2021, Indonesia Sudah Bisa Terapkan B50

JAKARTA- Indonesia sudah bisa menerapkan program mandatori biodiesel B50 pada 2021, setelah sukses menerapkan B30 secara penuh pada tahun ini. Dari sisi hulu, produksi minyak sawit Indonesia sangat mencukupi untuk memenuhi bahan baku bagi program B50 tersebut, pun dari sisi hilir dan teknis implementasi di lapangan. Program biodiesel harus konsisten dijalankan Indonesia karena bisa menghemat devisa, menciptakan nilai tambah bagi perekonomian, dan membantu mengangkat harga tandan buah segar (TBS) sehingga menyejahterakan para petani sawit.

Direktur Eksekutif palm oil Agribusiness Strategic Policy Institute (Paspi) Tungkot Sipayung menjelaskan, melalui program biodiesel, penurunan nilai impor sebesar 1 juta kiloliter akan menghemat devisa US$ 1 miliar, artinya apabila pada 2021 melalui B50 Indonesia bisa menurunkan impor 16 juta kl solar maka diperoleh penghematan devisa hingga US$ 16 miliar, itu dengan asumsi situasi normal. Namun manfaat program biodiesel bukan sekadar penghematan devisa, tapi juga dampak ganda (multiplier effect) atau nilai tambah terhadap perekonomian, setiap penambahan konsumsi biodiesel senilai Rp 1 akan memberi nilai tambah empat kali lipat terhadap perekonomian, misalnya konsumsi biodiesel Rp 10 triliun maka dampak ekonominya Rp 40 triliun yang menyebar di sentra-sentra sawit. “Karena itu, program biodiesel harus didorong agar on the right track, bukan soal hemat devisa saja tapi benefit ekonominya,” kata dia kepada Investor Daily.

Presiden Jokowi pernah menargetkan untuk mempercepat implementasi program B50 pada 2021, kata Tungkot, hal tersebut sangat memungkinkan dan patut didukung. Komitmen pemerintah dalam hal ini Presiden Jokowi dalam membangun industri sawit nasional sebenarnya sudah sangat kuat dan bersifat jangka panjang, bahkan Jokowi sudah berpikir sampai pada greenpremium hingga bioplastik. “Tinggal bagaimana hal itu diimplementasikan oleh kementerian di bawahnya dan ditangkap oleh pelaku usaha sebagai peluang yang menjanjikan. Contohnya, saat pandemi Covid-19 ini permintaan biosur-faktan sangat besar, namun sayangnya Indonesia belum mampu memenuhi sepenuhnya. Ini jadi pelajaran agar industri hilir lebih dikembangkan,” jelas Tungkot.

Tungkot menuturkan, penerapan program B50 dapat ditempuh melalui dua jalur, yakni jalur B50 sepenuhnya yang mana 50% biodiesel dicampur dengan 50% solar fosil atau jalur B50 greendiesel yang mana solar B30 yang ada saat ini dicampur D20 (greendiesel), jalur kedua dinilai para pakar dan peneliti lebih aman dari sisi teknis implementasi di lapangan. Hanya saja, untuk memproduksi B50 jalur kedua membutuhkan adanya katalis yang saat ini masih tahap produksi di pabrik milik Pupuk Kujang di Cikampek (Katalis Merah Putih). “Katalis ini targetnya sudah bisa diproduksi akhir tahun ini sehingga harapannya B50 jalur kedua bisa diimplementasikan tahun depan. Jalur yang kedua ini juga akan memberi keuntungan banyak bagi petani, karena sawit petani yang umumnya kandungan asam lemak bebas (ALB) di atas 3% bisa dijadikan bahan baku B50, ALB sawit petani berlebihan karena tidak langsung diolah,” ujar dia.

Dari sisi hulu, kata Tungkot, pasokan minyak sawit domestik sangat mencukupi, bahkan apabila Indonesia menerapkan B100 sekalipun. Apabila pada 2021 konsumsi solar nasional mencapai 35 juta kl artinya dibutuhkan sekitar 16 juta kl biodiesel atau setara dengan 15 juta ton minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

 

Sumber: Investor Daily Indoensia