Pasar Benih Sawit Tumbuh Subur

 

JAKARTA. Kementerian Pertanian (Kemtan) menetapkan target peremajaan (replanting) kelapa sawit pada tahun ini seluas 185.000 hektare (ha). Program pemerintah ini diyakini akan membawa angin segar bagi produsen benih sawit. Maklum, program peremajaan kebun akan menaikkan permintaan benih sawit.

Forum Komunikasi Produsen Benih Kelapa sawit Indonesia (FKPBKSI) menilai program tersebut merupakan kabar positif bagi produsen benih kelapa sawit. Ketua FKPBKSI Dwi Asmono mengatakan, Badan Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa sawi t(BPDP-KS) menargetkan peremajaan 185.000 ha. Alhasil, kebutuhan benih sawit diperkirakan mencapai 27 juta butir kecambah.

Dia menambahkan, produsen benih kelapa sawit dalam negeri siap memenuhi kebutuhan sebanyak itu. Dari 15 produsen benih sawit yang ada saat ini, memiliki total kapasitas produksi mencapai sekitar 120 juta kecambah per tahun.

Selama ini sebagian besar produsen benih kelapa sawit itu memasarkannya sudah dalam bentuk kecambah. “Namun jika dibutuhkan, produsen benih dan mitranya melalui waralaba akan menangkarkan benih untuk menyiapkan bibit yang dibutuhkan,” katanya Senin (5/2).

Ketua Perkumpulan Penangkar Benih Tanaman Perkebunan Indonesia (PPBTPI) Badaruddin Sabang Puang juga menilai positif program replanting kebun sawit. Saat ini penangkar bibit kelapa sawit yang mayoritas bermitra dengan Pusat Penelitian Kelapa sawit (PPKS) Medan sudah memiliki bibit siap tanam.

“Ada 2 juta bibit yang telah disiapkan oleh penangkar di lapangan,” katanya.

Produksi meningkat

Salah satu perusahaan yang akan menikmati program peremajaan sawit adalah PT Bina sawit Makmur. Anak usaha PT Sampoerna Agro Tbk ini siap memasarkan produk untuk memenuhi kebutuhan benih sawit tahun ini. Head of Seed Commercial Sampoerna Agro, Tony Teh mengatakan, pihaknya memiliki benih sawit varietas seri Sriwijaya dengan rendemen minyak sawit sekitar 26,2% atau 7,5 ton per ha.

Varietas ini diklaim memiliki ketahanan terhadap penyakit CroiiH disease dan Fusarium dan cukup toleran terhadap kekeringan. “Jadi wajar bila kita mengklaim Indonesia sebagai surga benih sawit karena banyaknya varietas unggul yang dihasilkan produsen benih kelapa sawit nasional. Sehingga konsumen memiliki banyak pilihan,” ujar Tony. Tahun lalu produksi benih Sampoerna mencapai sekitar 7 juta kecambah.

Dengan program peremajaan tanaman kelapa sawit, kenaikan produksi sawit Indonesia akan terjadi dalam beberapa tahun ke depan. Dengan produksi yang lebih tinggi ekspor minyak sawit atau CPO diharapkan akan akan tetap menjadi penyumbang devisa terbesar Indonesia. Pada tahun 2017, devisa dari ekspor CPO mencapai USS 11,84 miliar atau naik 26% dari 2016.

Guru besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin memprediksi dalam 10 tahun mendatang, volume dan nilai ekspor sawit dan produk turunnya terus meningkat. Namun, “Pemerintah tetap harus terus melakukan diplomasi dagang. Kalau tidak, potensi devisa yang sangat besar ini bisa saja sirna. Karena ini merupakan salah satu hambatan dagang, tarif barrier” katanya.

Untuk meningkatkan ekspor sawit, pengamat ekonomi dari Indef Bhima Yudhistira meminta agar pemerintah mencari pasar baru. “Jangan terpaku pada pasar tradisional yang mencapai 70%,” katanya. Menurutnya pasar potensial baru produk sawit Indonesia antara lain Pakistan, Eropa Timur, Afrika Selatan, Afrika Utara.

 

Sumber: Harian Kontan