,

Penjualan Migor Kurang Licin

Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mencatat penjualan minyak goreng (migor) selama Ramadan dan Lebaran kurang licin. Sebab, saat ini masyarakat lebih senang keluar jalan-jalan dibandingkan makan-makan di rumah.

Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga mengatakan, pertumbuhan penjualan migor Ramadan dan Lebaran tahun ini diprediksi cuma tumbuh 4-5 persen saja. Angka ini seperti tahun sebelumnya.

“Angka ini turun dibandingkan 2015 ke bawah,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, belum lama ini.

Pada 2015 ke bawah, biasanya penjualan migor selama Ramadan dan Lebaran tumbuh 8-10 persen. Pasalnya, saat itu masyarakat lebih senang makan-makan selama Lebaran. Namun, hal itu berubah sejak 2015 ke atas.

Kondisi ini memperlihatkan jika tingkat perekonomian masyarakat sudah meningkat. “Sekarang trennya sudah berubah. Makan tidak menjadi prioritas lagi. Orang sudah tidak jor-joran lagi untuk membuat makanan Lebaran,” katanya.

Menurut Sahat, konsumsi migor selama Juni diprediksi mencapai 780 ribu ton. Ini didorong adanya momen Ramadan dan Lebaran. “Naiknya memang tidak tinggi cuma 4-5 persen. Tap.i lumayanlah,” paparnya.

Terkait dengan pasokan, dia menegaskan , tidak ada kendala. Pasokan migor di semua daerah lancar. Kelangkaan migor yang sempat terjadi di beberapa daerah juga sudah teratasi. “Samarinda dan Balikpapan sudah diatasi oleh grupWilmardan Astra.” paparnya.

Menurutnya, produk minyak goreng curah akan beralih kepada kemasan. Proses transisinya diperkirakan akan selesai pada 2019. “Nanti tahun 2020 tidak ada lagi minyak goreng yang dijual curah,” jelasnya.

Pada 2018. konsumsi minyak goreng domestik dikalkulasi mencapai 12,759 juta ton. lebih tinggi dari tahun lalu yang sebanyak 11.056 juta ton. Tahun ini, penggunaan minyak sawit untuk dalam negeri masih didominasi untuk pangan.

“Dengan rincian, sebanyak 8.414 juta ton untuk makanan dan specialty fats. Sementara itu, 845 ribu ton untuk oleochemical dan soap noodle. Lalu, 3.5 juta ton memenuhi kebutuhan biodiesel.” kata Sahat.

Dumping Eropa

Menurut Sahat, asosiasi sedang melakukan penyelidikan terkait adanya dugaan dumping oleh produsen minyak nabati asal Eropa yang dijual di Indonesia. Dumping berdampak pada penjualan migor dalam negeri.

“Kami sedang menyelidikinya dan mengumpulkan datanya.” ujarnya.

Dalam mengumpulkan data dumping, pihaknya tidak hanya menyelidiki penjualan 2017 saja, tapi dari 2014. Hal ini dilakukan biar datanya lebih valid.

“Kalau cuma diambil satu tahun kurang valid. Sekarang sudah mulai ada gambaran hasilnya,” paparnya.

Produsen yang diduga melakukan dumping, kata dia, berasal dari Spanyol. Perancis dan Italia. Dan, biasanya merupakan produk premium. “Kami juga masih selidiki apakah mereka impor langsung dalam bentuk botol atau bulk saja dan dikemas di sini.”” katanya.

Ditanya berapa kerugiannya. Sahat belum bisa membocorkannya karena masih dalam proses perhitungan. “Tinggal menghitung berapa populasinya kelas menengah atasnya. Karena mereka yang menggunakan minyak itu,” tuturnya..

Dengan penyelidikan dumping, kata dia, bukan berarti pihaknya menolak masuknya produk minyak nabati Eropa. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. “Kita tidak akan melarang total seperti Eropa melarang Crude palm oil (CPO) kita,” ujarnya.

Diajuga menegaskan, penyelidikan dumping tidak terkait dengan balas dendam. Pihaknya hanya ingin menciptakan perdagangan yang adil. “Kami sudah merasakannya dari lama. Kok pertumbuhan migor tidak seperti biasanya,” tukasnya.

Sebelumnya. Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan mengatakan. GIMNI masih melakukan eksaminasi atau penyelidikan apakah ada unsur dumping atau subsidi atas minyak nabati asal Eropa tersebut. Hingga saat ini. lanjut Oke, pihaknya akan menunggu pengaduan dari masyarakat, termasuk dari GIMNI.

Bilamana pengaduan diajukan, maka investigasi akan dilakukan oleh Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) berdasarkan pengaduan tersebut. “Jadi kita tunggu hasil eksaminasi GIMNI tersebut,” kata Oke.

 

Sumber: Rakyat Merdeka