,

GIMNI Nilai Tepat Daerah Usulkan DBH Perkebunan Sawit

 

 

KedaiPena.Com – Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) memberikan pandanganya terkait permintaan Kepala Daerah soal adanya ada dana bagi hasil (DBH) dari pajak perkebunan sawit.

Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga  mengatakan, jika usulan Kepala Daerah terkait dengan adanya dana bagi hasil sawit merupakan hal yang tepat.

“Terkait sawit, Pemda dan Pemkab juga dapat bagian dari industri serta perkebunan sawit yang ada di daerahnya adalah tepat,” kata Sahat kepada wartawan, Minggu, (7/11/2021).

Hal tersebut, kata Sahat, melihat pengalaman selama ini, para petani yang menjadikan perkembangan sawit tidak banyak mengalami kemajuan di daerah.

“Pusat ( Kementan dan Kemenperin) terlalu jauh untuk melihat dinamiika industri sawit di daerah,” tegas Sahat mengutip pernyataan dari Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI).

Sahat menilai, terdapat sejumlah cara yang dilakukan untuk memberikan dana  tanpa memberatkan pihak manapun terkhusus perusahaaan. Sahat pun menyinggung soal bantuan keuangan atau BK yang dipotong 30 persen dari perolehan export.

“Dana BK dipotong 30% dari perolehan export ( atau besaran BK diperkecil ). Pemkab dan Pemkot mendapatkan besaran USD 8 -10/ ton CPO  dan USD 5-8 /ton CPKO yng dihasilkan oleh PKS dan Crushing Mill, sebagai bagiann dari  APBD,” papar dia.

Dengan begini, lanjut Sahat, Pemerintah Pusat akan dapat mengetahui berapa ton produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) dan crude palm kernel oil (CPKO).

“Per bulan, dan berapa stock CPO dan CPKO setiap minggu,” tandas Sahat.

Diketahui, sejumlah kepala daerah penghasil kelapa sawit mengusulkan adanya ada dana bagi hasil (DBH) kelapa sawit kepada pemerintah pusat. Salah satu yang terang-terangan meminta adanya DBH ialah Provinsi Riau.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara sendiri telah menyetujui terkait DBH dari pajak perkebunan sawit di Riau. Kemenkeu sedang melakukan penghitungan terkait aspirasi dari daerah.

Sumber: Kedaipena.com

,

Asosiasi Waspadai Spekulan Borong Minyak Goreng untuk Diekspor

 

 

Tingginya harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) menjadi incaran para spekulan untuk meraup keuntungan. Apalagi di Indonesia terdapat dua segmen pasar minyak goreng yang memiliki perbedaan harga yang signifikan, yakni minyak goreng yang dijual melalui ritel modern dan pasar tradisional.

“Pasar minyak goreng itu ada dua segmen, melalui modern market dan pasar tradisional yang disebut minyak goreng dengan kemasan sederhana dan curah,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Rabu (3/11).

Berdasarkan data GIMNI, kebutuhan minyak goreng di pasar modern setiap tahunnya sekitar 1,2 juta ton per tahun. Sementara kebutuhan minyak goreng di pasar tradisional lebih tinggi yakni sekitar 2,2 juta ton per tahun.

Harga minyak goreng di masing-masing segmen juga memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Segmen pasar modern selama ini tidak begitu bermasalah, namun sebaliknya di segmen pasar tradisional tengah mengalami kendala kemampuan daya beli masyarakat.

“Segmen pasar (modern) tak bermasalah karena masyarakat pengguna di sini punya purchasing power tinggi, namun pasar (tradisional) mengalami sedikit kendala akan kemampuan daya beli,” kata dia.

Kondisi ini lah yang dikhawatirkan dimanfaatkan para spekulan yang membeli stok minyak goreng di pasar tradisional untuk kebutuhan ekspor. Mengingat kebutuhan minyak sawit secara global tengah mengalami peningkatan.

Untuk itu, Kementerian Perdagangan dan para asosiasi duduk bersama merancang harga minyak goreng di pasar modern dan pasar tradisional. Sehingga perbandingan harga di dua segmen ini tidak terlalu jauh.

“Maka itu lah Kemendag mengorganize pertemuan dengan GIMNI, AIMMI sebagai produsen dan retailer (Aprindo) agar minyak goreng itu berada dalam level yang affordable-price. Yang terakhir ini lah sedang dibuat perumusannya,” tutur Sahat.

Dia menjelaskan bila perbedaan harga khusus dengan harga pasar dunia terlalu tinggi, khawatir akan dimanfaatkan para spekulan. Sebab mereka akan memborong minyak goreng dari pasar tradisional yang harganya lebih murah untuk kepentingan ekspor.

“Bila terlalu tinggi perbedaan harga khusus dengan harga pasar dunia, maka para spekulan akan borong minyak goreng (dari pasar tradisional) itu dan akan mengekspornya, karena untungnya akan besar,” tuturnya.

Maka untuk mengantisipasinya, Pemerintah dan asosiasi tengah merumuskan selisih harga minyak goreng di dua segmen tersebut. Agar perbedaanya dengan harga pasar global tidak terlalu besar dan membuat para spekulan urung melakukan aksi borong minyak dari pasar tradisional.

“Nah itu lah yang sedang dirumuskan, agar selisih harga khusus dengan harga pasar global tidak terlalu besar. Sehingga kurang menarik bagi spekulan untuk berdansa di situasi sekarang ini,” kata dia mengakhiri.

Sebagai informasi, dalam beberapa waktu terakhir, harga minyak goreng di pasar tradisional maupun pasar modern terus mengalami kenaikan di sejumlah daerah di Indonesia. Berdasarkan data dari hargapangan.id pada 3 November 2021, harga minyak goreng di Gorontalo tembus Rp 23.000 per liter. Sementara di Jakarta harga minyak goreng rata-rata Rp 18.900.

Sementara itu dari infopangan.jakarta.go.id, harga minyak goreng di Jakarta rata-rata Rp 18.133 per kilogram. Harga tertinggi minyak goreng di Pasar Anyar Bahari dibanderol Rp 20.000 per kilogram, sedangkan harga terendah dijual di Pasar Pluit sebesar Rp 14.000 per kilogram.

 

Sumber: Merdeka.com

,

Harga Minyak Goreng Melambung

 

Melambungnya harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar internasional tak hanya mempertebal devisa nasional, tapi juga menguras kantong konsumen di dalam negeri. Bahkan, harga minyak goreng curah, yang ditetapkan acuannya di tingkat konsumen oleh pemerintah melalui harga eceran tertinggi (HET), sudah melambung 43% lebih. Sayangnya, pemerintah hanya bersikap menunggu dan tak ada operasi pasar.

Tingginya harga komoditas minyak sawit menjadi pedang bermata dua buat Indonesia. Di satu sisi, penjualan ekspor terus mempertebal devisa nasional, yang tahun 2020 lalu menyumbang rekor devisa 25,6 miliar dolar AS. Namun di sisi lain, kenaikan harga minyak sawit di pasar dunia ikut berimbas naiknya harga minyak goreng di dalam negeri.

Bayangkan, menurut data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, harga minyak goreng kemasan sederhana per 29 Oktober 2021 sudah mencapai Rp15.800/liter. Harga itu jauh di atas HET yang ditetapkan lewat Permendag No.07 Tahun 2020, yang menetapkan harga minyak goreng kemasan sederhana Rp11.000/liter, atau lebih tinggi 43% lebih. Apalagi jika melihat harga minyak goreng bermerek di pasar swalayan yang sudah mencapai Rp16.000-Rp17.000/liter.

Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengakui bahwa harga jual minyak goreng di dalam negeri sudah terlalu tinggi dan di atas perhitungan GIMNI. Berdasarkan perhitungan GIMNI, dengan mengacu harga CPO saat ini, harga minyak goreng kemasan tidak lebih dari Rp15.400/liter. Sedangkan untuk minyak goreng curah, harganya maksimal Rp13.500/liter. “Pedagang jangan ambil kesempatan untuk mengambil untung lebih besar,” ujar Direktur Eksekutif GIMNI, Sahat Sinaga, Kamis (28/10/2021).

Sejauh ini, Kementerian Perdagangan masih belum bertindak untuk menstabilkan harga di pasar. Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan mengatakan, untuk mengantisipasi lonjakan harga, Kemendag lebih memilih untuk memastikan ketersediaan komoditas tersebut di dalam negeri. “Sejauh ini kita pastikan stok minyak goreng aman, baik itu minyak curah, minyak sederhana ataupun minyak kemasan,” ucap Oke, pekan lalu.

Kemendag juga belum berencana melakukan operasi pasar minyak goreng, namun tetap melakukan monitoring dan pengawasan secara ketat terhadap perkembangan di pasar. Untuk itu, pihaknya telah bersurat kepada pelaku atau produsen minyak goreng di dalam negeri untuk memasok komoditas tersebut di pasar dalam negeri.

Sahat mengaku bahwa produsen minyak goreng terus berusaha membanjiri produk ke pasar. “Kami siap mendukung Kementerian Perdagangan untuk menstabilkan harga minyak goreng di dalam negeri sehingga masyarakat konsumen bisa mendapatkan komoditas ini sesuai harga normal,” ujarnya. Namun, dia juga meminta agar HET saat ini ditinjau dan penetapan HET kalau perlu dilakukan setiap pekan sesuai perkembangan harga komoditas itu di pasaran. AI

 

Sumber: Agroindonesia.co.id

,

Harga Minyak Goreng Mahal, Ikappi: Kemendag Harus Tegur Pengusaha

 

Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) mencatat hingga Senin 1 Oktober 2021 harga minyak goreng di pasar masih tinggi.

Jika harga eceren tertinggi ditetapkan Rp12.500, harga minyak goreng yang dijual di pasaran saat ini menembus Rp19.000/kg di Jakarta dan Rp21.000/kg di Gorontalo sampai Aceh.

Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Ikappi Reynaldi Sarijowan mengatakan,
pemerintah perlu melakukan tindakan atas tingginya harga minyak di pasaran.

“Kami melihat pedagang pasar ini yang disalahkan sama konsumen. Teman-teman kami yang di pasar sekarang tidak hanya mendapat keluhan dari konsumen, tapi kemampuan belinya pun turun. Kalau biasanya tukang gorengan membeli 5 kg per hari karena harganya mahal dia hanya mampu beli 3 kg. Kan minyak goreng ini dipakai oleh semua kalangan,” jelas dia kepada Tirto, Senin (1/11/2021).

Adapun jika alasan harga minyak yang terjadi saat ini dipicu oleh kenaikan harga crude palm oil (CPO) dunia. Menurutnya, Kementerian Pedagangan seharusnya lebih cepat untuk mengantisipasi masalah ini.

“Kita harus tahu kalau memang kenaikannya dari luar negeri tapi harusnya ada jalan tengah ya komunikasi antara Kementerian Perdagangan, pedagang pasar dan pengusaha minyak. Kalau sekarang kan hitungannya bikin kaget. Sepekan lalu harganya Rp15 ribu tiba-tiba Rp16 ribu kemudian sekarang Rp19 ribu ini benar-benar tidak wajar harusnya pemerintah intervensi pengusaha minyak,” jelas dia.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menjelaskan kenaikan harga minyak goreng di pasaran saat ini imbas dari tingginya harga minyak sawit mentah (CPO) dan kurangnya pasokan bahan baku di pasar minyak nabati dan lemak secara global.

Sahat saat dihubungi di Jakarta, Rabu, mengatakan saat ini harga CPO global yang menjadi acuan yaitu CiF Rotterdam sedang tinggi sehingga menyebabkan harga CPO lokal ikut melonjak dan berpengaruh pada biaya produksi industri minyak goreng kelapa sawit.

Selain itu, Sahat menerangkan kondisi pasar minyak nabati dan lemak (oils & fats) global tengah mengalami kekurangan pasokan akibat pandemi dan cuaca buruk.

Kategori minyak nabati hard oils ialah minyak sawit, minyak kernel, dan minyak kelapa. Kategori soft oils adalah minyak kedelai, minyak rapeseed, minyak canola, minyak bunga matahari dan lainnya. Sedangkan kategori lemak terdiri dari minyak ikan dan hewan lainnya.

Sahat menerangkan produksi minyak canola di Kanada dan produksi minyak kedelai di Argentina mengalami penurunan sehingga menyebabkan melonjaknya harga komoditas minyak nabati. Produksi CPO di Malaysia juga menurun akibat kekurangan tenaga kerja untuk memanen buah sawit.

“Hukum ekonomi supply vs demand berlangsung terjadi. Pasokan oils & fats dunia sangat berkurang. Inilah faktor utama terjadi short supply, maka harga minyak sawit di pasar global meningkat pesat sejak Januari 2021,” ungkap Sahat.

