RI-Malaysia Sepakat Pasar Sawit Domestik Diperkuat

 

JAKARTA – Pemerintah Indonesia dan Malaysia membahas penguatan kerja sama bilateral dengan fokus pada kolaborasi di bidang perkelapasawitan. Kedua negara sependapat bahwa negara-negara produsen sawit, terutama yang tergabung dalam Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), harus mengantisipasi kemungkinan terjadinya siklus harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) melalui peningkatan konsumsi di pasar domestik sebagai alat manajemen permintaan.

Demikian disampaikan Menko Perekonomian Airlangga Hartar-to saat menerima kunjungan Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia Zuraida Binti Kamaruddin di Jakarta, Minggu (24/10). Pertemuan tersebut diadakan dalam rangka membahas mengenai penguatan kerja sama bilateral kedua negara, khususnya berdiskusi terkait kebijakan Kelapa Sawit ke depannya. “Pengelolaan harga minyak sawit berkelanjutan dapat dicapai dengan melaksanakan program mandat biodiesel 30% (B30) di Indonesia dan B20 di Malaysia. Strategi ini penting untuk menyeimbangkan pasokan dengan permintaan yang akan menjaga harga CPO global,” ungkap Airlangga dalam keterangannya, kemarin.

Berdasarkan hasil serah terima jabatan ketua pada Pertemuan Tingkat Menteri ke-8 CPO PC yang diselenggarakan pada 26 Februari 2021 secara virtual, Indonesia saat ini ditunjuk menjadi Ketua CPO PC untuk tahun 2021. “Hal penting yang ingin kami tekankan adalah pentingnya negara-negara anggota CPO PC mengintensifkan upaya untuk memastikan harga minyak sawit berkelanjutan. Kami menggarisbawahi tren positif atas pertumbuhan permintaan minyak sawit dan tren kenaikan (harga) minyak sawit secara umum,” jelas Menko Airlangga.

Menanggapi maraknya kampanye negatif terhadap produk sawit, sebagai negara penghasil kelapa sawit, Indonesia-Malaysia perlu melakukan kampanye positif terhadap Kelapa Sawit secara efektif, efisien, dan tepat sasaran. Indonesia mengapresiasi kemajuan program countering anti Palm Oil campaign yang dilakukan CPO PC berdasarkan persetujuan negara anggota (Indonesia-Malaysia). Program-program ini termasuk kampanye advokasi di Uni Eropa, kampanye media sosial di negara-negara anggota, serta strategi komunikasi dan promosi di negara-negara konsumen minyak sawit.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia

,

Potensi Besar Hilirisasi Produk Sawit

Proses hilirisasi minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) masih menghadapi sejumlah tantangan. Terutama berkaitan dengan teknologi untuk mengolah minyak sawit mentah menjadi produk bernilai tinggi. Indonesia perlu meningkatkan industri dan teknologi pengolahan kelapa.

 

,

GIMNI: Tanpa Larangan Ekspor, Investasi Hilir Sawit Jalan Terus

 

Bisnis.com, JAKARTA – Upaya penghiliran industri kelapa sawit dinilai terus berjalan meski tanpa larangan ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengatakan para pengusaha sawit telah menambah investasinya di industri produk hilir, seperti oleokimia, biolubricant, bio hidrokarbon, emulsifier dan lain-lain.

“Jadi dengan regulasi yang ada, serapan CPO dan CPKO [crude palm kernel oil] di dalam negeri telah tertampung,” kata Sahat kepada Bisnis, Senin (25/10/2021).

Indikator penghiliran tampak dengan turunnya rasio volume ekspor produk olahan dibandingkan dengan CPO dan CPKO. Pada Januari-Agustus 2021, Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (Gapki) mencatat kontribusi minyak sawit mentah dari total ekspor CPO dan produk turunannya hanya sebesar 9,27 persen.

Sahat juga mengatakan tekanan pada ekspor CPO sudah berjalan sejak 2012 dan menjadi lebih konkrit pada 2015, ketika pemerintah menetapkan perbedaan pajak pengapalan antara produk hulu dan hilir.

“Ini artinya secara tidak langsung [pemerintah] menetapkan larangan ekspor CPO,” ujarnya.

Peraturan Menteri Keuangan No.76/2021 tentang tarif layanan badan layanan umum Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit sejalan dengan upaya penghiliran sejak 2011.

