Malaysia Lockdown, Harga Sawit Riau Naik

PEKANBARU-Harga sawit Riau untuk seminggu ke depan mengalami kenaikan dipicu oleh kebijakan lockdown atau larangan masuk yang dilakukan oleh Pemerintah Malaysia karena kondisi darurat terkait pandemi Covid-19 itu. “Kebijakan ini justru mengakibatkan gangguan pasokan yang mengganggu aktivitas produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Malaysia, sehingga pembeli mengalihkan pembelian CPO ke Indonesia,” kata Kepala Bidang (Kabid) Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Riau Defris Hat-maja di Pekanbaru, Riau, kemarin.

Menurut Defris, seperti dilansir Antara, Indonesia dan Malaysia adalah produsen CPO terbesar dunia sehingga wajar pembeli mengalihkan pembelian ke Indonesia karena Malaysia lockdown akibat virus Covid-19. Sedangkan faktor internal yang memicu kenaikan harga tandan buah sawit (TBS) CPO Riau untuk seminggu ke depan, katanya, lebih disebabkan oleh terjadinya kenaikan harga jual CPO dan kernel seluruh perusahaan sumber data.

Harga TBS Kelapa Sawit penetapan ke-13 Maret 2020 (periode 1-7 April 2020) mengalami kenaikan pada setiap kelompok umur kelapa sawit. Kenaikan terbesar pada kelompok umur 10-20 tahun yang naik Rp 160,80 per kilogram (kg) atau 10,05% dari minggu lalu, sehingga harga pembelian TBS petani untuk periode satu minggu ke depan menjadi Rp 1.761,30 per kg. Untuk harga jual CPO dari PTPN V naik Rp 555,14 per kg, dari PT Sinar Mas Group naik Rp 570,31 per kg, dari PT Astra Agro Lestari Group turun Rp 364,06 per kg, dari PT Asian Agri Group naik Rp 511,05 per kg.

Selain itu dari PT Citra Riau Sarana naik Rp 487,50 per kg dari harga minggu lalu. Sedangkan untuk harga jual kernel, dari PT Astra Agro Lestari Group naik Rp 439,09 per kg, dari PTAsian Agri Group naik Rp 150 per kg, dan dari PT Citra Riau Sarana turun Rp 388,55 per kg dari minggu lalu.

HargaTBS CPO Riau untuk umur tiga tahun tercatat Rp 1.299,40 per kg, untuk umur empat tahun Rp 1.407,40 per kg, umur lima tahun Rp 1.538,0 per kg, umur enam tahun Rp 1.574,97 per kg, umur tujuh tahun Rp 1.636,36 per kg, umur delapan tahun Rp 1.681,52 per kg, umur sembilan tahun Rp 1.721,02 per kg, umur 21 tahun Rp 1.686,53 per kg, dan umur 22 tahun Rp 1.678,07 per kg, umur 23 tahun Rp 1.671,02/kg, umur 24 tahun Rp 1.600,48 per kg, umur 25 tahun Rp 1.561,68 per kg, indeks K 87,34%, harga CPO Rp 8.075,74 per kg, harga kernel Rp 4.499,65 per kg.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia

Kementan Siapkan Strategi Perkuat Ekspor Perkebunan

 

 

Sejak awal tahun 2020, dunia dihebohkan dengan adanya wabah virus corona (Covid-19) yang berasal dari China. Kehadiran Covid – 19 bagaikan gelombang tsunami yang turut merusak postur perekonomian global. Sebagai negara pertama yang mengalami hantaman Covid – 19, pembatasan keluar masuknya barang dari dan atau ke China membuat perekonomian negara ini menjadi terganggu.

Mengingat China merupakan negara yang perekonomiannya sangat berpengaruh di dunia, maka hal ini pasti berdampak pada perekonomian negara lain yang menjadi mitra dagangnya, salah satunya Indonesia. Sawit, Kelapa, Kakao, Karet, Kopi, Teh, Lada, Pala, Cengkeh, Kayu Manis asal Indonesia menjadi komoditas perkebunan yang rutin di ekspor ke negara yang dijuluki sebagai Tirai Bambu tersebut.

Direktur Jenderal Perkebunan, Kasdi Subagyono mengatakan Kementerian Pertanian telah mengambil langkah cepat dengan mengkaji alternatif tujuan pasar ekspor komoditas perkebunan sebagai bentuk antisipasi menurunnya permintaan China terhadap ekspor komoditas perkebunan Indonesia di tahun 2020.

“Hal ini sekaligus tindak lanjut dari arahan Bapak Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, bahwa sektor pertanian harus menjadi sektor yang paling tangguh dalam menghadapi berbagai krisis, tidak hanya fokus dalam peningkatan produksi, kita juga akan berupaya untuk mencari alternatif pasar tujuan ekspor” kata Kasdi.

Kasdi mengaku pihaknya telah menyiapkan enam strategi utama untuk memperkuat ekspor perkebunan Indonesia ditengah pandemik Covid – 19 saat ini, yang pertama adalah Lobi perdagangan dengan negara mitra baru, termasuk untuk mengupayakan direct ekspor terhadap komoditas yang selama ini di re-ekspor melalui Tiongkok.

“Kedua kami akan lakukan lobi terhadap kesepakatan tarif bea masuk di negara tujuan dan memberikan kemudahan perdagangan bilateral, seperti untuk Sugar, Vanaspati ghee dan komoditas lainnya, yang ketiga tentu dengan Meningkatkan jaminan atas kualitas, brand image, dan ketersediaan produk secara kontinu,” kata Kasdi.

Strategi yang keempat, pihaknya akan berupaya Meningkatkan kerja sama perdagangan untuk peningkatan akses pasar, melalui optimalisasi pemanfaatan perwakilan Indonesia di luar negeri, kerja sama yang sudah berjalan dipercepat, dan  tentunya dengan melakukan pengembangan kesepakatan baru.

“Sebagai contoh untuk sawit, berdasarkan analisis kami, tahun ini penyerapan China terhadap komoditas tersebut dipastikan menurun, untuk mengantisipasi hal ini kita akan dorong peningkatan Ekspor sawit ke India, Pakistan, Bangladesh dengan kenaikan sebesar 20 persen, Amerika Serikat 5 persen. Selain itu ekspor ke Tunisia, Turki, mesir, Aljazair, Maroko dan Iran naik sebesar 10 persen, untuk konsumsi dalam Negeri kami targetkan naik 5 persen” kata Kasdi.

Staregi selanjutnya, ungkap Kasdi pihaknya akan berupaya meningkatkan konsumsi domestik, seperti program B-30 untuk CPO, aspal Karet untuk karet, kopi, gula semut, dan komoditas lainnya. Termasuk optimalisasi pelayanan jaringan informasi  dan komunikasi secara terorganisasi antara bussiness to bussiness (B to B) dan goverment to goverment (G to G).

Sedangkan untuk ekspor karet di Tahun 2020, Kasdi mengaku telah mempersiapkan target – target peningkatan, dan negara lain alternatif tujuan ekspor karet selain Cina.

“Kami akan dorong ke Jerman dan Perancis dengan besar kenaikan 10 persen, Amerika Serikat dan Argentina 10 persen, Jepang dan Korea Selatan naik 7,5 persen, Afrika Selatan hingga 2,5 persen, untuk konsumsi dalam negeri kami targetkan meningkat hingga 5 persen,” tutur Kasdi.

 

Sumber: Republika.co.id

Covid-19 Merebak, Industri Kelapa Sawit Gelontorkan Bantuan

Jakarta – Terus meluasnya serangan virus covid-19 membuat industri Kelapa Sawit untuk menggelontorkan sejumlah bantuan.

Wilmar Peduli, mengalokasikan USD 1 juta untuk membantu pemerintah dalam menghadapi ancaman Covid-19. Dana tersebut diperuntukkan bagi penyediaan test kit, dan masker. Perusahaan agribisnis tersebut juga mengubah salah satu jalur produksi pabriknya untuk memproduksi hand sanitiser dan sabun tangan cair untuk disumbangkan.

“Kami sangat prihatin dengan situasi saat ini dan ingin membantu pemerintah dan masyarakat untuk mengurangi beban mereka selama periode yang sulit ini,” kata Country Head Wilmar Indonesia Darwin Indigo.

Darwin menjelaskan, lockdown di sebagian besar wilayah di dunia mengakibatkan berbagai pihak kesulitan mencari dan mengirimkan alat pelindung diri (APD). Terkait hal itu, pihaknya telah mendedikasikan beberapa kapal minyak sawitnya yang kembali dari Tiongkok untuk mengangkut APD, salah satunya masker.

“Ini adalah situasi yang luar biasa, kami mencari semua jalan yang mungkin dan salah satu cara tercepat adalah dengan menggunakan kapal kami yang akan kembali dari Tiongkok untuk membawa kembali barang-barang penting itu,” kata Darwin.

Mehurut Darwin, Wilmar juga mengubah lini produksinya untuk memproduksi sabun tangan cair dan hand sanitizer. Hal ini dimaksudkan untuk membantu masyarakat memperoleh kebutuhan tersebut di tengah kelangkaan barang saat ini.