Sementara itu, Kementerian Perdagangan memastikan bahwa saat ini stok minyak goreng aman di tengah tingginya harga minyak di dalam negeri.

“Pemerintah akan memastikan ketersediaan minyak goreng di dalam negeri. Harga minyak goreng tetap mengikuti mekanisme pasar, saat ini harga minyak goreng sangat dipengaruhi oleh kenaikan harga CPO,” jelas Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan kepada Tirto, Kamis (28/10/2021).

Menurutnya, beberapa langkah yang akan dilakukan untuk mengatasi permasalahan harga minyak naik di antaranya adalah memantau produsen dan pedagang agar tetap menjual harga minyak sesuai dengan HET.

“Pemerintah akan memantau sesuai harga acuan khusus untuk minyak goreng kemasan sederhana sedangkan untuk kemasan lainnya tetap mengikuti mekanisme pasar,” terang dia.

 

Sumber: Tirto.id

,

Senator Riri: Merangkak Naik, Kendalikan Harga Minyak Goreng

 

 

Komoditas minyak goreng di Bengkulu mulai merangkak naik. Hal ini tampak dari pengakuan sejumlah pedagang di pasar-pasar tradisional di Kota Bengkulu yang menyatakan kenaikan harga tersebut terjadi secara perlahan-lahan sejak awal tahun 2021.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief meminta kepada Kementerian Perdagangan untuk melakukan langkah-langkah antisipasi agar kenaikan harga minyak goreng tidak membuat susah masyarakat di daerah-daerah.

“Saya senang harga minyak kelapa sawit mentah atau CPO (crude palm oil) meningkat. Karena ini artinya petani kelapa sawit bisa sejahtera. Tapi tidak berarti harga minyak goreng dibiarkan naik sampai menyusahkan masyarakat. Daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih dari pandemi covid-19,” kata Hj Riri Damayanti John Latief, Senin (1/11/2021).

Wakil Ketua Umum BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Provinsi Bengkulu ini menjelaskan, tak hanya masyarakat kecil, kenaikan harga minyak goreng ini juga akan menyulitkan perkembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) khususnya yang membutuhkan komoditas tersebut dalam menjalankan usahanya.

“Kalau pada akhirnya banyak yang terpaksa memakai minyak goreng secara berulang-ulang karena keberatan membeli minyak goreng yang baru, dampaknya jadi ke kesehatan masyarakat. Jadi harus ada solusi dengan segera, jangan sampai terlambat,” ungkap Hj Riri Damayanti John Latief.

Wakil Bendahara III Ikatan Keluarga Seluma, Manna, Kaur (SEMAKU) ini menegaskan pentingnya operasi pasar sebagai solusi jangka pendek dan cepat untuk merem harga minyak goreng agar tidak melambung tinggi di lokasi-lokasi strategis.

“Operasi pasar ini untuk jangka pendek saja. Jangka panjang harus ada pengendalian harga yang lebih baik. Semisal ada ulah-ulah oknum nakal yang bermain yang menyimpan dan melepas CPO ketika harganya naik, tindak tegas jangan pakai ampun,” papar Hj Riri Damayanti John Latief.

Alumni Magister Manajemen Universitas Bengkulu ini menambahkan, upaya pengendalian harga minyak goreng ini harus diprioritaskan ketimbang agenda-agenda lainnya karena komoditas ini bertali-temali dengan banyak komoditas lainnya.

“Mayoritas makanan sangat bergantung dengan minyak goreng. Di Bengkulu memang belum banyak yang mengeluhkan hal ini tapi dampaknya mulai terasa karena mulai mendongkrak harga komoditas yang lain. Jadi perlu antisipasi cepat,” demikian Hj Riri Damayanti John Latief.

Untuk diketahui, harga minyak kelapa sawit mentah atau CPO secara internasional meningkat dan berimbas pada melonjaknya harga minyak goreng di pasar Indonesia.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga menyatakan, naiknya harga CPO global menyebabkan harga CPO nasional ikut melambung serta mempengaruhi biaya produksi industri minyak goreng kelapa sawit.

 

Sumber: Pedomanbengkulu.com

,

Harga CPO Yang Melonjak Jadi Penyebab Melambungnya Komoditas Minyak Goreng

 

Harga komoditas minyak goreng di sejumlah wilayah di Indonesia mengalami kenaikan.

Mengutip Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), Senin (1/11/2021), harga rata-rata minyak goreng curah di Indonesia naik 0,9 persen atau Rp150 menjadi Rp16.750 per kilo gram.

