Ke Rusia, Mendag ‘Muluskan’ Penjualan Sawit Indonesia 90.000 Ton/Bulan

JAKARTA – Misi dagang Kementerian Perdagangan ke Rusia pada 3 Agustus-5 Agustus 2017 sukses menghasilkan perjanjian-perjanjian prospektif. Capaian ini diharapkan mampu menggenjot ekspor nonmigas Indonesia ke Rusia pada tahun 2017 ditargetkan meningkat 20,87% atau sebesar USD1,52 miliar.

Hal ini disampaikan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita pada Konferensi Pers Hasil Misi Dagang Kemendag ke Rusia, di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (10/8/2017).

“Ekspor nonmigas ke Rusia ditargetkan meningkat 20,87% atau sebesar USD1,52 miliar untuk menunjang target peningkatan ekspor nonmigas pada tahun 2017 sebesar 5,696. Misi dagang ini juga untuk memperluas akses pasar ke mitra nontradisional, khususnya Rusia dan negara negara Eurasia,” ungkap Mendag.

Dari aksi misi dagang ini, salah satu hasil yang dicapai yaitu kesepakatan beberapa transaksi dagang minyak kelapa sawit antara pengusaha Indonesia dan pengusaha Rusia dengan jumlah total 90.000 ton per bulan. Kesepakatan ini terjadi pada Forum Bisnis Kelapa Sawit yang berlangsung pada Minggu lalu, Kamis 3 Agustus 2017 di Hotel Mercure Moskow Paveletskaya.

Enggar menyampaikan bahwa produk minyak kelapa sawit Indonesia telah memenuhi aspek kesehatan, higienitas, dan kebersihan.

“Produk minyak kelapa sawit lndonesia merupaka yang terbaik di dunia ini juga terjamin dari sisi keberlanjutan,” tukasnya.

Sumber: Okezone.com

 

KERJA SAMA DAGANG RUSIA-INDONESIA DISAMBUT PELAKU SAWIT

JAKARTA – Pebisnis kelapa sawit Indonesia menyambut baik kerja sama perdagangan Indonesia-Rusia yang dinilai bisa menandingi kampanye anti-kelapa sawit Indonesia dari Eropa. Demikian hal tersebut diungkapkan Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan.“Kerja sama dengan Rusia bisa meningkatkan promosi dan riset sehingga persepsi negatif terhadap sawit bisa berkurang,” ujar Fadhil belum lama ini.

Ekspor kelapa sawit Indonesia ke Rusia juga terus berkembang dari tahun ke tahun. Pasar yang besar juga memperlihatkan Rusia sebagai target penjualan yang potensial. Fadhil menilai kebutuhan minyak sawit di Rusia akan terus meningkat.

 

Bulan April silam, Parlemen Uni Eropa mengeluarkan resolusi pelarangan impor kelapa sawit dari Indonesia karena dianggap terkait erat dengan isu pelanggaran HAM, korupsi, pekerja anak, dan penghilangan hak masyarakat adat. Selain itu, produksi sawit di Indonesia juga dianggap membahayakan kesehatan dan menyebabkan deforestasi akibat kerusakan lingkungan.

 

Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita mengatakan, sebenarnya hal itu adalah soal persaingan perdagangan karena produk Indonesia sangat kompetitif.

 

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga menerangkan, minyak nabati produksi Eropa dan AS terus memojokkan sawit. Sahat menganggap hal tersebut sebagai persaingan bisnis dalam perdagangan global. “Minyak nabati mereka akan selalu kalah saing dengan sawit,” terang Sahat, sepertidikutipKontan.id. (T3)

 

Sumber: Infosawit.com

Menko Luhut Tawarkan Satu Juta Ton CPO Ke Iran

SAWIT INDONESIA – Luhut Binsar Pandjaitan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, menawarkan ekspor 1 juta ton produk minyak sawit (CPO) ke Iran. Tawaran itu diutarakan pekan lalu ketika mengunjungi Iran guna menghadiri pelantikan Hassan Rouhani Presiden Iran .

“Mereka sudah mempertimbangkan untuk menerima ekspor kita, kelapa sawit 1 juta ton per tahun,” kata Luhut kepada wartawan di Jakarta, Selasa (8/8).

Namun, pemerintah Iran memberi syarat kepada pihak Indonesia untuk membuat refinery camp lebih dulu. Beberapa perusahan sawit Indonesia kemudian tertarik melakukan ekpansi perdagangan ke Iran, meski belum diketahui berapa biaya yang akan dikeluarkan.
“Pengusaha yang siap juga meminta syarat untuk pemerintah Iran. Salah satunya, penurunan bea masuk sebesar 40 persen,” ungkapnya.

Luhut mengatakan refinery camp juga akan menjadi salah satu langkah untuk diversifikasi oleh negara tujuan ekspor kelapa sawit.Dengan verifikasi itu, turunan sawit bisa diekspor ke kawasan Timur Tengah.

Sebelumnya, pemerintah juga mengadakan perundingan perdagangan di Iran. Pihak Kementerian Perdagangan bertemu dengan Delegasi Iran Mirhadi Seyedi untuk membahas Prefential Trade Agreement (PTA). Hal ini sebagai upaya Indonesia membuka akses pasar untuk produk-produk unggulan Indonesia dan Iran.

Sumber: Sawitindonesia.com

Kerjasama dengan Rusia Bisa Redam Kampanye Negatif Sawit

 

 

Pangkalan Bun – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyambut baik kerja sama perdagangan Indonesia dengan Rusia.

Kerjasama itu dinilai sebagai langkah tandingan dari kampanye negatif Eropa terhadap minyak sawit mentah (CPO) dari dalam negeri.

“Kerja sama dengan Rusia bisa meningkatkan promosi dan riset sehingga persepsi negatif terhadap sawit bisa berkurang,” kata Direktur Eksekutif GAPKI, Fadhil Hasan, di Jakarta, Senin (7/8/2017).

Ekspor sawit Indonesia ke Rusia juga terus berkembang dari tahun ke tahun. Pasar yang besar juga memperlihatkan Rusia sebagai pasar yang potensial.

“Kebutuhan Rusia akan minyak sawit terus meningkat,” papar dia.

Sedangkan Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, mengatakan minyak nabati produksi Eropa dan Amerika Serikat (AS) terus memojokkan sawit. Hal tersebut dianggap sebagai persaingan bisnis oleh Sahat dalam perdagangan global.

“Minyak nabati mereka akan selalu kalah persaingan dengan sawit,” ujar Sahat.

Meski terus dipojokkan oleh Eropa dan Amerika Serikat, ekspor sawit Indonesia tidak memperlihatkan penurunan. Berdasarkan data GIMNI, perkiraan ekspor 2017 akan naik 4,3% dari ekspor tahun lalu. Pada 2016, total ekspor sawit Indonesia 26,57 juta ton, sedangkan target 2017 ekspor sawit sebesar 27,72 juta ton.

Sebelumnya telah ada kerjasama (Memorandum of Cooperation (MoC)) yang dilakukan antara Indonesia dan Rusia. Perjanjian tersebut ditandangani pada 3 Agustus 2017. (NEDELYA RAMADHANI/m)

 

Sumber: Borneonews.com

Rusia Pasar Potensial Minyak Sawit

 

 

JAKARTA. Di saat kampanye hitam terhadap minyak sawit mentah menyebar di Eropa dan Amerika Serikat (AS), Rusia bisa menjadi pilihan ekspor bagi crude palm oil (CPO) negeri ini. Pilihan itu kian logis karena Rusia juga terkena sanksi ekonomi oleh AS dan Eropa sehingga harus mencari sumber energi alternatif lainnya

Indonesia harus agresif meningkatkan ekspor minyak sawit ke Negeri Beruang Merah tersebut. Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GMNI) Sahat Sinaga mengatakan penjajakan kerjasama di antara kedua negara sudah dimulai, baik di level pemerintah maupun di level pengusaha. Bahkan kedua negara telah menandatangani kerjasama ata wa memorandum of Cooperation (MoC) pada 3 Agustus 2017 lalu. “Ada enam poin penting yang kami sepakati dengan Rusia,” ujar Sahat kepada KONTAN, Minggu (6/8).

Poin pertama adalah mempromosikan dan mengembangkan penjualan CPO Indonesia ke Rusia. Poin kedua, tutur Sahat, adalah meningkatkan kerjasama di bidang investasi yang terkait dengan minyak sawit. Ketiga memfasilitasi kerjasama industri sehingga adan peningkatkan nilai tambah.

Keempat, mengadakan evaluasi secara berkala mengenai pengembangan ekspor CPO. Kelima, melakukan kampanye positif untuk minyak sawit untuk membendung kampanye negatif dari Barat. Poin terakhir atau keenam adalah membuat analisa pasar di Rusia dan bekas-bekas negara Uni Soviet terkait potensi pasar minyak sawit.

Sahat menjelaskan, untuk memperkuat kerjasama itu, kedua negara juga sepakat membentuk Russia-Indonesia Oil Alliance (“RIO Alliance). Lembaga yang bermarkas di Moskow, ibu kota Rusia ini akan bertugas memperluas pasar sawit Indonesia di Rusia dan negara-negara bekas Uni So\iet. RIO Alliance diharapkan dapat membuka pasar baru bagi ekspor minyak sawit asal Indonesia dengan skala yang lebih besar.

Pasar potensial

Indonesia memilih Rusia sebagai salah satu pangsa pasar minyak sawit yang prospektif lantaran memiliki jumlah penduduk yang cukup besar sekitar 150 juta jiwa dan pendapatan per kapitanya cukup besar. Selain itu, ekspor CPO Indonesia mulai meluas ke negara lain.

Dengan kerjasama ini, diharapkan ekspor minyak sawit ke Rusia bila terdongkrak 8% per tahun. Sebagai perbandingan tahun lalu ekspor sawit Indonesia ke Rusia 658.000 ton dan diharapkan pada tahun ini bisa melonjak menjadi 701.000 ton.

Menurut Sahat peningkatkan ekspor minyak sawit ke Rusia merupakan peluang baru mengingat Indonesia tengah dibendung di Eropa. Maklumlah, produk minyak nabati dari Eropa memang sulit bersaing dalam harga dengan aneka produk minyak sawit.

Fadhil Hasan, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengatakan para pengusaha minyak sawit menyambut positif peningkatan kerjasama Indonesia dengan Rusia Menurut dia, kerjasama ini dapat menjadi kampanye tandingan dari sentimen negatif di Eropa. “Kerjasama dengan Rusia bisa meningkatkan promosi dan riset sehingga persepsi negatif terhadap sawit bisa berkurang,” ujar Fadhil.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menilai, Rusia merupakan mitra potensial untuk produk minyak sawit Indonesia. Apalagi, semua produk sawit Indonesia mulai dari penanaman sampai produksi hilir, telah mengikuti standar internasional. “Indonesia berkomitmen untuk memastikan penerapan prinsip-prinsip sustainability di segala aspek produk sawit di Indonesia,” klaim politisi dari Partai Nasdem itu.

Abdul Basith Bardan/Noverius Laoli

Sumber : Harian Kontan

Ekspor Sawit ke Rusia Bisa Lebihi US$ 440 Juta

JAKARTA – Ekspor minyak sawit Indonesia ke Rusia berpotensi melebihi US$ 440 juta. Hal itu menyusul penguatan hubungan perdagangan Indonesia dan Rusia serta penjajakan pengembangan pasar produk Indonesia khususnya produk sawit ke Negeri Beruang Merah tersebut Rusia merupakan salah satu pasar minyak sawit yang penting untuk Indonesia, pada 2016 Indonesia mengekspor lebih dari 663 ribu ton minyak sawit senilai US$ 440 juta ke Rusia.

Pekan lalu. Kementerian Luar Negeri melalui KBRI Moskow bersama-sama dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP Sawit) serta asosiasi Kelapa Sawit menyelenggarakan Festival Indonesia yang dilanjutkan dengan Forum Bisnis Indonesia-Rusia untuk Sawit (Indonesia-Russia Business Forum on Palm Oil). Hal itu dilakukan dalam rangka memperkuat hubungan perdagangan Indonesia dan Rusia serta untuk menjajaki pengembangan pasar produk Indonesia khususnya produk sawit Turut serta dalam delegasi RI

yang dipimpin Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita adalah Direktur Utama BPDP Sawit Dono Boestami, Kanya Lakshmi Sidarta dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit mdonesia (Gapki), Darmono Taniwiryono dari Masyarakat Perkelapasawitan (Maksi), MP Tumanggor dari Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), M Daulay dari Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) beserta perwakilan dari beberapa perusahaan sawit Indonesia seperti Musim Mas, Permata Hijau, Asian Agri, Wilmar, dan Sinar Mas.

Sumber: Investor Daily Indonesia

Indonesia-Rusia jalin kerja sama dagang sawit

FILE PHOTO: An Indonesian worker sits beside palm oil fruits on a lorry at Felda Bukit Cerakah in the district of Klang, outside Kuala Lumpur, April 16, 2014. REUTERS/Samsul Said/File Photo GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD SEARCH GLOBAL BUSINESS 29 MAY FOR ALL IMAGES

JAKARTA. Indonesia-Rusia mempererat jalinan kerja sama perdagangan khusus komoditas sawit. Kedua negara sepakat menandatangani memorandum of corporation (MoC) pada 3 Agustus lalu.

“Terdapat enam poin dalam perjanjian tersebut,” ujar Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) kepada KONTAN (6/8).

Enam poin tersebut untuk menyangkut perkembangan RIO Alliance. Pertama mempromosikan dan mengembangkan penjualan crude palm oil / CPOIndonesia ke Rusia, kedua dibidang investasi yang terkait dengan minyak sawit. Ketiga adalah memfasilitasi kerjasama industri sehingga nilai tambah meningkat.

Keempat adalah untuk mengadakan evaluasi secara berkala mengenai pengembangan ekspor CPO. Kelima mengenai regulator sekaligus melakukan kampanye untuk menandingi kampanye negatif mengenai CPO yang dilakukan negara lain. Terakhir, membuat analisa pasar di Rusia dan negara bekas Uni Soviet.

Sahat Menjelaskan berdasarkan perjanjian itu, nantinya setelah tiga bulan perjanjian tersebut berjalan akan dibentuk Russia-Indonesia Oil Alliance (RIO Alliance). RIO Alliance merupakan unit usaha berbadan hukum Rusia yang berkantor di Moscow, Rusia.

RIO Alliance nantinya akan berfungsi untuk memperluas pasar sawit Indonesia di Rusia dan Negara-negara bekas Uni Soviet. Hal tersebut dilakukan dalam rangka membuka pasar baru bagi ekspor sawit Indonesia. “Dalam hal sawit, Indonesia sudah harus berperilaku seperti pebisnis global,” terang Sahat.

Sahat menjelaskan pemilihan Rusia karena negara besar dengan penduduk banyak dan pendapatan per kapita yang juga besar. Hal tersebut dianggap sebagai faktor potensial bagi Indonesia untuk mengembangkan bisnis sawitnya. Selain itu Sahat juga menjelaskan agar Indonesia harus masuk ke pasar sawit non-tradisional.

Target nantinya ekspor sawit Indonesia ke Rusia akan meningkat 8% per tahun. Sebelumnya pada tahun 2016 volume ekspor sawit Indonesia ke Rusia sebesar 658.000 ton. Sementara tahun 2017 target ekspor sawit sebesar 701.000 ton.

 

Sumber: Kontan.co.id

Indonesia seeks Russias help to boost palm oil business

A worker unloads palm fruit at a palm oil plantation in Peat Jaya, Jambi province on the Indonesian island of Sumatra September 15, 2015 in this photo taken by Antara Foto. Wahyu Putro A/Antara Foto/File Photo via REUTERS

 

With the United States saying “no,” Russia has said “hello” to Indonesian palm oil businesses, raising hopes for Southeast Asias largest economy to boost its palm oil exports amid growing negative sentiments.

During the Indonesia-Russia Business Forum on Palm Oil on Thursday in Moscow, the Indonesian Palm Oil Board (DMSI) signed a memorandum of cooperation (MoQ with Russias palm oil products trader PalmO-leo Group LLC to boost trade and research, as well as to further efforts to promote the use of palm oil products in both countries.

Sahat Sinaga, the executive director of the Indonesian Vegetable Oil Refiners Association (GIMNI), said that through the agreement, both countries would be able to monitor each others market, while also exchanging technology for the conversion of palm oil into biodiesel.

He said both countries would eventually establish a Russia-Indonesia alliance in the form of a joint venture (JV) company to support the agreement, in which Indonesia would hold the majority stake of at least 60 percent.

The JV is expected to ensure there will be no more adverse legislation against Indonesian palm oil products in the markets of Russia and other ex-Soviet countries.

“Through the JV, we hope that we can develop and boost the palm oil market in Russia, while it will also be a procurement center for sunflower oil needed by Indonesia,” Sahat told The Jakarta Post on Friday.

“That way, Indonesias palm oil exports can be doubled within the next one or two years.”

Throughout last year, Indonesia exported 5.28 million tons of crude palm oil (CPO) worth US$3.3 billion worldwide, down from 7.78 million tons of CPO worth S4.38 billion in 2015, according to the Trade Map of Geneva-based International Trade Center.

Meanwhile, Russias imports of palm oil and its derivative, products reached 885,117 tons worth US$647 million last year, with 83 percent of the total imports coming from Indonesia.

Russias imports of such commodities from Indonesia gradually increased to 735,523 tons worth $512.9 million last year from 429,684 tons worth $479.3 million in 2012.

Hence, Indonesian Palm Oil Producers Association (GAPKI) executive director Fadhil Hasan said Russia was an important market for Indonesia, especially considering its large population and its ever-growing palm oil consumption.

“With growing negative sentiment toward our biodiesel from the US and the European Union, Russia can be an alternative market for Indonesia in the years to come,” Fadhil said.

In March, American commercial trade association National Biodiesel Board (NBB), along with dozens of its fellow biodiesel producers, filed a petition to the US Department of Commerce and US International Trade Commission to impose anti-dumping and countervailing duties on imports of biodiesel from Argentina and Indonesia.

To make things worse, the EU decided in early April to gradually reduce the use of vegetable oils, including palm oil, that were not sustainably produced in biodiesel production, in a bid to reduce deforestation – a move that would harm Indonesia as one of the worlds largest producers of palm oil.

Indonesia has promoted widespread use of biodiesel to help reduce its notoriously high greenhouse gas emissions, including by funneling funds collected from palm oil export taxes to incentiv-ize producers participating in the mandatory 15 percent biodiesel blending (B15) program in 2015 and 20 percentbiodiesel blending (B20) program from last year.

Since mid-2015, palm oil exporters have been levied US$50 per ton for CPO shipments and US$30 for processed palm oil products when CPO prices stand at below US$750 a ton.

Local absorption of biodiesel reached 1.67 million kiloliters (KL) in the first half, or 36.3 percent of this years total target. Throughout 2016, the consumption amounted to 3.65 million kiloliters.

“Indonesian palm oil has long been bombarded with criticism by our foreign counterparts,” the Energy and Mineral Resources Ministrys new and renewable energy director general, Rida Mulyana said recently.

“At some point, we need to fight the critics that have done everything to undermine our palm oil industry, including by using a smear campaign. We have to confront them because we also have our own interest in defending and supporting our palm oil farmers.”

Viriya P. Singgih THE JAKARTA POST/JAKARTA

 

Sumber: The Jakarta Post

Indonesia Optimalkan Potensi Pasar Rusia

 

PEMERINTAH ingin menggencarkan ekspor berbagai produk dan komoditas ke Rusia. Hal itu dilakukan untuk memanfaatkan embargo yang kini dihadapi negara pecahan Uni Soviet tersebut.

Seperti diketahui, Rusia tengah menghadapi embargo perdagangan dari Amerika Serikat, Uni Eropa, dan sekutu-sekutunya terkait dengan isu keamanan dan teritorial. Sementara itu, Rusia membalas dengan mengenakan sanksi pembatasan impor dari negara-negara tersebut. Akibat embargo dan kontraembargo itu, Rusia memerlukan sumber alternatif untuk memenuhi kebutuhan pangan, termasuk buah-buahan tropis serta produk esensial lainnya.

“Ini peluang yang tidak boleh hilang dari genggaman kita. Potensi hubungan ekonomi yang memanfaatkan situasi embargo dan kontraembargo ini melampaui isu-isu perdagangan dan investasi yang biasa karena kita juga melihat peluang di bidang pariwisata, pertukaran pelajar, kerja sama energi, teknologi, kedirgantaraan, dan lainnya,” imbuh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dalam keterangan resmi, kemarin.

Perdagangan bilateral antara Indonesia dan Rusia dapat dikatakan masih sangat rendah ketimbang potensinya. Pada periode Januari-Mei 2017 total perdagangan Indonesia-Rusia juga mengalami peningkatan 54,43% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu dengan nilai perdagangan sebesar US$1,12 miliar. Indonesia surplus US$77,45 juta dengan nilai ekspor sebesar US$599,97 juta dan nilai impor US$522,52 juta. Produk ekspor utama Indonesia ke Rusia antara lain kelapa sawit dan turunannya, kopi, karet, minyak kelapa, dan cokelat.

Enggar mengatakan potensi ekspor yang bisa ditingkatkan Indonesia ke Rusia antara lain minyak nabati, produk makanan, kehutanan, serta produk industri pertahanan.

Sebaliknya Rusia berminat berinvestasi di sektor energi dan menawarkan sejumlah produk teknologi tinggi seperti peralatan pengatur lalu lintas udara dan pesawat penumpang sipil.

Di kesempatan yang sama, kedua negara melakukan kerja sama yang dituangkan dalam memorandum of cooperation (MoC) antara Dewan Minyak Sawit Indonesia dan pengusaha minyak sawit Rusia. “Perdagangan minyak sawit Indonesia dapat meningkat dua kali lipat dalam 1-2 tahun ke depan,” ujar Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia Sahat Sinaga.

 

Sumber : Media Indonesia

GIMNI Siapkan 3 Strategi Hadapi Kampanye Negatif Sawit

Pangkalan Bun – Gabungan Industri Minyak Nabati (GIMNI) mempunyai strategi untuk menghadapi kampanye negatif di pasar Uni Eropa.

“Sudah ada survei pasar di Eropa lewat big data dan menyatakan bahwa sebagian besar masyarakat Eropa termakan isu kesehatan tentang produk makanan yang menggunakan kelapa sawit. Kondisi sekarang ini tidak mudah bagi para pelaku industri kelapa sawit,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, di Jakarta.

Beberapa bulan yang lalu, menurut Sahat, minyak sawit diisukan mengandung senyawa kimiawi, yaitu MCPD dan Glycidyl Ester. Senyawa kimia tersebut, jika dikonsumsi terus menerus, dapat memicu penyakit degeneratif yang menimbulkan kerusakan jaringan atau organ tubuh, seperti kanker.

“Isu tersebut sebagai kampanye negatif untuk mematikan pasar industri kelapa sawit Indonesia. Maraknya kampanye negatif tersebut tentu berdampak pada anjloknya konsumsi olahan kelapa sawit di Eropa,” papar dia.

Sahat mengatakan, konsumsi olahan kelapa sawit, khususnya pada industri makanan di Eropa pada 2016 hanya sekitar 3,3 juta ton, turun dari tahun 2015 yang mencapai 4,3 juta ton.

“Meski diterpa kampanye negatif, kami tetap optimistis dan sudah menyiapkan tiga strategi untuk bertahan. Pertama, dalam urusan bisnis minyak kelapa sawit, Indonesia akan bekerjasama dengan Malaysia untuk biodiesel,” ujarnya.

Strategi kedua, lanjut Sahat, pihaknya akan melebarkan pasar ke negara lain, tidak hanya Uni Eropa, namun juga perkuat pasar Asean. Program ini juga kerjasama dengan Malaysia.

“Tidak hanya kawasan Asean yang jadi bidikan, dua kawasan seperti Timur Tengah dan Afrika juga potensial. Strategi ini digunakan agar bisnis ekspor kelapa sawit Indonesia tidak hanya bergantung pada pasar Eropa,” tutur Sahat.

Ketiga, produktivitas olahan kelapa sawit harus ditingkatkan. Jika di pasar Eropa tidak dapat menembus perusahaan makanan, olahan kelapa sawit bisa digunakan untuk biodiesel dan oleochemical maupun bahan kimia lainnya.

“Mau tidak mau, produktivitas olahan kelapa sawit kita harus ditingkatkan. Semakin banyak manfaatnya, maka kita tidak perlu bergantung pada satu industri saja,” kata Sahat. (NEDELYA RAMADHANI/m)

 

Sumber: Borneonews.com