Forum Sawit Indonesia (FoSI) 2022

1. Teknologi olah TBS menjadi CPO yng sekarang dipakai di seluruh PKS yng ada di Indonesia adalah ” wet-process”.
2.Teknologi yng dipakai itu menggunakan uap ( steam bertekanan 3 bar pada tahap ke-3 pemanasan ) di Sterilizer, atau temperatur 142 der C…dan konsekwensinya
a) merusak gizi/mikronutrisi didalam minyak sawit krn diolah pada temperatur tinggi.
b) banyak kondensat terjadi, dan minyak sawit secara otomatis banyak terbawa ke limbah dan juga meresap ke Tandan Kosong

Limbah cair inilah sumber penghasil emisi karbon yng tinggi ..sekitar 1.026,4 kg CO2 eq/ton CPO yng dihasilkan.
Oleh karena itu pk Sahat menyampaikan teknologi alternatif untuk mengolah TBS ke minyak sawit dengan metoda ” dry-process”, dengan temperatur proses < 95 der Celcius…supay
i. Emisi karbon hanya tinggal 269,7 kg
ii. Mikronutrisi tetap terjaga utuh didalam minyak sawit
iii. Kandungan Chloridesnya < 3 ppm
Maka minyak sawit yng dihadilkan teknologi ” dry-process” ini disebut SPO ( Steam-less Palm.Oil) bukan disebut CPO yng banyak mengandung Chlorides dan Mikronutrisi ( Karotene dan Total Vit.E) yng relatif rendah.

POMill dengan ” dry-process” ini juga disebut dgn istilah SPOT & IRU ..dan sedang di kembangkan di Kab.Bstanghari -Provinsi Jambi.

 

 

,

Forum Sawit Indonesia (FoSI) 2022

Forum Sawit Indonesia (FoSI) 2022 resmi dibuka yang akan berjalan dari 29-30 November 2022 di Grha Instiper Yogyakarta. Pembukaan acara dihadiri tokoh perkelapasawitan nasional dari berbagai sektor mulai asosiasi, pengusaha, akademisi, dan pemerintahan.

“Sawit sumber kemakmuran bangsa yang menjadi sumber pangan, dan energi terbarukan bagi dunia, Kelapa Sawit terus tumbuh dan berkembang sepanjang masa. Atas dasar itulah, perlu dukungan perlindungan kita semua khususnya pemerintah,” ujar Dr. Purwadi, Ketua Panitia FoSI 2022 dalam pidato pembukaan.

Pada forum ini para pihak kita ajak untuk berfikir jenih untuk kebutuhan kebijakan dalam jangka panjang,” Harsawardana. Pembukaan FOSI 2022 dihadiri Tokoh Perkelapasawitan nasional antara lain Dr. Bayu Krisnamurthi, Ir. Achmad Manggabarani, Prof. Agus Pakpahan, Joko Supriyono, Dr. Gulat ME Manurung, Paulus Tjakrawan, Sahat Sinaga, Eddy Abdurrachman, Rapolo Hutabarat. FOSI 2022 akan menghadirkan 5 topik diskusi yang mengundang FoSI akan mengundang delapan eselon satu dari delapan kementerian terkait pembangunan sawit

,

Harga Minyak Goreng Sudah Stabil, Efek DMO CPO Tak Terlihat Lagi

 

 

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) minyak mentah sawit atau crude palm oil (CPO) masih berjalan hingga kini.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengatakan,  pemerintah akan mempertimbangkan pencabutan DMO jika stok dan harga minyak goreng di pasar sudah stabil.

Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Eddy Martono mengatakan sebenarnya dengan stok dan harga minyak goreng yang sudah berlimpah dan murah membuat fungsi dari penerapan kebijakan DMO sudah tidak terlihat lagi.

“Tapi pemerintah tidak mencabut DMO, kemungkinan untuk berjaga-jaga jika harga CPO naik lagi,” jelas Eddy pada Kontan.co.id, Selasa (11/10).

