,

Konsisten Kembangkan Bahan Bakar Berbasis Minyak Sawit, Tiga Tokoh Peroleh Penghargaan DMSI

InfoSAWIT, JAKARTA – Untuk kali pertama Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), selaku induk dari seluruh asosiasi di sektor hulu sampai hilir sawit, memberika penghargaan terhadap beberapa tokoh penting dalam pengembangan sumbsr energi berbahan baku minyak sawit.

Ketiga sosok itu, pertama, Prof Subagjo sebagai Inventor Katalis Bagi Indonesia,  lantas kedua, Dr. Tatang Hernas Soearwidjaja, memperoleh penghargaan sebagai Promotor Pemanfaatan Biodiesel, kemudian ketiga, Ir. Sahat M Sinaga, memperoleh penghargaan sebagai Promotor Pengembangan Industri Biohidrokarbon.

Dikatakan Ketua Panitia Penghargaan DMSI, Prof Tien R Muchtadi, penghargaan itu diberikan lantaran ketiga sosok itu telah berjasa sangat besar dalam pengembangan industri biodiesel dan biohidrokarbon di Indonesia.

Misalnya saja Prof Subagjo, yang sudah melakukan penelitian katalis bersama timnya di Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis ITB semenjak tahun 1983 dan telah menghasilkan enam jenis katalis yang terbukti berfungsi baik.

Katalis pertama yang dibuat berbasis besi oksida sebagai absorben gas II2S dinamai PIMITBl. Penggunaannya untuk desulfurisasi gas alam. Pada 2004, Prof Subagjo bersama rekannya, Makertihartha dan Melia Laniwati, menemukan formula katalis yang dinamai PK100 HS, untuk hidrotriting (hydrotreating) nafta (NHT).

Uji coba skala pilot di Pusat Riset dan Teknologi Pertamina menggunakan 100 gram katalis menunjukkan hasil lebih baik daripada katalis komersial. Dari sinilah katalis itu dijuluki katalis ”merah putih” pertama. “Kehadiran inovasi katalis “Merah Putih” ini memegang peran penting bagi kemandirian teknologi tanah air,” tutur Prof Tien dalam sambutannya pada acara Penyerahan Penghargaan DMSI, yang diikuti InfoSAWIT, Rabu (26/8/2020)

Menindaklanjuti temuan tersebut, Masyarakat Biohidrokarbon yang diketuai oleh Ir. Sahat M. Sinaga, berusaha mengembangkan apa yang telah dihasilkan oleh ITB yaitu Katalis Merah Putih. Dengan terciptanya Katalis Merah Putih ini Indonesia tidak perlu lagi mengimpor minyak bumi setiap tahun,

Lantaran, Industri katalis ini akan mendorong untuk menuju kemandirian energi. Dari hasil riset, selain memiliki harga yang lebih ekonomis serta hemat energi, minyak dari kelapa sawit ini juga menghasilkan gasolin yang lebih baik dibandingkan fosil.

Sementara peran sosok Dr. Tatang Hernas Soerawidjaja, dalam pengembangan bahan bakar berbasis minyak sawit atau kerap dikenal biodiesel juga tidak bisa dianggap sepele, lantaran peran sentralnya dalam mendorong pengembangan biodiesel sawit semenjak 2010 dengan membentuk Forum Biodiesel Indonesia dan pada 2012 aktif membentuk Ikatan Ahli-ahli Bioenergi Indonesia (IKABI).

“Banyak paparan Dr. Tatang yang membahas mengenai proses pengembangan biodiesel sawit nasional,” kata Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Derom Bangun, dalam sambutannya saat acara Penyerahan Penghargaan DMSI.

Dengan jasa yang sudah diberikan oleh ketiga sosok tersbut, maka kata Derom, sudah sewajarnya DMSI memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya, lantaran dari ketiga sosok itu dihasilkan pengembangan biodiesel sawit yang bermanfaat bagi ekonomi bangi bangsa dan masyarakat.

“Melihat upaya mereka dalam mengembangkan sawit sebagai bahan bakar nabati yang sesungguhnya, maka kami perlu untuk memberikan penghargaan sebagai bentuk penghormatan atas hasil kerja yang telah dilakukan untuk industri kelapa sawit nasional,” tandas Derom. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

,

DMSI Serahkan Penghargaan Kepada 3 Inovator Sawit

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) menyerahkan penghargaan kepada 3 inovator dan tokoh di bidang kelapa sawit. Mereka adalah Prof. Dr. Ir. Subagjo, Dr. Ir. Tatang Hernas Soerawidjaja, dan Ir. Sahat Sinaga.

