Pengrajin Anyaman Manfaatkan Limbah Sawit

 

Sekelompok masyarakat pengrajin anyaman di Kampung Paya Bedi, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang memanfaatkan limbah kelapa sawit yang ada di lingkungan tempat tinggalnya.

Kelompok pengrajin yang terdiri atas 24 ibu rumah tangga itu setiap hari menghasilkan produk kerajinan tangan yang dibuat dari limbah kelapa sawit, seperti pelepah pohon.

Usaha kecil tersebut dibentuk sebuah BUMN minyak dan gas sejak 2013 lalu. Pendampingan dari BUMN tersebut berupa pemberian materi pelatihan produksi, pemasaran, dan permodalan cukup membantu masyarakat untuk menghasilkan produk berkualitas.

Selain itu, kelompok pengrajin juga mendapat bantuan modal untuk mengembangkan usahanya.

Para pengrajin juga mencari bahan alam lainnya yang bisa diolah menjadi sumber penghasilan, misalnya eceng gondok, daun serai, ilalang, dan serat gedebong pisang untuk mengembangkan produk anyaman.

Segenap kreativitas para perempuan itu terwujud dalam bentuk tas jinjing, tas laptop, kotak tisu, hingga sapu lidi. Adapun, produk tersebut dibandrol mulai dari Rp 20.000 hingga Rp 200.000.

Sambil mengisi waktu luang, ternyata para perempuan di Aceh Tamiang bisa menghasilkan produk berkualitas yang layak dipamerkan di Galery Ajang Ambe, show room yang menampung lebih dari 40 mitra UMKM di wilayah Aceh Tamiang.

Sebelumnya, Presiden RI Joko Widodo mengatakan, sektor industri kreatif memiliki potensi pasar yang besar di Indonesia. Oleh sebab itu, industri kreatif harus digarap dengan baik.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf berencana mengembangkan sejumlah sektor lainnya seperti games, aplikasi, musik, dan film.

“Fashion, kuliner, dan crafts (kerajinan tangan) itu sudah besar dan kami mau akselerasi. Ada lagi yang menjadi prioritas mau dikembangkan adalah games, aplikasi, musik, dan film,” katanya.

Bekraf juga terus berupaya meningkatkan kesadaran para pemangku kepentingan untuk menyadari betapa pentingnya upaya bersama mendorong sektor ekonomi kreatif lain. Termasuk, sub-sektor film, animasi dan video, desain produk, desain komunikasi visual, televisi, radio, musik, periklanan, dan penerbitan.

Triawan menegaskan ekonomi kreatif terbukti mampu menjadi sumber dan kekuatan ekonomi baru. “Di masa depan, ekonomi tidak semata-mata bergantung pada sumber daya alam mentah,” katanya dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9 di Kantor Staf Presiden, Selasa (17/10/2017).

Bekraf mencatat, kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB Indonesia pada 2014 adalah Rp 784,82 triliun dan meningkat 8,6 persen pada 2015 menjadi Rp 852 triliun. “Dari total kontribusi tersebut, sub-sektor kuliner, kriya, dan fashion memberikan kontribusi terbesar pada ekonomi kreatif,” katanya.

Sub-sektor kuliner tercatat berkontribusi sebesar 41,69 persen, kemudian fashion sebesar 18,15 persen, dan kriya sebesar 15,70 persen. Selain itu, ada empat sub-sektor yang juga sangat potensial menjadi kekuatan ekonomi baru seperti film, musik, seni, dan game.

Empat sub-sektor ini terlihat mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Industri film bertumbuh sekitar 10,28 persen, musik tumbuh 7,26 persen, seni/arsitektur 6,62 persen, dan game tumbuh sekitar 6,68 persen.

Sementara, tiga negara tujuan ekspor komoditi ekonomi kreatif terbesar pada 2015 yaitu Amerika Serikat 31,72 persen kemudian Jepang 6,74 persen, dan Taiwan 4,99 persen.

Memang, dalam pengembangan ekonomi kreatif masih ada sejumlah kendala. Salah satunya adalah kendala dari ekosistem bisnis dan investasi. Selain itu, infrastruktur penunjang kegiatan para pelaku usaha ekonomi kreatif juga perlu ditingkatkan.

Permodalan sektor ekonomi kreatif

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo mengungkapkan, mendukung UMKM dan ekonomi kreatif dapat mendorong penciptaan sumber-sumber ekonomi baru. Selain itu, dapat juga mendorong pengembangan ekonomi daerah, penciptaan lapangan kerja khususnya bagi perempuan dan mengangkat citra bangsa.

Bila ditinjau dari status gender, 62,84 persen tenaga kerja Indonesia pada 2015 adalah laki-laki. Sisanya atau 37,16 persen adalah perempuan. Namun, ekonomi kreatif justru membalik fakta itu. Berdasarkan data Bekraf, perempuan mendominasi ekonomi kreatif yaitu sebesar 53,68 persen dan sisanya sebesar 46,52 persen laki-laki.

Pelaku ekonomi kreatif juga telah mengakses permodalan dari bank dengan cukup baik. Pada 2016, permodalan yang diakses dari perbankan yaitu Rp 7,668 triliun dan melampaui target yang hanya sebesar Rp 4,9 triliun.

Sementara, pada 2017 tercatat pelaku ekonomi kreatif mengakses modal dari perbankan sebesar Rp 192, 9 miliar dari target Rp 280 miliar. Total capaiaannya yakni Rp 7,86 triliun.

 

Sumber: Tribunnews.com