Program Biofuel Diakui Dalam Pertemuan G20

Pemerintah Indonesia telah berhasil menyampaikan perkembangan dan capaian program biofuel di Pertemuan G20 di Osaka, Jepang, pada pertengahan Juni kemarin. Keberhasilan ini diceritakan MP Tumanggor, Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI) yang ikut dalam delegasi Indonesia.

Saya selaku Ketum APROBI mengapresiasi langkah serius pemerintah Indonesia terhadap industri sawit. Anggota G20 dapat menerima biofuel menjadi bagian energi terbarukan untuk dipakai negara mereka. Capaian ini tidak terlepas dari perjuangan Bapak Jonan (Menteri ESDM) dan Ibu Siti (Menteri LHK),” kata MP Tumanggor.

Tumanggor menjelaskan diterimanya penggunaan biofuel oleh negara anggota G20 berdampak positif bagi kemajuan industri dan usaha perkebunan sawit Indonesia. Pertama, peningkatan konsumsi biofuel, yang berdampak kepada pertumbuhan industri biofuel Indonesia. Kedua, industri biofuel Indonesia akan menyerap produksi Crude Palm Oil (CPO) yang terus meningkat. Pada tahun ini diperkirakan industri dalam negeri dapat memproduksi sekitar 42 juta ton.

Ketiga, harga CPO dapat terus dipertahankan agar tidak turun. Keempat, ekspor biofuel dapat ditingkatkan. “Dan, terakhir adalah komitmen COP 21 Paris dalam menurunkan emisi bisa dicapai. Termasuk penurunan emisi yang disepakati dalam komitmen G20 di Karijawa, Jepang 2019,” ungkapnya.

Tumanggor mengakui kepiawaian Menteri Jonan yang menyampaikan komitmen Indonesia terhadap kesepakatan Paris 21 untuk menurunkan emisi karbon melalui peningkatan energi baru terbarukan. Salah satu komitmen Indonesia yaitu pemakaian B30 yang direncanakan Januari 2020.

Pada pertengahan Juni kemarin, pemerintah Indonesia menyampaikan komitmen terkait transisi energi dan perlindungan lingkungan hidup dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 Tingkat Menteri di Osaka, Jepang.

Saat pertemuan tingkat menteri di G20 pada 15 Juni 2019, Indonesia diwakili oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan serta Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya. Kota Karuizawa menjadi tempat pertemuan membahas transisi energi yang selaras dengan perlindungan lingkungan.

Pertemuan tingkat menteri tersebut akan menyepakati komitmen energi G20 dalam dokumen lengkap ‘Ministerial Communique’ yang dibahas pada Energy Transitions Working Group (ETWG).

“Pada kesempatan kali ini, Indonesia berupaya melakukan berbagai upaya dan respon strategis,” kata Menteri Jonan dikutip dari keterangan tertulis.

Dalam pertemuan ini, Jepang mengangkat tema utama transisi energi yang selaras dengan perlindungan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi dalam ‘3E+S’ yang merupakan akronim dari Energy Security, Economic Efficiency, and Environment (3E) and Safety (S) atau keamanan energi, efisiensi ekonomi, dan lingkungan serta keamanan. Tema ini sekaligus mengintegrasikan isu perubahan iklim.

Di samping itu, Jepang juga memprioritaskan agenda inovasi dan permasalahan energi meliputi hidrogen, Carbon Capture Storage and Utilization (CCUS), well to wheel analysis, nuklir, dan Research and Development 20 (RD20).

Salah satu point penting adalah Sekretariat G20 Jepang pun mengakomodasi sejumlah isu dalam rancangan ketiga komunike (Third Draft Communique). Antara lain memasukkan biofuel sebagai salah satu inovasi energi dan bioenergi sebagai bagian dari energi terbarukan dan transisi energi di dunia, pada beragam penggunaan terutama pembangkit listrik dan transportasi.

Sumber: Sawitindonesia.com