Program B30 Mulai Diujicobakan

Ujicoba B30 akan dipersiapkan pada Desember mendatang. Pemerintah berupaya mendorong program ini dapat segera berlaku pada 2020.

Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menjelaskan bahwa pihaknya mendukung uji coba B30 untuk dijalankan pada Desember mendatang.“Uji coba implementasi dari program campuran biodiesel 30 persen ke minyak solar (B30) akan dilakukan minimal pertengahan November atau Desember 2019 mendatang. Ini butuh proses, biasanya tidak bisa langsung uji coba karena setelah kepmen harus melakukan beberapa proses lagi,” ungkap Paulus, di Jakarta dalam acara Indonesia Biodiesels Leader Forum.

Paulus mengatakan proses yang dimaksud, seperti kontrak Badan Usaha (BU) Bahan Bakar Nabati (BBN) dan BU Bahan Bakar Minyak (BBM). Kemudian, BU BBN dan BU BBM melakukan perjanjian pesanan pembelian (purchase order).

Dengan berbagai proses itu, Paulus agak pesimis uji coba implementasi B30 bisa dilakukan pada bulan ini. Masalahnya, kepmen ESDM untuk penambahan alokasi FAME juga belum keluar.”Diperkirakan mungkin Desember baru bisa, karena prosesnya kan tidak cepat juga,” jelas Paulus.

Berdasarkan perhitungannya, uji coba implementasi B30 ini membutuhkan alokasi FAME sebesar 250 ribu sampai 400 ribu kiloliter (kl). Paulus merinci, jika uji coba dimulai pertengahan November 2019 maka yang dibutuhkan 400 kl, sedangkan kebutuhan FAME hanya sebesar 250 kl kalau percobaan dimulai bulan depan. Nantinya uji coba ini bersifat masif, semuanya dari mobil, kapal, dan lain-lain.

Yohannes Nangoi, Ketua Umum Gaikindo, mengatakan Indonesia terdepan dalam pengembangan biodiesel karena negara lain paling banter hanya tujuh persen. Sedangkan Indonesia berani 20 persen (B20). “Tahun depan bahkan naik lagi menjadi B30. Ini patut dibanggakan,” ujarnya.

Disebutkannya pula, bahwa sejauh ini kendaraan yang menggunakan B20 tidak mengalami masalah berarti.”Untuk kendaraan berat seperti truk, tidak ada masalah. Namun berbeda untuk sejenis Kijang atau Fortuner. Bila kadar airnya tinggi, bisa menimbulkan korosi. Akan tetapi kami sudah mencoba biodiesel, bagus-bagus saja,” jelas Yohannes Nangoi.

Dari pencapaian hasil B20 yang naik kelas ke B30, ia menilai bahwa industri sawit nasional memiliki prospek cerah, karena komoditas itu terbukti mampu digunakan sebagai campuran biodiesel. Apalagi, tambahnya, potensi penjualan mobil nasional stabil di angka 1,1 juta per tahun dan cenderung mengalami peningkatan, sehingga kebutuhan biodiesel bakal terus bertumbuh.

Di tempat yang sama, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignatius Jonan dalam acara Indonesia Biodiesels Leader Forum yang diselenggarakan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) di mengingatkan pentingnya kampanye atau sosialisasi dan promosi besar-besaran terhadap biodiesel.

“Perlu kampanye besar-besaran. Yang penting juga, gandeng Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia). Saya yakin, biodisel akan terus membesar,” kata Jonan.

Menurut Jonan, Aprobi perlu melakukan kampanye yang baik secara konsisten kepada masyarakat sehingga tak ada penolakan bila harga biodiesel mengalami kenaikan atau penyesuaian.

 

Sumber: Sawitindonesia.com