“Penghargaan ini merupakan apresiasi DMSI kepada para tokoh yang mengembangkan inovasi di bidang perkelapasawitan. Dengan penghargaan ini diharapkan dapat memotivasi dan memajukan industri,” ujar Prof. Tien R Muchtadi, Ketua Panitia Penghargaan DMSI, Rabu (26 Agustus 2020). Penghargaan ini diberikan secara virtual kepada 3 tokoh tersebut.

Derom Bangun, Ketua Umum DMSI, mengatakan pemberian penghargaan ini merupakan kegiatan perdana DMSI kepada para tokoh yang berkontribusi terhadap industri kelapa sawit. merka menunjukkan istimewa sekali untuk kemajuan biodiesel dan biohidrokarbon itu kita lakukan hari ini dan semoga pengharggan ini mendorong tokoh dan peneliti di tempat lain uutk menunjukakn pencapaian bagi bangsa.

“Kami harapkan bisa memberikan dampak luas bagi masyarakat dan industri minyak sawit pada khususnya. Karena DMSI menaungi asosiasi dari hulu sampai hilir. Kami berikan perhatian besar kepada sektor hulu, menengah, sampai hilir. Ke depan, akan ada penghargaan bagi pengembangan riset di bidang hulu seperti benih dan lainnya,” ujar Derom.

Derom menjelaskan bahwa penghargaan kepada Prof. Subagjo diberikan penghargaan atas kerja kerasnya dalam menghasilkan katalis. Penelitian katalis ini telah dikembangkan semenjak 1982 dan  berhasil dijalankan semenjak tahun lalu.

“Pemakaian katalis merahputih untuk konversi dari minyak sawit kepada biofuel itu pencapaian besar,” ujarnya.

Selanjutnya, pemberian penghargaan kepada Dr. Tatang Hernas merupakan apresiasi atas perannya kepada pengembangan biodiesel.

Penghargaan kepada Ir. Sahat Sinaga diberikan atas kontribusi dan kerja kerasnya terhadap pengembangan hilir sawit. Dijelaskan Derom Bangun bahwa inisiatif Sahat Sinaga bersama timnya dalam pengembangan biohidrokarbon juga berdampak positif kepada sawit.

rpt

Mahendra Siregar, Wakil Menteri Luar Negeri RI, memberikan apresiasi tinggi atas penghargaan kepada tiga tokoh sawit ini. Penghargaan ini dapat memberikan semangat luar biasa kesejahteraan petani dan stakeholder demi rantai pasok sawit kesejahtwraan. Terima kasih atas daya juang dan pengabdian. “Usia bukan hambatan bagi bapak-bapak untuk bisa kontribusi positif. Berikan keteladanan dan kepelopopran demi kemajuan minyak sawit Indonesia,” ujar Mahendra.

Plt. Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur Kemenristek/BRIN, Prof. Ismunandar  mengakui katalis merah putih yang dikembangkan Prof. Subagjo juga menginspirasi penelitian lain. Sebagai contoh, vaksin merah putih yang sekarang dalam proses penelitian.

Sementara itu, Deputi Menko Perekonomian Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian, Musdhalifah Machmud mengakui kerja keras ketiga tokoh tersebut telah dirasakan kontribusinya oleh pemangku kepentingan industri sawit. “Bagi saya, mereka semua ini adalah guru,” pungkas Musdhalifah.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

Kementerian ESDM: Kajian B40 Memasuki Uji Ketahanan 1.000 Jam

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah melakukan kajian terhadap Biodiesel 40 persen (B40) untuk bahan bakar kendaraan bermotor bermesin diesel. Penelitian ini meneruskan keberhasilan penerapan Biodiesel 30% (B30) sejak 1 Januari 2020 lalu.

Saat ini sedang dilakukan uji ketahanan 1.000 jam pada engine test bench di laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS” terhadap dua formulasi B40. Formulasi yang pertama adalah B40, yakni campuran 60% solar dengan 40% Fatty Acid Methyl Esther (FAME). Formulasi yang kedua adalah campuran 60% solar dengan 30% FAME dan 10% Distillated Fatty Acid Methyl Esther (DPME).