Sementara, harga minyak goreng kemasan bermerek 1 senilai Rp17.750 per kilo gram, dan harga minyak goreng kemasan bermerek 2 menjadi Rp17.300 per kilo gram.

Wilayah yang memiliki harga minyak goreng curah tertinggi adalah Provinsi Gorontalo yakni Rp21.650 per kilo gram.

Sementara untuk di wilayah DKI Jakarta tercatat Rp19.350 per kilo gram.

Ketua Umum Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni), Bernard Riedo mengungkapkan, melambungnya harga minyak goreng dipengaruhi meningkatnya harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil/CPO di pasar internasional.

Sejalan dengan naiknya harga bahan baku tersebut, maka melonjaknya harga minyak goreng tak bisa terhindarkan.

“Kenaikan harga minyak goreng karena terjadi kenaikan bahan baku yaitu CPO,” ujar Bernard saat dihubungi Tribunnews, Senin (1/11/2021).

“Ini disebakan tren, karena tren kenaikan seluruh harga minyak nabati di dunia,” sambungnya.

Tingginya harga minyak goreng ini juga berkontribusi terhadap inflasi Oktober 2021.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Oktober 2021 mengalami inflasi sebesar 0,12 persen.

Komoditas utama yang alami infalasi adalah cabe merah dan minyak goreng dengan andil masing-masing 0,05 persen, serta daging ayam ras dengan andil sebesar 0,02 persen.

Sebelumnya, Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) melakukan pemantauan pergerakan harga minyak goreng, seiring adanya kenaikan harga di berbagai daerah.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan juga mengatakan, kenaikan harga minyak goreng karena melonjaknya harga minyak kelapa sawit internasional.

“Pemerintah akan memantau sesuai harga acuan khusus untuk minyak goreng kemasan sederhana, sedangkan untuk kemasan lainnya tetap mengikuti mekanisme pasar,” ucap Oke saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Meski harga mengalami kenaikan, kata Oke, pemerintah belum berencana melakukan operasi pasar untuk menekan harga komoditas tersebut.

“Operasi pasar tidak ada, karena yang saya pastikan ketersediaan dalem negeri. Jangan sampai mereka produknya diekspor, artinya pemuhi dulu kebutuhan dalam negeri,” tutur Oke.

Pernyataan Pemerintah

Mengutip Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Internasional (PIHPS), Rabu (27/10/2021), harga minyak goreng curah naik 0,16 persen atau Rp 100 menjadi Rp 16.500 per kilo gram.

Sementara, harga minyak goreng kemasan bermerek 1 senilai Rp 17.350 per kg, naik 0,29 persen atau Rp 50, dan harga minyak goreng kemasan bermerek 2 naik 0,34 persen atau Rp 50 menjadi Rp 16.850 per kg.

Harga minyak goreng terendah ada di Kepulauan Riau senilai Rp 15.850 per kg, dan tertinggi di Gorontalo Rp 20.150 per kg.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan, kenaikan harga minyak goreng di dalam negeri, karena melonjaknya harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) di pasar internasional.

“Minyak goreng ini kan bahan bakunya CPO. Jadi Harga minyak goreng tetap mengikuti mekanisme pasar, saat ini harga minyak goreng sangat dipengaruhi oleh kenaikan harga CPO,” kata Oke.

Sementara itu pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengungkapkan, kenaikan harga minyak goreng disebabkan adanya kekurangan pasokan akan minyak nabati (oils) dan minyak hewani (fats) di pasar global.

“Pandemi ini membuat suasana lapangan produksi semua serba tak jelas. Produksi minyak nabati dan minyak hewani semua menurun dibandingkan dengan produksi di tahun sebelum adanya pandemi.

Intinya, seperti hukum ekonomi, di mana antara supply dan demand terjadi kepincangan maka pasokan dunia sangat berkurang,” ujar Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga saat dihubungi Kompas.com, Senin (25/10/2021).

Ia mengatakan produksi minyak nabati dan hewani telah menurun sebanyak 266.000 ton pada 2020. Penurunan produksi tersebut juga terjadi pada 2021.

Selain itu, kenaikan harga minyak goreng juga disebabkan adanya kenaikan harga minyak sawit atau CPO Indonesia. Saat ini kata Sahat, harga CPO di Indonesia masih berbasis harga CPO CiF Rotrerdam. Dia menilai, apabila harga CiF Rotterdam mengalami kenaikan, maka harga CPO lokal juga naik.

