SELAIN MIGAS, EKONOMI RIAU TERDONGKRAK EKSPOR MINYAK SAWIT

 

PEKANBARU – Kepala Bank Indonesia (BI) wilayah Riau, Siti Astiyah mengatakan, memasuki triwulan IV 2017 indikasi perbaikan perekonomian masih cukup kuat. Kinerja perekonomian Riau pada triwulan ini diperkirakan masih ditopang permintaan domestik yang kuat.

tercatat perekonomian Riau pada triwulan IV diperkirakan meningkat 2,40 hingga 3,40  persen (yoy). Angka itu lebih tinggi dibandingkan capaian triwulan III. Peningkatan tersebut didorong oleh konsumsi rumah tangga, pemerintah, dan net ekspor. “Dari sisi sektoral, sumber pertumbuhan ekonomi didorong oleh kinerja sektor pertanian dan perdagangan,” tutur Siti.

Meningkatnya ekonomi ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi di regional Sumatera dan Nasional. Faktor domestik yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi ini dengan meningkatnya konsumsi pemerintah. Sementara, faktor eksternal terjadi karena meningkatnya net ekspor sejalan dengan meningkatnya ekspor secara kuartalan pada barang mentah, minyak dan lemak nabati yang umumnya berupa minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Pertumbuhan ekonomi Riau tanpa minyak dan gas juga tercatat hanya sebesar 4,61% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 4,37%. Meski begitu, BI masih meyakini ada beberapa faktor risiko yang membayangi perkembangan ekonomi Riau ke depan yang harus diantisipasi lebih lanjut, khususnya oleh pemerintah daerah. “Kondisi ini terindikasi dari perbaikan ekonomi dunia dan harga komoditas yang relatif terbatas. Sehingga rentan terhadap kinerja ekspor,” ucapnya seperti dikutip Riaupos.co.

Dia merincikan penopang ekonomi daerah itu sebagian besar masih dari konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi, sektor pertanian, perdagangan, pengolahan, hingga jasa konstruksi. Pemicu dari sisi eksternal yaitu membaiknya situasi perekonomian global. Salah satunya perbaikan di negara tujuan ekspor utama yakni Cina dan Eropa.

Indikator lainnya yakni pertumbuhan positif di angka indeks keyakinan konsumen, indeks keyakinan ekonomi, hingga indeks ekspektasi konsumen yang menunjukkan peningkatan dibandingkan periode lalu.

Meski demikian, ada juga risiko penghambat tumbuhnya ekonomi Riau tahun depan. Salah satu yang paling utama yaitu penurunan produksi migas karena sumur minyak sudah berusia tua. Lalu adanya prediksi terjadinya badai La Nina yang bakal menurunkan produksi sektor pertanian dan perkebunan setempat.

Selain itu, pakar ekonomi Universitas Riau Dahlan Tampubolon mengatakan, memang kondisi ekonomi daerah itu tahun depan bakal terimbas dari perbaikan ekonomi global. “Harga komoditas unggulan seperti minyak mentah dan minyak sawit mentah di pasar global diprediksi akan membaik. Imbasnya ke ekonomi Riau menjadi lebih positif,” tandas dia. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com