Kepala Balitbang ESDM Dadan Kusdiana menargetkan kajian penerapan B40 akan selesai di akhir tahun 2020. Namun, jelas Dadan, Balitbang untuk sementara tidak akan melakukan uji jalan B40 seperti yang dilakukan pada kajian penerapan B30, dikarenakan pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-2019).

“(Kajian) Akan selesai di akhir tahun, mungkin November kita mulai melakukan analisis lengkap dari semua. Untuk sementara kita tidak akan melakukan uji jalan di jalan raya, kan agak sulit ya kita akan memulai, agak takut keluar. Jadi kita mencari cara yang lain bagaimana ini tetap bisa berjalan,” ujar Dadan dalam laman Kementerian ESDM RI.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Tim Pengkajian B40 Sylvia Ayu Bethari menjelaskan bahwa kajian penerapan B40 ini telah sampai pada tahap uji ketahanan 1.000 jam pada engine test bench di laboratorium Lemigas.

“Metode uji ketahanan yang kami gunakan sudah mendapat persetujuan bersama dari Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) dan Ikabi (Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia). Saat ini yang sedang dilakukan adalah uji ketahanan untuk dua engine, engine yang pertama menggunakan sample bahan bakar B40, sekarang sudah 370 jam. Sedangkan untuk engine kedua formulasi B30 dengan DPME 10% sudah 615 jam,” jelas Sylvia.

Sebelumnya, Balitbang ESDM juga telah melakukan serangkaian kegiatan untuk menguji B40 ini, yakni uji karakteristik fisika-kimia formulasi bahan bakar B40 dan uji kinerja terbatas formulasi bahan bakar B40. Selain itu telah dilakukan pula evaluasi terhadap karakteristik fisika-kimia formulasi bahan bakar B40, hingga didapatkan dua formulasi yang akan diuji lebih jauh, yakni uji ketahanan 1.000 jam dan uji sampel pelumas.

Setelah uji ketahanan 1.000 jam selesai, tim Kajian B40 akan melakukan persiapan dan pelaksanaan uji presipitasi dan stabilitas penyimpanan. Usai seluruh tahapan kegiatan uji selesai, Sylvia mengatakan pihaknya akan segera melakukan evaluasi, pelaporan, dan penyusunan rekomendasi terkait hasil kajian penerapan B40 ini.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

Harga TBS Sawit Riau Periode 26 Agust – 1 Sept 2020 Naik Jadi Rp 2.012,58/Kg

InfoSAWIT, PEKANBARU — Merujuk hasil dari tim penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Riau merujuk surat Penetapan  Harga TBS Kelapa Sawit Provinsi Riau No.34 periode 26 Agust  s/d  1 Sept 2020, telah menyepakati harga sawit umur 10 – 20 tahun naik Rp 10,01/Kg menjadi Rp 2.012,58/Kg.

Berikut harga sawit Riau berdasarkan penelusuran InfoSAWIT,  sawit umur 3 tahun Rp Rp 1.482,12/Kg; sawit umur 4 tahun Rp 1.606,34/Kg; sawit umur 5 tahun Rp 1.756,57/Kg; sawit umur 6 tahun Rp 1.798,91/Kg; sawit umur 7 tahun Rp 1.869,09/Kg; sawit umur 8 tahun Rp 1.920,83/Kg.

Sementara sawit umur 9 tahun Rp 1.966,28/Kg dan sawit umur 10-20 tahun Rp 2.012,58/Kg, sawit umur 21 tahun Rp 1.926,55/Kg, dan sawit umur 22 tahun Rp 1.916,81/Kg, sawit umur 23 tahun Rp 1.908,69/Kg, sawit umur 24 tahun Rp 1.827,53/Kg dan sawit umur 25 tahun  Rp 1.782,90/Kg. Dimana harga minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan Rp 9.162,97/Kg dan harga Kernel Rp 4.825,64/Kg dengan indeks K 88,57%. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

,

Jaga Stabilitas Pasokan dan Harga Bapok, Mendag: Sinergi Kemendag-Polri Wujud Kehadiran Pemerintah

Jakarta, 25 Agustus 2020 – Sinergi Kementerian Perdagangan dan Kepolisian RI (Polri), khususnya Satuan Tugas (Satgas) Pangan berhasil menjaga kelancaran pasokan dan distribusi barang kebutuhan pokok (bapok) kepada masyarakat, di tengah kondisi cuaca ekstrem dan pandemi Covid-19 pada tahun ini. Sebagai bentuk apresiasi yang mendalam, Kementerian Perdagangan memberikan piagam kepada Satgas Pangan hari ini, Selasa (28/8) di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta. Piagam diserahkan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto kepada Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo.

