,

Harga Bahan Baku Naik, Industri Makanan Pilih Tahan Harga

 

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku industri makanan memilih untuk tidak menaikkan harga pangan olahan meskipun harga bahan baku memperlihatkan kenaikan.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan salah satu bahan baku yang memperlihatkan kenaikan adalah minyak sawit. Komoditas ini dipakai di banyak produk pangan olahan yang melalui proses penggorengan.

“Kenaikan harga minyak sawit ini pasti akan menyebabkan adanya kenaikan biaya produksi, kami menyadari itu dan mau tidak mau memengaruhi biaya pokok. Terutama pada produk turunan sawit, termasuk untuk ingredients pangan olahan seperti mie instan dan produk yang melalui proses penggorengan,” kata Adhi kepada Bisnis, Senin (30/11/2020).

Meski ada kenaikan harga pada biaya produksi, Adhi mengaku produsen pangan olahan tidak bisa serta-merta menaikkan harga barang yang dipasok ke ritel. Dia memperkirakan pelaku usaha akan memilih opsi mempertahankan harga karena mempertimbangkan daya beli konsumen yang belum pulih.

“Kondisi ini pernah kami rasakan ketika harga sawit menembus US$1.000 per ton. Tapi kalau melihat kondisi ini bagi kami akan sulit menaikkan harga karena belum normal. Saya lihat hampir sebagian besar akan bertahan dengan harga lama meskipun ada kenaikan biaya produksi,” kata Adhi.

Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi industri makanan. Adhi menilai langkah menaikkan harga bakal memberi dampak besar terhadap sisi konsumsi jika diambil oleh produsen. Selain itu, dia meyakini fluktuasi harga sawit akan lebih terkendali ke depannya.

“Bagi industri sawit yang masuk ke industri makanan kenaikan harga memberi keuntungan juga. Jadi secara umum memberi dampak baik bagi sektor ini dan bisa terdongkrak pertumbuhannya,” lanjutnya.

Kenaikan harga minyak nabati ini pun dibenarkan oleh Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga. Dia mengatakan harga minyak nabati di Dumai telah mencapai Rp9.550 per kilogram. Tetapi, dia mengatakan harga saat ini relatif turun dibandingkan pada bulan lalu yang mencapai Rp9.700 per kilogram.

“Kami perkirakan harga akan di kisaran Rp9.600 per kilogram di tengah ketidakpastian regulasi pungutan ekspor dan tentunya harga ke pangan olahan juga ikut terdampak,” kata Sahat saat dihubungi.

Mengutip laporan Bloomberg, harga minyak sawit yang hampir menyamai harga tertingginya pada 8 tahun lalu diperkirakan oleh sejumlah analis bakal berimbas pada harga pangan olahan di tingkat ritel. Pasokan yang ketat dan prospek pemulihan ekonomi membuat konsumsi bakal meningkat.

Sebagai bahan baku untuk separuh produk yang dijual di supermarket, harga minyak sawit naik 70 persen dibandingkan pada Mei lalu. Reli ini melampaui harga minyak kedelai yang naik 58 persen dibandingkan harga terendahnya pada Maret.

Cuaca yang tak mendukung telah mengganggu produksi minyak nabati lain seperti minyak kedelai. Pasokan minyak sawit pun semakin ketat seiring dengan terbatasnya jumlah pekerja migran yang mengelola perkebunan sawit di Malaysia, produsen terbesar nomor dua komoditas ini.

Sementara di Indonesia, laporan Gapki memperlihatkan bahwa produksi sawit per September 4,7 persen lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019.

 

Sumber: Bisnis.com

,

Apkasindo Prediksi Volume Ekspor CPO Akan Tumbuh Tipis

 

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) meramalkan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit akan terus meningkat pada 2021. Namun, pertumbuhan ekspor minyak mentah kelapa sawit (crude palmoil/CPO) tahun depan diprediksi akan mulai melambat.

Ketua Umum Apkasindo Gulat Manurung mencatat harga TBS telah menembus level RM2.100 per ton dari posisi tahun lalu sekitar RM1.500 per ton. Menurutnya, angka tersebut akan terus tumbuh pada 2021 dengan adanaya peluncuran program B40 oleh pemerintah.

“Kalau predisi saya, [harga] TBS petani kelapa sawit akan mendekati RM2.500 per taon. Apalagi tahun depan akan launching program B40. Harga TBS petani sejak ada [program] biodiesel tidak pernah di bawah RM1.500 per ton lagi,” katanya kepada Bisnis, Jumat (27/11/2020).

