok,” pungkas dia.

Sumber: Kontan.co.id

,

Punya potensi untuk biodiesel, minyak jelantah justru kerap dioplos di dalam negeri

 

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indonesia memiliki kekayaan berupa minyak goreng bekas pemakaian atau minyak jelantah yang cukup melimpah. Sayang, minyak jelantah belum bisa dimanfaatkan dengan baik di tanah air.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) Sahat Sinaga menyebut, berdasarkan perkiraan GIMNI, jumlah minyak jelantah di Indonesia saat ini berkisar 18%–22% dari total pemakaian minyak goreng biasa. Jadi, jika pemakaian minyak goreng biasa berkisar 5,8 juta ton per tahun, maka volume minyak jelantah berkisar 1,1 juta ton per tahun.

Sumber minyak jelantah sebenarnya bermacam-macam. Ada yang dari bekas pemakaian rumah tangga, hotel, restoran, warung pinggir jalan, hingga pabrik. Banyak orang di Indonesia yang melakukan pembersihan minyak jelantah yang berwarna campuran hitam dan cokelat hingga menjadi berwarna bening.

Celakanya, tak sedikit pihak yang mengembalikan minyak jelantah kepada pedagang eceran dan pasar tradisional untuk dijual lagi ke masyarakat. Maklum, konsumsi minyak goreng di Indonesia cukup tinggi, terlebih banyak masyarakat yang gemar makan gorengan. “Minyak ini dipakai oleh pedagang-pedagang makanan pinggir jalan dan juga rumah tangga,” imbuh Sahat, Kamis (17/6).

Padahal, minyak jelantah mengandung sejumlah racun yang dapat mengancam keselamatan jiwa seseorang ketika dikonsumsi atau dipakai untuk menggoreng makanan. Alhasil, minyak jelantah jelas-jelas tak layak dijual sebagai produk konsumsi layaknya minyak goreng biasa.

Sahat berujar, tahun 2016 lalu GIMNI sudah membeberkan masalah ini kepada pemerintah. Bahkan, GIMNI juga sempat heran dengan pihak LSM dan Kementerian terkait kesehatan masyarakat yang belum menetapkan sikap dan posisinya terhadap minyak jelantah yang ternyata dikonsumsi sebagian masyarakat Indonesia.

“Selain kurang berkenan ditinjau dari segi kesehatan, tidak ada yang menjamin kehalalan produk minyak jelantah ini,” ungkap Sahat.

Beruntung, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan telah melarang peredaran minyak goreng curah eceran di pasar sejak awal tahun 2020. Minyak goreng curah ini rawan disalahgunakan lantaran bahannya bisa saja berasal dari minyak jelantah. Sahat pun menilai, perlu dibuat regulasi yang jelas dan hukuman yang tegas bagi penjual minyak jelantah untuk keperluan konsumsi.

Di sisi lain, sebagian minyak jelantah ternyata juga diekspor ke luar negeri. Meski tidak memiliki data resmi, GIMNI menyebut bahwa ekspor minyak jelantah dilakukan dalam volume yang besar. Yang terang, ekspor minyak jelantah tersebut dilakukan oleh eksportir yang bukan berasal dari perusahaan minyak kelapa sawit.

Wakil Ketua Umum III Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (GAPKI) Togar Sitanggang menyebut, dalam beberapa tahun terakhir ekspor minyak jelantah dilakukan ke berbagai negara, salah satunya kawasan Eropa yang ternyata punya minat tinggi terhadap komoditas tersebut. “Tujuan penggunaan minyak jelantah oleh mereka adalah untuk bahan baku biodiesel,” tutur dia, kemarin (16/6).

Fakta ini cukup mengejutkan. Sebab, di satu sisi Eropa menentang produk minyak kelapa sawit Indonesia sampai memboikotnya. Namun, di sisi lain Eropa justru mengimpor minyak jelantah dari Indonesia yang notabene produk tersebut adalah hasil pemakaian minyak kelapa sawit.

Sayangnya, di Indonesia sendiri minyak jelantah belum dimanfaatkan dengan baik, justru malah disalahgunakan oleh sebagian pihak. “Kebanyakan minyak jelantah Indonesia dipakai untuk dioplos dengan minyak goreng dan dijual ke masyarakat, bukan untuk keperluan biodiesel,” tandas Togar.

 

Sumber: Kontan.co.id

Menaker dan Gapki Bahas Hubungan Industrial Sawit

 

JAKARTA-Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah menyatakan peran penting industri sawit dalam menyerap tenaga kerja. Penyerapan tenaga kerja akan terus bertambah seiring meningkatnya produksi di sektor industri sawit. Banyaknya pekerja yang ada dalam industri sawit perlu mendapat perhatian dari Gabungan Pengusahakelapa sawitIndonesia (Gapki) agar hubungan industrial terjaga dengan baik. “Industrikelapa sawitini bersifat padat karya yang banyak menyerap tenaga kerja,” kata Menaker Ida.

Merujuk data Kementerian Pertanian (Kementan), pada 2019, jumlah petani yang terlibat di industri sawit 2.673.810 orang dan jumlah tenaga kerja yang bekerja di perkebunan sawit 4.425.647 pekerja. Jumlah tersebut terdiri atas 4 juta (90,68%) pekerja di perkebunan sawit besar swasta nasional, 321 ribu (7,26%) pekerja perkebunan sawit besar negara, dan 91 ribu (2,07%) pekerja perkebunan sawit besar swasta asing. “Hubungan industrial yang harmonis itu sangat penting,” jelas Ida dalam keterangannya, kemarin.