Selain Polri, apresiasi juga diserahkan kepada 22 perusahaan pemerintah dan asosiasi pelaku usaha. Perusahaan dan asosiasi tersebut yaitu Perum Bulog, Perumda Pasar Jaya, PT Food Station Tjipinang Jaya, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi), Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI), Asosiasi Pedagang Gula Indonesia (APGI), Asosiasi Industri Minyak Makanan Indonesia (AIMMI), Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo), Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo), Asosiasi Pengusaha Impor Daging Indonesia (Aspidi), Asosiasi Distributor Daging Indonesia (ADDI), Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI), Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia (Nampa), Pinsar Indonesia, Pinsar Petelur Indonesia, Gabungan Perusahaan Perunggasan Indonesia (GAPPI), Gabungan Organisasi  Peternak Ayam Indonesia (GOPAN), Asosiasi Pengusaha Protein Hewani Indonesia (APPHI), Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), dan Asosiasi Agribisnis Cabe Indonesia (AACI).

“Penyerahan piagam ini merupakan apresiasi sekaligus ucapan terima kasih Kementerian Perdagangan terhadap Polri, khususnya Satgas Pangan dan pelaku usaha atas sinergi yang berjalan baik dalam menjaga stok, distribusi, dan harga bapok tahun ini. Sinergi Kementerian Perdagangan dan Polri ini juga merupakan bentuk kehadiran pemerintah bagi rakyat Indonesia. Selain itu, sebagai bentuk apresiasi kepada pelaku usaha yang telah mendukung pemerintah,” jelas Mendag Agus.

Mendag menyampaikan, pandemi Covid-19 berdampak sangat besar terhadap berbagai sektor usaha. Namun demikian, di tengah pelemahan ekonomi dunia pada kondisi pandemi Covid-19 kinerja perdagangan Indonesia mengalami suplus USD 8,75 miliar.

“Di tengah pandemi dan memasuki era new normal seperti saat ini, banyak hal yang harus kita sesuaikan dengan cepat, baik oleh Pemerintah, pelaku usaha maupun masyarakat. Kinerja perdagangan Indonesia ke dunia pada periode Januari—Juli 2020 mengalami surplus sebesar USD 8,75 miliar patut kita syukuri sebagai suatu capaian bersama di tengah pandemi yang melanda hampir seluruh negara di dunia,” jelas Mendag.

Mendag mengungkapkan, perlambatan perekonomian juga dirasakan para pedagang di pasar rakyat yang umumnya mengeluhkan kondisi relatif sepi dan adanya penurunan omzet. Pasar merupakan salah satu denyut perekonomian suatu daerah. Untuk itu, Kemendag telah melakukan langkah-langkah pemulihan aktivitas ekonomi di pasar rakyat melalui penerapan protokol kesehatan.

Pedagang harus tetap mencari nafkah dengan berdagang dan petani serta nelayan pun harus menyalurkan hasil panen dan tangkapannya ke pasar, karena itu untuk membantu pemulihan aktivitas ekonomi di pasar

rakyat, Kemendag mendorong pasar rakyat agar tetap dibuka saat pandemi dengan mengedepankan protokol kesehatan. Selain itu, Kemendag melakukan realokasi serta re-focusing anggaran, salah satunya untuk  program pasar rakyat dan UMKM,” jelas Mendag.

Sebelumnya, Kemendag juga menerbitkan Surat Edaran Nomor 12 Tahun 2020 pada 28 Mei 2020 Tentang Pemulihan Aktivitas Perdagangan Yang Dilakukan Pada Masa Pandemi COVID-19 dan New Normal tentang protokol kesehatan di Pasar Rakyat, Ritel Modern, Pusat Perbelanjaan, Restoran, hingga tempat hiburan.

Di sisi lain, lanjut Mendag, untuk membantu mempertahankan daya beli masyarakat, Kemendag juga bertanggung jawab menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bapok. Hal ini untuk mendukung pencapaian target inflasi yang terkendali pada kisaran 3 persen. Untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bapok, Kemendag telah melakukan beberapa kali operasi pasar dan pengawasan kegiatan perdagangan di beberapa daerah.

Menurut Mendag, tugas ini merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan sinergi dan kerja sama berbagai pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun pelaku usaha bapok. Berbagai kebijakan dan langkah stabilisasi harga bapok yang dilakukan akan berjalan dengan efektif jika didukung seluruh pihak.