“Biasanya, kami tidak memproduksi hand sanitiser dan sabun cair di pabrik kami, namun karena persediaan barang-barang itu menjadi langka, kami telah memutuskan untuk mengubah jalur produksi kami, dan sekarang kami dapat memproduksi barang-barang tersebut, dan kami akan menyumbangkan semua produk itu,” ujar Darwin.

Sumbangan itu, kata Darwin, akan didistribusikan melalui instansi pemerintah pusat dan daerah. Cara itu dinilai paling efektif dalam pendistribusian bantuan. Salah satu bagian terburuk dari kondisi saat ini adalah dampak pada ekonomi. Wilmar melalui Wilmar Peduli juga akan mendistribusikan Sembako (sembilan bahan pokok) kepada orang-orang yang paling terdampak.

“Kami telah menginstruksikan kepada semua kepala pabrik kami di seluruh Indonesia untuk mengalokasikan dan mendistribusikan pasokan sembako kepada orang-orang yang paling terpukul oleh situasi ini, dan untuk menghindari keramaian besar selama pendistribusian, kami akan bekerja dengan pemerintah setempat untuk mendistribusikan ini dari rumah ke rumah,” tutur Darwin.

Selama periode ini, Darwi mengatakan bahwa sangat penting bagi semua pihak untuk saling menguatkan dan membantu. Wilmar akan terus memantau perkembangan situasi, dan siap mengalokasikan dana yang sama dan melakukan hal serupa pada semester kedua tahun ini. “Kami berkomitmen untuk membantu pemerintah dan masyarakat untuk melewati kondisi suram ini,” jelas Darwin.

Sementara itu, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) pun memberikan dukungan kepada pemerintah dalam upaya meminimalisir penyebaran virus corona 2019 atau covid-19 di Indonesia.

Hingga saat ini data yang dilansir pemerintah menyebut provinsi DKI Jakarta sebagai episentrum penyebaran covid-19 di Indonesia. Lebih dari 10 juta jiwa warga ibu kota negara pun terancam, apalagi masih banyak pemukiman-pe-mukiman padat penduduk yang perlu diantisipasi agar tidak menjadi pusat penularan covid-19.

Untuk itu bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), GAPKI memberikan bantuan berupa alat kebersihan yakni 30.-000 sabun dan 8.000 buah masker untuk disalurkan kepada warga yang tinggal di pemukiman padat penduduk dan kalangan masyarakat menegah ke bawah di Jabodetabek.

“Kami sangat concern terhadap wabah covid-19 di Indonesia dan Jabbdetabek pada khususnya. Karena walau epicentrumnya di Jakarta namun warga komuter Jakarta berasal dari Bogor, Tangerang dan Bekasi sehingga juga rentan terpapar,” kata KetuaUmum GAPKI Joko Supriyono.

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, RM Karliansyah mengapresiasi bantuan yang diberikan GAPKI.

Lebih lanjut, Karliansyah menjelaskan sabun dipercaya sangat ampuh untuk membersihkan dan membunuh virus corona. Hal ini sejalan dengan prinsip KLHK hidup bersih, salah satunya dengan cuci tangan.

“Sabun sangat efektif digunakan untuk membersihkan tangan,” ujar Karliansyah.

Dalam proses pendistibusian bantuan, KLHK juga menggandeng komunitas Ciliwung untuk pembagian bantuan ke warga. Rencananya bantuan akan langsung disalurkan.

Terdapat empat daerah yang akan menerimaban tuan yakni Ciganjur (Jakarta Selatan), Pasar Rebo (Jakarta Timur), Depokdan Tangerang Selatan khususnya di pemukiman warga.

Sebelumnya, GAPKI peduli telah menyalurkan alat perlindungan diri (A-PD) bagi petugas medis berupa di empat rumah sakit yakni RS Sulianti Saroso, RSAL Mintohardjo, RSUP Fatmawati, dan RSUP Persahabatan.

APD yang merupakan kelengkapan vital bagi tenaga medis tersebut yakni berupa hazmat suit, sepatu boots, face shield dan kacamata googles.

 

Sumber: Harian Ekonomi Neraca

Jaringan Minyak Sawit Berkelanjutan Jepang Dukung Gunakan Merek Dagang RSPO

Guna mendukung penyerapan minyak sawit 100% berkelanjutan di Jepang, peran Jaringan Minyak Sawit Berkelanjutan Jepang (JasPON) cukup signifikan. Lembaga yang bermitra dengan Roundtabel on Sustainable Palm Oil (RSPO) terus melakukan kampanye dan ajakan untuk para industri di Jepang menyerap minyak sawit berkelanjuta bersertifikat (CSPO).

