Replanting Kelapa Sawit Bisa Genjot Produksi 2 Kali Lipat

 

SERDANG BEDAGAI – Pemerintah menargetkan peremajaan kelapa sawit rakyat bisa meningkatkan produksi CPO hingga 60 juta ton setiap tahun.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan bahwa mayoritas perkebunan sawit rakyat atau plasa di Indonesia mengalami penurunan produktifitas lantaran telah berusia di atas 30 tahun sehingga peremajaan sawit mutlak diperlukan.

Namun, paparnya, yang menjadi persoalan peremajaan kelapa sawit untuk perkebunan rakyat ada ketersediaan bibit yang baik sehingga produksi kelapa sawit pascaperemajaan mampu menggenjot produksi CPO.

“Kalau bibit bermasalah semua hasilnya bermasalah. Misalkan ada yang mengambil bibit di bawah pohon langsung ditanam,” ujarnya di sela kegiatan peremajaan kelapa sawit rakyat, Senin (27/11/2017).

Amran melanjutkan, berdasarkan data Kementerian Pertanian, saat ini rata-rata produksi sawit pada perkebunan plasma mencapai 2-3 juta ton per haktare, sementara produksi sawit rata-rata secara nasional mencapai 4,1 juta ton dan ada perkebunan berbasis korporasi yang mampu menghasilkan 9,1 juta ton perhaktare.

Karena itu, lanjut Amran, jika seluruh perkebunan plasma melakukan peremajaan kembali tanaman kelapa sawit, maka produksi CPO nasional bisa terkerek naik dari rata-rata 32 juta ton pertahun menjadi 50-60 juta ton setiap tahun.

“Ini luar biasa jadi kita fokus pada intensifikasi Tahun ini melalui APBN tersedia dana Rp2,4 triliun untuk membagi bibit tanaman produktif secara gratis. Tahun depan akan dinaikkan menjadi Rp2,7 triliun,” tuturnya.

Berdasarkan data pemerintah, luas perkebunan kelapa sawit secara nasional mencapai 11,9 juta hektare. Setidaknya 4,6 juta hektare atau 41% dari 11,9 juta lahan tersebut merupakan perkebunan kelapa sawit rakyat dan dikelola oleh 2,5 juta keluarga.

Berbagai persoalan yang melingkupi perkebunan plasa sejauh ini meliputi produktifitas yang menurun akibat pohon kelapa sawit telah berusia lebih dari 25 tahun, bibit yang tidak berkualitas, serta pengelolaan kebun yang tidak memenuhi standar.

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pemerintah memprogramkan peremajaan kelapa sawit rakyat sebesar 2,4 juta hektare yang dananya berasal dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit sebesar Rp25 juta perhaktare.

Dana tersebut, lanjutnya, digunakan untuk persiapan peremajaan seperti pembelian benih berkualitas, menebang pohon yang sudah tua dan membersihkan lahan serta penanaman. Selain itu, pemerintah juga akan menggelontorkan dana kredit usaha rakyat (KUR) khusus peremajaan kelapa sawit untuk membantu petani memenuhi biaya hidup selama tanaman diremajakan dan belum produktif atau hingga berusia lima tahun.

“Dana KUR ini sifatnya bulanan sebesar Rp1 juta atau Rp1,5 juta untuk biaya hidup. Petani yang mendapatkan KUR luas kebunnya maksimal 4 haktare. Setelah tanaman berproduksi diharapkan para petani mampu melunasi pinjaman KUR,” kata Darmin.

Darmin menyebut perusahaan pengolahan sawit juga diajak bekerja sama selain akan bertugas membeli sawit produksi rakyat. Perusahaan tersebut juga nantinya akan bertindak sebagai penjamin dari pinjaman KUR yang disalurkan kepada petani sawit.

 

Sumber: Bisnis.com