Sementara Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Goreng Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga sepakat untuk mempertahankan pola DMO ini berjalan paling tidak sampai akhir tahun ini.

Menurutnya, saat ini harga CPO dunia sudah mulai membaik. Untuk itu mempertahankan DMO saat ini dianggap paling tepat agar tidak membuat gaduh industri minyak goreng.

“Kini harga  sawit di pasar global juga sedang menanjak naik, jadi masih perlu payung untuk jaga-jag. Jadi dibiarkan saja dulu pola itu berjalan sampai akhir tahun kelihatannya.” jelas Sahat.

Meski demikian Sahat setuju untuk kebijakan DMO nantinya dapat dicabut dan dievaluasi, dan bisa diganti dengan pemberian insentif kepada distributor minyak curah rakyat, bukan ke produsen seperti yang selama ini berjalan.

 

 

Su,mber: Kontan.co.id

,

Pungutan Ekspor Sawit Dihapus Sampai Akhir 2022, GIMNI: Keputusan yang Bijak

 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebutkan rencana pemerintah akan memperpanjang penghapusan pungutan ekspor (PE) kelapa sawit dan produk turunannya hingga akhir tahun 2022.
Adapun penghapusan tarif pungutan ekspor kelapa sawit ini awalnya diterapkan sejak Juli 2022 sampai 31 Agustus 2022, namun baru saja diperpanjang hingga 30 Oktober 2022.
Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, menyebutkan pemerintah bijak jika perpanjangan tersebut jadi diterapkan.
“Kalau tarif pungutan ditiadakan sampai dengan akhir tahun, maka itu adalah keputusan yang bijak dari pemerintah, dan kita bisa melihat seluruh aspek dinamika bisnis sawit baik lokal dan juga global,” katanya saat dihubungi kumparan, Rabu (5/10).
Sahat memaparkan, harga minyak mentah dunia masih berada di atas USD 89,5 per barel, sehingga kebutuhan subsidi untuk biodiesel atau B30 minim. Di sisi lain, menurut dia, BPDPKS belum memerlukan fresh money.
Dia menambahkan faktor lain yakni pasar global sangat butuh vegetable oil, termasuk sawit, karena pengetatan pasokan akibat musim panas berkepanjangan di Uni Eropa dan China, maka produksi rapeseed oil dan soybean oil mengalami kemunduran pasokan.
Sama halnya juga dengan Malaysia, lanjut Sahat, terdapat kondisi short supply atau keterbatasan pasokan minyak sawit akibat kekurangan tenaga kerja. Sementara itu, Juli sampai Desember adalah peak season di Indonesia, Tandan Buah Segar (TBS) sedang melimpah.
“Dari ketiga kondisi lapangan itu, dan dengan situasi pasar global yang short supply, dengan relaksasi tarif pungutan nol maka Indonesia bisa mengekspor di level 3,4 – 4 juta ton per bulan,” jelas Sahat.
Dengan demikian, dia berkata peningkatan ekspor sawit Indonesia karena penghapusan pungutan ekspor bisa membantu kekurangan pasokan di pasar global, sekaligus mampu meraup devisa untuk memperkuat cadangan devisa Indonesia.
Sahat menambahkan, karena melimpah ruahnya TBS maupun produk minyak goreng di Indonesia, kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) sawit juga seharusnya bisa dihapuskan.
“Itulah namannya kebijakan yang bijak oleh Kabinet Pak Jokowi ini, dan oleh karena stok minyak goreng rakyat juga sudah membanjiri di mana-mana di pelosok Indonesia, regulasi DMO itu dihapus saja sementara ini,” pungkasnya.
Sumber: Kumparan.com
,

Gandeng FMIPA-UI, NGE Siap Hasilkan Produk Sawit Bergizi Tinggi

 

