Wamendag: Ekspor Sawit Masih Prospektif

 

JAKARTA – Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga mengajak seluruh pemangku kepentingan industri minyak kelapa sawit {crude palm oil/CPO) bersama-sama menjaga keberlangsungan kinerja ekspor komoditas ini yang menghadapi tantangan dan hambatan perdagangan, terutama di masa pandemi Covid-19. Wamendag menilai, ekspor sawit masih prospektif.

Menurut Jerry, keberlangsungan pasar ekspor industri minyak kelapa sawit penting dijaga agar tetap menjadi sumber penghidupan yang layak, khususnya bagi jutaan petani sawit di tanah air. Hal tersebut diungkapkan Wamendag Jerry saat menjadi pembicara kunci pada webinar Ngeriung Bareng Sawit dengan tema Menjaga Pasar Ekspor Sawit di Kala Pandemi, Senin (15/6).

“Kendati kondisi perdagangan internasional masih sangat terdampak pandemi Covid-19 dan ekspor komoditas sawit mengalami beberapa hambatan, kita harus tetap optimistis terhadap prospek ekspor sawit Indonesia ke depan. Pasalnya, sampai saat ini, minyak sawit masih merupakan pilihan paling ekonomis sumber minyak nabati dunia, sehingga minyak sawit menjadi pilihan utama substitusi minyak nabati lainnya,” ujar Jerry.

Di sisi lain, Jerry meluruskan pemberitaan yang dimuat Investor Daily, Selasa (16/6), berjudul AS Hambat Ekspor Biodiesel, Indonesia Rugi US$ 255 Juta. Dia menuturkan, kondisi ekspor biodiesel Indonesia masih baik. “Dalam diskusi itu, saya hanya menyayangkan diskriminasi sawit Indonesia oleh Uni Eropa. Kami sudah protes hal ini saat melakukan forum konsultasi di WTO,” kata Jerry, kemarin.

Jerry melanjutkan, hambatan bagi kinerja ekspor sawit saat ini datang dari situasi pandemi Covid-19 dan dari pasar ekspor beberapa negara di dunia. Dampak pandemi bagi ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya ditandai dengan penurunan ekspor bulanan sejak awal 2020 setelah sebelumnya mengalami kenaikan ekspor secara nilai dan volume pada akhir 2019.

“Pada Januari-April 2020, kontribusi ekspor CPO dan produk turunannya mencapai 12,4% dari total ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai US$ 6,3 miliar. Kinerja ekspor di beberapa pasar utama sawit juga cukup bervariasi. Meskipun demikian, kita perlu mewaspadai adanya tren penurunan pangsa ekspor sawit dalam ekspor nonmigas kita dalam tiga tahun belakangan ini,” lanjut Wamendag.

Kinerja ekspor sawit Indonesia di pasar India masih menunjukkan peningkatan baik secara nilai maupun volume. Volume ekspor sawit ke India meningkat 11,2% menjadi 1,64 juta ton dan nilainya tumbuh 55,3% menjadi US$ 1,09 miliar per April 2020. Ekspor CPO ke Pakistan meningkat cukup besar, 22,3% menjadi USD 452,7 juta, meskipun secara volume turun 3% menjadi 691,5 ribu ton.

Sebaliknya, pasar utama lain seperti Tiongkok dan Belanda mengalami penurunan. Ekspor sawit ke Tiongkok secara volume turun 54,3% menjadi 879 ribu ton dan secara nilai turun 48,5% menjadi USD 497,4 juta. Begitu pula ekspor sawit ke Belanda volumenya turun 27,9% menjadi 895,4 ribu ton dan nilainya turun 9,3% menjadi US$ 348,3 juta.

Guna menyikapi tantangan pelemahan kinerja ekspor, Wamendag Jerry memaparkan, Pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan B-30. Program Mandatori B-30 adalah program pemerintah yang mewajibkan pencampuran 30% biodiesel dengan 70% bahan bakar minyak jenis solar. Program ini dilakukan sebagai langkah strategis memenuhi sumber Energi Terbarukan Indonesia. Selain itu, program B-30 diharapkan dapat meningkatkan permintaan produk turunan sawit (FAME) di dalam negeri secara efektif. Upaya meningkatkan konsumsi domestik ini diharapkan dapat mengimbangi penurunan permintaan sawit di tingkat global sehingga turut menjaga stabilitas harga sawit dunia.

 

 

Sumber: Investor Daily Indonesia