Sahat juga menjelaskan, saat ini industri penghasil minyak goreng di Indonesia tidak punya hubungan usaha dengan perkebunan sawit.

Oleh sebab itu, menurut dia, harga jual yang dipasarkan oleh industri penghasil minyak goreng sama dengan harga CPO yang sudah ditambahkan dengan biaya olah, biaya kemasan, dan biaya ongkos angkut.

“Dengan demikian harga jual yang mereka lakukan adalah sesuai dengan kondisi lapangan dan kini para produsen minyak goreng sudah tidak bisa lagi mengikuti harga patokan yang ditetapkan oleh regulator,” ungkap Sahat.

Sebelumnya, mengutip dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, minyak goreng kemasan bermerek 1 terpantau naik sebesar 1,16 persen atau Rp 200 menjadi Rp 17.400 per kilogram, minyak goreng kemasan bermerek 2 terpantau naik sebesar 0,9 persen atau Rp 150 menjadi Rp 16.850 per kilogram, dan minyak goreng curah secara nasional terpantau naik sebesar 2,15 persen atau Rp 350 menjadi Rp 16.600 per kilogram.

Sumber: Tribunnews.com

,

Harga Minyak Goreng Naik, Pedagang Pasar Anyar: Pelanggan Mau atau Tidak

 

 

TANGERANG, KOMPAS.com – Sejumlah pedagang di Pasar Anyar, Kota Tangerang, mengeluhkan soal kenaikan harga minyak goreng yang cukup tinggi.

Tio (45), pedagang di pasar itu, mengaku menjual satu liter minyak goreng dengan harga Rp 18.000-19.000. Harga tersebut naik Rp 4.000 dari harga sebelumnya, yakni Rp 14.000-15.000.

“Meningkatnya sudah cukup lama ya, sekitar bulan September pertengahan,” ucap dia saat ditemui, Jumat (29/10/2021).

Menurut Tio, kenaikan harga minyak goreng membawa dampak pada sejumlah hal.

Sebelum terjadi kenaikan harga, dulu Tio bisa membeli tiga dus minyak goreng per hari. Namun, saat ini dia hanya membeli satu dus minyak goreng per hari.

Pembelian minyak goreng di agen juga disesuaikan lantaran pembeli minyak goreng di lapaknya menurun.

 

“Di sini yang beli kebanyakan ibu-ibu, ada juga penjual nasi goreng, dan lainnya, sebagian. Ya abisnya harga naik, pembeli di saya malah menurun,” keluh Tio.

Dalam kesempatan itu, Tio berharap pemerintah dapat mengontrol harga minyak goreng agar pembelinya meningkat lagi.

Inggwan (55), yang juga pedagang, mengaku menjual 900 mililiter-1 liter minyak goreng dengan harga Rp 19.000.

Kemudian, untuk minyak goreng 5 liter dia jual dengan harga Rp 90.000. Sebelum naik, minyak goreng 5 liter dijual seharga Rp 75.000.

“Sekarang minyak mahal. Kalau ini saya hampir naik setiap hari ya, kadang Rp 500, Rp 1.000, Rp 2.000, sampai akhirnya ya sekarang, Rp 19.000 buat yang 900 mililiter sama 1 liter,” papar Inggwan saat ditemui, Jumat.

Dia berujar, lantaran harga minyak goreng naik, pembeli di lapaknya mengalami penurunan meski tidak signifikan.

Pasalnya, banyak pembeli di lapaknya yang merupakan pedagang.

“Mereka kan jadinya, mau enggak mau, ya harus beli. Kasihan saya sama pedagang-pedagang kecil itu,” ucapnya.

Inggwan sendiri tidak mengetahui mengapa minyak goreng mengalami kenaikan harga.

“Saya beli dari distributor, bukan agen, itu emang udah dari sananya sudah naik,” kata dia.

“Ya harapannya biar pemerintah bisa lah nurunin harganya, kasihan pedagang. Apalagi minyak kan bahan pokok ya,” harapnya.

Bimo (30), mengaku setiap harinya hanya dapat menjual satu dus berisikan enam minyak goreng satu liter per hari usai harga bahan pokok itu melonjak.

Harga minyak goreng satu liter dia jual Rp 19.000, sedangkan sebelumnya Rp 14.000.