“BUMN sebagai operator kebijakan, pemerintah daerah sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat, Satgas Pangan sebagai pihak penegak hukum dan pengawas kelancaran distribusi, pelaku usaha produksi dan distribusi sebagai pihak yang terlibat langsung dalam proses perdagangan barang, serta masyarakat. Diharapkan sinergi yang sudah terjalin dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan ke depan,” jelas Mendag.

Sementara Kabareskrim Listyo menyampaikan, ketersediaan stok dan stabilitas harga bapok harus terus dijaga karena kelangkaan stok dan kenaikan harga pangan dapat menimbulkan keresehan di masyarakat, terutama pada hari-hari besar keagamaan nasional. Apalagi saat ini kita tengah dihadapkan pada situasi pandemic Covid- 19.

“Untuk itu, kami akan terus mendukung Kementerian Perdagangan dalam menjaga stok dan stabilitas harga bapok. Kami juga selalu siap bersinergi dengan Kementerian Perdagangan agar masyarakat bisa mendapatkan bapok dengan harga terjangkau,” jelas Listyo.

Selain itu, Listyo juga mengungkapkan bahwa menjaga stabilitas harga bapok merupakan tugas bersama. “Pengawasan terhadap stok dan harga bapok perlu terus dilakukan. Hingga saat ini, kami juga mendapatkan informasi bahwa stok bapok cukup dan harga terus terjaga,” imbuh Listyo.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kemendag Suhanto berharap penghargaan ini dapat menjadi perekat yang lebih kuat tali kerja sama antara Polri, Kementerian Perdagangan, dan pelaku usaha. Selain itu, dapat menjadi pemicu semangat untuk terus bekerja sama.

“Diharapkan Kemendag, Polri, kementerian/lembaga, Institusi pemerintah lainnya, serta pelaku usaha dapat senantiasa bersinergi dan bekerja sama agar tercipta iklim usaha yang kondusif. Selain itu, dapat tetap menjaga rasa aman di masyarakat, khususnya dalam sektor pangan di tengah kondisi pandemi Covid-19 saat ini,” tutup Suhanto.

 

Sumber: Allrelease.id

Pupuk Kaltim Kembangkan PreciPalm, Teknologi Perkebunan Sawit

PT Pupuk Indonesia (Persero) melalui anak usahanya PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) mengembangkan Precision Agriculture Platform for Oil Palm (PreciPalm), yang merupakan solusi pertanian untuk perkebunan sawit.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Bakir Pasaman menyampaikan, PreciPalm merupakan teknologi yang menyediakan informasi mengenai kondisi nutrisi unsur makro lahan kelapa sawit secara cepat dan presisi dalam bentuk peta digital lahan, yang diolah dari citra satelit dan model matematis.

“PreciPalm merupakan solusi pertanian presisi berbasis satelit pertama di Indonesia untuk perkebunan kelapa sawit. PreciPalm dapat memberikan manfaat dalam mendukung efektivitas manajemen pemeliharaan kebun kelapa sawit di Indonesia,” ujar Bakir dalam keterangan pers, Senin (24/8/2020).

PreciPalm merupakan inovasi penerapan pertanian presisi sebagai langkah antisipasi disrupsi industri, berupa pemanfaatan teknologi informasi untuk menentukan rekomendasi pemupukan presisi dengan menggunakan teknologi satelit untuk mengidentifikasi, menganalisis, serta mengolah informasi keragaman spasial dan temporal pada lahan kebun kelapa sawit.

Informasi karakteristik lahan itu kemudian digunakan untuk menjadi dasar dalam menghasilkan rekomendasi pemupukan Nitrogen (N), Phosphor (P), Kalium (K) dan Magnesium (Mg), serta dapat digunakan untuk pemantauan kondisi nutrisi lahan perkebunan pascapemupukan secara real-time.

Bakir mengatakan, inovasi PreciPalm yang merupakan bagian dari transformasi bisnis Pupuk Indonesia Grup itu akan meningkatkan daya saing produk pupuk perseroan di era industri 4.0. Pertanian presisi merupakan upaya efektif untuk mendapat keuntungan optimal dan berkelanjutan, dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

“PreciPalm menjadi salah satu rencana strategis dalam transformasi bisnis PI Grup, di mana perusahaan dituntut untuk mampu fokus pada customer oriented (berorientasi konsumen),” ucap Bakir.

