PTPN III Prioritaskan Pasar Ekspor

Induk usaha perkebunan nusantara, PT Perkebunan Nusantara (PTPN III), menargetkan bisa mengekspor seluruh minyak kelapa sawit mentah yang diproduksi sepanjang tahun ini.

Induk usaha perkebunan nusantara, PT Perkebunan Nusantara (PTPN III), menargefkan bisa mengekspor seluruh minyak kelapa sawit mentah yang diproduksi sepanjang tahun ini.

Sebelumnya, CPO milik induk usaha perkebunan itu dijual melalui pedagang (trader), tidak melakukan pengapalan sendiri ke luar negeri.

Selain itu, PTPN Holding masih menunggu proyek pabrik bahan bakar nabati dan minyak goreng beroperasi. Oleh karena itu, perseroan masih menjual sebagian besar CPO ke luar negeri.

Direktur Utama PTPN Holding Dolly Pulungan mengatakan bahwa pada 2018 volume ekspor minyak sawit (crude palm oil/CPO) perusahaan yang dipimpinnya sudah melampaui target rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP), yaitu sebesar 300.000 ton.

“Tahun lalu kami berhasil melebihi target. Sekarang kami akan ekspor semuanya, sambil menunggu nanti program [biodiesel 20%] dengan PT Pertamina [Persero). Begitu Pertamina jalan, kami langsung suplai CPO [biodiesel] ke Pertamina. Sudah kontrak untuk [pasokan biodiesel] pada tahun ini,” katanya.

Dolly menjelaskan bahwa PTPN sudah memasok minyaksawitke Asia, seperti India dan Pakistan lalu ditambah Rusia untuk pasar Eropa. PTPN Holding, lanjutnya, telah bertransformasi menjadi trader utama bagi anak perusahaan.

“Saya memaksa untuk ekspor karena kami tidak mau lagi berkontrak dengan trader sehingga harganya terkena diskon. Sekarang kami langsung ekspor,” imbuhnya.

Sementara itu, kontrak biodiesel dengan Pertamina, PTPN Holding akan memasok 300.000 ton CPO pada tahun ini. Lalu ditingkatkan menjadi 1,3 juta ton pada 2020. Artinya, dengan asumsi produksi CPO minimal 2,8 juta ton, perseroan masih bisa mengekspor 1,5 juta ton.

Menurutnya, kerja sama dengan Pertamina tersebut merupakan sinergi antar-BUMN yang saling menguntungkan.

“Kalau bisa suplai ke Pertamina 100% sudah pasti pasarnya, saya tinggal produksi CPO, pasar dari Pertamina. Nanti kontrak jangka panjang, minta uang muka untuk modal kerja. Kami jadi tidak perlu ekspor [CPO] lagi,” katanya.

Dolly pun optimistis bisa memenuhi permintaan Pertamina bila diminta untuk memasok biodiesel lebih dari 1,5 juta ton. Pasalnya, utilisasi pabrik kelapa sawit perusahaan pelat merah itu baru mencapai 70% dengan rata-rata pengolahan 30-40 ton per jam.

Sementara itu, induk usaha perkebunan menargetkan mampu menyuplai 500.000 ton minyak goreng untuk pasar domestik.

\’Targetnya minyak goreng tidak besar. Ini masih 500.000 ton. Kalau Pertamina minta tambah, saya tinggal tambah plasma untuk kami ambil TBS [tandan buah segar] untuk dikelola di PKS [pabrik kelapa sawit] kami,” katanya.

Dolly menegaskan bahwa jika program bauran biodiesel sebesar 30% berjalan lancar, prospek kinerja induk usaha perkebunan itu akan makin bagus. Oleh karena itu, PTPN akan memprioritaskan sektor perkebunan kelapa sawit dibandingkan dengan komoditas lainnya.

PRODUKSI NAIK

Induk usaha perkebunan menargetkan bisa memproduksi CPO sebanyak 3,1 juta ton pada 2019 atau naik 34% dibandingkan dengan tahun sebelumnya 2,3 juta ton.

Dolly Pulungan mengatakan bahwa pada 2018, PTPN hanya bisa memproduksi CPO 2,3 juta ton. Dia menuturkan, peningkatan produksi sawit pada tahun ini karena ada penambahan produktivitas kebun sawit menjadi 5 ton per ha (CPO).

“[Optimistis meningkat] karena sudah intensifikasi dari 2018. Pada 2019 seharusnya sudah ada peningkatan baik rendemen, produktivitas, maupun perluasan lahan,” katanya dalam diskusi terbatas belum lama ini.

Dolly mengatakan bahwa produksi tandan buah segar kebun sawit PTPN saat ini 25 ton per ha. Sementara itu, luas kebun sawit sekitar 750.000 hektare dengan luas menghasilkan 70%-80%.

Selain itu, PTPN juga berencana menambah luas kebun sawit pada tahun ini. Dolly mengatakan bahwa tambahan luas lahan diambil dari lahan-lahan yang tidak dioptimalkan oleh anak perusahaan.

“Kami hidupkan [konversi] lagi sekitar 10%. [Lahan] PTPN yang tidak hidup, kami hidupkan lagi, kami biayai untuk menanamsawitlagi,” katanya.

Sebelumnya, Gabungan Pengusaha Kelapa sawit Indonesia (Gapki) memperkirakan bahwa pertumbuhan produksi minyak sawit pada tahun ini diperkirakan melambat, yaitu hanya tumbuh 4%.

Padahal, pertumbuhan produksi minyak sawit mentah pada 2018 mencapai 13%. Hal tersebut disebabkan oleh siklus tahunan tanaman.

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono memprediksikan bahwa pertumbuhan produksi minyak sawit pada tahun ini hanya sekitar 4% dibandingkan dengan tahun lalu. Artinya, produksi minyak
sawit pada tahun ini sekitar 49,5 juta ton.

“Siklusnya mungkin tidak akan sebesar 2018 sampai naik 13%. Pada tahun ini paling naik sebesar 4% atau 5%,” katanya.

Joko menambahkan bahwa proyeksi pertumbuhan produksi CPO pada 2019 sebesar 4% merupakan perhitungan yang wajar. Sementara itu, pemerintah mengaku masih mengkaji keputusan mengenai pungutan ekspor untuk minyak kelapa sawit mentah dan turunannya. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan, pemerintah belum memutuskan besaran pungutan ekspor kendati harga CPO telah menyentuh US$570/ton pada bulan ini. “Belum ada keputusan, masih dibahas. Tunggu saja nanti,” ujarnya. Sebelumnya, Kementerian Perdagangan menetapkan, harga
referensi CPO untuk Februari 2019 sebesar US$565,40 per ton. Dengan demikian, ekspor tersebut masih dibebaskan dari pungutan.

Sementara itu, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 152/2018 tentang Tarif Layanan BPDP Sawit, ekspor CPO akan dikenalkan pungutan apabila harganya mencapai US$5 70/ton-US$619/ ton. Besaran pungutan ekspor pada level tersebut beragam yakni mulai dari US$10/ ton-US$25/ton.

Ketua Umum Dewan Minyak sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun mengaku mengapresiasi langkah pemerintah meninjau kembali keputusan pengenaan pungutan ekspor CPO. Pasalnya, pengenaan kembali pungutan ekspor akan melukai minat para petani sawit.

“Perhitungan kami, kalau pungutan ekspor dikenakan US$25/ton maka harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani akan jatuh setidaknya Rp65 per kilogram. Tentu ini melukai petard yang baru saja menikmati kenaikan harga TBS-nya secara bertahap sejak Desember,” katanya. 

Sumber: Bisnis Indonesia