Dalam upaya mewujudkan hubungan industrial yang kondusif pada sektor perkebunan sawit, Menaker mengemukakan berbagai upaya yang perlu dilakukan Gapki. Pertama, peningkatan pemahaman hak-hak dan kewajiban pekerja dan pengusaha dalam hubungan kerja, seperti melalui sosialisasi dan workshop. Kedua, peningkatan komunikasi antara pekerja/ buruh dengan pengusaha dan antara Dinas yang membidangi ketenagakerjaan dengan pengusaha maupun pekerja/buruh. Ketiga, peningkatan peran dan fungsi LKS Bipartit di perusahaan, sehingga hak dan kewajiban pekerja/ buruh dan pengusaha terlindungi dan mempunyai kepastian hukum melalui penerapan syarat kerja yang berkualitas dan akhirnya dapat menjaga kelangsungan berusaha serta sekaligus meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh.

Keempat, peningkatan kualitas sumber daya manusia pada sektor perkebunan. Kelima, pemerintah melalui Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat memfasilitasi dan melayani pekerja/buruh, pengusaha dalam rangka kejelasan hubungan kerja dan konsultasi untuk peningkatan syarat kerja. Keenam, peningkatan kualitas syarat-syarat kerja serta Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Ketujuh, peningkatan kepesertaan dalam program jaminan sosial ketenagakerjaan dan jaminan sosial kesehatan.

Sementara Ketua Umum Gapki Joko Supriyono menyatakan, pihaknya terus berupaya memperbaiki dan berkomitmen mempromosikan kerja layak di perkebunan sawit. Perbaikan itu melalui kerja sama dengan ILO, CNV Internati-onaal, dan Federasi Serikat Pekerja Hukatan beserta Serikat Pekerja lainnya dalam memperbaiki kondisi ketenagakerjaan dalam perkebunan sawit melalui berbagai kegiatan. Kerja sama semakin meluas dengan dibentuknya JAPBUSI (Jaringan Serikat Pekerja dan Serikat Buruh Sawit Indonesia) sehingga upaya -upaya tersebut dilakukan secara bersama-sama dalam memperjuangkan sawit Indonesia.Gapkijuga terlibat aktif bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan.

 

 

1.015 Petani Sawit Swadaya di Jambi Peroleh Sertifikat Minyak Sawit Berkelanjutan RSPO

 

InfoSAWIT, JAMBI – Dua asosiasi petani dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi yaitu Forum Petani Swadaya Merlung Renah Mendaluh (FPS-MRM) dan Asosiasi Petani Berkah Mandah Lestari (APBML) serta satu asosiasi petani dari Kabupaten Batanghari, Jambi yakni Cahaya Putra Harapan (ACPH) telah berhasil memperoleh sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Prestasi ini merupakan capaian dari program bernama “Dari Rantai Pasok Inovatif ke Rantai Pasok Keberlanjutan” yang digagas Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (YIDH), Setara Jambi, dan PT. Asian Agri, serta dukungan pemerintah daerah setempat.

Program yang telah dimulai sejak tahun 2016, telah berhasil menjadikan 1.015 orang petani sawit swadaya dari tiga asosiasi petani tersebut mendapatkan sertifikat RSPO dengan luas areal 1.926,29 hektar.

Diunggkapkan Direktur Setara Jambi, Nurbaya Zulhakim, pekerjaan ini bukanlah perkara ringan karena perlu diawali dengan perubahan cara berpikir agar petani mau memproduksi minyak sawit ramah lingkungan agar bisa menghasilkan harga Tandan Buah Segar (TBS) menjadi lebih stabil.

“Kami mengedukasi para petani dalam menyesuaikan standar budidaya kelapa sawit yang baik, serta pemenuhan aspek legalitas dengan kepemilikan Surat Hak Milik (SHM) dan Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB). Caranya adalah melakukan diskusi dengan beberapa pihak termasuk melibatkan para petani swadaya, membuka peluang untuk advokasi, dan penggalangan dukungan untuk petani kecil,” katanya dalam keterangan tertulis diterima InfoSAWIT, belum lama ini.

Sementara diungkapkan, Bupati Tanjung Jabung Barat (Tanjabar), Anwar Sadat, pada sambutannya di acara Penyerahan Sertifikat RSPO di Desa Sungai Rotan (10/6), mengapresasi prestasi yang telah diperoleh petani sawit swadaya di wilayah Tanjabar.

“Kami turut bangga mendengar bahwa di Kabupaten Tanjung Jabung Barat telah ada dua asosiasi petani swadaya yang berhasil mendapatkan sertifikat RSPO. Hal ini adalah contoh nyata bahwa petani kecil pun mampu mewujudkan pengelolaan kebun kelapa sawit secara berkelanjutan hingga bisa menembus pasar internasional. Mereka telah membuktikan kemampuannya untuk mengelola kebun dengan cara tidak membakar dan melestarikan ekosistem sungai di Lubuk Larangan,” ungkapnya.

Dikatakan Group Manager APBML, Ardiansyah, perubahan para petani yang awalnya berkebun secara individu menjadi berkelompok. Hal inilah yang mendorong perhatian lebih dari perusahaan karena kelompok petani ini telah berhasil memproduksi TBS dengan standar kualitas yang sama.

“Manfaat lainnya adalah peningkatan hasil panen sebagai dampak dari pelatihan budidaya kelapa sawit. Sebelum bergabung dengan kelompok tani, lahan sawit saya seluas 5 ha hanya menghasilkan 3-4 ton per 15 hari, sekarang meningkat menjadi 5-6 ton per 15 hari,” kata Ardiansyah. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com