Perkebunan Kelapa Sawit Menjaga Keanekaragaman Hayati (Bagian II)

 

 

 

  1. Memahani Interaksi Spesies Dalam Iansekap Perkebunan Kelapa Sawit

Perkebunan kelapa sawit senantiasa dibangun diatas prinsip-prinsip keberlanjutan yang menekankan pentingnya sumber daya hayati sebagai pengerak proses-proses ekologi dalam suatu lansekap. Oleh karena itu, sering kali temukan bahwa perkebunan kelapa sawit berdiri berdampingan dengan ekosistem alami yang tetap terjaga kelestariannya dan selalu diupayakan untuk tetap demikian.

Kondisi tersebut memungkinkan terjadinya interaksi spesis yang hidup dalam ekosistem alami dan perkebunan, demikian juga sebaliknya. Daerah-daerah penting seperti tangkapan air (rawa, sungai), hutan dengan nilai konservasi tinggi, ekosistem riparian, dan ekosistem langka tetap dipertahankan. Lahan-lahan seperti ini memiliki fungsi ekologi yang sangat penting, yaitu sebagai kantung-kantung habitat bagi banyak spesies karena menyediakan sumber kehidupan bagi berbagai macam jenis satwa liar.

Dalam kantung-kantung habitat ini, proses-proses ekologi seperti predasi, kompetisi, parasitisai dan dekomposisi berlangsung melalui sistem yang sangat komplek. Harapan di kemudian hari, adalah kebun sawit yang di kelola dengan konsep ramah lingkungan dapat menjadi tempat aman bagi satwa liar untuk bergerak mencari makan, dan tinggal untuk sementara waktu ketika akan berpindah kekantung habitan yang lain.

  1. Bagaimana Spesies Memanfaatkan Ruang Dalam Lansekap Perkebunan Kelapa Sawit

Pergerakan spesies dalam sekala ruang dan waktu sangat mempengaruhi distribusi dan keberlangsungan hidup populasinya. Pergerakan ini sangat dipengaruhi oleh kebutuhan sepesies dalam kaitanya dengan ketersedian pakan, potensi sarang, dan kesempatan untuk mendapatkan pasangan serta bereproduksi. Spesies yang hidup dalam ekosistem alami, berpeluang untuk berinteraksi dengan ekosistem disekitarnya, misalnya agroekosistem kelapa sawit. Hal ini terkait denagan potensi kebun sawit dalam menyediakan fungsi-fungsi ekologi yang ditawarkan.

Di satu sisi, kebun kelapa sawit bisa dikatakan sebagai ekosistem monokultur dengan dominasi pohon kelapa sawit sebagai penyusun utamanya. Namun demikian, bukan berarti bahwa kebun kelapa sawit ini tidak memiliki arti untuk satwa liar. Walaupun tidak sebaik hutan alami yang lebih heterogen, kebun sawit masih memberikan dukungan untuk satwa liar bertahan hidup. Beberapa spesies predator mendapatkan keuntungan dengan berlimpahnya pakan, serta tempat tinggal sementara. Beberapa spesies dari kelompok perimata dan burung juga memanfaatkan kebun sawit sebagai habitatnya karena masih tersedianya pakan seperti serangga, ikan yang hidup diparit-parit kebun sawit, dan tanaman herba.

Bagaimana Spesies dari berbagai suku dan keluarga memanfaatkan perkebunan untuk hal  barbagai hal. Hal ini menunjukan bukti adaptasi yang dikembangkan oleh spesies terhadap perkebunan kelapa sawit. Sanca kembang terhitung ular yang besar dan terpanjang di dunia, dan tidak berbisa. Ular ini bergantung pada ketersedian air, sehingga kerap ditemui tidak jauh dari badan air seperti sungai, kolam dan rawa. Makanan utamanya adalah mamalia kecil, burung dan reptilia lain seperti biawak. Ularyang kecil memangsa kodok, kadal dan ikan.

Di dalam perkebunan kelapa sawit, jenis ular ini banyak di temukan. Umumnya mereka hidup dengan memangsa tikus, bajing dan hewan kecil lainnya. Dengan sifat-sifat yang demilikinya ini, secara tidak langsung ular sanca ini membantu perkebunan untuk mengendalikan populasi tikus.

Musang tenggalung merupakan jenis satwa yang hidup soliter, omivora, terestrial, trotorial dan hidup terutama di hutan perimer dan sekunder, tetapi kadang-kadang ditemukan di perkebunan dan pedesaan yang berbatasan dengan hutan. Musang tenggalung termasuk jenis satwa yang belum dilindungi berdasarkan PP Nomor 77 tahun 1999, tetapi tercantum dalam CITES Appedix II dan termasuk dalam katagori beresiko rendah (LC) menurut IUNC.

Sumber: Konservasi Keanekaragaman Hayati Di Lansekap Perkebunan Kelapa Sawit, GAPKI 2015

 

Sumber: Sawitindonesia.com