Dalam keterangan resmi didapat InfoSAWIT, pada tahun 2016 lalu JasPON baru beranggotan 8 anggota namun selama periode 4 tahun setelahnya keanggotaan JasPON bertambah menjadi sebanyak 187 anggota. Bahkan dengan terus bertambahnya anggota RSPO kedepan akan membuka kantor perwakilan di Jepang.

Pada Februari 2020 lalu, JasPON bekerjasama dengan RSPO telah mengadakan lokakarya untuk lebih memperkuat penggunaan merek dagang RSPO, sertifikasi rantai pasok dan menambah keanggotaan. Lokakarya tersebut dihadiri sekitar 110 peserta berasal dari produsen barang konsumsi, pengecer, pengolah dan pedagang, perusahaan oleokimia, dan perusahaan layanan makanan.

Dikatakan Kepala Operasi RSPO Uni Eropa, Inke van der Sluijs, disaat mewabahnya virus Corona (Covid-19), pihaknya akan terus mendukung para produsen di Jepang untuk mendukung penggunaan merek dagang RSPO, guna memastikan penggunaan minyak sawit berkelanjutan di Jepang untuk masa yang akan datang.

 

Sumber: Infosawit.com

Target Penyaluran KUR Sumsel Rp 896,2 milyar

Dalam rapat koordinasi Percepatan Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) tahun 2020, telah menetapkan target saluran KUR untuk Indonesia mencapai Rp 20,37 triliun.

Dikatakan Kepala P2HP Dinas Perkebunan Sumatera Selatan, Rudi Arpian, untuk target saluran di Sumsel mencapai Rp 896,2 miliar. Dimana bunga  kredit usaha rakyat ditetapkan 6% per tahun.

Lebih lanjut kata Rudi, untuk pinjaman dibawah Rp. 50 juta tanpa agunan, sedangkan kredit Usaha Kecil dengan pinjaman Rp 50 juta sampai Rp. 500 juta menggunakan agunan mencapai 70% dari nilai pinjaman. Untuk KUR Mikro paling banyak Rp. 50 juta dengan bunga 6%, dengan jangka waktu 3 tahun untuk pembiayaan modal kerja, sedangkan untuk pembiayaan investasi bisa mencapai 5 tahun,” kata Rudi kepada InfoSAWIT.

Sementara untuk untuk KUR Kecil diatas Rp. 50 juta diperbolehkan untuk melakukan pinjaman hingga Rp.500 juta, dengan suku bunga 6% per tahun, dalam jangka waktu 4 tahun untuk pembiayaan modal kerja atau 5 tahun untuk pembiayaan investasi, dengan Grace period sesuai penilaian penyalur KUR dan jangka waktu dapat diperpanjang 5 sampai 7 tahun.

“Penyaluran KUR khusus nilai, besaran dan waktu hampir sama dengan KUR Kecil, hanya dalam pembayaran penerima KUR khusus dapat melakukan pembayaran pokok dan suku bunga secara angsuran berkala atau pembayaran sekaligus saat jatuh tempo,” tandas dia.

 

Sumber: Infosawit.com

Tunda Omnibus Law Cipta Kerja, Pemerintah Diminta Lindungi Buruh Sawit dari Covid-19

Pemerintah telah menyerahkan naskah akademik dan RUU Cipta Kerja ke DPR. Penolakan terhadap Omnibus Law dari serikat buruh dan organisasi masyarakat sipil tidak diacuhkan oleh pemerintah. Pada 30 Maret 2020, Dewa Perwakilan Rakyat (DPR) menyatakan akan mulai bersidang. Ironisnya persidangan akan tetap berlangsung ditengah pandemi virus corona (Covid-19).

Direktur Eksekutif Sawit Watch, Inda Fatinaware, khawatir Omnibus Cipta Kerja akan dibahas pada persidangan 30 Maret 2020 mendatang, lantaran pada 6 Maret 2002 lalu, Presiden melakukan pertemuan dengan beberapa pimpinan partai, salah satu yang dibicarakan adalah Omnibus Law yang akan dibahas pasca reses DPR.

“Kami khawatir ditengah pandemi corona, DPR akan menggelar sidang membahas dan menyetujui Omnibus Law Cipta Kerja. Pembahasan Omnibus Law di saat buruh perkebunan sawit dan elemen masyarakat yang menjadi korban dari kebijakan ini sedang menjalankan “physical distancing” adalah tindakan yang kontraproduktif. Kami meminta pemerintah menarik kembali usulan Omnibus Law yang telah diajukan ke DPR, DPR tidak melakukan pembahasan atas usulan tersebut,” kata Inda dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Sabtu (28/3/2020).

Lebih lanjut kata Inda, pemerintah dan DPR menetapkan dan memprioritaskan kebijakan penanganan ancaman Virus Corona diantaranya kebijakan perlindungan buruh perkebunan sawit dari ancaman corona.