Walakin, pertumbuhan ekspor CPO pada 2021 hanya akan tumbuh melambat yakni sekitar 1-5 persen dari realisasi 2020. Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh adanya pemulihan perekonomian global dari pandemi Covid-19.

Gulat menilai peningkatan ekspor CPO sepanjang 2020 disebabkan oleh diberlakukannya protokol lockdown di negara produsen CPO, salah satunya Malaysia. Alhasil, produktifitas perkebunan kelapa sawit negeri jiran itu merosot lantaran kekurangan tenaga kerja untuk memanen kelapa sawit.

Namun, hal tersebut akan berubah seiring pembukaan protokol lockdown di Malaysia. Dengan kata lain, persaingan pasar CPO global akan kembali normal pada 2021.

Gulat menilai program replanting perkebunan kelapa sawit bukan tidak menjadi faktor penurunan pertumbuhan tersebut. Pasalnya, program replanting sampai saat ini baru mencakup sekitar 200.00 hekater dari total luas kebun sawit nasional yang mencapai 7 juta hektar.

Gulat mengingatkan agar pemangku kepentingan mewaspadai program replanting tersebut yang akan rampung pada 2025. Pasalnya, produktifitas kebun sawit nasional diramalkan akan meningkat secara eksponensial. “Ini yang harus dicari solusinya, karena produksi petani akan meningkat 2-2,5 kali lipat dari rata-rata yang ada.”

Terpisah, Ketua Umum Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) Sahat Sinaga meramalkan volume produksi CPO akan meningkat hingga 8 persen secara tahunan pada 2021 menjadi sekitar 35,8 juta ton. Di samping itu, harga CPO diramalkan akan stabil di kisaran US$700-US$800 per ton.

Price ekspor akan tetap stabil di atas,” ucapnya.

Pada awal 2020, Gimni menargetkan produksi oleopangan nasional dapat mencapai 7,1 juta ton. Namun, pandemi Covid-19 membuat asosiasi tersebut mengubah proyeksi menjadi sekitar 6,4 juta ton hingga akhir 2020.

Sahat menyatakan pendorong utama penurunan produksi tersebut disebabkan oleh melemahnya permintaan terhadap minyak curah. Dengan kata lain, permintaan minyak untuk warung makan kecil dan pedagang kecil berkurang selama pandemi.

Sahat meramalkan produksi minyak goreng curah hingga akhir tahun akan turun sekitar 35 persen menjadi 2,1 juta ton. “[Produksi minyak goreng curah] ini terendah 5 tahun terakhir.”

 

Sumber: Bisnis.com

,

Mendekati 2021, Kontribusi Refined CPO Diperkirakan Meningkat

 

Meskipun penyebaran Covid-19 di Indonesia masih masif terjadi, Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menyatakan, kontribusi produksi olahan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada 2021 akan meningkat. Hal tersebut seiring dengan kebijakan pemerintah terkait optimalisasi hilirisasi industri.

Ketua Umum GIMNI, Sahat Sinaga mengatakan, saat ini produk olahan CPO berkontribusi sekitar 76 persen terhadap total ekspor CPO dan turunannya.

“Saya proyeksi total ekspor CPO dan turunannya pada 2021 mencapai 35,8 juta ton. Itu, most likely, 19-20 persen CPO, sisanya atau 80 persen bisa ditopang dari produk olahan, sehingga nilai tambah akan lebih baik,” kata Sahat.

Lebih lanjut Sahat menjelaskan, proyeksi tersebut berdasarkan prediksi kontribusi produk turunan CPO dari Malaysia yang dinilai akan melemah disebabkan India yang akan menurunkan biaya levy CPO nasional dan menaikkan levy turunan CPO.

Alhasil, dinamika industri produk turunan CPO akan mengalami kesulitan. Pasalnya, harga CPO Indonesia yang sudah tinggi menjadi kurang menarik untuk dijadikan bahan baku untuk industri produk turunan CPO Malaysia.

“Malaysia akan mengalami kesulitan karena harga CPO kita akan tinggi pada 2021, tidak mungkin beli CPO dia dari Indonesia. Makanya, mangkraklah industri turunan CPO Malaysia,” ucap Sahat.

Seperti diketahui, Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 87/2020 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar membuat bea keluar CPO per November 2020 naik hingga US$13,5 (atau sekitar Rp190.350).

