Pengembangan Kucing Hutan untuk Pengendalian Hama Tikus Di Kebun Sawit

Kemitraan kolaboratif antara anggota RSPO dari sektor perkebunan kelapa sawit, United Plantations Berhad (UP) dan mitra proyek mereka Copenhagen Zoo menunjukkan bahwa minyak sawit dan lingkungan dapat hidup berdampingan secara harmonis. Proyek, yang dianggap kontroversial ketika diprakarsai pada tahun 2010, kini semakin meningkat.

Pada “Seminar Minyak Kelapa Sawit” yang diadakan di Kebun Binatang Kopenhagen pada akhir Mei 2019 lalu, Direktur Program Asia Tenggara Zoo, Dr. Carl Traeholt, menyoroti beberapa dampak positif yang dicapai sejauh ini, termasuk mengukur, memantau dan mengelola kualitas air di perkebunan, utamanya lahan basah dan aliran sungai, serta pelacakan spesies seperti kucing hutan, kobra hitam dan raja kobra.

Dia juga memaparkan bukti predator teristerial terbesar di Kalimantan – Kucing Hutan Bengal – di area rehabilitasi batas perkebunan UP di Kalimantan. Dr. Traeholt membenarkan bahwa mereka telah sukses dengan mengembangkan kucing hutan bengal untuk pengendalian hama tikus, berbeda dengan burung hantu, yang bukan asli dari sana. “Kami juga berencana untuk mulai melacak spesies lain seperti orangutan, kucing berkepala datar, gharial dan trenggiling,” katanya dalam laman resmi RSPO.

Berdasarkan bukti ini, Dr. Traeholt juga menjelaskan perlunya pergeseran pendekatan, menjauh dari tindakan relatif dalam hal konservasi. Misalnya, dengan orangutan, individu dari beberapa populasi kecil yang terisolasi harus dikelola sebagai satu populasi. Ini berarti, beberapa individu harus dipindahkan untuk tujuan genetik.

“Intinya adalah bahwa populasi kecil ini harus dikelola di alam liar dan tidak diabaikan, ditangkap atau dikirim ke pusat penyelamatan, kecuali mereka berada dalam kesehatan yang buruk sehingga mereka perlu menerima perawatan dokter hewan,” katanya.

Dr. Traeholt juga membenarkan bahwa kadang-kadang memungkinkan untuk melakukan perlindungan individu di pusat penyelamatan dengan memperbanyak habitat untuk mempertahankan populasi yang lebih besar. Skema ini juga merekomendasikan re-introduksi ke daerah-daerah di mana spesies telah punah. “Pendekatan ini dapat digunakan untuk spesies lain juga,” tadas dia.

 

Sumber: Infosawit.com