Soal Kampanye Hitam, UE Sebut RI Pengekspor Sawit Terbesar

 

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Guerend, mengatakan Indonesia merupakan pengekspor minyak sawit terbesar ke Eropa, tepatnya nomor dua setelah India. Pernyataan itu disampaikan Guerend menanggapi pertanyaan soal kampanye hitam terhadap minyak sawit yang dituduhkan Indonesia kepada Uni Eropa.

Guerend mengungkapkan ekspor minyak sawit Indonesia ke negara Eropa meningkat 38 persen selama Januari-Agustus 2017. Peningkatan nilai ekspor ini, menurutnya, cukup mengejutkan karena terjadi di tengah isu kampanye hitam yang menyerang negara produsen sawit, termasuk Indonesia, sejak pertengahan tahun 2017.

“Nilai ekspor meningkat lebih dari 2 miliar Euro selama periode tersebut. Ini menunjukan bahwa pasar Uni Eropa sangat terbuka bagi produk minyak sawit Indonesia,” kata Guerend dalam media briefing di kediamannya di Jakarta, Rabu (13/11).

 

Pernyataan itu diungkapkan Guerend menanggapi protes pemerintah Indonesia yang menganggap Uni Eropa tengah menggaungkan kampanye hitam mengenai komoditas minyak sawit melalui resolusi yang dikeluarkan parlemen Eropa pada April 2017 lalu.

Resolusi bertajuk Report on Palm Oil and Deforestation of Rainforest itu menyebut sawit sebagai komoditas yang sangat berkaitan dengan deforestasi, korupsi, eksploitasi, dan penghilangan hak masyarakat adat.

Dalam resolusi itu, Eropa juga menggambarkan bahwa perusahaan produsen minyak sawit tidak ramah lingkungan. Pengembangan industri sawit Indonesia termasuk juga yang disebut tidak memperhatikan lingkungan sehingga merusak hutan.

Laporan itu pun dianggap memberikan sentimen negatif kepada negara-negara penghasil sawit terbesar, seperti Indonesia, dan sejumlah negara lainnya.

Dalam KTT ASEAN-UE beberapa waktu lalu, Jokowi juga mendesak Uni Eropa menghapus serangkaian kebijakan dan sikap lainnya yang juga dianggap dapat merugikan dan merusak citra produsen minyak kelapa sawit.

Sebab, menurut Jokowi, komoditas sawit sangat berpengaruh pada kelangsungan hidup petani Indonesia, di mana 42 persen lahan perkebunan sawit dimiliki petani kecil.

Namun, Guerend menampik hal itu. Ia mengatakan sampai saat ini minyak sawit masih menjadi komoditas perdagangan utama antara Eropa dan Indonesia.

Eropa, paparnya, masih menempati peringkat kedua sebagai importir terbesar minyak sawit Indonesia.

“Kami masih menjadi salah satu importir terbesar sawit Indonesia. Tarif ekspor sawit ke Eropa pun sangat rendah sebesar 0-4 persen saja,” kata Guerend.

 

Sumber: Cnnindonesia.com