Produsen Biodiesel Minta Kepastian Pasar Domestik

Produsen bahan bakar nabati menanti rencana strategis pemerintah dalam pemanfaatan biodiesel dari minyak kelapa sawit mentah untuk memastikan pengembangan investasi energi ramah lingkungan tersebut.

Produsen biodiesel meminta ada kepastian pasar bahan bakar nabati dari sawit di dalam negeri yang diciptakan oleh pemerintah.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Bioefuel Indonesia (Aprobi) M.P. Tumanggor mengatakan bahwa perlu ada kesepakatan dalam pengembangan energi terbarukan, khususnya penggunaan bahan bakar nabati (biofuel) sebagai pengganti bahan bakar fosil.

Menurutnya, dalam 5 tahun ke depan, kapasitas produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) nasional dapat menyentuh 60 juta ton per tahun sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar nabati. Saat ini, produksi minyak kelapa sawit sebanyak 42 juta ton per tahun. Pasar domestik baru menyerap 14 juta ton, sedangkan sisanya untuk ekspor.

“Kami memang perlu ada kesepakatan untuk energi ke depan, misalnya tentang langkah pemerintah menghadirkan pembangkit listrik dengan bahan bakar CPO, dari situ impor Solar juga dapat terpangkas,” tuturnya, Rabu (14/11).

Kapasitas pabrik biodiesel di Tanah Air saat ini sebanyak 10 juta ton. Pemanfaatan CPO sebagai biodiesel pun mulai meningkat seiring dengan kebijakan perluasan mandatory biodiesel 20% ke dalam Solar mulai 1 September 2018. Perluasan itu mencakup seluruh sektor baik subsidi maupun nonsubsidi. Melalui perluasan B20 tersebut, penyerapan biodiesel di dalam negeri pada tahun ini dapat mencapai 5 juta ton.

Aprobi memproyeksikan penyerapan biodiesel dari CPO atau fatty acid methyl ether (FAME) sebanyak 6,2 juta kiloliter (kl). Tumanggor berharap dengan adanya peta jalan menuju B30 pada 2020, utilitas pabrik biodiesel akan meningkat. B30 artinya bahwa dalam 1 liter Biosolar mengandung 30% FAME dan 70% Solar. Pasalnya, dengan kalkulasi penggunaan FAME sebanyak 5 juta kl per tahun untuk B20, dan ditambah dengan potensi B30 sebanyak 9 juta kl.

Tumanggor menjelaskan, saat menyambangi fasilitas pembangkit listrik di lulia bersama dengan Menteri ESDM Ignasius Jonan, pemerintah tertarik untuk menghadirkan pembangkit listrik dengan bahan bakar CPO.

 

Sumber: Bisnis Indonesia