Paspi Klaim Raja CPO Dunia Sekarang Milik Indonesia

 

 

Direktur Eksekutif PASPI (Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute) Dr Tungkot Sipayung mengatakan saat ini Indonesia merupakan raja CPO dunia seiring terus meningkatnya luasan tanaman sawit nasional.

Menurut Sipayung pada workshop jurnalistik dengan tema “Jurnalis Menguak Fakta dibalik Industri Kelapa Sawit” di Banjarmasin, Rabu, saat ini kesadaran masyarakat dan pemerintah tentang manfaat perkebunan sawit semakin meningkat.

Seiring dengan meningkatnya kesadaran dan fakta manfaat perkebunan sawit bagi kesejahteraan masyarakat tersebut, maka pertumbuhan perkebunan sawit juga melaju cukup cepat.

Sebelumnya, tambah Sipayung dihadapan 50 jurnaslis peserta workshop, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia hanya 300 ribu hektare dan kini menjadi 11 juta hektare.

Potensi perkebunan sawit Indonesia yang luar biasa besar tersebut, tambah dia, membuat berbagai negara penghasil perkebunan di luar sawit atau penghasil minyak nabati nonsawit antara lain kedelai, bunga matahari dan lainnya, merasa terancam.

Karena, keberadaan sawit dikhawatirkan akan menggantikan bahan baku industri yang sebelumnya berasal dari kedelai dan lainnya, dengan kelapa sawit yang secara ekonomi jauh lebih murah dan menguntungkan.

“Melihat potensi tersebut, akhirnya banyak negara-negara yang mengeluarkan kampanye hitam tentang bahaya perkebunan sawit terhadap lingkungan,” katanya.

Kampanye hitam tersebut, tambah dia, sempat mempengaruhi masyarakat Indonesia, sehingga terjadi kontra terhadap perkebunan sawit.

Namun kini, setelah sawit terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan berbagai kekhawatiran tentang sawit tidak terbukti secara menyeluruh, pertumbuhan perkebunan sawit semakin luar biasa.

“Sejak tahun 2011, akhirnya Indonesia menjadi raja CPO dunia, dan kini Indonesia menuju sebagai raja “Oleo food” dunia, yaitu produsen minyak goreng, mentega, cokelat, farmasi dan lain-lain terbesar dunia.

Pertumbuhan produksi CPO nasional pada 2016 mencapai 33,5 juta ton dan mampu menyumbang untuk penerimaan negara dari bea keluar minyak sawit sebesar Rp111,6 triliun.

Selain itu, Indonesia juga bakal menjadi raja “oleokimia” dunia, yaitu produsen sabun, detergen, shampoo, pelumas, bioplastik dan lainnya, juga raja “biofuel” dengan industri, biodiesel, bioethanol, bioavtur dan lainnya.

Saat ini, tambah dia, pemerintah bersama pengusaha, sedang mempersiaphakan, untuk hilirisasi berbagai produk dari kelapa sawit tersebut.

“Saat ini, kita baru sebagai raja CPO, karena hilirisasi yang kita lakukan belum maksimal, tetapi pada 2045, semua cita-cita tersebut, akan terlaksana,” katanya.

Pemimpin Redaksi Warta Ekonomi Muhamad Ihsan mengungkapkan, media massa, sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan sawit nasional terutama pascaorde baru, di mana perkembangan media massa dan teknologi berkembang lebih cepat.

Pada zaman orde baru, media massa nasional, banyak menerima informasi sepihak dari luar negeri sesuai dengan keinginan negara yang mendistribusikan informasi.

Namun kini, setelah teknologi informasi berkembang, akhirnya wawasan pemerintah, masyarakat dan media massa juga mulai terbuka dan berubah, sehingga pemberitaan tentang perkebunan sawit juga mulai berubah positif.

Lektor Utama ULM Gusti Rusmayadi mengungkapkan, menanggapi isu tentang kelapa sawit rakus air, sehingga menyebabkan terjdinya kekeringan, dia menyampaikan fakta hasil penelitian, bahwa nilai KC atau Tetapan kesetimbangan kelapa sawit sebesar 0,93 (Harahap, 1999), sementara tanaman karet mempunyai nilai kc satu, tanaman pangan lain, seerti padi, selama periode pertumbuhannya mempunyai nilai KC atau sebesar 1,05-1,2 (Doremnboss dan kassam, 1986).

Artinya kebutuhan air kelapa sawit sebenarnya jauh lebih rendah dibanding tanaman lain, seperti karet.

Hanya saja, tambah dia, kemampuan menyimpan air kelapa sawit jauh lebih rendah dibanding tanaman lain, karena akarnya yang cukup dangkal, namun hal tersebut bisa diatasi dengan membuat sumur-sumur penampungan di sekitar perkebunan.

 

Sumber: Wartaekonomi.co.id