Sahat menjelaskan, berdasarkan beleid tersebut, ekspor CPO dikenakan pajak US$341 per ton. Maka eksportor hanya menerima US$759 per ton atau ekuivalen dengan Rp10.719 per kg. Dengan kondisi tersebut, harga CPO domestik berada di kisaran Rp14.010 per kg.

“Maka pengusaha tidak akan melakukan ekspor karena harga pasar sawit di pasar domestik jauh lebih baik,” ujarnya.

 

Sumber: Bisnis.com

,

Ini Penyebab Harga Minyak Goreng Melonjak

 

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Harga minyak goreng melonjak pada akhir Oktober 2021. Lonjakan harga minyak goreng tersebut terjadi di berbagai daerah.

Pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengungkapkan, kenaikan harga minyak goreng disebabkan adanya kekurangan pasokan akan minyak nabati (oils) dan minyak hewani (fats) di pasar global.

“Pandemi ini membuat suasana lapangan produksi semua serba tak jelas. Produksi minyak nabati dan minyak hewani semua menurun dibandingkan dengan produksi di tahun sebelum adanya pandemi. Intinya, seperti hukum ekonomi, di mana antara supply dan demand terjadi kepincangan maka pasokan dunia sangat berkurang,” ujar Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga saat dihubungi Kompas.com, Senin (25/10/2021).

Ia mengatakan produksi minyak nabati dan hewani telah menurun sebanyak 266.000 ton pada 2020. Penurunan produksi tersebut juga terjadi pada 2021

Selain itu, kenaikan harga minyak goreng juga disebabkan adanya kenaikan harga minyak sawit atau CPO Indonesia. Saat ini kata Sahat, harga CPO di Indonesia masih berbasis harga CPO CiF Rotrerdam.

Dia menilai, apabila harga CiF Rotterdam mengalami kenaikan, maka harga CPO lokal juga naik.

Sahat juga menjelaskan, saat ini industri penghasil minyak goreng di Indonesia tidak punya hubungan usaha dengan perkebunan sawit.

Oleh sebab itu, menurut dia, harga jual yang dipasarkan oleh industri penghasil minyak goreng sama dengan harga CPO yang sudah ditambahkan dengan biaya olah, biaya kemasan, dan biaya ongkos angkut.

“Dengan demikian harga jual yang mereka lakukan adalah sesuai dengan kondisi lapangan dan kini para produsen minyak goreng sudah tidak bisa lagi mengikuti harga patokan yang ditetapkan oleh regulator,” ungkap Sahat.

Sebelumnya, mengutip dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, minyak goreng kemasan bermerek 1 terpantau naik sebesar 1,16 persen atau Rp 200 menjadi Rp 17.400 per kilogram, minyak goreng kemasan bermerek 2 terpantau naik sebesar 0,9 persen atau Rp 150 menjadi Rp 16.850 per kilogram, dan minyak goreng curah secara nasional terpantau naik sebesar 2,15 persen atau Rp 350 menjadi Rp 16.600 per kilogram.

Sumber: Kompas.com

Negara Produsen Sawit Sepakat Kampanye Negatif Dihadapi Dengan Riset

 

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Kampanye negative yang semakin marak menjadi perhatian negara-negara produsen sawit. Salah satu caranya adalah memperkuat riset untuk menjawab isu negative tersebut.

Pandangan ini muncul dalam pertemuan Dewan Negara-negara Produsen Sawit atau Council Palm Oil Producing Countries (CPOPC) Tingkat Pejabat Tinggi atau Senior Officials Meeting (SOM) Ke-22 dalam format hybrid (daring dan tatap muka) pada Kamis, 21 Oktober 2021.

“Kami prihatin dengan tingginya kampanye negatif yang semakin masif dan dikeluarkannya berbagai kebijakan dan regulasi yang menghambat produksi dan perdagangan minyak sawit khususnya di Uni Eropa,” ujar Dr. Musdhalifah Machmud, Deputi Bidang Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI dalam kesempatan tersebut.

Ia  menjelaskan bahwa  CPOPC perlu memberikan perhatian serius dan merumuskan strategi yang lebih efektif bagi negara-negara produsen minyak sawit untuk menjawab tantangan tersebut. Selain itu, dirinya juga menyambut baik kemajuan yang dibuat oleh Komite Ilmiah karena studi dan penelitian berbasis sains harus lebih dipromosikan dalam melawan kampanye negatif terhadap minyak sawit berkelanjutan.