DEPOK, SAWIT INDONESIA – Pengembangan teknologi produk sawit bernilai tambah dan bermanfaat bagi kesehatan tubuh terus berjalan di masyarakat. Kerjasama antara PT Nusantara Green Energy (NGE) dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) Melalui Unit Kerja Khusus Lembaga Sains Terapan (UKK LST) sangat dibutuhkan dalam upaya menyepakati kerjasama pengembangan inovasi produk industri kelapa sawit dengan melalui penelitian “Peningkatan nilai tambah Steamless Palm Oil (SPO) sebagai Minyak Bergizi Tinggi Mengandung Zat Fitonutrien Alami untuk Kesehatan Tubuh dan Pencegahan Stunting dan Kekurangan Gizi (Malnutrisi)”.

Direktur Utama PT Nusantara Green Ir. Sahat M. Sinaga menjelasakan kerja sama dengan UI sangat penting untuk dilakukan sebab menurutnya UI memiliki Fakultas dengan disiplin keilmuan yang sangat beragam sehingga dinilai mampu mendukung kegiatan penelitian.

“Teknologi steamless palm oil ini dapat menurunkan emisi karbon lebih besar daripada konvesional. Selain itu, belanja modal teknologi ini untuk pembangunan pabrik sawit kapasitas 10 Ton TBS per ja lebih rendah,” ucap Sahat dalam jumpa pers.

Kerjasama PT NGE dan FMIPA UI ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) kedua belah pihak dilakukan oleh Ketua UKK LST FMIPA UI Prof. Dr. Jatna Supriatna, M.Sc. dan Direktur Utama PT NGE Ir. Sahat M. Sinaga, pada Selasa (27/9/2022) di Aula Sinarmas Gedung Laboratorium Riset Multidisplin FMIPA UI – PT Pertamina (Persero), Kampus UI, Depok.

Kerja sama ini fokus pada eksplorasi bahan baku, serta pengembangan inovasi produk industri kelapa sawit dalam bidang kesehatan dan farmasi guna mempertahankan kandungan nutrisi alami pada minyak sawit.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Bambang Permadi Soemantri Brojonegoro, Komisaris Utama PT Nusantara Green Energy (NGE), mengungkapkan keinginannya untuk menguatkan peran Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universita Indonesia (UI) dalam bidang riset yang memberikan manfaat kepada masyarakat.

“Tentunya, acara hari ini sangat relevan dengan bidang yang ada di FMIPA UI, sehingga menjadi penggerak dari riset dasar yang baik,” ujarnya.

Prof. Bambang Permadi Soemantri Brojonegoro, Komisaris Utama PT Nusantara Green Energy (NGE), mengungkapkan keinginannya untuk menguatkan peran Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universita Indonesia (UI) dalam bidang riset yang memberikan manfaat kepada masyarakat.

Riset dasar tersebut, kata Prof. Bambang, nantinya menjadi sebuah inovasi yang dapat digunakan, baik dari sisi komersial oleh perusahaan maupun manfaat langsung kepada masyarakat, dengan tetap membawa amanat yang mampu membantu mensejahterakan masyarakat.

Lebih lanjut, ia berujar, kemampuan Indonesia dalam mengembangkan riset dasar jika dilanjutkan dengan benar disertai dengan plan dan roadmap yang jelas, mampu membantu menjawab kebutuhan masyarakat.

“Salah satunya melalui potensi pengelolaan sumber daya sawit yang mampu membantu perekonomian masyarakat Indonesia. Diharapkan melalui upaya pengelolaan steamless palm oil, mampu membantu pengurangan stunting di Indonesia sebagai sebuah bentuk substitusi report yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat dan petani-petani yang ada,” katanya.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UI, Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris, M. Sc. menegaskan bahwa UI mendukung penuh kerja sama ini. Menurutnya UI perlu bersinergi dengan indistri dalam melahirkan riset dan inovais yang memberikan manfaat secara langsung bagi masyarakat Indonesia.