Saat harga minyak goreng masih normal, Bimo mampu menjual tiga dus berisikan enam minyak goreng satu liter per hari.

Ngaruh banget ke pembeli, berkurang (pembelinya),” paparnya saat ditemui.

Dia mengaku, minyak goreng yang dijual mengalami kenaikan harga secara bertahap, hingga saat ini sudah menyentuh Rp 19.000.

Bimo sendiri tidak mengetahui alasan harga minyak goreng dapat melonjak.

 

“Wah enggak tau saya, saya beli di agen, itu emang udah naik sih,” kata dia.

 

Bimo berharap pemerintah mampu menurunkan harga minyak goreng sehingga jumlah pembeli dapat kembali normal.

 

Diberitakan sebelumnya, harga minyak goreng melonjak pada akhir Oktober 2021. Lonjakan harga minyak goreng tersebut terjadi di berbagai daerah.

 

Pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengungkapkan, kenaikan harga minyak goreng disebabkan adanya kekurangan pasokan akan minyak nabati (oils) dan minyak hewani (fats) di pasar global.

 

“Pandemi ini membuat suasana lapangan produksi semua serba tak jelas. Produksi minyak nabati dan minyak hewani semua menurun dibandingkan dengan produksi di tahun sebelum adanya pandemi. Intinya, seperti hukum ekonomi, di mana antara supply dan demand terjadi kepincangan maka pasokan dunia sangat berkurang,” ujar Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga saat dihubungi Kompas.com, Senin (25/10/2021).

 

 

Sumber: Kompas.com

,

Harga Minyak Goreng Sawit Melangit Ini loh Sebabnya

 

InfoSAWIT, JAKARTA – Melangitnya harga minyak sawit mentah (CPO) di dunia, berimbas pada meonjaknya harga minyak goreng sawit di pasar domestik. Diungkapkan Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, lantaran saat ini harga CPO global yang menjadi acuan yaitu CIF Rotterdam sedang tinggi sehingga menyebabkan harga CPO lokal ikut melonjak dan berpengaruh pada biaya produksi industri minyak goreng kelapa sawit.

Meningkatnya harga CPO tersebut dipicu karena kondisi pasar minyak nabati dan lemak (oils & fats) global mengalami kekurangan pasokan akibat pandemi dan cuaca buruk. Seperti dikutip Antara, Sahat mengungkapkan, produksi minyak kanola di Kanada dan produksi minyak kedelai di Argentina mengalami penurunan sehingga menyebabkan melonjaknya harga komoditas minyak nabati.

“Produksi CPO di Malaysia juga menurun akibat kekurangan tenaga kerja untuk memanen buah sawit,” katanya belum lama ini.

Lebih lanjut tutur dia, hukum ekonomi supply vs demand berlangsung terjadi. Pasokan oils & fats dunia sangat berkurang. Inilah faktor utama terjadi short supply, maka harga minyak sawit di pasar global meningkat pesat sejak Januari 2021 lalu.

Sahat memprediksi kenaikan harga sawit masih akan terjadi, setidaknya hingga kuartal I 2022 mengingat kedua faktor penghambat produksi minyak nabati yaitu pandemi COVID-19 dan cuaca buruk.

Berdasarkan data panel harga Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, harga rata-rata minyak goreng secara nasional per 27 Oktober mencapai Rp16.230 per liter, meningkat Rp150 atau 0,93 persen dibandingkan hari sebelumnya. Harga minyak goreng paling tinggi di Provinsi Aceh Rp17.380 per liter dan paling rendah di Bengkulu Rp14.890 per liter. (T2)
,

Apa penyebab harga minyak melonjak di akhir Oktober 2021?

 

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menjelang akhir Oktober 2021, harga minyak goreng mengalami kenaikan. Lonjakan harga minyak goreng tersebut terjadi di berbagai daerah.

Pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengungkapkan, kenaikan harga minyak goreng disebabkan adanya kekurangan pasokan akan minyak nabati (oils) dan minyak hewani (fats) di pasar global.

“Pandemi ini membuat suasana lapangan produksi semua serba tak jelas. Produksi minyak nabati dan minyak hewani semua menurun dibandingkan dengan produksi di tahun sebelum adanya pandemi. Intinya, seperti hukum ekonomi, di mana antara supply dan demand terjadi kepincangan maka pasokan dunia sangat berkurang,” ujar Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga saat dihubungi Kompas.com, Senin (25/10/2021).