Bakir menuturkan, PreciPalm memberikan prospek yang sangat baik untuk mendukung pemasaran pupuk NPK nonsubsidi. Prospek pemanfaatan Precipalm, menurut Bakir, juga strategis karena baru Pupuk Indonesia melalui Pupuk Kaltim yang memiliki solusi rekomendasi pemupukan berbasis satelit.

Petani sawit dapat fokus pada peningkatan produktivitas kebun sawit dengan menerapkan prinsip pertanian presisi sebagai cara menuju pertanian modern, seperti yang dicanangkan oleh Kementerian Pertanian.

“PreciPalm dapat menjadi cikal bakal penopang kesuksesan PI Grup dalam mengimplementasikan solusi pertanian melalui rekomendasi pemupukan presisi,” tutur Bakir.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Utama Pupuk Kaltim Meizar Effendi menjelaskan bahwa pesatnya perkembangan pertanian yang menuntut adanya pengembangan inovasi, menjadi dasar terwujudnya PreciPalm Pupuk Kaltim yang bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB).

“PreciPalm menjadi konsep pertanian cerdas (smart farming) untuk mengoptimalkan peningkatan hasil pertanian secara kualitas dan kuantitas, dengan efisiensi penggunaan sumber daya,” ujar Meizar, Senin (24/8/2020).

Setelah diluncurkan pada Desember 2018, lalu uji lapang di kebun sawit PTPN 3, PTPN 5 dan PTPN 7 pada kuartal pertama 2019, saat ini Pupuk Kaltim telah memasuki tahap komersialisasi PreciPalm untuk dipasarkan pada konsumen, baik korporasi maupun petani kelapa sawit.

Sebagai tindak lanjut, pada Senin (24/8) Pupuk Kaltim melaksanakan pelatihan peningkatan kompetensi SDM Pupuk Kaltim dalam bidang pertanian presisi dan Precipalm.

Pelatihan itu bertujuan untuk meningkatkan kompetensi di bidang pertanian presisi, penginderaan jauh (remote sensing) dan sistem informasi geografis yang dibutuhkan dalam mengoperasionalkan PreciPalm.

“Dengan pelatihan ini, kami berharap karyawan Pupuk Kaltim dapat siap memberikan agro services solution sebagai added value yang diberikan kepada konsumen,” ucap Meizar.

Pengembangan PreciPalm juga diapresiasi oleh Rektor IPB Prof Arif Satria lantaran jadi langkah awal yang baik untuk pengembangan industri 4.0 di bidang pertanian.

Saat ini, IPB juga sedang melakukan uji coba dengan robot khusus pemupukan dan robot khusus panen sawit. Robot dilengkapi kamera dan sensor, yang akan mengetahui apakah sawit layak panen atau tidak. Jika dianggap belum layak, maka akan dilewatkan.

“Inovasi robotics ini tentunya perlu dikembangkan, karena pengukuran yang dihasilkan sudah presisi melalui instrumen,” ujar Arif, Senin (24/8/2020).

 

Sumber: Wartakonomi.co.id

 

Benarkah Biodiesel jadi Penyelamat Industri Sawit RI?

Jakarta, CNBC Indonesia – Pelaku industri minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) domestik menyatakan pemerintah harus mendorong peningkatan penggunaan biodiesel untuk menyelematkan industri. Apalagi pemerintah bakal menjadikan biodiesel sebagai tonggak utama energi ke depannya.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono optimististi, kebijakan pemerintah terkait biodiesel tersebut akan membuat produksi CPO bakal terus diserap untuk ketahanan energi nasional.

“Road map energi salah satunya bahan bakar nabati yang tentunya gunakan sawit. Pemerintah akan terus ditingkatkan, baik kandungan campuran dan secara teknologi adalah jenisnya,” kata Joko kepada CNBC Indonesia, Minggu (23/8).

Variasi penggunaan biodiesel yang berbahan baku sawit diyakini bakal terus meningkatkan konsumsi. Apalagi, dalam beberapa waktu terakhir Joko menyebut penyerapan sawit dari dalam negeri terus meningkat. Meski di sisi lain, permintaan dari ekspor cenderung menurun.

“Sekarang aja 70% ke ekspor, domestik 30%. Tahun ini ekspor alami pelemahan permintaan. Berkurang eskpor 7% tapi domestik meningkat. Jadi seimbang, ke depan saya liat gitu. Dalam negeri permintaan naik, luar kita liat. Ke depan saya yakin produksi kita meningkat,” jelas Joko.

