Produsen Biodiesel RI Bidik Ekspor B5 ke China

Pekerja memeriksa instalasi pabrik oleokimia milik PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) di Kuala Tanjung, Kabupaten Batubara, Sumut, Jumat (27/4). Pabrik oleokimia bisa menghasilkan bahan bakar biodiesel. KONTAN/Daniel Prabowo

JAKARTA. Ketua Umum Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia (Aprobi) Master Parulian Tumanggor mengatakan pihaknya tengah membidik ekspor biodiesel ke China. Pasalnya, potensi ekspor biodiesel ke negeri Tirai Bambu itu sangat besar.

Setiap tahun, China membutuhkan 180 juta kilo liter solar per tahun. Bila solar tersebut dicampur 5% biodiesel, maka ada kebutuhan 9 juta ton biodiesel per tahun yang harus dipenuhi.

Terkait pemenuhan kebutuhan biodiesel tersebut, Presiden China Xi Jinping bahkan telah melakukan pembicaraan dengan Presiden Joko Widodo untuk mengekspor bahan bakar nabati (BBN) biodiesel 5% (B5).

Saat ini total kapasitas terpasang industri biodiesel dalam negeri mencapai 11 juta ton. Sementara kebutuhan dalam negeri hanya sekitar 4 juta ton. Sehingga masih ada sisa 7 juta ton yang bisa diekspor ke China.

“Pada 16 Juni ini, nanti tim yang dipimpin Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan akan ke China membahas peluang ekspor B5 ini,” ujarnya, akhir pekan lalu.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menambahkan, selain China, Indonesia juga bisa meningkatkan ekspor biodiesel ke Rusia dan Pakistan. Kedua negara itu berpotensi besar bagi Indonesia, apalagi bila Jalur Sutra dari Tiongkok ke Eropa terealisasi.

“Bila hal ini terealisasi, maka kita tidak peduli lagi dengan AS dan Eropa,” tuturnya.

Seperti diketahui, bahwa Amerika dan Eropa kerap menyulitkan ekspor biodiesel dari Indonesia ke negara mereka.

Sumber: Kontan.co.id