Sampai saat ini, buruh perkebunan sawit tetap bekerja seperti biasa. Sebagaimana kelompok masyarakat pekerja lainnya, buruh perkebunan sawit rentan terinfeksi corona, apalagi tanpa alat pelindung diri yang memadai. Buruh perkebunan sawit, terutama BHL (buruh harian lepas) yang mayoritas perempuan adalah kelompok yang paling rentan terpapar corona.

“Mereka pergi dan pulang kerja berhimpitan diatas truk penjemput, sementara fasilitas pelindung diri BHL tidak memadai. Pemerintah seharusnya mewajibkan perkebunan sawit menyediakan fasilitas pencegahan untuk semua buruh tanpa memandang status hubungan kerja,” jelas Inda.

Sementara, Spesialis perburuhan Sawit Watch, Zidane menyampaikan, sampai sejauh ini belum ada tindakan konkrit pemerintah untuk melindungi buruh perkebunan sawit. Kemnaker sampai sejauh ini hanya mengeluarkan surat edaran saja.

“Surat tersebut tidak menjamin buruh yang diliburkan karena ancaman corona tetap menerima upah. Apalagi jika yang diliburkan adalah buruh dalam hubungan kerja rentan seperti BHL dan buruh outsourcing”, kata Zidane.

Lebih lanjut kata Zidane, pihaknya telah memperoleh informasi bahwa sudah ada perkebunan sawit melakukan pemeriksaan suhu tubuh buruh, ada pula perkebunan sawit yang melakukan penyemprotan terhadap kendaraan yang masuk areal perkebunan sawit.

Namun apel pagi sampai sejauh ini masih diberlakukan, tentu ini sangat beresiko terhadap penyebaran virus. Kami belum ada menerima informasi bahwa sudah ada perkebunan sawit yang melakukan penyemprotan disinfektan terhadap areal pemukiman buruh. “Keuntungan yang diperoleh perusahaan seharusnya bisa digunakan untuk memfasilitasi disinfektan, penyediaan sanitizer dan hal lain dalam rangka pencegahan penyebaran corona,” tandas Zidane.

 

Sumber: Infosawit.com

Industri Sawit Diproyeksi Mengalami Perlambatan

Prospek industri Kelapa Sawit baik di hulu, mid, atau antara dan hilir diproyeksi akan terjadi perlambatan. Sekjen Gabungan Pengusaha Kepala Sawit Indonesia (Gapki) Kanya Lakshmi Sidarta mengatakan perlambatan terjadi terutama untuk ekspor sawit ke berbagai negara.

Menurut Kanya, di sisi hulu, Gapki masih terus berjuang mempertahankan agar kegiatan panen dan operasional di lapangan tidak berhenti. “Produksi melambat mungkin saja, tetap perlu didukung dengan penjagaan ekstra, khususnya terhadap lalu lintas orang keluar masuk kebun demi mengurangi bahkan memutus penyebaran virus korona. Disegi pengolahan buah menuju PKS (pabrik kelapa sawit) diperkirakan akan muncul kendala pengangkutan, lalu bisa jadi ada penumpukan stok CPO karena transportasi sudah mulai terganggu untuk pengiriman ke sektor pengolahan selanjutnya,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Sementara untuk di pengolahan di sektor mid (antara) pun, kata Kanya, akan sedikit melambat. Namun, untuk kebutuhan penyediaan minyak goreng di dalam negeri tetap terjamin. “Yang akan terganggu adalah kegiatan ekspor, hal ini pun akan menambah penumpukan stok,” katanya.

Kemudian di sisihilir, Kanya yang pernah menggeluti komersial produk oleokimia menuturkan, mestinya dengan adanya peningkatan kebutuhan sabun dan lainnya. justru ada peluang peningkatan penyerapan di dalam negeri dengan adanya krisis Covid-19ini. “Jadi secara keseluruhan akan terjadi perlambatan besar untuk eks -por, sementara domestik tetap terjadi perlambatan yang relatif lebih rendah dari ekspor,” katanya.

Dia menuturkan, di dalam negeri peningkatan penyerapan sebelumnya semakin digalakkan dengan diefektifkannya program B30, bahkan banyak analis mengatakan akan membawa dampak terhadap penurunan ekspor. “Untuk hilir pun ada peningkatan permintaan dalam negeri, jadi yaa soso lah,” katanya.

Di sisi lain, mantan CEO IDX Channel itu menilai, penurunan saham-saham perusaha -an sawit di Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah sangat dalam sehingga dia menyarankan jika investor memiliki dana lebih agar mulai melakukan pembelian. “Kalau menunggu nggak akan kebagian,” ujarnya.

