,

Jadikan Gula Cair Saja, Petani Tebu Akan Sejahtera

 

Sebetulnya, tidak sulit mengembalikan kejayaan gula Indonesia di masa lalu. Saat Indonesia masih disegani sebagai pengekspor gula terbesar kedua dunia, setelah Kuba.

“Bikin saja gula cair,” kata Ketua Masyarakat Hidrokarbon Indonesia, Sahat Sinaga, datar, saat berbincang dengan Gatra.com, kemarin.

Sesaat kemudian ayah tiga anak ini justru langsung tersenyum. “Kesannya gampang banget, ya?” jebolan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung ini malah bertanya.

“Begini, maksud saya, kalau pasar gula kita ini hanya untuk memenuhi pasar domestik, gula itu bisa dibikin dalam bentuk cair, tak perlu bentuk kristal. Tujuannya, pabrik gula tak perlu lagi menghabiskan duit sekitar 30%-35% dari Harga Pokok Produksi (HPP) untuk membikin gula kristal. Dengan begini, pabrik gula akan bisa membeli tebu petani lebih mahal dan bisa juga menjual gula lebih murah di pasaran,” Sahat mulai mengurai.

Kalau misalnya kata Sahat kebutuhan gula kristal Indonesia sekitar 6,950 juta ton setahun dengan harga pasar retail Rp12.170 perkilogram, ini berarti harga di pabrik sekitar Rp 8.130 per-kilogram, atau 67% dari harga pasar retail tadi.

Lantas, HPP gula kristal berkisar Rp 6.500 perkilogram maka laba pabrik penghasil gula kristal sekitar Rp1.630 perkilogram. Tapi kalau hanya berhenti sampai pada gula cair — tidak dijadikan gula kristal — maka akan terjadi penurunan HPP sekitar 30 %, antara Rp1.850-1980 perkilogram.

Pukul ratakan sajalah penurunan biaya produksi itu Rp1.900 perkilogram. Tadi konsumsi gula Indonesia 6,950 juta ton setahun. Dikali Rp1.900, maka ada Rp13,2 triliun duit yang bisa dihemat per tahun.

“Perkiraan biaya pembukaan lahan baru kebun tebu, dari buka lahan sampai dengan panen ratoon (tebu kepras) ke-1 mencapai Rp 50 juta-Rp66 juta perhektar. Ini berarti, duit yang dihemat tadi akan bisa membuka lahan kebun tebu baru seluas 200 – 227 ribu hektar pertahun, lapangan kerja baru muncul, duit masuk ke negara semakin besar, devisa mengimpor gula bisa ditekan ” katanya tertawa.

Dulu kata Sahat, Belanda membikin gula kristal lantaran 80% dari produksi gula dalam negeri diekspor ke negara sub tropis. Di negara sub tropis, gula kristal bisa tahan lama lantaran di sana uap air di udara (humidity) nya rendah.

“Ingat, gula itu bersifat hygroscopic (penghisap air). Kalau kita bikin gula kristal atau gula pasirlah bahasa awamnya untuk kebutuhan dalam negeri, ngapain? Pertama orang Indonesia itu enggak makan gula pasir. Kedua, humidity Indonesia itu antara 80-90%. Gula pasir enggak akan bisa bertahan lama lantaran langsung mengisap air. Kecuali disimpan di tempat kering,” ujarnya.

Jadi kata Sahat, kalau pemerintah membikin gula cair, penyelundupan akan bisa diminimalisir, harga gula cair ke konsumen lebih murah dan duit yang akan diinvestasikan di Pabrik Gula (PG) akan bisa ditekan lantaran tidak memerlukan unit proses kristalisasi yang mahal itu.

“Saya rasa apa yang saya bilang ini menjadi salah satu alternatif yang revolusioner sebagai upaya Pemerintahan Jokowi untuk mendongkrak pendapatan para petani tebu dan juga meningkatkan produksi gula Indonesia,” ujarnya.

Tapi Sahat menduga bisa jadi idenya itu akan membikin banyak orang tidak suka. Sebab akan mengganggu ‘dapur’ orang-orang yang sudah nyaman mengantongi duit komisi impor gula yang nilainya mencapai triliunan rupiah itu.

Soal komisi maupun untung impor yang dibilang Sahat ini ternyata dikupas juga oleh peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Faisal Basri, di laman faisalbasri.com, Kamis pekan lalu.

Lelaki 61 tahun ini menyebut bahwa dengan mengantongi surat sakti impor, pabrik gula rafinasi sudah mengantongi untung sekitar Rp2.200 perkilogram. Bayangkan berapa total untung yang didapat kalau impor tahun lalu mencapai 5,54 juta ton

Soalnya harga gula dunia memang jauh lebih rendah 4,4 kali lipat ketimbang harga gula di dalam negeri. Setidaknya kesenjangan dengan angka segitu terjadi pada April tahun lalu. “Ngapain pabrik buang-buang keringat kalau toh bisa dapat untung kayak gitu,” katanya.

Yang membikin masalah makin ribet kata ayah tiga anak ini, pemerintah telah mengada-ada membikin jenis gula. Kalau dunia hanya mengenal dua jenis gula — gula putih atau gula rafinasi dan gula mentah.

Nah di Indonesia, jenis gula justru ada tiga; gula mentah, Gula Kristal Putih (GKP) dan Gula Kristal Rafinasi (GKR) yang notabene sama dengan GKP. Yang membedakan hanya, GKP diproduksi oleh pabrik gula domestik sementara GKR diproduksi dari gula mentah yang diimpor.

“Pemerintah menciptakan dua pasar untuk produksi serupa. Dan ini dibunyikan di Peraturan Menteri Perindustrian nomor 3 tahun 2021. Di pasal 6 dibilang; perusahaan industri gula kristal rafinasi hanya boleh memproduksi gula kritasl rafinasi. Sebaliknya perusahaan industri gula berbasis tebu hanya boleh memproduksi gula kristal putih,” Faisal merinci.

“Kata para petinggi kementerian perindustrian, Permen itu bertujuan untuk menghindari rembesan. Lah, rembesan itu ada kan lantaran perlakuan pemerintah yang membedakan barang yang serupa. Mestinya pemerintah menciptakan satu pasar gula, bukan malah memisah-misahkan,” ujarnya.

 

Sumber: Gatra.com

,

Lewati Pekan II Mei 2021, Harga CPO Terus Melambung

 

Lewati Pekan II Mei 2021, Harga CPO Terus Melambung

Melewati pekan II Mei 2021, harga rata-rata minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada CIF Rotterdam basis tercatat menguat hingga 155 persen dari yang sebelumnya US$508 per MT atau setara dengan Rp7.391.100 (kurs Rp14.200) menjadi US$1.298 per MT atau setara dengan Rp18.431.600 per MT (kurs Rp14.200) dibandingkan periode yang sama secara y-o-y.

Jika dibandingkan pekan lalu, average price yang tercatat tersebut menguat 2,85 persen dari yang sebelumnya sebesar US$1.262 per MT atau setara dengan Rp17.920.400 per MT (kurs Rp14.200). Meskipun penyebaran pandemi Covid-19 masih masif di Indonesia, harga rata-rata CPO tersebut berada jauh di atas level harga potensial yang sebesar US$700 per MT. Tidak hanya itu, harga CPO saat ini juga membawa harapan baru terhadap harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani.

 

Kenaikan harga CPO turut dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak kedelai sebagai kompetitor terbesar CPO. Selain itu, Malaysia sebagai produsen CPO terbesar kedua di dunia, tengah kesulitan menghadapi masa panen karena kurangnya tenaga kerja pada operasional perkebunan. Kondisi ini berdampak pada ketatnya pasokan di negara-negara produsen sehingga turut mengangkat harga CPO.

Direktur Eksekutif GIMNI, Sahat Sinaga mengatakan, kenaikan harga CPO juga dipengaruhi kondisi dan situasi dalam negeri yakni terkait PMK Nomor 191/PMK.05/2020 tentang tarif pungutan ekspor sawit yang dikelola BPDPKS. Dengan PMK tersebut, industri hilir sawit nasional tumbuh positif sehingga daya saing produk hilir di pasar ekspor terus membaik. “Regulasi ini mendukung kebijakan hilirisasi sawit,” ujar Sahat.

Berdasarkan data Bank Dunia, rata-rata harga CPO dunia pada kuartal I-2021 mencapai US$1.014 per ton, naik 10,46 persen dibandingkan rata-rata kuartal IV-2020 yang sebesar US$918 per ton atau naik 39,86 persen dari rata-rata kuartal I-2020 yang sebesar US$725 per ton. Bank Dunia memperkirakan, rata-rata harga CPO sepanjang 2021 mencapai US$975 per ton atau naik 29,65 persen dari rata-rata sepanjang 2020 yang sebesar US$752 per ton.

Lebih lanjut Sahat mengatakan kenaikan harga CPO di pasar global akan berlangsung dalam jangka panjang. “Saya optimistis harga CPO tahun ini berada di posisi atas dan bisa booming lagi seperti 2011,” pungkasnya.

 

 

Sumber: Wartaekonomi.co.id

,

3 Asosiasi Hilir Sawit dan Forwatan Salurkan Bantuan ke 4 Yayasan

 

 

Suara.com – Tiga asosiasi hilir kelapa sawit yaitu Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) dan Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN) bersama Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) memberikan bantuan kepada anak yatim piatu, lansia, dan penyandang disabilitas sebagai bentuk kepedulian di tengah pandemi dan menjelang hari raya Idul Fitri.

Bantuan diberikan kepada 4 yayasan diantaranya Wisma Tuna Ganda (Pekayon), Yayasan Cahaya Hati Gemilang (Meruyung, Depok), Yayasan Amal Fisabilillah (Pondok Ranggon), Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3 (Cipayung). Bantuan yang diberikan berupa 250 paket sembako dalam bentuk uang tunai kepada yayasan tersebut.

Pemberian bantuan ini secara simbolis dilakukan di Wisma Tuna Ganda, Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Sebagai informasi, Wisma Tuna Ganda merawat 29 penyandang disabilitas. Sebagian besar mereka berasal dari keluarga kurang mampu dan adapula limpahan dinas sosial.

Penyerahan bantuan ini dihadiri perwakilan asosiasi antara lain Paulus Tjakrawan (Ketua Harian APROBI), Irma Rachmania (Ketua Bidang Pemasaran dan Promosi Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia), Rahayu Dwi Mampuni (Sekretariat APROBI), dan Dinna (Sekretariat APOLIN). Hadir pula pengurus dan anggota Forum Wartawan Pertanian.

Irma Rachmania Ketua Bidang Pemasaran dan Promosi Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) menjelaskan bahwa kegiatan sosial ini perlu dijalankan setiap tahun karena memberikan dampak positif kepada masyarakat.

Bantuan ini menunjukkan kontribusi industri sawit di sektor hilir kepada masyarakat. Seperti diketahui, industri sawit seperti biodiesel punya peranan penting bagi negara dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

“Saya rasa kegiatan ini perlu dilakukan tiap tahun, karena selama dua tahun ini rutin dijalankan. Tadi saya juga dengar cerita Ibu Kristanti (red-Kepala Wisma Tuna Ganda) bahwa banyak anak-anak ini perlu bantuan dan yayasan ini sifatnya mandiri. Tahun depan kita akan list kembali sejumlah panti asuhan untuk mendapatkan bantuan dan kalau bisa cakupannya diperluas lagi,” jelasnya, ditulis Selasa (11/5/2021).

 

Dalam kesempatan tersebut, Kristanti, Kepala Wisma Tuna Ganda Palsigunung, menjelaskan bahwa terdapat 29 anak rawat di Wisma Tuna Ganda yang menyandang disabilitas lebih dari satu.

Penyandang disabilitas yang dirawat adapula yang telah berusia dewasa namun tetap memiliki mental seperti anak-anak. Sebagian besar mereka yang dirawat sudah tidak memiliki keluarga. Kendati demikian, pihak Wisma Tuna Ganda Palsigunung tetap merawat mereka sejak kecil sampai nanti tutup usia.

“Kami terus berkomitmen untuk mendampingi mereka. Di sini, ada 53 tenaga rawat yang akan mendampingi anak-anak selama satu hari penuh. Mereka bekerja terbagi dalam tiga shift yaitu pagi, siang, dan malam,” jelas Kristanti yang sudah 27 tahun menjadi pengelola panti.

Bernard Riedo Ketua Umum GIMNI, dalam kesempatan terpisah, menjelaskan dalam rangka bulan suci Ramadhan kiranya penyaluran bantuan ini dapat senantiasa membantu satu sama lain. Kegiatan ini rutin dijalankan setiap tahun.

“Harapan kami, kerjasama yang berjalan baik ini antara GIMNI, APROBI, dan APOLIN bersama Forum Wartawan Pertanian dapat terus ditingkatkan ke depannya,” harap Bernard.

Menurut Bernard, di saat kondisi pandemik covid-19 seperti saat ini, maka kegiatan harus dilakukan secara simbolik. Pastinya, aktivitas sosial penyaluran bantuan bagi penyandang disabilitas, yatim piatu, dan lansia, kiranya dapat bermanfaat.

Rapolo Hutabarat, Ketua Umum APOLIN, menjelaskan bahwa Bulan Suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1442 H merupakan momentum yang sangat besar bagi umat Islam di Indonesia. Bulan dan Hari Raya ini sangat dinanti-nantikan oleh setiap lapisan masyarakat muslim karena memberikan suasana yang membahagiakan.

“Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga ini berbagi kebahagiaan yang menjadi menjadi bagian kehidupan masyarakat hingga sekarang. Budaya ini sangat baik sehingga perlu kita jaga bersama untuk saling berbagi. Atas dasar itulah, kami dari APOLIN, APROBI, GIMNI bersama Forum Wartawan Pertanian, turut berbagi momentum bulan Suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri di tahun ini,” urai Rapolo.

Yuwono Ibnu Nugroho, Ketua Forwatan, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tiga asosiasi hilir sawit (APROBI, GIMNI, dan APOLIN) yang mempercayakan penyaluran bantuan tersebut melalui Forwatan. Bantuan ini menunjukkan industri sawit tidak saja berkontribusi bagi negara melainkan memberikan perhatian bagus kepada masyarakat.

“Setelah penyerahan bantuan di Wisma Tuna Ganda ini, rekan-rekan Forwatan akan bergerak untuk menyalurkan bantuan di tiga yayasan lainnya. Melalui bantuan ini, harapan kami masyarakat tetap optimis dan imun tubuhnya tetap terjaga di kala pandemi. Apalagi, masyarakat muslim akan merayakan Idul Fitri di mana kami ingin berbagi kebahagiaan,” pungkasnya menutup pembicaraan.

 

 

Sumber: Suara.com

 

 

,

Forwatan dan Asosiasi Hilir Sawit Salurkan Bantuan Kepada Dhuafa

 

Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) bersama tiga asosiasi hilir kelapa sawit yaitu Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) dan Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN) memberikan bantuan kepada anak yatim piatu, lansia, dan penyandang disabilitas sebagai bentuk kepedulian di tengah pandemi dan menjelang hari raya Idul Fitri.

Bantuan diberikan kepada 4 yayasan diantaranya Wisma Tuna Ganda (Pekayon), Yayasan Cahaya Hati Gemilang (Meruyung, Depok), Yayasan Amal Fisabilillah (Pondok Ranggon), Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3 (Cipayung). Bantuan yang diberikan berupa 250 paket sembako dalam bentuk uang tunai kepada yayasan tersebut.

Pemberian bantuan ini secara simbolis dilakukan di Wisma Tuna Ganda, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Minggu (9 Mei 2021). Sebagai informasi, Wisma Tuna Ganda merawat 29 penyandang disabilitas. Sebagian besar mereka berasal dari keluarga kurang mampu dan adapula limpahan dinas sosial.

Penyerahan bantuan ini dihadiri perwakilan asosiasi antara lain Paulus Tjakrawan (Ketua Harian APROBI), Irma Rachmania (Ketua Bidang Pemasaran dan Promosi Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia), Rahayu Dwi Mampuni (Sekretariat APROBI), dan Dinna (Sekretariat APOLIN). Hadir pula pengurus dan  anggota Forum Wartawan Pertanian.

Irma Rachmania Ketua Bidang Pemasaran dan Promosi Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) menjelaskan bahwa kegiatan sosial ini perlu dijalankan setiap tahun karena memberikan dampak positif kepada masyarakat. Bantuan ini menunjukkan kontribusi industri sawit di sektor hilir kepada masyarakat. Seperti diketahui, industri sawit seperti biodiesel punya peranan penting bagi negara dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

”Saya rasa kegiatan ini perlu dilakukan tiap tahun, karena selama dua tahun ini rutin dijalankan. Tadi saya juga dengar cerita Ibu Kristanti (red-Kepala Wisma Tuna Ganda) bahwa  banyak anak-anak ini perlu bantuan dan yayasan ini sifatnya mandiri. Tahun depan kita akan list kembali sejumlah  panti asuhan untuk mendapatkan bantuan dan kalau bisa cakupannya diperluas lagi,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kristanti, Kepala Wisma Tuna Ganda Palsigunung, menjelaskan bahwa terdapat 29 anak rawat di Wisma Tuna Ganda yang menyandang disabilitas lebih dari satu. Penyandang disabilitas yang dirawat adapula yang telah berusia dewasa namun tetap memiliki mental seperti anak-anak. Sebagian besar mereka yang dirawat sudah tidak memiliki keluarga. Kendati demikian,  pihak Wisma Tuna Ganda Palsigunung tetap merawat mereka sejak kecil sampai nanti tutup usia.

“Kami terus berkomitmen untuk mendampingi mereka. Di sini, ada 53 tenaga rawat yang akan mendampingi anak-anak selama satu hari penuh. Mereka bekerja terbagi dalam tiga shift yaitu pagi, siang, dan malam,” jelas Kristanti yang sudah 27 tahun menjadi pengelola panti.

Bernard Riedo Ketua Umum GIMNI, dalam kesempatan terpisah,  menjelaskan dalam rangka bulan suci Ramadhan kiranya penyaluran bantuan ini  dapat senantiasa membantu satu sama lain. Kegiatan  ini rutin dijalankan setiap tahun.”Harapan kami, kerjasama yang berjalan baik ini antara GIMNI, APROBI, dan APOLIN bersama Forum Wartawan Pertanian dapat terus ditingkatkan ke depannya,” harap Bernard.

Menurut Bernard, di saat kondisi pandemik covid-19 seperti saat ini, maka kegiatan harus dilakukan secara simbolik. Pastinya, aktivitas sosial  penyaluran bantuan bagi penyandang disabilitas, yatim piatu, dan lansia, kiranya dapat bermanfaat.

Rapolo Hutabarat, Ketua Umum APOLIN, menjelaskan bahwa Bulan Suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1442 H merupakan momentum yang sangat besar bagi umat Islam di Indonesia. Bulan dan Hari Raya ini sangat dinanti-nantikan oleh setiap lapisan masyarakat muslim karena memberikan suasana yang membahagiakan.

“Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga ini berbagi kebahagiaan yang menjadi menjadi bagian kehidupan masyarakat hingga sekarang. Budaya ini sangat baik sehingga perlu kita jaga bersama untuk saling berbagi. Atas dasar itulah, kami dari APOLIN, APROBI, GIMNI bersama Forum Wartawan Pertanian, turut berbagi momentum bulan Suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri  di tahun ini,” urai Rapolo.

Yuwono Ibnu Nugroho, Ketua Forwatan, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tiga asosiasi hilir sawit (APROBI, GIMNI, dan APOLIN) yang mempercayakan penyaluran bantuan tersebut melalui Forwatan. Bantuan ini menunjukkan industri sawit tidak saja berkontribusi bagi negara melainkan memberikan perhatian bagus kepada masyarakat.

“Setelah penyerahan bantuan di Wisma Tuna Ganda ini, rekan-rekan Forwatan akan bergerak untuk menyalurkan bantuan di tiga yayasan lainnya. Melalui bantuan ini, harapan kami masyarakat tetap optimis dan imun tubuhnya tetap terjaga di kala pandemi. Apalagi, masyarakat muslim akan merayakan Idul Fitri di mana kami ingin berbagi kebahagiaan,” pungkasnya.

 

 

Sumber: Majalahhortus.com

,

Forwatan gandeng tiga asosiasi sawit salurkan bantuan ke 4 yayasan

 

 

JAKARTA, Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) bersama tiga asosiasi hilir kelapa sawit yaitu Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) dan Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN) memberikan bantuan kepada anak yatim piatu, lansia, dan penyandang disabilitas sebagai bentuk kepedulian di tengah pandemi dan menjelang hari raya Idul Fitri.

Bantuan diberikan kepada 4 yayasan diantaranya Wisma Tuna Ganda (Pekayon), Yayasan Cahaya Hati Gemilang (Meruyung, Depok), Yayasan Amal Fisabilillah (Pondok Ranggon), Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3 (Cipayung). Bantuan yang diberikan berupa 250 paket sembako dalam bentuk uang tunai kepada yayasan tersebut.

Pemberian bantuan ini secara simbolis dilakukan di Wisma Tuna Ganda, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Minggu (9 Mei 2021). Sebagai informasi, Wisma Tuna Ganda merawat 29 penyandang disabilitas. Sebagian besar mereka berasal dari keluarga kurang mampu dan adapula limpahan dinas sosial.

Penyerahan bantuan ini dihadiri perwakilan asosiasi antara lain Paulus Tjakrawan (Ketua Harian APROBI), Irma Rachmania (Ketua Bidang Pemasaran dan Promosi Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia), Rahayu Dwi Mampuni (Sekretariat APROBI), dan Dinna (Sekretariat APOLIN). Hadir pula pengurus dan  anggota Forum Wartawan Pertanian.

Irma Rachmania Ketua Bidang Pemasaran dan Promosi Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) menjelaskan bahwa kegiatan sosial ini perlu dijalankan setiap tahun karena memberikan dampak positif kepada masyarakat. Bantuan ini menunjukkan kontribusi industri sawit di sektor hilir kepada masyarakat. Seperti diketahui, industri sawit seperti biodiesel punya peranan penting bagi negara dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

”Saya rasa kegiatan ini perlu dilakukan tiap tahun, karena selama dua tahun ini rutin dijalankan. Tadi saya juga dengar cerita Ibu Kristanti (red-Kepala Wisma Tuna Ganda) bahwa  banyak anak-anak ini perlu bantuan dan yayasan ini sifatnya mandiri. Tahun depan kita akan list kembali sejumlah  panti asuhan untuk mendapatkan bantuan dan kalau bisa cakupannya diperluas lagi,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kristanti, Kepala Wisma Tuna Ganda Palsigunung, menjelaskan bahwa terdapat 29 anak rawat di Wisma Tuna Ganda yang menyandang disabilitas lebih dari satu.

Penyandang disabilitas yang dirawat adapula yang telah berusia dewasa namun tetap memiliki mental seperti anak-anak. Sebagian besar mereka yang dirawat sudah tidak memiliki keluarga. Kendati demikian,  pihak Wisma Tuna Ganda Palsigunung tetap merawat mereka sejak kecil sampai nanti tutup usia.