Di sisi lain, Pemerintah menegaskan tetap berkomitmen melanjutkan program biodiesel 40% atau B40 yang diproyeksikan bakal banyak menyerap CPO. Sebelumnya, proyek B30 sudah terlaksana. Kebijakan itu akan ditingkatkan lagi ke depannya.

“Ke depan saya targetkan implementasi B30 melalui D100 yang merupakan campuran 40% bahan bakar nabati. Dimana D100 digunakan 10%. Dan dilakukan pada bulan Juli 2021,” sebutnya.

Hingga akhir pekan lalu, harga CPO berada pada kisaran 2.681 ringgit (RM) per ton. Meski demikian, CPO masih belum jauh dari level tertinggi 6 bulan RM 2.808/ton yang dicapai pada 4 Agustus lalu. Sejak mencapai level tersebut hanya minyak nabati ini bergerak sideways.

Harga CPO bergerak bagai roller coaster sepanjang tahun ini. Pada pertengahan Januari lalu, CPO mencapai level tertinggi 3 tahun di RM 3.150/ton, tetapi setelahnya terjun ke 38,44% ke RM 1.939/ton pada 6 Mei lalu. Level tersebut merupakan yang terendah sejak Juli 2019.

Setelah mencapai level terendah 10 bulan tersebut, CPO kembali melesat naik 44,81% ke RM 2.808/ton pada 4 Agustus lalu.

Pandemi penyakit virus corona (Covid-19) menjadi pemicu utama pergerakan roller coaster tersebut. Guna meredam penyebaran virus corona, banyak negara menerapkan kebijakan karantina (lockdown) sehingga roda bisnis menjadi menurun bahkan nyaris mati suri. Akibatnya permintaan CPO pun menurun, harganya menjadi merosot.

Sementara selepas Mei, negara-negara mulai melonggarkan lockdown, perekonomian China yang merupakan asal virus corona mulai bangkit, permintaan CPO pun perlahan naik lagi. China merupakan salah satu konsumen CPO terbesar di dunia, sehingga ketika perekonomiannya bangkit memberikan dampak yang besar.

Sumber: Cnbcindonesia.com

Harga TBS Sawt Jambi Periode 21-27 Agustus 2020 Naik Rp 13,15/Kg

InfoSAWIT, JAMBI – Merujuk hasil dari tim penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Jambi, harga TBS Kelapa Sawit Provinsi Jambi periode 21-27 Agustus 2020, telah menyepakati harga sawit umur 10 – 20 tahun naik Rp 13,15/Kg menjadi Rp 1.883,59/Kg.

Berikut harga sawit Jambi berdasarkan penelusuran InfoSAWIT,  sawit umur 3 tahun Rp Rp 1.485,91/Kg; sawit umur 4 tahun Rp 1.571,59/Kg; sawit umur 5 tahun Rp 1.645,06/Kg; sawit umur 6 tahun Rp 1.714,68/Kg; sawit umur 7 tahun Rp 1.758,13/Kg; sawit umur 8 tahun Rp 1.794,18/Kg.

Sementara sawit umur 9 tahun Rp 1.830,36/Kg dan sawit umur 10-20 tahun Rp Rp 1.883,59/Kg, sawit umur 21-24 tahun Rp 1.824,64/Kg, dan sawit umur 25 tahun Rp 1.736,76/Kg. Dimana harga minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan Rp 8.809,27/Kg dan harga Kernel Rp 4.263,55/Kg dengan indeks K 87,56%. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

,

Cocok untuk Pertamina, Pabrik Sawit Petani Disarankan Produksi IVO

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Keinginan petani mendirikan pabrik sawit ternyata mendapatkan dukungan berbagai pihak. Petani disarankan menghasilkan minyak sawit yang dapat dipakai memenuhi kebutuhan green fuel Pertamina. Sahat Sinaga, Ketua Masyarakat Biohidrokarbon Indonesia, Sahat Sinaga, Ketua Masyarakat Biohidrokarbon Indonesia, menuturkan lahirnya katalis merah putih yang dikembangkan Institut Teknologi Bandung (ITB) memberikan potensi besar bagi pabrik sawit petani. Pabrik sawit petani sebaiknya  memilih jenis produk minyak sawit untuk kebutuhan energi dan bahan bakar.

