,

Pungutan Dihapuskan, Waspadai Dampaknya Kepada Industri Hilir

Kebijakan meniadakan tarif pungutan ekspor sawit berpotensi menekan daya saing produk hilir. Selama ini, pungutan menjadi penopang pertumbuhan ekspor sawit untuk produk turunan dibandingkan mentah (CPO).

“Kebijakan meng-nolkan levy (pajak) semua produk sawit kecuali FAME mengecewakan pengusaha hilir (sawit). Karena ada perubahan paradigma dari penghiliran menjadi huluisasi kembali,” ujar Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Senin malam (26 November 2018).

Dijelaskan Sahat bahwa program hilirisasi dicanangkan semenjak akhir tahun 2011 melalui aturan PMK no 128/PMK 0.11/2011 tentang Penetapan Barang Ekspor Yang Dikenakan Bea Keluar Dan Tarif Bea. Beleid ini mengatur pajak ekspor untuk produk hulu dikenai biaya tinggi dan pajal produk hilir lebih rendah.

Penetapan bea keluar tadi, dikatakan Sahat, terdapat selisih sekira 7,5% -8 % lebih rendah dibanding dengan produk hulu seperti CPO dan CPKO. “Akibat insentif ini, investasi industri hilir seperti refineri/fraksionasi, oleochemicals, dan biodiesel tumbuh pesat sepanjang periode 2012 sampai 2015,”ujar Sahat.

Keputusan pemerintah menyesuaikan tarif pungutan seharusnya diterapkan lebih bijak, tidak berlaku semua produk sawit. Sahat menjelaskan bahwa asosiasinya telah mengusulkan revisi tarif pungutam kepada pemerintah supaya ekspor hilir tumbuh.

Revisi ditujukan kepada tarif pungutan produk hilir sawit RBD Olein (bulk) diturunkan dari US$ 30/ton menjadi US$ 20/ton. Selanjutnya, tarif pungutan untuk minyak goreng kemasan <25 kg juga diturunkan dari US$ 20/ton menjadi US$ 2/ton.

“Dengan adanya penyesuaian tarif, Indonesia bisa mengembangkan pasar ekspor ke Afrika Timur,” ujarnya.

Sahat berpendapat bahwa penghapusan pungutan malahan tidak akan membantu harga TBS petani dan CPO. Harga sulit membaik karena sekarang pasokan melimpah sementara permintaan berkurang.

Dampak lainnya adalah industri hilir sekaligus eksportir akan melesu terutama insentif produksi tidak ada lagi dan pasar ekspor hilir berpotensi stagnan.

 

Sumber: Sawitindonesia.com