“UI sangat mendukung dengan karya-karya inovasi yang dilakukan para peneliti UI dan UI juga selalu kerja sama dengan semua kalangan salah satunya dengan industri. Itu kenapa pada hari ini kita melakukan kerja sama penandatanganan kerja sama antara riset pengembangan SPO tadi dengan PT NGE,” ujar Prof. Haris.

Sejak 2006, Indonesia merupakan produsen minyak sawit nomor satu di dunia. Pada 2020, luas perkebunan sawit mencapai 16,38 juta ha. Secara alami minyak sawit mentah yang berasal dari Indonesia mengandung fitonutrien antara lain karotenoid (sebagai provitamin A); tocopherol dan tocotrienol (Vitamin E); fitosterol (penurun kolesterol); dan lainnya. Sayangnya dengan teknologi yang sekarang dipakai, fitonutrien tersebut hilang atau rusak, mulai dari pengolahan buah sawit menjadi CPO (Crude Palm Oil), lalu lebih hilang lagi pada proses refining, bleaching, dan deodorising minyak sawit.

Stunting menjadi salah satu isu kesehatan yang mendapat perhatian khusus pemerintah. Di Indonesia, stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih banyak dijumpai dimana-mana dan perlu diatasi secara serius. Salah satu penyebab stunting adalah kekurangan Vitamin A. Percepatan penurunan stunting diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) nomor 72 tahun 2021.

Dalam upaya meningkatkan nilai tambah dari SPO yang dihasilkan dari teknologi SPOT (Steamless Palm Oil Technology ) dan IRU (Impurities Removable Unit) yang mengolah buah sawit menjadi minyak makan bernutrisi tinggi, PT NGE bersama FMIPA UI akan mengembangkan applikasi dari SPO ke berbagai bidang kesehatan dan farmasi yang bernilai tambah tinggi.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

,

Indonesia dan Tantangan Industri Kelapa Sawit

 

Trubus.id — Industri kelapa sawit menjadi salah satu topik yang banyak diperbincangkan belakangan ini. Pembahasan topik kelapa sawit dinilai penting karena berhubungan dengan ketahanan pangan yang sekaligus menjadi prioritas riset nasional.

Menurut Prof. Dr. Jatna Supriatna, Kepala Unit Kerja Khusus (UKK) Lembaga Sains Terapan (LST) FMIPA UI, lebih dari 50% produksi minyak sawit dunia berasal dari Indonesia. Sayangnya, royalti untuk hasil riset kelapa sawit dari Indonesia sangat kecil. Hal ini karena mayoritas hak paten adalah milik asing.

“Ini merupakan tantangan. Kita harusnya bisa, sumber daya ada, sarana ada, ilmunya ada, tinggal kita satukan tim-tim kita. Kami dari LST mencoba untuk memfasilitasi ini,” kata Prof. Jatna, seperti dikutip dari laman Universitas Indonesia, saat acara MIPAtalk Series 9 bertajuk “Innovation in Palm Oil Industry Makes Indonesia Leads in Fulfilling the World’s Energy Crisis” pada Kamis (15/9) di Gedung Laboratorium Riset Multidisiplin FMIPA UI.

Apalagi, industri minyak sawit di Indonesia memiliki sejarah panjang sejak 1848. Kondisi alam Indonesia yang cocok dengan pohon sawit membuat sawit tumbuh subur di Indonesia.

Menurut Sahat M. Sinaga, M.T., Executive Director Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), industri sawit mengalami banyak tantangan dan perkembangan.

Tantangan di industri sawit berkaitan dengan dampak negatif terhadap alam dan kesehatan yang juga menjadi kekhawatiran global saat ini, sedangkan perkembangan sawit dapat dilihat terutama di bidang pengolahannya.

Pada umumnya, minyak sawit diolah melalui proses sterilisasi basah (wet-proccess) dengan menggunakan uap. Proses ini meninggalkan kadar chloride atau klorida tinggi di minyak sawit.

Sawit mentah dari Indonesia secara alami mengandung karotenoid (provitamin A), tocopheroldan tocotrienol (vitamin E), serta fitosterol (penurunan kolesterol). Akan tetapi, proses produksi atau pengolahan minyak nabati atau crude palm oil (CPO) konvensional dapat merusak kandungan-kandungan ini.

Oleh karena itu, diperlukan teknologi serta proses yang tepat untuk menjaga kandungan bermanfaat dari minyak sawit sehingga dapat menjadi nilai tambah bagi sawit.

Pada 2022, PT Nusantara Green Energi (NGE) bersama para peneliti memperkenalkan proses pengolahan minyak sawit melalui dry-process atau steamless di Batanghari, Jambi. Menurut Sahat, jika sterilisasi dihilangkan dan diganti dengan dry-process, minyak sawit akan lebih aman dan sehat.

Sawit tidak hanya bermanfaat sebagai minyak goreng dan bahan bakar alternatif, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk lainnya seperti kosmetik, parfum, detergen, cat, bahkan produk di bidang farmasi.

Sahat menekankan pentingnya pengolahan sawit menjadi produk yang dapat dimanfaatkan di berbagai bidang dan produk sampingan (by-product). Hal ini karena semakin banyak proses yang dilalui, semakin bertambah nilai barang tersebut.

“Makin kita kembangkan teknologi, inovasi produk, dan aplikasinya, kita dapat menambah nilai tambah hingga enam kali lipat. Begitu banyak potensi yang belum digarap dan digali dari sawit mulai dari hulu hingga ke hilir,” terangnya.

 

Sumber: Tribus.id

,

UI-PT NGE Kerja Sama Riset SPO Cegah Stunting dan Malanutrisi:

 

UNIVERSITAS Indonesia (Ul) menjalin kerja sama dengan PT Nusantara Green Energy (PT NGE) untuk penelitian peningkatan nilai tambah steamless Palm Oil (SPO) untuk pencegahan stunting dan kekurangan gizi (malanutrisi). Kerja sama dengan PT NGE dilakukan melalui Unit Kerja Khusus Lembaga Sains Terapan (UKK LST) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).

Direktur Utama PT NGE Sahat M Sinaga menjabarkan, kerja sama ini sangat penting mengingat Ul memiliki fakultas yang amat lengkap yang dibutuhkan oleh pihaknya.

“Kerjasama dengan Ul sangat penting karena di sini lengkap dengan fakultas yang ada. Kita membuat sejarah sekarang,” kata dia.

Di tempat yang sama, Komisaris Utama PTNGE Bambang Brodjonegoro menambahkan, SPO akan memudahkan petani sawit mengolah tandan buah segar (TBS). Bahkan mesinnya juga dapat dimiliki para petani sawit melalui koperasi.

“Mesin lebih kecil dan lebih fleksibel. Lokasi jauh lebih dekat dengan kebun milik rakyat sehingga biaya transportasi bisa menurun dengan signifikan,” katanya.

Wakil Rektor Ul Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Abdul Haris mengatakan pihaknya sangat mendukung kerja sama ini. Kerja sama dengan industri diperlukan untuk terus mengembangkan riset dan penelitian.

“Ul sangat mendukung dengan karya inovasi yang dilakukan para peneliti Ul, dan Ul juga selalu kerja sama dengan semua kalangan, salah satunya dengan industri. Itu kenapa pada hari ini kita melakukan penandatanganan kerja sama antara riset pengembangan SPO tadi dengan PT NGE,” pungkasnya.

 

Sumber: Media Indonesia

,

Kembangkan Minyak Bergizi Tinggi

 

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) serta PT Nusantara Green Energy (NGE) melakukan kerja sama dalam penelitian pengembangan nilai tambah, steamless /Mlm oil (SPO) sebagai minyak bergizi tinggi. Mengandung zat fitonutrien alami untuk kesehatan tubuh dan pencegahan stunting serta kekurangan gizi (malanutrisi).