Dengan kata lain, bea keluar CPO saat ini menjadi US$782,03 per MT (atau sekitar Rp11.026.623 per MT). Data Gapki mencatat, volume ekspor CPO pada periode Januari-Agustus 2020 merosot 11 persen menjadi 21,3 juta ton secara y-o-y. Penurunan tersebut didorong lesunya permintaan produk olahan CPO mencapai 16,1 persen menjadi 12,8 juta ton.

 

Sumber: Wartaekonomi.co.id

,

GIMNI : Ekspor Turunan CPO Akan Meningkat

 

 

Bisnis.com, JAKARTA – Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menyatakan kontribusi produksi olahan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada 2021 akan meningkat, seiring dengan kebijakan pemerintah yang lebih berpihak pada hilirisasi industri.

Ketua Umum Gimni Sahat Sinaga mendata saat ini produk olahan CPO berkontribusi sekitar 76 persen dari total ekspor CPO dan turunannya. Sahat menilai angka tersebut akan meningkat pada 2021 karena adanya kebijakan pemerintah yang pro hilirisasi industri CPO.

“Saya proyeksi [total ekspor CPO dan turunannya pada 2021] 35,8 juta ton. Itu, most likely, 19-20 persen crude [CPO], sisanya atau 80 persen bisa ditopang processed [CPO], sehingga nilai tambah akan lebih baik,” katanya kepada Bisnis, Selasa (24/11/2020).

Sahat menyatakan proyeksi tersebut berdasarkan pada prediksi kontribusi produk turunan CPO dari Malaysia yang dinilai akan melemah. Hal ini disebabkan oleh India yang akan menurunkan biaya levy CPO nasional dan menaikkan levy turunan CPO.

Alhasil, dinamika industri turunan CPO akan mengalami kesulitan. Pasalnya, harga CPO Indonesia yang sudah tinggi menjadi kurang menarik untuk dijadikan bahan baku oleh industri turunan CPO Negeri Jiran.

“Malaysia akan mengalami kesulitan karena harga CPO kita akan tinggi [pada 2021], tidak mungkin beli [CPO] dia dari Indonesia. Makanya, mangkraklah industri [turunan CPO] Malaysia,” ucap Sahat.

Seperti diketahui, Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 87/2020 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar membuat bea keluar CPO per November 2020 naik US$13,5. Dengan kata lain, bea keluar CPO saat ini menjadi US$782,03 per metrik ton.

Sahat menyatakan Kementerian Keuangan akan kembali menyesuaikan nilai bea keluar pada seluruh industri CPO dan turunannya dalam waktu dekat. “[Alhasil, selisih] penggunaan dana pungutan antara crude dan produk jadi makin besar.”

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kanya Lakshmi Sidarta menilai beleid tersebut merupakan hal yang dilematis. Pasalnya, pelaku industri mendorong hilirisasi di dalam negeri, tapi pabrikan CPO telah memiliki perjanjian dagang dengan pelaku industri di negara tujuan ekspor.

“Kalau kami ibaratnya mau menggenjot semua [hilirisasi] di dalam negeri, nanti dunia marah karena dunia sudah melakukan investasi untuk membeli produk-produk [lokal],” katanya.

Berdasarkan catatan Gapki, volume ekspor CPO pada Januari-Agustus 2020 merosot 11 persen secara tahunan menjadi 21,3 juta ton. Adapun, penurunan tersebut didorong oleh lesunya permintaan produk olahan CPO mencapai 16,1 persen menjadi 12,8 juta ton.

Kanya menyatakan secara singkat pihaknya mendorong usaha hilirisasi industri CPO. Namun demikian, Gapki meminta agar pemerintah mengkaji nilai bea keluar ekspor CPO dan olahan CPO agar nilai bea keluar yang ditetapkan lebih sesuai.

 

Sumber: Bisnis.com

,

Industri Sawit di Bawah Tekanan Regulasi

Walaupun komoditas strategis, pelaku usaha sawit merasakan kebijakan dan regulasi tidaklah menguntungkan. Terlalu banyak kementerian dan lembaga negara yang mengaturnya.

Pada awal Oktober lalu, sejumlah tokoh dan pelaku senior perkebunan sawit berkumpul dalam diskusi webinar mengenai ancaman terhadap sawit. Ancaman ini bukan datang dari luar negara. Tetapi datang dari pemerintah melalui kebijakannya.

“Sawit ini menghadapi banyak persialan dan ancaman. Ini harus bisa dilihat secara mendalam. Jangan sampai nasibnya seperti rempah-rempah di abad 18 dan 19 lalu,” ujar Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) ketika berbicara dalam diskusi yang dihela oleh GAPKI Sumut dan Aceh.