“Kami terus berkomitmen untuk mendampingi mereka. Di sini, ada 53 tenaga rawat yang akan mendampingi anak-anak selama satu hari penuh. Mereka bekerja terbagi dalam tiga shift yaitu pagi, siang, dan malam,” jelas Kristanti yang sudah 27 tahun menjadi pengelola panti.

Bernard Riedo Ketua Umum GIMNI, dalam kesempatan terpisah,  menjelaskan dalam rangka bulan suci Ramadhan kiranya penyaluran bantuan ini  dapat senantiasa membantu satu sama lain. Kegiatan  ini rutin dijalankan setiap tahun.

”Harapan kami, kerjasama yang berjalan baik ini antara GIMNI, APROBI, dan APOLIN bersama Forum Wartawan Pertanian dapat terus ditingkatkan ke depannya,” harap Bernard.

 

Menurut Bernard, di saat kondisi pandemik covid-19 seperti saat ini, maka kegiatan harus dilakukan secara simbolik. Pastinya, aktivitas sosial  penyaluran bantuan bagi penyandang disabilitas, yatim piatu, dan lansia, kiranya dapat bermanfaat.

Rapolo Hutabarat, Ketua Umum APOLIN, menjelaskan bahwa Bulan Suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1442 H merupakan momentum yang sangat besar bagi umat Islam di Indonesia. Bulan dan Hari Raya ini sangat dinanti-nantikan oleh setiap lapisan masyarakat muslim karena memberikan suasana yang membahagiakan.

“Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga ini berbagi kebahagiaan yang menjadi menjadi bagian kehidupan masyarakat hingga sekarang. Budaya ini sangat baik sehingga perlu kita jaga bersama untuk saling berbagi. Atas dasar itulah, kami dari APOLIN, APROBI, GIMNI bersama Forum Wartawan Pertanian, turut berbagi momentum bulan Suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri  di tahun ini,” urai Rapolo.

Yuwono Ibnu Nugroho, Ketua Forwatan, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tiga asosiasi hilir sawit (APROBI, GIMNI, dan APOLIN) yang mempercayakan penyaluran bantuan tersebut melalui Forwatan. Bantuan ini menunjukkan industri sawit tidak saja berkontribusi bagi negara melainkan memberikan perhatian bagus kepada masyarakat.

“Setelah penyerahan bantuan di Wisma Tuna Ganda ini, rekan-rekan Forwatan akan bergerak untuk menyalurkan bantuan di tiga yayasan lainnya. Melalui bantuan ini, harapan kami masyarakat tetap optimis dan imun tubuhnya tetap terjaga di kala pandemi. Apalagi, masyarakat muslim akan merayakan Idul Fitri di mana kami ingin berbagi kebahagiaan,” pungkasnya menutup pembicaraan.

 

Sumber: Kontan.co.id

,

Harga CPO Stabil Tinggi hingga Akhir Tahun

 

JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar internasional diperkirakan stabil tinggi di atas US$ 1.000 per ton hingga akhir tahun ini. Selain dipengaruhi harga minyak kedelai, harga CPO yang stabil tinggi tersebut terjadi karena turunnya suplai dari Malaysia dan besarnya penyerapan Indonesia akan minyak sawit seiring bergairahnya industri hilir nasional.

Berdasarkan data Bank Du-nia, rata-rata harga CPO dunia pada kuartal 1-2021 mencapai US$ 1.014 per ton, naik 10,46% dari rata-rata kuartal IV-2020 yang sebesar US$ 918 per ton atau naik 39,86% dari rata-rata kuartal 1-2020 yang sebesar US$ 725 per ton. Bank Dunia memprediksikan rata-rata harga CPO sepanjang 2021 mencapai US$ 975 per ton atau naik 29,65% dari rata-rata sepanjang 2020 sebesar US$752 per ton.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) yang juga Pit Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Sahat Sinaga mengatakan, harga CPO akan terus mengalami kenaikan, harga komoditas perkebunan itu akan tetap stabil tinggi. “Kenaikan harga CPO di pasar global akan berlangsung dalam jangka panjang. Saya optimistis harga CPO tahun ini berada di posisi atas dan bisa booming lagi seperti 2011,” ujar dia ketika dihubungi Investor Daily di Jakarta, pekan lalu.

Kenaikan harga CPO dipengaruhi faktor eksternal, di antaranya harga minyak kedelai (soya bean oil/soya oil). Kompetitor CPO paling dominan di pasar global saat ini hanya itu, selama pandemi Covid-19 proses penanaman kedelai tidak optimal sehingga harganya turut mempengaruhi harga CPO. Selain itu, produsen CPO terbesar selain Indonesia yaitu Malaysia tengah kesulitan menghadapi masa panen, buruh banyak yang dikontrak dalam jangka pendek ditambah sebagian besar di antaranya banyak yang mengundurkan diri.

Untuk mengejar masa panen, kata Sahat, Malaysia sampai berusaha mencari tenaga kerja dari luar termasuk dari Indonesia. Estimasi produksi CPO Malaysia tahun ini hanya mencapai 18,20 juta ton dari yang biasanya 19,40 juta ton. “Produksi CPO Malaysia mengalami penurunan. Kondisi ini mempengaruhi harga CPO di pasar global tetap di posisi atas,” ungkap Sahat Sinaga.

Selain faktor eksternal, kenaikan harga CPO juga dipengaruhi kondisi dan situasi dalam negeri yakni PMK No 191/ PMK.05/2020 (tarif pungutan ekspor sawit yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit). Dengan

PMK tersebut, industri hilir sawit nasional tumbuh positif sehingga daya saing produk hilir di pasar ekspor terus membaik. “Regulasi ini mendukung kebijakan hilirisasi sawit,” ujar Sahat.

Karena itu, GIMNI/DMSI meminta pemerintah untuk tetap mempertahankan PMK No 191/PMK.05/2020 tersebut karena bermanfaat untuk daya saing industri hilir sawit. Pemerintah hendaknya tidak terpengaruh usulan dari pihak-pihak tertentu, pemerintah harus tetap berkomitmen menjalankan PMK tersebut karena pengusaha hilir sawit telah merasakan dampaknya. “Aturan tersebut dikeluarkan pada waktu yang pas di saat harga CPO terus membaik, right policy in right time,” papar dia.

Menurut Sahat, sejak penerbitan PMK No 191/PMK.05/2020, ekspor Indonesia tidak hanya produk minyak mentah (CPO) tapi semakin didominasi produk sawit yang sudah diproses atau diolah sehingga nilai tambah yang diperoleh Indonesia semakin besar. Karena Indonesia lebih banyak mengekspor produk olahan CPO maka harga CPO di pasar global tetap stabil dan belum menunjukkan akan terjadinya penurunan. “Harga tandan buah segar (TBS) yang dinikmati petani juga relatif tinggi,” kata dia. Ekspor minyak sawit RI tahun ini diperkirakan 38,50 juta ton senilai US$ 31,20 miliar.

Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan, harga rata-rata minyak sawit global pada Maret 2021 sebesar US$ 1.116 per ton (CIF Rotterdam) atau lebih tinggi US$ 21 (1,90%) dari Februari 2021. Kenaikan harga disebabkan banyaknya perubahan prediksi produksi oilseeds dan kenaikan produksi biodiesel dunia. Ketidakpastian tanam dan produksi oilseeds menyebabkan permintaan minyak sawit meningkat. “Indonesia mendapatkan keuntungan dari situasi ini karena produksinya tidak terganggu Covid-19 sehingga ekspor naik tajam,” ujar dia.

Kontrak Berjangka

Sementara itu, Hasan Zein Mahmud, mantan Direktur Utama PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (BJJ), mengatakan, harga CPO sudah naik 10 bulan berturut-turut dan memecahkan rekor harga tertinggi selama 10 tahun. Komoditas CPO hingga kini juga masih merupakan salah satu penopang utama ekspor dan ekonomi Indonesia. Dalam salah satu ulasannya, Hasan Zein mengatakan, kenaikan harga CPO diduga belum sepenuhnya dinikmati produsen komoditas tersebut

Dalam hipotesa Hasan Zein Mahmud, karena harga CPO cukup lama terjerambab maka ketika harga komoditas tersebut naik hingga di atas RM 3.000 per ton maka banyak produsen yang menjual CPO-nya dengan cara forward, penyerahan kemudian dengan harga ditetapkan di depan. “Akibatnya, kenaikan harga yang tajam tak lagi bisa mereka (produsen CPO) nikmati. Kecuali emiten yang masih ada sisa produksi di atas kontrak forward, sehingga bisa dijual di pasar spot. Sayangnya, saya tak memperoleh info tentang perusahaan mana saja yang melakukan penjualan forward, dan persentasenya,” kata Hasan Zein.

Karena itu, kata Hasan Zein, apabila hipotesa tersebut benar bahwa mayoritas produksi dijual secara forward maka sudah waktunya para produsen dan eksportir CPO untuk menggunakan kontrak berjangka (tradable futures) dan bukan forward. Kontrak berjangka, walau tetap berpotensi rugi bila tren bergerak ke arah berlawanan dari prediksi, bisa diakhiri setiap saat melalui mekanisme pasar.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia

,

NASIB CPO KALA BADAI COVID-19 MELANDA INDIA

 

Gelombang penyebaran virus Covid-19 di India yang kian meluas serta temuan varian baru dikhawatirkan bakal menganggu ekonomi terutama perdagangan Negeri Bollywood.

India menjadi salah satu negara utama tujuan ekspor produk minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan turunannya. Bersama dengan Malaysia, Indonesia menjadi pemasok utama komoditas itu ke Negeri Bollywood.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan ekspor komoditas kelapa sawit pada 2020 mencapai 4,69 juta ton dengan nilai US$3,05 miliar. India menjadi pasar terbesar setelah China yang pada 2020 mengimpor 5,64 juta ton minyak sawit dari Indonesia.

Kinerja perdagangan India pada Maret 2021 sejatinya menunjukkan kinerja yang baik dengan rekor impor bulanan yang mencapai US$48,4 miliar dan ekspor sebesar US$34,4 miliar.

Sepanjang kuartal 1/2021, impor negara tersebut naik 18,4% dibandingkan dengan tahun lalu. Di sisi lain, data BPS menunjukkan India menjadi salah satu negara penyumbang kenaikan impor dan ekspor terbesar bagi Indonesia.

Pada Maret 2021, ekspor Indonesia ke India naik US$519,5 juta dan menjadi indikasi permintaan yang naik di negara tersebut. Sementara impor dari India naik US$357,3 juta.

Adapun, dengan adanya tsunami Covid-19 di India, pelaku usaha industri minyak sawit melaporkan bahwa aktivitas ekspor komoditas tersebut ke India belum terkendala. Meski demikian, pelaku usaha bakal terus mengawasi perkembangan penanganan pandemi di salah satu destinasi ekspor minyak sawit itu.

“Kami belum mendapat laporan adanya hambatan ekspor ke India,” kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono, Selasa (27/4).

Data Gabungan Pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) juga menunjukkan ekspor ke India masih tumbuh meskipun pandemi melanda pada tahun lalu.Gapkimenyebutkan nilai pasar ekspor ke India masih tumbuh 2% meski volume ekspor tidak mengalami kenaikan.

Adapun,Gapki memproyeksikan, produksi CPO Indonesia sepanjang tahun 2021 mengalami kenaikan 3,5% (yoy) menjadi 49 juta ton dari realisasi tahun lalu yang hanya sebanyak 47,4 juta ton. Untuk konsumsi domestik berupa produk oleopangan, permintaan minyak sawit diperkirakan akan tumbuh 2% [year-on-year/y-o-y) menjadi 8,4 juta ton.

Sementara itu, untuk produk oleokimia, Gapki memperkirakan akan terjadi kenaikan 14% (y-o-y) dari 1,57 juta ton menjadi 1,8 juta ton tahun ini.

Di sisi lain, harga CPO naik tinggi menyusul data ekspor bulan April yang bagus di tengah lonjakan kasus infeksi Covid-19 di India.

Harga kontrak CPO pengiriman Juli yang aktif diperjualbelikan di Bursa Malaysia Derivatif Exchange menguat 142 poin perdagangan hari ini, Selasa (27/4). Harga pada 17.42 WIB berada di 4.032/ton ringgit Malaysia.

Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan meskipun aktivitas perdagangan India terganggu karena
gelombang kedua Covid-19, hal tersebut belum mengkhawatirkan untuk kinerja ekspor CPO Indonesia. Sebab, pasar Indonesia juga mengandalkan China sebagai pasar utama ekspor komoditas itu.

Dia mengatakan membaiknya ekonomi pascavaksinasi juga akan mendorong permintaan di dalam negeri.

Penguatan permintaan ekspor dan pertumbuhan konsumsi domestik menjadi faktor utama penunjang kenaikan harga CPO.

“Ketika demand naik biasanya diikuti suplai. Sementara itu, kenaikan suplai bisa menahan harga dan rawan koreksi di level atas. Fundamental CPO juga bagus,” katanya.

BERLANJUT

Menurut Wahyu, sentimen penguatan harga CPO masih akan terus berlanjut. Apalagi pada Januari 2021, PT Pertamina telah menguji produksi green diesel yang menggunakan refined, bleached, and deodorized palm oil (RBDPO).

Di sisi lain, PT Pertamina akan melakukan pengembangan green diesel dan green avtur dalam dua tahap. Pertama, akan mengolah 3.000 barel RBDPO per hari untuk menghasilkan green diesel mulai Desember mendatang. Kedua, PT Pertamina akan mengolah 6.000 barel CPO per hari menjadi green avtur mulai Desember 2022.

Wahyu memprediksi, level harga 4.000 ringgit per ton masih akan terus diuji dalam jangka pendek. Pada kuartal 1/2021, harga CPO diproyeksikan pada kisaran 3.500 hingga 4.100 ringgit per ton.

“Area atau level gravitasio-nalnya tetap di level 3.600/ton ringgit Malaysia sebagai daya tarik jika overbought,” katanya.

Adapun, salah satu katalis positif bagi harga minyak kelapa sawit adalah kenaikan ekspor dari Malaysia. Data dari Intertek Testing Services menyebutkan, negara produsen CPO terbesar kedua di dunia tersebut mencatatkan kenaikan ekspor sekitar 11% selama lima hari pertama bulan April 2021 sebesar 184.070 ton.

Di satu sisi, jumlah cadangan minyak kelapa sawit mentah Indonesia diprediksi akan mencapai jumlah terendahnya sejak Maret 2019 seiring dengan tingginya konsumsi pada bulan Ramadan 2021.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menyebutkan, jumlah stok CPO Indonesia dapat berada di posisi 3,1 juta ton pada akhir April 2021. Adapun, Sahat menuturkan jumlah cadangan CPO pada Maret lalu adalah sebesar 3,2 juta ton.

Jumlah tersebut berada dibawah estimasi sebanyak 7 analis pada survei Bloomberg yang menyatakan rerata stok CPO negara produsen terbesar di dunia itu sebanyak 3,72 juta ton.

“Jumlah pengiriman akan naik 18% ke 3,08 juta ton pada April 2021 dbandingkan dengan bulan sebelumnya,” kata Sahat.

Sahat melanjutkan, pada April 2021, permintaan CPO domestik diprediksi akan naik 2,5% menjadi 1,63 juta ton.

Sementara itu, produksi CPO Indonesia pada bulan ini diprediksi tumbuh 14% menjadi 4 juta ton berbanding 3,5 juta ton pada Maret lalu.

Jumlah tersebut akan menjadi output terbesar sejak Desember 2020 lalu dan menyamai total produksi April 2020.

 

 

Sumber: Bisnis Indonesia

,

Kasus Covid-19 India melonjak, Gapki sebut ekspor minyak sawit belum terdampak

 

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelaku usaha industri minyak sawit mengatakan adanya lonjakan kasus Covid-19 di India belum menimbulkan hambatan pada ekspor minyak sawit Indonesia ke negara tersebut.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono pun mengatakan, sejauh ini pihaknya masih terus melihat perkembangan lebih lanjut permasalahan ini. Namun, dia mengatakan belum ada dampak yang terlihat pada ekspor minyak sawit bulan ini.

“Kita lihat dulu perkembangannya seberapa jauh dampaknya, karena pasti dalam short time ini pasti akan ada gangguan pergerakan, tetapi terhadap aktivitas ekspor-impor belum ada laporan [gangguan],” ujar Joko secara virtual, Rabu (28/4).

Meski begitu, Joko juga menyebut pasar India tetap akan menjadi perhatian Indonesia mengingat pangsa pasar sawit Indonesia di India bisa mencapai 70% hingga 80%. Karenanya, dia pun memastikan pelaku usaha akan tetap menunggu perkembangan terbaru.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga. Sahat pun optimistis ekspor minyak sawit dan turunannya ke India tidak akan terganggu meski kasus Covid-19 meningkat.

Menurut dia, hal ini dikarenakan produksi minyak sawit di Malaysia yang berkurang karena panen yang menurun dan harga minyak sawit yang lebih kompetitif dibandingkan minyak nabati lainnya,

“Kita tidak perlu khawatir karena perbedaan CPO dengan soft oil hampir US$ 350, dan di India karena persoalan financing, jadi mereka akan mengejar sawit kita seharusnya,” kata Sahat.