YBhg. Datuk Ravi Muthayah, Sekretaris Jenderal, Kementerian Industri Perkebunan dan Komoditas, Malaysia, JUGA meminta CPOPC untuk melipatgandakan upaya dalam memberikan narasi yang lebih kuat untuk memerangi kampanye negatif. Negara-negara penghasil minyak sawit tidak boleh berpuas diri dan lengah dengan kompetitor. Menjunjung tinggi keberlanjutan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) sangat penting yang didukung oleh pemikiran atau penelitian yang ofensif untuk membandingkan minyak sawit dengan minyak nabati lainnya.

Datuk Ravi secara khusus menyatakan dukungan kuat negaranya untuk adopsi Kerangka Kerja Global dari Prinsip untuk Minyak Sawit Berkelanjutan sebagai prinsip panduan bagi negara-negara penghasil minyak sawit yang masuk menjadi anggota dan sebagai contoh untuk tanaman minyak nabati lainnya, dalam mengupayakan kolaborasi yang semakin berdampak, bermakna, dan efektif, Datuk Ravi Muthayah mengajak negara-negara baru yang ingin masuk sebagai anggota untuk mempercepat proses bergabung dengan CPOPC.

Pertemuan dipimpin oleh Dr. Musdhalifah Machmud, Deputi Menteri Pangan dan Agribisnis, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia dan didampingi oleh YBhg. Datuk Ravi Muthayah, Sekretaris Jenderal, Kementerian Industri Perkebunan dan Komoditas, Malaysia.

Pertemuan juga dihadiri oleh perwakilan negara-negara pengamat yaitu Kolombia, Ghana, Honduras, dan Papua New Guinea.

Vice Minister of Agricultural Affairs,i Kolombia, H.E. Juan Gonzalo Botero, yang hadir secara daring menyampaikan pentingnya bergabung dengan CPOPC untuk mempromosikan kerjasama dalam hal penelitian, produksi dan komersialisasi minyak sawit di seluruh dunia.

High Commissioner Ghana untuk Malaysia, Akua Sekyiwa Ahenkora menyoroti keuntungan untuk terus mempromosikan manfaat kesehatan dari minyak kelapa sawit, keberlanjutan industri dan atribusinya terhadap SDGs dari PBB dan dukungan untuk peningkatan kapasitas petani kecil.

Vice Minister of Agriculture Ministry of Agriculture and Livestock, Honduras, David Ernesto Wainwright menyampaikan penghargaan atas dukungan yang ditunjukkan kepada Honduras melalui sumbangan benih bersertifikat oleh CPOPC.

Acting Secretary Department of Agriculture and Livestock, Papua New Guinea, Kepson Pupita menegaskan kelayakan kelapa sawit untuk mengubah perekonomian negara terutama dalam pengurangan kemiskinan dan keterlibatan produktif warga. Pertemuan lebih lanjut membahas beberapa program dan kegiatan utama organisasi dan usulan CPOPC, serta masalah tata kelola. Sebagian besar program prioritas yang telah disahkan selama SOM berkaitan dengan mempromosikan keberlanjutan kelapa sawit, termasuk upaya peningkatan kapasitas petani kecil, proyek penelitian, serta program komunikasi dan advokasi.

 

Sumber; Sawitindonesia.com

,

Harga CPO Melesat, Pemerintah Diminta Hati-Hati Rumuskan HET Minyak Goreng

 

 

Bisnis.com, JAKARTA – Ekonom pertanian dari IPB University Bayu Krisnamurthi meminta pemerintah untuk berhati-hati menentukan rumusan penetapan harga eceran tertinggi atau HET Minyak goreng di pasar. Alasannya, perhitungan yang tidak bijak berpotensi menimbulkan gejolak harga yang serius di masyarakat.

“Itulah sebabnya HET perlu dicermati secara hati-hati dan seimbang, termasuk dengan memperhatikan kepentingan konsumen,” kata Bayu melalui pesan tertulis kepada Bisnis, Rabu (20/10/2021).

