Peningkatan Produktivitas Sawit Harus Jadi Gerakan Nasional

 

JAKARTA – Ketua Umum Gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono menyatakan bahwa peningkatan produktivitas kelapa sawit harus menjadi gerakan nasional yang melibatkan perusahaan skala besar maupun perkebunan rakyat. Perkebunan sawit rakyat adalah bagian penting perkelapasawitan nasional, karena itu dalam upaya meningkatkan produktivitas maka kebun rakyat harus dilibatkan.

Joko Supriyono mengatakan, kerja sama antara petani dengan perusahaan besar sawit yang baik akan menjamin keberlanjutan sektor penyumbang devisa terbesar tersebut Di sisi lain, pertumbuhan perkebunan sawit rakyat semakin signifikan. “Karena itu, program peningkatan produktivitas kelapa sawit tidak boleh melupakan petani. Kerja sama erat antar perusahaan skala berat dan petani diperlukan untuk memajukan sektor sawit nasional,” kata dia dalam keterangan tertulis jelang pelaksanaan IPOC 2017, Selasa (31/10).

Karena itu, konferensi sawit Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2017 yang akan digelar di Bali pada 1-3 November 2017 mengangkat tema Growth through Productivity, Partnership with Smallholders. Lebih dari 1.500 pelaku di mata rantai industri kelapa sawit dari 23 negara dijadwalkan bakal hadir.

Chairperson IPOC 2017 Mona Suryaari mengatakan, tema tersebut dipilih untuk mendapatkan wawasan tentang pengelolaan perkebunan kelapa sawit di masa mendatang. Sesuai dengan tuntutan global yang semakin memperhatikan isu-isu berkelanjutan, terutama hubungan antara perusahaan dengan petani. “Sudah banyak diakui,industri kelapa sawit nasional makin membuktikan peran dan sumbangsihnya bagi perekonomian Indonesia. Khususnya, perannya dalam upaya pengurangan angka kemiskinan. Kendati demikian, program peningkatan produktivitas dan daya saing merupakan sebuah keniscayaan. Jika tidak, minyak sawit Indonesia akan berat menghadapi persaingan global,” kata Joko.

Joko mengatakan, upaya peningkatan produktivitas mencakup strategi dan mekanisme agar pengelolaan perkebunan sawit semakin efektif dan efisien sehingga mendongkrak daya saing. “Meski persaingan minyak nabati dunia di masa depan semakin ketat dan dinamis, saya optimistis tantangan itu dapat dilalui dengan baik, terutama dengan kerja sama yang erat antara perusahaan skala besar dan perkebunan rakyat” kata Joko.

Dia menambahkan, persaingan ketat terutama dengan minyak kedelai. Apalagi, Amerika Serikat (AS) akan keras (secara ketat) memproteksi minyak nabati di dalam negerinya dari gempuran minyak sawit.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia