briket arang
Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia menghadapi tantangan besar dalam mengelola limbah yang dihasilkan industri ini. Dengan produksi CPO dan PKO mencapai 52,76 juta ton pada 2024, industri kelapa sawit menghasilkan limbah dalam jumlah sangat besar. Inovasi pengolahan limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) menjadi briket bertenaga tinggi menjadi terobosan penting dalam menerapkan konsep zero waste dan menyediakan energi alternatif ramah lingkungan.

Potensi Besar Limbah Kelapa Sawit Indonesia

Industri kelapa sawit Indonesia menghasilkan limbah yang mencapai 70-75% dari total tandan buah segar (TBS) yang diolah. Dari setiap hektar perkebunan kelapa sawit, dihasilkan 25 ton TBS setiap tahunnya, namun hanya 25% yang menjadi minyak dan inti sawit. Artinya, 19 ton dari TBS akan menjadi limbah yang harus dikelola dengan baik.

Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan limbah terbesar yang dihasilkan, mencapai 22-23% dari total TBS yang diolah. PT Kurnia Luwuk Sejati misalnya, dalam periode November-Desember 2022 menghasilkan limbah TKKS sebanyak 5,223,403 kg dari 23,742,740 kg TBS yang diolah. Jumlah yang sangat besar ini menunjukkan potensi luar biasa untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.

Keunggulan Briket Tandan Kosong Kelapa Sawit

Kandungan Energi Lebih Tinggi dari Batu Bara

Briket yang dihasilkan dari tandan kosong kelapa sawit memiliki nilai kalori yang lebih tinggi dibandingkan batu bara. Satu kilogram briket dari tankos kelapa sawit menghasilkan 4.300 kalori, sementara batu bara hanya sekitar 3.950 kalori per kilogram. Penelitian lain menunjukkan nilai kalor briket TKKS dapat mencapai 3.988-6.776 kalori per gram, bahkan ada yang mencapai 18,3 Joule/gram.

Karakteristik Pembakaran Superior

Briket arang dari TKKS memiliki beberapa keunggulan dalam pembakaran:

  • Panas nyala briket relatif tinggi

  • Nyala briket lebih bersih (tidak berjelaga)

  • Lebih hemat dalam penggunaan

  • Bebas bahan kimia berbahaya

  • Tidak menimbulkan bau saat dibakar

Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan

Pemanfaatan TKKS sebagai briket memberikan manfaat ganda bagi lingkungan:

  • Mengurangi pencemaran lingkungan dari penumpukan limbah sawit

  • Menurunkan ketergantungan pada bahan bakar fosil yang tidak terbarukan

  • Mengurangi emisi gas rumah kaca karena memanfaatkan biomassa

  • Mendukung program Net Zero Emission 2060 Indonesia

Proses Pembuatan Briket TKKS

Tahapan Produksi

Proses pembuatan briket dari tandan kosong kelapa sawit melibatkan beberapa tahapan utama:

  1. Pengumpulan dan Pengeringan Bahan Baku: TKKS dikumpulkan dari pabrik kelapa sawit kemudian dikeringkan secara alami selama beberapa hari

  2. Karbonisasi (Pengarangan): TKKS dibakar dalam kondisi oksigen terbatas untuk menghasilkan arang dengan kandungan karbon tinggi

  3. Penghalusan dan Pengayakan: Arang yang dihasilkan dihaluskan dan disaring sesuai ukuran yang diinginkan (20-100 mesh)

  4. Pencampuran dengan Perekat: Arang halus dicampur dengan perekat alami seperti tepung singkong, tepung kanji, atau bentonit dengan konsentrasi 5-25%

  5. Pencetakan dan Pengepresan: Campuran dibentuk menggunakan alat cetakan silinder dengan tekanan hidrolik 3-7 ton

  6. Pengeringan Akhir: Briket dikeringkan menggunakan sinar matahari atau oven pada suhu 105°C selama 1-2 jam

Optimasi Komposisi dan Kualitas

Penelitian menunjukkan bahwa briket dengan komposisi perekat 15% tepung singkong dan ukuran partikel 80-100 mesh menghasilkan kualitas terbaik. Hasil penelitian memperoleh:

  • Kadar air: 4,57-4,60% (memenuhi standar SNI < 8%)

  • Kadar abu: 6,12-6,56% (memenuhi standar SNI < 8%)

  • Nilai kalor: 6.119-6.231 kalori per gram

Pemanfaatan dan Nilai Ekonomi

Aplikasi Industri

Briket TKKS telah digunakan sebagai bahan bakar alternatif untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). PLN membeli briket ini dengan harga bervariasi Rp 1.100 hingga Rp 1.900 per kilogram, memberikan nilai ekonomi yang menarik bagi produsen.

Selain untuk pembangkit listrik, briket TKKS juga dapat digunakan untuk:

  • Pengganti gas LPG untuk keperluan rumah tangga

  • Bahan bakar industri sebagai pengganti batu bara

  • Komoditas ekspor dengan permintaan internasional yang terus meningkat

Dampak Ekonomi bagi Petani

Program pelatihan pembuatan briket TKKS yang diselenggarakan BPDPKS dan organisasi terkait telah melatih ratusan petani sawit. Pemanfaatan limbah ini memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani plasma yang sebelumnya hanya memanfaatkan TKKS sebagai kompos.

Tantangan Pengelolaan Limbah Sawit

Dampak Lingkungan Limbah Tidak Terkelola

Limbah sawit yang tidak dikelola dengan baik menimbulkan pencemaran serius:

  • Pencemaran air dan udara dari kandungan bahan organik tinggi

  • Kerusakan ekosistem lingkungan di sekitar pabrik

  • Gangguan kesehatan masyarakat seperti masalah pernapasan dan iritasi kulit

  • Produksi gas metana dari pembusukan TKKS yang berkontribusi pada pemanasan global

Volume Limbah yang Terus Meningkat

Dengan produksi kelapa sawit Indonesia yang terus tumbuh, volume limbah juga meningkat proporsional. Setiap pabrik kelapa sawit menghasilkan 600-700 liter limbah cair per ton TBS, plus limbah padat berupa TKKS, cangkang, dan serat dalam jumlah besar.

Konsep Zero Waste dalam Industri Sawit

Pemanfaatan Menyeluruh Limbah Sawit

Industri kelapa sawit Indonesia menerapkan konsep zero waste dimana semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan:

  • Tandan kosong (TKKS): Briket, kompos, karbon aktif, pulp kertas

  • Cangkang sawit: Bahan bakar boiler, briket arang

  • Serat sawit: Bahan tambahan pulp, bahan bakar

  • Limbah cair (POME): Biogas, pupuk organik cair

  • Pelepah dan batang: Furnitur, kayu lapis, biofuel

Dukungan Kebijakan Pemerintah

Pemerintah Indonesia mendorong implementasi zero waste melalui berbagai kebijakan:

  • Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 28 dan 29/2003 tentang pemanfaatan limbah sawit

  • Program biodiesel B40 yang menyerap 13,6 juta ton minyak sawit

  • Insentif untuk pengembangan energi terbarukan dari limbah biomassa

Inovasi Teknologi Terdepan

Pengembangan Mesin Rotary Press

Institut Teknologi Padang mengembangkan inovasi briket TKKS menggunakan Mesin Rotary Press yang meraih penghargaan Best Paper dalam konferensi internasional. Teknologi ini meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas briket yang dihasilkan.

Sistem Produksi Terintegrasi

Beberapa pabrik telah mengintegrasikan produksi briket dalam sistem pengolahan kelapa sawit, menciptakan sinergi operasional yang mengurangi biaya produksi dan meningkatkan efisiensi energi.

Prospek dan Rekomendasi Pengembangan

Peluang Pasar yang Besar

Dengan komitmen Indonesia mencapai Net Zero Emission 2060, permintaan energi terbarukan akan terus meningkat. Briket TKKS memiliki posisi strategis untuk memenuhi kebutuhan ini, terutama sebagai co-firing biomassa di pembangkit listrik.

Strategi Pengembangan

Untuk mengoptimalkan pemanfaatan TKKS sebagai briket, diperlukan:

  1. Peningkatan kapasitas produksi melalui investasi teknologi modern

  2. Pendampingan pemasaran untuk mengakses pasar yang lebih luas

  3. Penguatan keberlanjutan usaha berbasis limbah pertanian

  4. Pengembangan standar kualitas yang konsisten

  5. Edukasi masyarakat tentang manfaat briket ramah lingkungan

Inovasi briket dari limbah tandan kosong kelapa sawit membuktikan bahwa industri sawit Indonesia dapat berkontribusi signifikan terhadap penyediaan energi bersih sambil mengatasi tantangan pengelolaan limbah. Dengan dukungan teknologi, kebijakan yang tepat, dan partisipasi aktif stakeholder, briket TKKS dapat menjadi salah satu pilar penting transisi energi Indonesia menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *