Tekan Defisit, Produk Industri Jadi Prioritas Ekspor

Pemerintah akan memprioritaskan ekspor produk industri, seperti otomotif dan garmen, ketimbang komoditas untuk menekan defisit perdagangan tahun ini. Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan strategi ini ditempuh setelah harga komoditas, seperti batu bara dan minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) anjlok. “Seperti di Tanjung Priok, ekspor otomotif. Kami tidak memilih kelapa sawit,” kata dia di kantornya, kemarin. Menurut Darmin, merosotnya nilai ekspor pada awal tahun ini terjadi karena pertumbuhan ekonomi dan perdagangan di negara tuj uan utama kian lesu. Dia mencontohkan Cina yang menjadi tujuan ekspor komoditas nasional. “Ekspor ke Cina turun banyak, padahal dia nomor satu,” ujarnya. Selama ini, 13,52 persen produk ekspor Indonesia dikirim ke Cina. Negara tujuan utama lainnya ialah Amerika Serikat (11,97 persen) dan Jepang (9,47 persen).

Darmin mengatakan komoditas unggulan ekspor Indonesia ke Cina masih berkutat pada minyak nabati dan bahan bakar mineral, seperti batu bara. Namun, kata dia, harga dan permintaan terhadap kedua komoditas ini tengah anjlok sehingga nilai ekspor tertekan. “Produk yang kita ekspor ke Cina tidak mudah dialihkan ke negara lain karena itu hasil pertambangan dan perkebunan,” ucapnya.

Kemarin, Badan Pusat Statistik melansir data yang menyebutkan defisit perdagangan pada Januari mencapai US$ 1,16 miliar, melebar dari Desember 2018 yang mencapai US$ 1,03 miliar. Jika dibanding Januari 2018, defisit melonjak 53 persen dari US$ 756 juta. Nilai ekspor pada Januari lalu turun 4,6 persen (secara tahunan) menjadi US$ 13,87 miliar. Sed angkan impor mene apai US$ 15,03 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto menyatakan defisit Januari lalu sebagai yang tertinggi dalam empat tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo. Menurut dia, defisit disebabkan anjloknya harga komoditas karena perekonomian global yang tengah lesu. Selain harga CPO yang menurun, Suhariyanto mengatakan ekspor terhambat oleh kampanye negatif di Eropa dan bea masuk tinggi di India. Ekspor batu bara juga lesu karena pelemahan ekonomi Cina.

Suhariyanto menambahkan, industri pengolahan menjadi kunci untuk memperbaiki neraca perdagangan. “Karena itu, pemerintah membuat berbagai kebijakan karena menyadari ekspor kita terlalu berbasis komoditas,” tuturnya di kantornya. Dengan mengolah bahan mentah, Suhariyanto yakin akan ada nilai tambah yang mampu memperbesar perolehan ekspor. Kinerja perdagangan nasional pun tidak terlalu terpengaruh gejolak harga komoditas.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics, Mohammad Faisal, mengatakan defisit neraca perdagangan bisa terjadi hingga akhir tahun. “Ini harus dipantau dengan hati-hati karena impor juga belum bisa dikontrol dengan baik,” kata dia di Hong Kong Cafe, Jakarta, kemarin. Jika tak mengontrol impor, terutama bahan bakar minyak, Faisal khawatir defisit perdagangan kian melambung hingga di atas tahun lalu.

Meskibegitu,Faisalmeng-ingatkan agar pemerintah tidak sembarang menekan impor demi mencapai surplus perdagangan. Dia mengatakan pasokan barang modal dan bahan baku untuk pembangunan infrastruktur tak perlu dikurangi karena dampaknya sangat besar pada pertumbuhan ekonomi. “Serta menyokong kinerja industri manufaktur dan kepentingan publik,” ujarnya.

Dalam rapat bersama menteri ekonomi di kantornya, Selasa lalu, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan defisit neraca perdagangan hanya dapat ditekan jika investasi di sektor yang mampu mendorong ekspor digenjot. “Itu harus menjadi program utama kita,” ucapnya. Kalla menuturkan langkah konkret yang akan diambil adalah menawarkan kembali insentif keuangan, seperti tax holiday hingga menurunkan bunga acuan. Selain itu, ia menambahkan,”Pelabuhan harus dibenahi dan sistem logistik diperbaiki.”

Sumber: Koran Tempo