 

Sumber: Harian Seputar Indonesia

Per April 2020, HIP Biodiesel Turun Menjadi Rp 8.019/liter

 

Harga Indeks Pasar (HIP) untuk jenis Bahan Bakar Nabati (BBN) Biodiesel bulan April 2020 ditetapkan sebesar Rp8.019 per liter . Angka ini turun dari bulan sebelumnya yang berada di angka Rp8.933 per liter. Besaran nilai tersebut belum termasuk ongkos angkut yang mengikuti ketentuan Keputusan Menteri ESDM Nomor 148 K/10/DJE/2019.

“Turunnya harga biodiesel didorong turunnya harga CPO Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) rata-rata per tanggal 15 Februari s.d. 14 Maret 2020 tercatat sebesar Rp7.806 per kg,” ungkap Agung Pribadi, Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM di Jakarta, Sabtu (28/3). Untuk diketahui, harga CPO KPB periode sebelumnya yang berada di harga Rp 8.901/kg.

Secara rinci perhitungan harga biodiesel tersebut didapat formula HIP = (rata-rata CPO KPB + 100 USD/ton) x 870 kg/m3 + ongkos angkut.

Harga BBN tersebut juga dipergunakan dalam pelaksanaan mandatori B30 (campuran 30 persen biodiesel dalam minyak solar) dan berlaku untuk seluruh biodiesel yang digunakan dalam pencampuran minyak solar baik jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu maupun jenis BBM umum.

Sementara itu, berbeda dengan biodiesel yang mengalami penurunan harga, HIP BBN Bioetanol pada bulan April 2020 justru naik Rp749 per liter dari bulan Maret 2020 menjadi Rp11.210 per liter.

Kenaikan ini dipicu naiknya harga tetes tebu KPB rata-rata per tanggal 15 November 2019 s.d. 14 Maret 2020, yang berada pada angka Rp1.863 per kg. Sedangkan pada periode 15 Oktober 2019 s.d. 14 Februari 2020, harga tetes tebu KPB rata-rata hanya Rp1.708 per kg. Rincian perhitungan HIP Bioetanol adalah HIP= (Harga Tetes Tebu KPB Rata-Rata Periode 3 bulan x 4,125 Kg/L) + 0,25 USD/L.

Semua nilai konversi HIP BBN menggunakan rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Februari s.d. 14 Maret 2020.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

GAPKI Susun Protokol Cegah Corona di Perkebunan Sawit

SAWIT INDONESIA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) ikut mengambil peranan dalam rangka mendukung pemerintah melawan pandemi Corona atau Covid-19.

“Kami mengajak semua pengurus pusat, cabang dan perkebunan kelapa sawit anggota GAPKI untuk pro-aktif melakukan upaya pencegahan penularan melaui isolasi mandiri, menghindari interaksi dengan keramaian/kerumunan dan upaya pencegahan lainnya seperti penggunaan masker dan wajib cuci tangan. Kami percaya kita tentu sudah melakukan berbagai upaya dan cara dalam mengatasi pandemi ini, ” kata Joko Supriyono, Ketua Umum GAPKI dalam protokol ini yang diterima redaksi Sabtu (28 Maret 2020).

Protokol ini memuat enam kebijakan utama sebagai arahan untuk diimplementasikan di perkebunan sawit.

“Protokol ini setidaknya bisa mencegah masuknya pandemi C19 ke perkebunan sawit. Serta memastikan karyawan perkebunan tidak tertular sehingga kebun tetap berlangsung dan berproduksi, ” tambah Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif GAPKI.

Selain itu, GAPKI telah mensosialisasikan protokol ini kepada 13 cabang GAPKI di daerah antara lain Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Bengkulu, Jambi, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan Sulawesi.

Berikut ini, enam kebijakan yang menjadi termuat dalam Protokol GAPKI untuk pencegahan Corona di Perkebunan sawit:

A. Pemeriksaan Kesehatan dan Kebersihan Lingkungan.

1. Dilakukan pemeriksaan kesehatan staf dan karyawan, khususnya yang demam dengan suhu tubuh diatas 37.5o C atau menunjukkan gejala batuk/pilek/kesulitan bernafas (sesak nafas/nafas cepat) agar segera berkonsultasi dengan dokter dan dilaporkan ke atasan.

2. Bagi staf/karyawan yang menunjukkan gejala seperti poin 1 diatas, tidak diperkenankan masuk kerja sebelum ada kepastian dan rekomendasi dari dokter.

