Benarkah Biodiesel jadi Penyelamat Industri Sawit RI?

Jakarta, CNBC Indonesia – Pelaku industri minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) domestik menyatakan pemerintah harus mendorong peningkatan penggunaan biodiesel untuk menyelematkan industri. Apalagi pemerintah bakal menjadikan biodiesel sebagai tonggak utama energi ke depannya.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono optimististi, kebijakan pemerintah terkait biodiesel tersebut akan membuat produksi CPO bakal terus diserap untuk ketahanan energi nasional.

“Road map energi salah satunya bahan bakar nabati yang tentunya gunakan sawit. Pemerintah akan terus ditingkatkan, baik kandungan campuran dan secara teknologi adalah jenisnya,” kata Joko kepada CNBC Indonesia, Minggu (23/8).

Variasi penggunaan biodiesel yang berbahan baku sawit diyakini bakal terus meningkatkan konsumsi. Apalagi, dalam beberapa waktu terakhir Joko menyebut penyerapan sawit dari dalam negeri terus meningkat. Meski di sisi lain, permintaan dari ekspor cenderung menurun.

“Sekarang aja 70% ke ekspor, domestik 30%. Tahun ini ekspor alami pelemahan permintaan. Berkurang eskpor 7% tapi domestik meningkat. Jadi seimbang, ke depan saya liat gitu. Dalam negeri permintaan naik, luar kita liat. Ke depan saya yakin produksi kita meningkat,” jelas Joko.

Di sisi lain, Pemerintah menegaskan tetap berkomitmen melanjutkan program biodiesel 40% atau B40 yang diproyeksikan bakal banyak menyerap CPO. Sebelumnya, proyek B30 sudah terlaksana. Kebijakan itu akan ditingkatkan lagi ke depannya.

“Ke depan saya targetkan implementasi B30 melalui D100 yang merupakan campuran 40% bahan bakar nabati. Dimana D100 digunakan 10%. Dan dilakukan pada bulan Juli 2021,” sebutnya.

Hingga akhir pekan lalu, harga CPO berada pada kisaran 2.681 ringgit (RM) per ton. Meski demikian, CPO masih belum jauh dari level tertinggi 6 bulan RM 2.808/ton yang dicapai pada 4 Agustus lalu. Sejak mencapai level tersebut hanya minyak nabati ini bergerak sideways.

Harga CPO bergerak bagai roller coaster sepanjang tahun ini. Pada pertengahan Januari lalu, CPO mencapai level tertinggi 3 tahun di RM 3.150/ton, tetapi setelahnya terjun ke 38,44% ke RM 1.939/ton pada 6 Mei lalu. Level tersebut merupakan yang terendah sejak Juli 2019.

Setelah mencapai level terendah 10 bulan tersebut, CPO kembali melesat naik 44,81% ke RM 2.808/ton pada 4 Agustus lalu.

Pandemi penyakit virus corona (Covid-19) menjadi pemicu utama pergerakan roller coaster tersebut. Guna meredam penyebaran virus corona, banyak negara menerapkan kebijakan karantina (lockdown) sehingga roda bisnis menjadi menurun bahkan nyaris mati suri. Akibatnya permintaan CPO pun menurun, harganya menjadi merosot.

Sementara selepas Mei, negara-negara mulai melonggarkan lockdown, perekonomian China yang merupakan asal virus corona mulai bangkit, permintaan CPO pun perlahan naik lagi. China merupakan salah satu konsumen CPO terbesar di dunia, sehingga ketika perekonomiannya bangkit memberikan dampak yang besar.

Sumber: Cnbcindonesia.com