Di sisi lain, Bayu mengakui, tren kenaikan harga kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dunia turut mengerek bahan baku pembuatan minyak goreng. Artinya, biaya produksi industri hilir atau olahan CPO tersebut mengalami peningkatan yang signifikan.

“Memang harga minyak goreng dalam negeri akan menghadapi tekanan kenaikan bahan baku yang sama. Di sini perlu dilihat secara bijak dan seimbang,” kata dia.

 

Pada sejumlah perusahaan terintegrasi, kata dia, relatif dapat bertahan karena marjin yang tidak optimal dari penjualan dalam negeri ditutupi peningkatan dari sisi ekspor.

“Namun bagi perusahaan-perusahaan minyak goreng yang tidak terintegrasi, hal ini tentu akan menyulitkan,” kata dia.

 

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) berencana untuk memasukkan biaya input harga kelapa sawit mentah atau CPO di pasar global, sebagai salah satu variabel penentu besaran harga minyak goreng di dalam negeri.

 

Rencana itu mencuat setelah sejumlah industri hilir atau olahan CPO seperti Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) meminta Kemendag menyesuaikan harga minyak goreng di tingkat konsumen. Alasannya, harga eceran tertinggi atau HET yang dipatok Rp11,000 per liter saat ini tidak mencerminkan biaya produksi yang relatif tinggi mengikuti harga bahan baku utama tersebut.

Direktur Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Kemendag Isy Karim mengatakan kementeriannya masih berupaya untuk melakukan evaluasi terhadap HET tersebut yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 7 Tahun 2020 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen.

 

“Perhitungan harga acuan ke depan diformulasikan dengan memasukkan biaya input harga CPO dunia sebagai salah satu variabel penentu besaran harga minyak goreng sehingga harga acuan nantinya akan fleksibel mengikuti harga bahan baku,” kata Isy Karim melalui pesan tertulis kepada Bisnis, Rabu (20/10/2021).

Berdasarkan catatan Kemendag pekan ini, harga eceran nasional untuk minyak goreng sebesar Rp14,800 per liter atau naik 4,96 persen jika dibandingkan bulan lalu. Selain itu harga minyak goreng kemasan berada di harga Rp16,700 per liter atau naik 2,45 persen dari bulan lalu.

Ihwal kenaikan harga itu, Dia menerangkan, tren itu mengikuti harga bahan baku yakni CPO di pasar internasional yang mengalami kenaikan mencapai 9,66 persen secara bulanan atau month-to-month.

“Untuk itu, guna menstabilkan harga minyak goreng di dalam negeri kami akan terus berkoordinasi dengan asosiasi produsen minyak goreng agar tetap menjaga pasokan minyak goreng dalam rangka stabilisasi harga,” kata dia.

Adapun stok minyak goreng per 15 Oktober 2021 mencapai 628.300 ton yang dimiliki oleh produsen anggota GIMNI, sementara stok minyak goreng milik Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) sebesar 405,09 ton. Dengan demikian, total stok minyak goreng nasional mencapai 628,70 ribu ton dengan ketahanan mencapai 1,49 bulan.

 

 

Sumber: Bisnis.com

,

Harga CPO Naik, Pakar Minta Kemendag Akomodasi Soal HET Minyak Goreng

 

Bisnis.com, JAKARTA — Ekonom pertanian dari IPB University Bayu Krisnamurthi meminta pemerintah untuk berhati-hati menentukan rumusan penetapan harga eceran tertinggi atau HET minyak goreng di pasar. Alasannya, perhitungan yang tidak bijak bakal menimbulkan gejolak harga yang serius di tengah masyarakat.

“Itulah sebabnya HET perlu dicermati secara hati-hati dan seimbang, termasuk dengan memperhatikan kepentingan konsumen,” kata Bayu melalui pesan tertulis kepada Bisnis, Rabu (20/10/2021).

Di sisi lain, Bayu mengakui, tren kenaikan harga kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dunia turut mengerek bahan baku pembuatan minyak goreng itu. Artinya, biaya produksi industri hilir atau olahan CPO itu mengalami peningkatan yang signifikan.

“Memang harga minyak goreng dalam negeri akan menghadapi tekanan kenaikan bahan baku yang sama. Di sini perlu dilihat secara bijak dan seimbang,” kata dia.

Pada sejumlah perusahaan terintegrasi, kata dia, relatif dapat bertahan karena marjin yang tidak optimal dari penjualan dalam negeri ditutupi peningkatan dari sisi ekspor.