3. Setiap unit kerja wajib menyediakan sabun dan hand sanitizer di setiap kantor dan mess.

4. Staf, karyawan dan tamu perusahaan wajib menggunakan masker.

5. Staf dan karyawan dihimbau untuk menunda penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan banyak orang.

6. Staf dan karyawan dihimbau untuk tidak menerima tamu di lingkungan kerjanya tanpa persetujuan pimpinan.

B. Perketat Lalu-lintas Orang di Pintu Masuk

1. Mencegah, membatasi dan meminimalkan pergerakkan karyawan kebun keluar area perkebunan. Jika urgent, harus mendapat izin dari atasan dan dicatat tujuan kepergiannya.

2. Perketat masuk dan keluarnya orang di kebun, kalau tidak ada hal-hal yang sangat urgent. Tamu yang masuk dari luar kebun (jika tidak bisa dihindari) wajib diukur suhu tubuhnya dan dicatat riwayat perjalanan yang bersangkutan. Pintu masuk yang perlu diperketat antara lain:

– Pintu Masuk Kebun
– Pintu Masuk Kantor Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit/PKS.
– Pintu Masuk Perumahan

3. Bagi staf dan karyawan yang baru saja kembali dari luar negeri ataupun dari luar daerah yang termnasuk zona merah harus bekerja dari rumah (WFH) selama 14 hari (self quarantine).

GAPKI berikan bantuan masker dan sabun kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam rangka pencegahan pandemi Corona di Indonesia.

C. Hindari/Kurangi Briefing, Apel dan sejenisnya.

1. Briefing ataupun apel siaga di kantor/afdeling/kebun untuk pegawai/pekerja diupayakan semaksimal mungkin dihindari. Kalaupun terpaksa dilakukan, semua yang hadir wajib memakai masker dan sarana perlindungan diri lainnya dengan jumlah peserta maksimal 10 orang.

2. Jaga jarak (social distancing) minimal 1 meter antara peserta briefing/apel.

3. Komunikasi antar pimpinan, dengan pegawai dan karyawan kebun dengan menggunakan media telekomunikasi yang ada (bisa video conference dengan menggunakan zoom, blizz, wa, dan lain-lain).

D. Sediakan Tempat Cuci Tangan di Semua Pintu Masuk.

1. Setiap orang (termasuk karyawan) yang akan masuk ke wilayah perusahaan diwajibkan mencuci tangan dengan air sabun/hand sanitizer dengan cara yang benar. Perhatian khusus harus diberikan kepada supir truk dan tangki CPO yang keluar masuk kebun dan PKS. Jika memungkinkan sediakan pengukur suhu dengan memanfaatkan alat pengukur suhu dari klinik perusahaan.

2. Tempat cuci tangan dapat disediakan di depan pos penjagaan (security post) atau tempat strategis lainnya. Tempelkan gambar grafis petunjuk cara mencuci tangan yang benar. Bagi yang tidak mau dan tidak patuh melakukan cuci tangan dilarang memasuki areal tujuan. Petugas jaga bisa dibekali dengan Surat Instruksi pimpinan kebun/PKS.

3. Karyawan di lapangan (kebun) juga harus melakukan hal yang sama dengan melakukan cuci tangan. Hal ini dilakukan, baik ketika karyawan masuk kantor divisi/afdeling, maupun ketika dia kembali dari kebun menuju perumahan divisi/afdeling.

4. Bila diluar PKS ada warung atau kantin serta pondok para supir beristirahat juga harus mendapat perhatian. Daerah ini sangat rentan karena tempat berinteraksi beragam orang luar (supir, kenek dan penjual makanan). Jaga jarak (social distancing) dan pentunjuk-petunjuk dari pemerintah harus dijalankan dan diawasi secara ketat dan tegas. Warung dan Kantin di area perkebunan/perusahaan diwajibkan menyediakan sabun/hand sanitizer untuk mencuci tangan.

E. Dirikan Posko Covid-19

Pandemi Covid-19 belum berakhir. Untuk itu kami mengharapkan setiap perusahaan perkebunan dapat mendirikan Posco Covid-19 di masing-masing perkebunan dan gugus tugas di setiap perumahan Afdeling/PKS, dengan mengoptimalkan klinik ataupun unit kesehatan yang ada.

1. Fungsi dan pelayanan yang diberikan oleh Posko Covid-19 antara lain:

– Penyediaan masker;
– Penyediaan sabun dan disinfektan;
– Memeriksa kesehatan karyawan terutama yang mempunyai gejala batuk dan demam;
– Secara cepat menginformasikan kepada Posko Covid di RS rujukan yang ada di masing-masing daerah, kalau ada terindikasi Covid-19, sehingga secara cepat dapat ditangani lebih lanjut;
– Untuk mengetahui informasi tentang Covid-19, dapat di akses ke aplikasi WA dari Pusat Informasi Covid-19 powered by Kemenkoinfo RI: https://t.co/JhYfzU6bCM. (Ketik “halo” atau “selamat malam” nanti akan dibalas otomatis)
– Posko ini kiranya juga dapat ikut membantu pemeriksaan kesehatan masyarakat sekitar kebun.