Senada dengan Sahat, Direktur Sustainability and Stakeholder Relations Asian Agri Bernard Riedo pun meyakini India masih akan tetap membeli sawit Indonesia karena harga minyak nabati lainnya tergolong tinggi,

“Bagi India, yang lebih penting bagi mereka adalah affordable oils dan sekarang dalam kondisi pandemi, itu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi demi kelangsungan masyarakat di sana,” katanya.

Meski demikian, dia juga mengatakan perkembangan pandemi Covid-19 di India harus terus dicermati, khususnya bagaimana negara tersebut dapat melewati lonjakan kasus kali ini.

Sumber: Kontan.co.id

,

Pelaku Usaha Tak Khawatir Covid-19 Ganggu Ekspor CPO ke India

 

JAKARTA – Pelaku usaha industri sawit meyakini ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya ke India tidak akan terganggu meski kasus Covid-19 di negara tersebut mengalami peningkatan dalam sepekan terakhir.

Harga CPO yang lebih kompetitif dibandingkan dengan minyak nabati lain bakal membuat negara importir tetap melakukan pembelian.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menyebutkan selisih harga antara CPO dan minyak nabati lain telah menyentuh US$350 per ton. Meski harga CPO telah berada di atas US$1.000 per ton, komoditas ini tetap jauh lebih murah.

“Perbedaan harga CPO dan soybean oil itu hampir US$350 per ton. Sementara di India karena persoalan financing mereka akan mengejar sawit kita harusnya. Jadi kami lihat prospeknya tetap bagus, dengan India tak perlu dikhawatirkan,” kata Sahat dalam diskusi virtual Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Rabu (28/4/2021).

Di sisi lain, Malaysia sebagai negara pesaing yang juga memasok CPO ke India disebutnya juga menghadapi tantangan pasokan yang terbatas akibat berkurangnya pekerja di perkebunan sawit negara tersebut. Hal ini dia sebut menjadi momentum bagi Indonesia yang mulai menikmati kenaikan produksi sawit bulanan.

Terpisah, Direktur Sustainability and Stakeholder Relations Asian Agri Bernard Riedo juga mengutarakan optimisme serupa. Meski harga yang tinggi mengurangi keunggulan mutlak sawit, negara importir utama seperti India tetap akan memilih minyak nabati termurah.

“India tetap akan membeli sawit karena dibandingkan minyak nabati lain, harganya lebih murah. Masyarakat India yang penting adalah affordable oil dan dengan pandemi Covid-19 ini minyak sawit menjadi semacam kebutuhan dasar yang harus dipenuhi demi kelangsungan masyarakat di sana,” kata Bernard.

Meski demikian, dia tetap berharap pelaku usaha memberi perhatian khusus pada perkembangan penanganan pandemi di negara tersebut. Bagaimanapun, India merupakan destinasi ekspor utama Indonesia.

Data Gapki menunjukkan bahwa ekspor CPO dan turunannya pada Maret mencapai 3,24 juta ton atau naik 62,7 persen dibandingkan dengan Februari 2021 yang hanya menyentuh 1,99 juta ton.

Kenaikan harga komoditas tersebut yang diiringi dengan naiknya volume diperkirakan akan mengerek nilai ekspor menjadi US$3,74 miliar pada Maret atau 80 persen lebih tinggi dari perkiraan nilai ekspor pada Februari.

Sumber: Bisnis.com

,

Stok CPO Indonesia Turun

Bisnis, JAKARTA – Jumlah cadangan minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia diprediksi mencapai jumlah terendahnya sejak Maret 2019 seiring dengan tingginya konsumsi selama periode Ramadan tahun ini.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menyebutkan bahwa jumlah stok CPO Indonesia dapat berada di posisi 3,1 juta ton pada akhir April 2021. Sahat menuturkan jumlah cadangan CPO pada Maret lalu adalah sebesar 3,2 juta ton.

Jumlah tersebut berada di bawah estimasi sebanyak 7 analis pada survei Bloomberg yang menyatakan rerata stok CPO negara produsen terbesar di dunia itu sebanyak 3,72 juta ton.

“Jumlah pengiriman akan naik 18% ke 3,08 juta ton pada April 2021 dibandingkan dengan bulan sebelumnya,” kata Sahat.

Dia melanjutkan, pada April 2021, permintaan CPO domestik diprediksi akan naik 2,5% menjadi 1,63 juta ton.

Sementara itu, produksi CPO Indonesia pada bulan ini diprediksi tumbuh 14% menjadi 4 juta ton berbanding 3,5 juta ton pada Maret lalu.

Jumlah tersebut akan menjadi output terbesar sejak Desember 2020 lalu dan menyamai total produksi April 2020.

Bulan Ramadan resmi dimulai pada 13 April lalu yang kemudian diikuti oleh Idulfitri atau Lebaran. Bulan Ramadan dan Lebaran umumnya mendorong kenaikan permintaan terhadap CPO.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan kemarin harga CPO kontrak teraktif di Bursa Malaysia terkoreksi

1 % ke level 3.887 ringgit per ton. Koreksi terjadi setelah pada Jumat harga sempat diperdagangkan di level 4.084 sebelum akhirnya ditutup pada 3.927 ringgit per ton. Sementara itu, harga CPO berjangka kontrak pengiriman Juni turun 34 poin pada harga 4.125 ringgit per ton.

Kenaikan harga pekan lalu salah satunya didorong oleh data ekspor produk CPO Malaysia untuk periode 1 -20 April yang naik 10,2% dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya. Kendati demikian, kenaikan angka ekspor tersebut berada dibawah ekspektasi pasar.

Di sisi lain, lonjakan kasus virus corona di India yang merupakan importir CPO terbesar dunia jadi sentimen negatif yang memudarkan sedikit optimisme pasar.

 

Sumber: Bisnis Indonesia