Penanaman Dan Pengendalian Hama Kelapa Sawit

 

 

Proses penanaman dilakukan dengan jarak tanam tertentu yang memudahkan proses pemanenan dan perawatan tanaman. Untuk menjaga kelembaban tanah dan mencegah erosi, ditanam juga kacang-kacangan atau cover crop. Pada areal berbukit atau bergelombang disebut sistem terasering.

Pemanfaatan Agen Hayati Dalam Pemeliharaan Tanaman

Konsep pengendalian hama pernyakit dan hama yang diterapkan di perkebunan kelapa sawit adalah pengendalian hama terpadu (PHT). Dalam konsep ini, pengendalian hayati merupakan prioritas kareana mempunyai sifat yang lebih ramah dilingkungan dan berkesinambungan. Teknik pengendalian hayati adalah dengan mengembangkan  musuh alami dari hama atau pernyakit kelapa sawit.

Burung Hantu (Tyto alba)

Burung hantu dikembangkan untuk mengendalikan hama tikus. Burung hantu merupakan predator tikus yang efektif. Dalam satu hari burung hantu memakan tikus rata-rata satu ekor, pengembangan burung hantu dilakukan dengan menyediakan sarang /gupon untuk tempat tinggal dan bertelur. Satu sarang/gupon ditempati oleh satu pasang burung hantu, jumlah gupon yang dibangun diperkebunan kelapa sawit adalah satu gupon untuk 25 hektar, dengan adanya burung hantu maka hama tikut dapat dikendalikan tanpa harus mengeluarkan biaya membeli zat kimia pembasmi tikus.

Cara pengendalian dengan agen hayati lebih ramah lingkungan, pemanfaatan burung hantu ini dapat mengurangi pengunaan pestisida secara signifikan sampai angka 100% (zero pesticide).

Serangga Musuh Alami Ulat Pemakan Daun

Hama Pemakan daun kelapa sawit diantaranya adalah ulat api dan ulat kantong. Serangan ulat akan menurunkan produktifitas kelapa sawit, untuk mengendalikan hama dikembangkan musuh alami yang dapat mengendalikan ulat tersebut. Seranga predator akan menghisap cairan dalam ulat api, sehingga ulat api akan mati. Beberapa jenis seranga yang dapat digolongkan menjadi musuh alami ulat pemakan pelepah daun ini adalah:

  • Sycanus dichotomus, merupakan predator yang cukup aktif untuk ulat api dan ulat kantong.
  • Eucanthecona SP, merupakan predator utama ulat api dengan cara menghisap cairan ulat api.

Kedua seranga predator ini dikembangkan dengan menyediakan tempat tinggal (Inang) berupa tanaman yaitu Turnera subulata dan Antigonon leptopus. Seranga predator tersebut akan tinggal dan berkembang biak pada tanaman inang, pemenfaatan musuh alami ini akan mengurangi penggunaan pestisida kimiawi sampai 100% (zero pesticide).

Sumber : Green Palm Oil Industries, GAPKI 2012

Sumber: Sawitindonesia.com