Ia menyarankan supaya pabrik petani menghasilkan minyak sawit jenis Industrial Vegetable Oil (IVO). Dengan memilih produksi IVO, petani tidak perlu pusing memikirkan tingginya asam lemak bebas atau free fatty acid. Selama ini, buah petani kurang dihargai bagus karena persoalan asam lemak bebas tersebut. Adapun penyebab tingginya asam lemak bebas yaitu tingkat kematangan buah, buah terlambat dikirim ke pabrik, dan pemanenan yang kurang bagus. Alhasil petani tidak lagi kelimpungan memikirkan masalah tersebut.

Benefit lain IVO adalah traga oil mill lebih efisien, biaya produksi rendah, dan menjaga harga TBS (Tandan Buah Segar) sawit petani. “Kalau pabrik petani hasilkan IVO dapat memasok kebutuhan Pertamina dan pembangkit listrik PLN,” jelas Sahat Dialog Webinar Sesi Kedua UMKM Sawit bertemakan Peluang Pengembangan Mini CPO Plant bagi UMKM Sawit yang diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS), Jumat (14/8/2020)..

Ia mengatakan teknologi pabrik sawit petani sebaiknya tidak menggunakan teknologi usang. Pakailah teknologi terkini dan disesuaikan kondisi geografis kebun petani. Dalam mengelola pabrik, pengurus koperasi/kelompok tani disarankan menggunakan tenaga professional.

“Supaya pabrik berhasil, manajemen pabrik sebaiknya dikelola profesional. Bukan pengurus koperasi yang mengelola pabrik,” ujar Sahat.

Disarankan pula perkebunan sawit milik petani berada dalam satu entitas korporasi dengan pabrik sawit. Kerapihan manajemen ini sangat penting untuk menjaga keberlanjutan pabrik sawit.

Sahat mengatakan Pertamina tidak perlu pusing mencari bahan baku untuk green fuel. Lantaran, pabrik sawit petani dapat memenuhi kebutuhan mereka. Sekarang ini, perkebunan sawit petani mencapai 41% dari total luas perkebunan sawit 16,3 juta hektare di Indonesia.

Pada Juli kemarin, Nicke Widyawati, Dirut Pertamina mengusulkan dibuat aturan domestic market obligation (DMO) minyak sawit untuk menjaga keberlangsungan bisnis Pertamina. Pasalnya, Pertamina sedang mengembangkan produk bahan bakar berbasis sawit seperti D100, bioavtur, dan green gasoline.

Dijelaskan Nicke bahwa perluasan program B30 menjadi D100 serta inovasi green fuel akan meningkatkan kebutuhan CPO di dalam negeri. Dikhawatirkan peningkatan ini  akan mendongkrak harga CPO

Sumber: Sawitindonesia.com

Penghasil CPO Terbesar di Indonesia, Gubri Syamsuar Mengaku Terus Perjuangkan DBH Kelapa Sawit

RIAU1.COM – Meski belum ada titik terang daerah yang memiliki perkebunan kelapa sawit mendapatkan Dana Bagi Hasil (DBH) dari sektor perkebunan tersebut, Gubernur Riau Syamsuar menyebutkan bahwa hingga kini pihaknya masih terus berjuang untuk mendapatkan dana bagi hasil tersebut.

Dia mengaku upaya yang dilakukan, yakni terus mendorong DPR RI membahas Undang-Undang Dana Perimbangan bisa disesuaikan.

“Perlu dorongan dari DPR RI supaya harapan daerah dapat DBH sawit bisa terwujud. Prosesnya masih jalan. Kami sebagai kepala daerah sejauh ini berharap besar kepada DPR agar segera diselesaikan (dasar hukumnya,red),” ujarnya.

Tambah dia, hingga kini perekonomian Riau masih ditopang oleh sektor primer berbasis sumber daya alam. Sektor tersebut antara lain, pertanian, perkebunan dan kehutanan, serta sektor pertambangan. Kontribusi Riau terhadap nasional pada sektor-sektor tersebut cukup signifikan.

Diuraikannya, bahwa sektor perkebunan yang memberikan kontribusi besar bagi Riau masih pada komoditi kelapa sawit, kelapa, karet dan sagu. “Sawit misalnya, hingga kini tercatat sekitar 2,8 juta hektare dengan jumlah produksi 9,2 juta ton lebih,” terang dia.

“Kami berani mengklaim bahwa sumbangan produksi dari Riau terbesar se-Indonesia, dan kontribusi Riau terhadap ekspor CPO secara nasional sebesar 40%,” ungkapnya.

 

Sumber: Riau1.com