Ia mengatakan produksi minyak nabati dan hewani telah menurun sebanyak 266.000 ton pada 2020. Penurunan produksi tersebut juga terjadi pada 2021.

Selain itu, kenaikan harga minyak goreng juga disebabkan adanya kenaikan harga minyak sawit atau CPO Indonesia. Saat ini kata Sahat, harga CPO di Indonesia masih berbasis harga CPO CiF Rotrerdam. Dia menilai, apabila harga CiF Rotterdam mengalami kenaikan, maka harga CPO lokal juga naik.

Sahat juga menjelaskan, saat ini industri penghasil minyak goreng di Indonesia tidak punya hubungan usaha dengan perkebunan sawit.

Oleh sebab itu, menurut dia, harga jual yang dipasarkan oleh industri penghasil minyak goreng sama dengan harga CPO yang sudah ditambahkan dengan biaya olah, biaya kemasan, dan biaya ongkos angkut.

“Dengan demikian harga jual yang mereka lakukan adalah sesuai dengan kondisi lapangan dan kini para produsen minyak goreng sudah tidak bisa lagi mengikuti harga patokan yang ditetapkan oleh regulator,” ungkap Sahat.

Sebelumnya, mengutip dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, minyak goreng kemasan bermerek 1 terpantau naik sebesar 1,16 persen atau Rp 200 menjadi Rp 17.400 per kilogram, minyak goreng kemasan bermerek 2 terpantau naik sebesar 0,9 persen atau Rp 150 menjadi Rp 16.850 per kilogram, dan minyak goreng curah secara nasional terpantau naik sebesar 2,15 persen atau Rp 350 menjadi Rp 16.600 per kilogram.

 

 

Sumber: Kontan.co.id

,

Harga minyak goreng melonjak tinggi, ini penyebabnya

 

JAKARTA. Menjelang akhir Oktober 2021, harga minyak goreng mengalami kenaikan. Lonjakan harga minyak goreng tersebut terjadi di berbagai daerah.

Pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengungkapkan, kenaikan harga minyak goreng disebabkan adanya kekurangan pasokan akan minyak nabati (oils) dan minyak hewani (fats) di pasar global.

“Pandemi ini membuat suasana lapangan produksi semua serba tak jelas. Produksi minyak nabati dan minyak hewani semua menurun dibandingkan dengan produksi di tahun sebelum adanya pandemi. Intinya, seperti hukum ekonomi, di mana antara supply dan demand terjadi kepincangan maka pasokan dunia sangat berkurang,” ujar Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga saat dihubungi Kompas.com, Senin (25/10/2021).

Ia mengatakan produksi minyak nabati dan hewani telah menurun sebanyak 266.000 ton pada 2020. Penurunan produksi tersebut juga terjadi pada 2021.

Selain itu, kenaikan harga minyak goreng juga disebabkan adanya kenaikan harga minyak sawit atau CPO Indonesia. Saat ini kata Sahat, harga CPO di Indonesia masih berbasis harga CPO CiF Rotrerdam. Dia menilai, apabila harga CiF Rotterdam mengalami kenaikan, maka harga CPO lokal juga naik.

Sahat juga menjelaskan, saat ini industri penghasil minyak goreng di Indonesia tidak punya hubungan usaha dengan perkebunan sawit.

Oleh sebab itu, menurut dia, harga jual yang dipasarkan oleh industri penghasil minyak goreng sama dengan harga CPO yang sudah ditambahkan dengan biaya olah, biaya kemasan, dan biaya ongkos angkut.

“Dengan demikian harga jual yang mereka lakukan adalah sesuai dengan kondisi lapangan dan kini para produsen minyak goreng sudah tidak bisa lagi mengikuti harga patokan yang ditetapkan oleh regulator,” ungkap Sahat.

Sebelumnya, mengutip dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, minyak goreng kemasan bermerek 1 terpantau naik sebesar 1,16 persen atau Rp 200 menjadi Rp 17.400 per kilogram, minyak goreng kemasan bermerek 2 terpantau naik sebesar 0,9 persen atau Rp 150 menjadi Rp 16.850 per kilogram, dan minyak goreng curah secara nasional terpantau naik sebesar 2,15 persen atau Rp 350 menjadi Rp 16.600 per kilogram.

 

Sumber: Kontan.co.id