2. Fungsi gugus tugas di perumahan Afdeling/PKA antara lain:

– Memantau pergerakan karyawan penghuni perumahan yang keluar maupun tamu yang masuk perumahan Afdeling.
– Melaporkan dan memfasilitasi kepada Posko Covid-19 jika ada karyawan/penghuni perumahan yang mengalami gejala sakit.
– Melakukan penyuluhan dan kampanye pentingnya menjaga kesehatan dan melakukan pencegahan terhadap penyakit (dapat dilakukan bekerjasama dengan Puskesmas/Poliklinik terdekat).

F. Mudik Lebaran

Kepada segenap karyawan perkebunan, disarankan untuk tidak melakukan perjalanan mudik saat Lebaran nanti. Hal ini untuk mencegah kemungkinan penularan wabah Covid-19 dari sumber yang tidak diketahui. Selama bulan Ramadhan juga dihimbau agar menghindari berkumpul dengan orang banyak dalam bentuk sholat tarawih maupun buka bersama.

Pelaksanaan Protokol ini tentunya disesuaikan dengan kondisi masing-masing perkebunan, termasuk pengenaan sanksi bagi karyawan yang tidak mematuhi.

Tetap semangat dan mematuhi langkah-langkah yang dilakukan oleh Pemerintah. Kiranya Tuhan akan selalu melindungi upaya baik kita bersama.

Sumber: Sawitindonesia.com

Wilmar Alokasikan US$ 1 Juta, Bantu Pemerintah Ringankan Dampak Covid19

 

Wilmar melalui program Wilmar Peduli, mengalokasikan US$ 1 juta untuk membantu pemerintah dalam menghadapi ancaman Covid-19. Dana tersebut diperuntukkan bagi penyediaan test kit, dan masker. Perusahaan perkebunan kelapa sawit dan agribisnis tersebut juga mengubah salah satu jalur produksi pabriknya untuk memproduksi hand sanitiser dan sabun tangan cair untuk disumbangkan.

“Kami sangat prihatin dengan situasi saat ini dan ingin membantu pemerintah dan masyarakat untuk mengurangi beban mereka selama periode yang sulit ini,” kata Country Head Wilmar Indonesia Darwin Indigo melalui keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Sabtu (28/3/2020).

Dia menjelaskan, lockdown di sebagian besar wilayah di dunia mengakibatkan berbagai pihak kesulitan mencari dan mengirimkan alat pelindung diri (APD). Terkait hal itu, pihaknya telah mendedikasikan beberapa kapal minyak sawitnya yang kembali dari Tiongkok untuk mengangkut APD, salah satunya masker.

“Ini adalah situasi yang luar biasa, kami mencari semua jalan yang mungkin dan salah satu cara tercepat adalah dengan menggunakan kapal kami yang akan kembali dari Tiongkok untuk membawa kembali barang-barang penting itu,” kata Darwin.

Lebih lanjut kata Darwin, pihaknya telah memutuskan untuk mengubah jalur produksi perusahaan, dan sekarang dapat memproduksi hand sanitiser dan sabun tangan cair. “Dan kami akan menyumbangkan semua produk itu,” ujar dia.

Sumbangan itu akan didistribusikan melalui instansi pemerintah pusat dan daerah. Cara itu dinilai paling efektif dalam pendistribusian bantuan.

Darwin mengatakan, salah satu bagian terburuk dari kondisi saat ini adalah dampak pada ekonomi. Wilmar melalui Wilmar Peduli juga akan mendistribusikan Sembako (sembilan bahan pokok) kepada orang-orang yang paling terdampak.

“Kami telah menginstruksikan kepada semua kepala pabrik kami di seluruh Indonesia untuk mengalokasikan dan mendistribusikan pasokan sembako kepada orang-orang yang paling terpukul oleh situasi ini, dan untuk menghindari keramaian besar selama pendistribusian, kami akan bekerja dengan pemerintah setempat untuk mendistribusikan ini dari rumah ke rumah,” tutur Darwin.

Selama periode ini, sangat penting bagi semua pihak untuk saling menguatkan dan membantu. Wilmar akan terus memantau perkembangan situasi, dan siap mengalokasikan dana yang sama dan melakukan hal serupa pada semester kedua tahun ini. “Kami berkomitmen untuk membantu pemerintah dan masyarakat untuk melewati kondisi suram ini,” tandas dia.

 

Sumber: Infosawit.com