“Namun bagi perusahaan-perusahaan minyak goreng yang tidak terintegrasi, hal ini tentu akan menyulitkan,” kata dia.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) berencana untuk memasukkan biaya input harga kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dunia sebagai salah satu variabel penentu besaran harga minyak goreng di dalam negeri.

“Agar HET bisa mencerminkan harga bahan baku minyak goreng dan mekanisme lebih fleksibel mengikuti harga pasar, sehingga HET bisa naik atau pun bisa turun menyesuaikan kondisi tersebut,” kata Bernard melalui pesan tertulis kepada Bisnis, Rabu (20/10/2021).


Pekerja memanen kelapa sawit di Desa Rangkasbitung Timur, Lebak, Banten, Selasa (22/9/2020). /Antara Foto-Muhammad Bagus Khoirunas

Sementara itu, Direktur Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Kemendag Isy Karim mengatakan kementeriannya masih berupaya untuk melakukan evaluasi terhadap HET tersebut yang tertuang dalam  Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 7 Tahun 2020 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen.

“Perhitungan harga acuan ke depan diformulasikan dengan memasukkan biaya input harga CPO dunia sebagai salah satu variabel penentu besaran harga minyak goreng sehingga harga acuan nantinya akan fleksibel mengikuti harga bahan baku,” kata Isy Karim melalui pesan tertulis kepada Bisnis, Rabu (20/10/2021).

Berdasarkan catatan Kemendag pekan ini, harga eceran nasional untuk minyak goreng sebesar Rp14,800 per liter atau naik 4,96 persen jika dibandingkan bulan lalu. Selain itu harga minyak goreng kemasan berada di harga Rp16,700 per liter atau naik 2,45 persen dari bulan lalu.

Ihwal kenaikan harga itu, Dia menerangkan, tren itu mengikuti harga bahan baku yakni CPO di pasar internasional yang mengalami kenaikan mencapai 9,66 persen secara bulanan atau month-to-month.

“Untuk itu, guna menstabilkan harga minyak goreng di dalam negeri kami akan terus berkoordinasi dengan asosiasi produsen minyak goreng agar tetap menjaga pasokan minyak goreng dalam rangka stabilisasi harga,” kata dia.

Adapun stok minyak goreng per 15 Oktober 2021 mencapai 628.300 ton yang dimiliki oleh produsen anggota GIMNI, sementara stok minyak goreng milik Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) sebesar 405,09 ton. Dengan demikian, total stok minyak goreng nasional mencapai 628,70 ribu ton dengan ketahanan mencapai 1,49 bulan.

Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumatera Utara (Sumut) Darma Sucipto mengungkapkan kenaikan harga jual CPO merupakan dampak masih tingginya permintaan di pasar internasional, di tengah adanya kekhawatiran produksi komoditas ini turun.  “Kalau permintaan terus naik, maka harga CPO akan bakal naik terus dan itu membuat harga CPO pada September bisa menjadi tertinggi di tahun 2021,” kata Darma, Minggu (12/9/2021).

“Harga CPO di September yang rata-rata sebesar Rp12.594 per kg itu, di atas harga rata-rata bulan Agustus yang masih Rp12.515 per kg,” ujar Darma.

Sumber: Bisnis.com

Gapki Hadirkan Batik Sawit Nusantara

 

 

JAKARTA- Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) meluncurkan Batik Sawit Nusantara. Batik tersebut tidak hanya menggunakan lilin yang berasal dari minyak kelapa sawit, motif batiknya pun menggambarkan filosofi dan kekayaan alam serta budaya Indonesia.

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono mengatakan, selama ini, masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan batik, fenomena batik sawit menjadi karya luar biasa dan menjadikan batik berkelanjutan. “Tentu akan sangat indah jika pada kemudian hari industri sawit bisa mengarah pada upaya mendorong batik yang berkelanjutan,” ujar dia di Jakarta, Senin (18/10).

Dari 100 produk turunan sawit, hasil kajian dan penelitian ilmiah memastikan bahwa minyak sawit dapat dijadikan lilin untuk mem-batik, bahkan kualitasnya jauh lebih baik dari parafin yang biasa digunakan. Lilin untuk membuat Batik Sawit Nusantara menggunakan produk turunan minyak sawit, hasil riset Gapki dengan BPPT menyebutkan bahwa fraksi padat minyak Kelapa Sawit yang disebut stearin dapat digunakan sebagai lilin batik. Hasil pewarnaan pun lebih tajam, lilin dari turunan sawit ini disebut sebagai bioparaffin substitute.

Peluncurkan Batik Sawit Nusantara mendapatkan dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Direktur BPDPKS Eddy Abdurrahman mengatakan, dengan peluncuran batik sawit itu diharapkan dapat tercipta kesadaran manfaat sawit dan membangun citra pemanfaatannya. Selain menyerahkan batik kepada para pejabat negara dalam rangka membangun kesadaran tentang manfaat sawit, BPDPKS juga sudah melakukan edukasi, misalnya mengadakan sosialisasi dan workshop yang melibatkan UKM perajin batik di lima kota besar, yaitu Yogyakarta, Surabaya, Cirebon, Solo dan Semarang.

Batik Sawit Nusantara mempunyai dua motif, yaitu Batik Cipta Dira dan Batik Panca Jagat. Cipta Dira diadaptasi dari bahasa sansekerta, melambangkan kreasi dan makna kebijakan, kata Dira adalah singkatan dari Indonesia Raya dan nama Cipta Dira menjadi simbol sebuah harapan kebijaksanaan dan kemuliaan. Sedangkan Panca Jagat melambangkan empat elemen besar, yaitu api, udara, tanah, dan air, dengan satu ruang dimensi alam semesta atau unsur kehidupan.

Wakil Ketua Umum Gapki yang juga penggagas Batik Sawit Nusantara, Togar Sitanggang, mengatakan, batik sawit tersebut merupakan rancangan hasil kolaborasi lintas generasi, tim perancang juga diperkuat desainer-desainer milenial yang sudah banyak berkarya di dunia kreatif, yaitu Herdiyanto dan Syihan Rama Santosa. Ide membuat Batik Sawit Nusantara adalah untuk memperkenalkan manfaat sawit dan berkontribusi kepada masyarakat luas,

 

 

Sumber: Investor Daily Indonesia

,

Semua Sayang Sawit, Semua Lego Jangkar – Sahat Sinaga (Bag 1/2) – Eps 24

 

Bagian pertama dari dua bagian perbincangan dengan bp Sahat Sinaga. Sebagai Senior di Industri Sawit Hilir, Sahat Sinaga mengemukakan bagaimana Industri sawit ini disayang oleh banyak kementrian. Saking sayangnya, semua lego jangkar seperti kapal. Sehingga Industri sawit tidak bisa kemana-mana. Bahkan mungkin lama kelamaan nanti tenggelam karena tidak bisa kemana-mana.

 

,

Produksi CPO Ditarget Capai 54,7 juta Ton pada 2022

 

JAKARTA – Produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) diproyeksi meningkat 3,07 persen pada tahun depan.

Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Sahat Sinaga mengatakan volume produksinya dapat mencapai 54,7 juta ton pada 2022 dari proyeksi tahun ini sebesar 53,07 juta ton.

Peningkatan tersebut didukung faktor cuaca yang membaik sehingga memungkinkan banyak pelaku usaha melakukan replanting.

“Karena ramalan cuaca relatif bagus dan sudah banyak yang mengalami replanting, bisa sampai 54,7 juta ton,” kata Sahat kepada Bisnis, Rabu (13/10/2021).

Serapan di pasar dalam negeri juga diproyeksikan tumbuh dari 18,5 juta ton tahun ini menjadi sekitar 20 juta ton pada 2022.

Namun, karena terbatasnya produksi CPO, dia menilai kemungkinan kinerja ekspor akan tertahan di level 36 juta ton, tidak tumbuh dari target pengapalan pada tahun ini dan belum bisa kembali ke posisi 2019 sebesar 37 juta ton.

 

“Jadi meningkatnya [ekspor] tidak begitu signifikan dibandingkan dengan tahun lalu, 34 juta ton,” ujarnya.

Sementara itu, menurut catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), produksi CPO pada Agustus 2021 mendapai 4,21 juta ton dan crude palm kernel oil (CPKO) sebesar 400.000 ton. Angka itu 4 persen lebih tinggi dibandingkan dengan Juli 2021.

 

Sumber: Bisnis.com