,

Sibolga Akan Jadi Pintu Baru Ekspor CPO

Presiden Joko Widodo berencana menambah fasilitas di Pelabuhan Sambas, Sibolga, Sumatera Utara, dengan membangun terminal khusus dan penyimpanan. Dia berharap pelabuhan yang baru ditata ulang tersebut menjadi pintu ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) di pantai barat Sumatera.

Jokowi meyakini penambahan fasilitas itu bisa meningkatkan perekonomian Sibolga dan sekitarnya. “Nanti ekspor CPO dari Aceh bagian selatan dan Tapanuli Selatan bisa ditarik ke Sibolga, akan lebih dekat daripada harus lewat darat yang menempuh perjalanan selama 10-12 jam,” kata Jokowi, kemarin.

Penambahan pelabuhan ekspor CPO di pantai barat Sumatera pernah diusulkan Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI). Selain itu, di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Selama ini, dalam catatan GIMNI, eksportir CPO di wilayah tersebut mengandalkan pengiriman via Pelabuhan Belawan, Medan.

Pemerintah memang tengah berupaya menggenjot ekspor CPO yang tahun lalu pertumbuhannya melambat dengan capaian 34,71 juta ton, atau hanya naik 8 persen dibanding 2017. Ekspor komoditas ini dijadikan unggulan pemerintah yang tengah berupaya meningkatkan devisa. Sebelumnya, pemerintah juga telah memberikan insentif bagi industri ini dengan menghapuskan kewajiban adanya Laporan Surveyor produk minyak sawit mentah dan turunannya.

Pemerintah sedang menghitung pembangunan terminal khusus itu. Rencananya, PT Pelindo I akan melakukan reklamasi untuk membangun terminal penyimpanan tambahan. Jokowi menargetkan pembangunan bisa terealisasi maksimal

Berhadapan dengan Pembeli Utama

PELABUHAN

Sambas, Sibolga, Sumatera Utara, dianggap potensial sebagai pintu ekspor CPO. Pelabuhan terbesar di pantai barat Sumatera ini berhadapan langsung dengan India, pembeli terbanyak CPO Indonesia. Berikut ini data importir utama CPO Indonesia dan rincian ekspor tahun lalu: dalam dua tahun.

Jokowi mengatakan penataan dan pengembangan Pelabuhan Sambas diperlukan untuk menghidupkan kembalipelabuhan-pelabuh-an di pantai barat. Dahulu, kawasan tersebut sangat strategis untuk transportasi logistik barang dan jasa.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyebut Pelabuhan Sibolga kini merupakan pelabuhan terbaik dan terbesar di bagian barat Pulau Sumatera. Pelabuhan tersebut memiliki kedalaman draft sembilan meter sehingga kapal besar mampu bersandar. Luas area penumpukan di pelabuhan itu mencapai 6.061 meter persegi sehingga dapat menampung peti kemas hingga 20 ribu TEUs per tahun. Sebelumnya, kapasitas lapangan yang tersedia hanya mampu menampung 7.000 TEUs per tahun.

Menurut Budi, Pelabuhan Sibolga juga unik karena dapat mengakomodasi kegiatan bongkar-muat dan pelayanan penumpang secara berdekatan. “Ini menyelesaikan masalah penumpang, menghindari crossing, tapi tetap bisa mengakomodasi kegiatan bongkar-muat,” ujarnya, kemarin.

Sumber: Koran Tempo