Produksi Biodiesel Turun di Awal 2017

Pada Agustus atau September 2017, Pemerintah AS akan memutuskan benar tidaknya tudingan dumping biodiesel Indonesia

JAKARTA. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat dalam lima bulan tahun ini, kinerja industri biodiesel mengalami stagnasi bahkan turun. Selain karena tudingan dumping, penurunan juga tak terlepas dari terlambatnya pengumuman alokasi oleh PT Pertamina.

Menurut data GAPKI, produksi biodiesel periode Januari 2017-Mei 2017 mencapai 1,03 juta ton. Jumlah itu turun 1,9% dibandingkan periode sama 2016 yang 1,05 juta ton. Sementara produksi biodiesel pada Mei 2017 hanya mencapai 171.900 ton atau turun 26% dibandingkan bulan April yang mencapai 232.500 ton.

Menurut Direktur Ekselaitif GAPKI Fadhil Hasan, kondisi ini berimbas pada penyerapan biodiesel di dalam negeri pada bulan Mei yang hanya 141.750 ton, turun 38% dibandingkan bulan April 2017 yang sebesar 227.720 ton. “Kinerja produksi biodiesel mengalami stagnasi dibandingkan tahun lalu,” ujarnya, Senin (17/7).

Namun Fadhil optimis produksi biodiesel di semester kedua bisa terdongkrak. Pasalnya, di tengah isu tudingan Indonesia melakukan dumping biodiesel, justru permintaan minyak sawit dari Amerika Serikat (AS) naik signifikan pada bulan Mei 2017 lalu.

Kenaikan permintaan minyak sawit dari Negeri Paman Sam tersebut menunjukkan bahwa pasar AS tidak terlalu terpengaruh tudingan dumping biodiesel. Dengan begitu maka diharapkan juga permintaan biodiesel akan kembali naik di akhir tahun.

Data GAPKI menunjukkan, kenaikan permintaan minyak sawit dari AS mencapai 43% menjadi 119,950 ton dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 83,700 ton. “Hal ini mengejutkan di saat AS sedang dengan gencar menuduh Indonesia melakukan dumping biodiesel,” katanya

Pasar China

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga juga menilai Indonesia tidak perlu khawatir terhadap tudingan dumping AS. Sebab saat ini, pemerintah tengah menyasar China sebagai pasar produk biodiesel baru. Negara Tirai Bambu ini membutuhkan 180 juta kilo liter solar per tahun. Saat ini Indonesia tengah melobi China untuk ekspor bahan bakar nabati (BBN) biodiesel 5% atau B5. Bila ekspor B5 jadi terealisasi, diperkirakan kebutuhan biodiesel ke Negara Tembok Raksasa tersebut mencapai 9 juta ton per tahun.

Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Ap-robi) Paulus Tjakrawan mengatakan, saat ini kasus tudingan dumping biodiesel tengah dibahas. Kalau pemerintah AS masih memiliki pertanyaan atau data tambahan maka akan segera diajukan ke Pemerintah Indonesia maupun swasta. Kalau tidak, maka pada Agustus atau paling lambat September 2017, pemerintah AS akan memutuskan benar tidaknya tudingan dumping biodiesel Indonesia

Kalau pun nantinya, pemerintah AS memutuskan ada dumping, maka Indonesia masih ada peluang memperkarakan ini ke Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO). Itu pun kalau Indonesia masih tetap ingin masuk pasar AS. “Harus diakui pasar AS lumayan besar , sekitar 10 juta hingga 11 juta kiloliter biodiesel per tahun,” ujarnya

Paulus memperkirakan total produksi biodiesel Indonesia akan mencapai 2,5 juta ton kiloliter tahun ini. Jumlah itu turun dari tahun lalu yang mencapai 3 juta kiloliter. Penurunan disebabkan pada MeiJuni lalu, suplai biodiesel terhenti karena penunjukan baru dari PT Pertamina yang harus disinkronkan dengan perundang-undangan.

Paulus menambahkan, tahun lalu ekspor biodiesel Indonesia ke Negeri Paman Sam mencapai 400.000 kiloliter. Namun pada tahun ini, relatif turun karena persaingan harga. Sementara ekspor ke Eropa tahun ini nyaris tidak ada karena tudingan dumping. Saat ini Indonesia tengah mengajukan banding ke WTO terkait tudingan ini.

Noverius Laoli/Abdul Basith Bardan

Sumber: Harian Kontan