Sawit Tak Bisa Ditinggalkan, Tapi Dukung Praktik Berkelanjutan

 

Kendati kuliah mengambil jurusan Peternakan di Institut Pertanian Bogor (IPB) Semester VII, bukan halangan bagi Cheptia Amany (21) untuk mencari informasi dan bergabung dengan komunitas Youth in Sustainability.

Justru dengan bergabung dengan komunitas tersebut, Chepti banyak memperoleh banyak informasi dan bisa ikut berpartisipasi dalam mendorong penggunaan produk ramah lingkungan. “Saya semenjak 2017 sudah ikut komunitas Youth in Sustainability sampai tahun 2018,” cerita Chepti kepada InfoSAWIT, di Bangkok belum lama ini.

Lantaran berasal dari Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, justru membuat Chepti lebih cepat memahami terkait produksi kelapa sawit berkelanjutan, apalagi kata dia, kelapa sawit memiliki kontribusi tidak sedikit terhadap perekonomian negara.

Hanya saja, terkadang industri ini kerap viral menjadi pemberitaan di Indonesia, yang membahas terkait masalah dan dampaknya dari proses pengembangan. “Saya peroleh informasi itu dari Instagram, dan pemberitaan,” katanya.

Chepti mengaku, kehidupan manusia tidak akan terlepas dari kelapa sawit, misalnya penggunaan lipstick, coklat, sabun dan produk pemeliharaan pribadi (personel care), jika mau dihilangkan justru malah akan menimbulkan masalah.

“Sebab itu sudah saatnya mendorong konsumen untuk peduli terhadap produk ekolabel, sehingga perusahaan akan menyediakan di pasar. Tugas kita juga adalah mengajak produsen menghasilkan produk ekolabel,” katanya.

 

Sumber: Infosawit.com