Wakil Rektor Ul Abdul Haris menyampaikan, Ul terbuka untuk melakukan kerja sama dengan semua kalangan. Termasuk dengan pihak industri yang memiliki keseriusan untuk mengembangkan inovasi baru.

“Ul mendukung karya-karya inovasi yang dilakukan para peneliti Ul. Ul juga selalu kerja sama dengan semua kalangan, salah satunya dengan industri. Itu kenapa hari ini (kemarin) kami melakukan penandatanganan kerja sama,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT NGE Sahat M. Sinaga menerangkan bahwa apa yang dilakukan pihaknya bersama Ul merupakan hal penting. Sebab, dengan sumber daya yang ada, inovasi peningkatan kualitas minyak sawit bisa dilaksanakan secara efektif.

“Kerja sama sangat penting karena di sini lengkap dengan fakultas yang ada,” jelasnya.

Program kerja sama tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan tarafhidup petani sawit Sebab, sistem pengelolaannya dilakukan dengan mesin yang lebih kecil dan fleksibel.

“Jadi, lokasi yang jauh lebih dekat dengan kebun milik rakyat sehingga biaya transportasi bisa menurun,” katanya.

Selanjutnya, pihaknya juga berusaha mempertahankan kandungan nutrisi alami pada minyak sawit dengan mengembangkan teknologi SPOT (steamless Palm Oil technology) dan IRU {impurities removable unit) yang mengolah buah sawit menjadi minyak makan bemutrisi tinggi,

 

Sumber: Jawa Pos

,

Pengembangan Inovasi Produk Hilir Sawit di Indonesia Masih Sangat Menjanjikan

 

 

Warta Ekonomi, Jakarta – Penelitian dan dan inovasi produk hilir kelapa sawit di Indonesia masih sangat menjanjikan. Makin hilir produk sawit, nilai tambah dan profit yang dihasilkan akan makin tinggi. Tidak hanya itu, satu hal yang perlu dijaga dan sesuai tuntutan pasar dunia ialah menghasilkan minyak sawit itu harus ramah lingkungan (emisi karbon CO2 eq diarahkan makin rendah).

Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga. Bukan tanpa alasan, GIMNI mengatakan, merujuk proyeksi volume ekspor pada 2022, produk hilir mencapai 27 juta ton dan produk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) berjumlah 1,6 juta ton.

Sementara, pasar sawit di dalam negeri atau konsumsi domestik mencapai 20,45 juta ton terdiri atas penggunaan untuk industri makanan/minyak goreng 9,48 juta ton serta pemakaian segmen nonmakanan (oleokimia dan gliserin) dan energi masing-masing 2,1 juta ton dan 8,8 juta ton.

Dikatakan Sahat, agar Indonesia dapat menjadi pemimpin sawit dunia dan menjadi price setter, pengembangan teknologi baru sangat dibutuhkan dapat menciptakan nilai tambah tinggi bagi produk sawit di Indonesia. Dengan demikian, investor bermunculan sehingga komposisinya menjadi sekitar 65 persen industri kelapa sawit dapat dikonsumsi di dalam negeri dan sisanya 35 persen sebagai bagian ekspor. Posisi pasar berbalik dari apa yang dicapai saat ini, yaitu sekitar 41 persen volume produksi sawit tersebut untuk domestik dan sisanya 59 persen untuk ekspor.

Lebih lanjut dikatakan Sahat, pengembangan sawit ini harus berbasis definisi sawit yang benar, yaitu bahan pangan minyak sawit didefinisikan sebagai bahan makanan (triglycerida) yang bernutrisi alami tinggi dan dikembangkan ke arah functional products terhadap komponen nutrisi dari sawit. Jadi, tidak mempertahankan konsep lama yang sudah 100 tahun berlangsung, yaitu terfokus kepada Trigliserida, sebagai sumber energi saja.

