Perang Dagang AS-TIONGKOK

 

JAKARTA – Gabungan Pengusaha Kelapa sawit Indonesia (Gapki) meminta pemerintah menggenjot konsumsi minyak sawit di pasar domestik dengan segera menerapkan perluasan mandatori biodiesel pada sektor-sektor nonsubsidi (bukan PSO). Hal itu untuk menjaga agar harga minyak sawit di pasar global tidak terus merosot.

Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar internasional pada Mei 2018 turun hingga US$ 8,60 per metrik ton dari bulan sebelumnya, itu karena melimpahnya stok minyak nabati global sebagai salah satu dampak perang dagang yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono mengatakan, hubungan dagang AS dan Tiongkok semakin panas, AS telah mulai menerapkan tarif pajak tinggi kepada barang dari Tiongkok. Negeri Tirai Bambu itu juga tidak tinggal diam dengan membalas secara proporsional (retaliasi) melalui mengurangi pembelian kedelai dari AS. Eskalasi perselisihan dagang kedua negara adi kuasa ini mulai berpengaruh pada minyak nabati lainnya yang merupakan salah satu komoditas perdagangan kedua negara tersebut Dengan pengurangan pembelian kedelai oleh Tiongkok menyebabkan stok kedelai di AS melimpah, sementara Tiongkok telah mempersiapkan diri dengan munumpuk stok di dalam negeri jauh hari sebelum perselisihan dagang dimulai.

Menurut dia, melimpahnya stok kedelai AS dan permintaan pasar global yang cenderung lemah membuat harga minyak nabati mulai jatuh. Pada saat yang sama, stok minyak nabati lain seperti rapeseed, bunga matahari, dan minyak sawit juga cukup melimpah di negara produsen, akibatnya harga minyak nabati menurun karena hukum ekonomi mulai berlaku. “Ketersediaan barang melimpah dan permintaan sedikit maka harga murah. Untuk itu, Pemerintah Indonesia sebisa mungkin sudah perlu membuat kebijakan untuk meningkatkan konsumsi di dalam negeri dengan menggalakkan penggunaan biodiesel yang lebih banyak, mandatori biodiesel sudah waktunya diterapkan kepada bukan PSO untuk mendongkrak konsumsi di dalam negeri,” kata Mukti Sardjono dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (11/7).

Dia menuturkan, dengan semakin memanasnya perselisihan dagang AS dan Tiongkok, situasi pasar minyak nabati semakin tidak menentu. Karena itu, Pemerintah Indonesia diharapkan mulai memberikan perhatian khusus kepada industri minyak sawit untuk menjaga agar harga minyak sawit tidak terus merosot Jika konsumsi di dalam negeri tinggi maka stok akan terjaga sehingga harga di pasar global tidak anjlok karena stok yang melimpah. “Hal lain yang dapat dilakukan adalah mulai menjajaki pasar Afrika yang masih memiliki potensi besar namun infrastrukturnya masih minim. Pemerintah dapat membuat kebijakan seperti menurunkan tarif ekspor minyak goreng kemasan ke negera Afrika. Afrika tidak dapat membeli minyak curah yang harganya lebih murah dari kemasan karena tidak memiliki infrastruktur tangki timbun,” kata dia. Sepanjang Mei, harga CPO global bergerak di kisaran US$ 650670 per metrik ton dengan harga rata-rata US$ 653,60 per metrik ton. Harga rata-rata Mei menurun US$ 8,60 per metrik ton dari harga rata-rata pada April lalu US$ 662,20 per metrik ton. Harga minyak sawit pada bulan mendatang diperkirakan cenderung menurun karena stok minyak sawit Indonesia dan Malaysia yang masih tinggi. Produksi minyak sawit Indonesia pada Mei mencapai 4,24 juta ton atau naik 14% dari April lalu yang hanya mampu mencapai 3,72 juta ton. Produksi yang meningkat tersebut akhirnya mengerek stok minyak sawit Indonesia meningkat menjadi 4,76 juta ton dibanding bulan lalu yang hanya 3,98 juta ton.

Ekspor Terkoreksi

Dalam catatan Gapki, sepanjang Mei 2018, ekspor minyak sawit secara total termasuk biodiesel dan oleokimia turun 3%, atau dari 2,39 juta ton pada April susut menjadi 2,33 juta ton pada Mei. Khusus ekspor CPO dan turunannya tidak termasuk biodiesel dan oleokimia pada Mei 2018 tercatat menurun 4% dari April lalu, atau dari 2,22 juta ton pada April merosot menjadi 2,14 juta ton pada Mei. “Penurunan ekspor dipengaruhi stok minyak nabati lain yang melimpah di pasar global sehingga harga yang murah juga tidak mendongkrak permintaan,” jelas Mukti.

Pada Mei, ekspor CPO dan turunannya ke Pakistan meningkat 29%. Peningkatan impor yang cukup signifikan setelah selama tiga bulan terakhir stagnan. Naiknya volume ekspor di Pakistan karena harga minyak sawit yang sedang murah sehingga para traders memanfaatkan kesempatan untuk menggendutkan stok minyak sawitnya. Peningkatan volume ekspor juga diikuti negara tujuan ekspor di Afrika yang membukukan kenaikan 29,50%, atau dari 176.640 ton pada April terkerek menjadi 228.750 ton pada Mei. Ini adalah volume tertinggi sepanjang 2018. AS dan Tiongkok yang sedang berseteru juga mengeskalasi impor minyak sawitnya pada Mei ini. Tiongkok membukukan kenaikan 6% dan AS mencatatkan kenaikan 18%.

Pada sisi lain, turunnya harga tidak mampu menarik pembeli dari India untuk menimbun stok minyak sawit Sejak tarif bea masuk yang tinggi untuk minyak sawit permintaan India mengalami kelesuan dan sudah pada tahap akut Pada Mei, India mencatatkan penurunan impor CPO dan turunannya sebesar 31% atau 346.280 ton turun menjadi 240.160 ton. Pasar India yang sudah tergerus lebih dari 50% dari sejak awal tahun yang juga turut berkontribusi menyebabkan stok minyak sawit di Indonesia dan Malaysia menjadi tinggi karena susutnya pembelian yang sangat signifikan. Ekspor ke Uni Eropa sudah dipastikan menurun karena melimpahnya produksi minyak bunga matahari dan rapeseed. Sepanjang Mei, Uni Eropa membukukan penurunan impor 7% atau dari 385.100 ton pada April menyusut menjadi 359.310 ton pada Mei.

Damiana Simanjuntak

 

Sumber: Investor Daily Indonesia