“Makin mengembangkan inovasi produk lebih ke hilir akan mendapatkan nilai tambah sebanyak 6 kali lipat. Makin ke hilir, makin tinggi nilainya,” kata Sahat.

 

Sumber: Wartaekonomi.co.id

,

GIMNI: Pengembangan Riset Dan Inovasi Produk Hilir Sawit Terbuka Lebar

 

JAKARTA – Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menilai peluang pengembangan riset dan inovasi produk hilir sawit masih terbuka di Tanah Air.

Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga dalam keterangannya di Jakarta, Senin (19/9) memaparkan berdasarkan proyeksi volume ekspor pada 2022, produk hilir mencapai 27 juta ton dan produk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) berjumlah 1,6 juta ton.

Sedangkan, pasar sawit di dalam negeri atau konsumsi domestik mencapai 20,45 juta ton terdiri atas penggunaan untuk industri makanan/minyak goreng 9,48 juta ton serta pemakaian segmen nonmakanan (oleokimia dan gliserin) dan energi masing-masing 2,1 juta ton dan 8,8 juta ton.

“Agar Indonesia dapat menjadi pemimpin sawit dunia dan menjadi price setter, pengembangan teknologi baru sangat dibutuhkan untuk dapat menciptakan nilai tambah tinggi bagi produk sawit di Indonesia,” katanya, dilansir dari Antara.

Dengan demikian, lanjutnya, investor akan bermunculan, sehingga sekitar 65% produk industri kelapa sawit dapat dikonsumsi di dalam negeri dan sisanya 35% diekspor. Atau, berbalik dari sekarang ini, yaitu 41% untuk domestik dan sisanya 59% untuk ekspor.

Sahat mengatakan pengembangan sawit ini harus berbasis definisi sawit yang benar, yaitu untuk bahan pangan. Minyak sawit didefinisikan sebagai bahan makanan (trigliserida) yang bernutrisi alami tinggi dan dikembangkan ke arah functional products kepada komponen nutrisi dari sawit.

“Jangan lagi mempertahankan konsep lama yang sudah 100 tahun berlangsung, yaitu terfokus kepada trigliserida, sebagai sumber energi saja,” katanya.

Ia juga menjelaskan pengembangan inovasi produk lebih ke hilir akan mendapatkan nilai tambah sebanyak enam kali lipat. “Semakin ke hilir, maka semakin tinggi nilainya,” ujarnya.

Sebagai contoh, produk derivatif surfaktan nilai tambah sebesar 300%. Selanjutnya, produk specialties antara lain kosmetika, parfum, detergen, dan cat mempunyai nilai tambah mencapai 600%.

Menurut dia, pengembangan riset produk hilir dan turunan kelapa sawit belum banyak dilakukan di perguruan tinggi, padahal semakin hilir produk sawit, maka nilai tambah dan profit yang dihasilkan akan semakin tinggi.

Dikatakan Sahat, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia dapat berkontribusi lebih besar dalam dan inovasi untuk meningkatkan nilai tambah sawit, baik melalui minyaknya dan demikian pula halnya dengan hasil samping biomassa sawit yang berlimpah.

“Pusat riset produk hilir sawit dapat dibangun di sini,” ujarnya dalam MIPAtalks Series 9 bertemakan “Inovation in Palm Oil Industry Makes Indonesia Leads in Fulfilling the Worlds Energy Crisis“, Kamis (15/9/2022).

Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) Dede Djuhana menyambut baik usulan GIMNI dalam rangka mendukung ketahanan pangan nasional melalui sawit, sebab ketahanan pangan menjadi prioritas riset nasional.

Berkaitan pengembangan riset produk sawit lebih ke hilir, FMIPA UI berencana mendirikan Pusat Riset & Inovasi Industri Sawit Nasional untuk mengembangkan riset produk turunan sawit bernilai tambah tinggi yang dapat diaplikasikan bagi masyarakat dan dunia industri.

 

Sumber: Validnews.id