Sahat mengatakan sawit merupakan tanaman ajabi karena satu-satunya pohon menghasilkan 2 jenis minyak nabati yaitu lauric & palmitic. Tanaman ini diproyeksikan dapat menjadi substitusi minyak bumi. Secara kimiawi, minyak sawit menghasilkan Industrial Vegetable Oil (IVO)  menyerupai Solar C 16-18 dan  ILO menyerupai Avtur C-12.

Dikatakan Sahat, karakteristik minyak sawit sangatlah unik. Karena terdapat kandungan nutrisi yang diperlukan oleh tubuh seperti, α-Carotene, β – Carotene, Vit. E, Lycopene, Lutein, Sterol, Unsaturated FattyAcids, UQ-10. Selanjutnya, kandungan Saturated Fat ( palmitic) dan Unsaturated Fat ( oleic) seimbang, serta tidak mengandung trans fatty acids. Itu sebabnya, produk turunan sawit banyak dipakai industri makanan dan non makanan.

Kelebihan tanaman emas hijau ini mempunyai produktivitas tanaman tertinggi diantara tanaman minyak nabati lainnya sekitar 8-10 kali. Apalagi tanaman ini merupakan tanaman tahunan bukan semusim seperti minyak nabati lain. Rentang waktu usia tanaman ini sangat Panjang mencapai 22-25 tahun. Setelah itu tanaman diremajakan karena masuk usia tua.

Sahat menjelaskan hasil biomass sawit luar biasa dibandingkan dengan minyak nabati lain. Biomass dari sawit bisa 8 – 10 kali. Selain itu, sawit termasuk harganya juga murah murah di bawah harga Rapeseed Oil dan minyak nabati lain. Sebab harganya jauh lebih murah ketimbang minyak Rapeseeed. Selisihnya antara $US120-$US180 per ton.

“Harga CPO lebih murah. Kalau misalnya harga minyak sawit $US670 per ton, Rapeseed sudah $US790 per ton. Ini kita pakai harga acuan CIF Rotterdam,” katanya.

Keempat kelebihan inilah yang menjadikan CPO dan PKO mengungguli pangsa pasar soybean oil dan rapeseed oil. “Tidak heran tanaman ini dimusuhi banyak produsen minyak nabati lainnya melalui beragam kampanye di pasar global seperti deforestasi dan lingkungan,” jelasnya.

Sahat menyebutkan kampanye negatif tadi telah masuk ke semua lini di masyarakat yang menjelekkan sawit ini termasuk sejumlah media. Dan sayangnya, orang Indonesia sudah banyak yang terpengaruh oleh isu-su yang ditabur itu; hampir di segala lini termasuk oknum wakil rakyat.

Lebih jauh lagi, Non-Governmental Organization (NGO) memengaruhi KLHK, dan sejumlah kementerian. Alhasil, tidak ada kementerian yang fokus untuk bertanggungjawab tentang serangan terhadap kelapa sawit ini. Di sinyalir ada 17 kementerian yang mengurusi sawit. Lantaran begitu banyak, akhirnya, yang ada justru ribut. “Kenapa bisa seperti ini, ya inilah pintarnya penyusup itu.,” tegas Sahat.

Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif PASPI, menegaskan gerakan anti sawit sudah membajak birokrasi pemerintah. Mereka pengaruhi kebijakan pemerintah. Caranya, membuat regulasi yang tidak berpihak kepada sawit.“Ini berbahaya sehingga membuat sawit semakin terkekang,” ujarnya.

Sebagai contoh, masalah keterlanjuran kebun di dalam kawasan hutan. Ia mengatakan KLHK diminta selesaikan kawasan hutan lewat Peraturan Presiden Nomor 88 Tahun 2017 tentang Penyelesaian Penguasaan Tanah Dalam Kawasan Hutan dan  Peraturan Menteri LHK Nomor P.83/2016 Tentang Perhutanan Sosial. “Kedua regulasi ini tidak menguntungkan sawit. Niat regulasi ini menyelesaikan masalah tumpang tindih lahan. Tetapi tidak dipakai untuk kebun sawit,” jelasnya.

Dr. Sadino, Pengamat Kehutanan, menegaskan regulasi lingkungan hidup dan kehutanan  memang tidak pro sawit. Dapat diindentifikasi masalah tersebut mayoritas terkait legalitas lahan baik yang dialami oleh perusahaan perkebunan, dan juga koperasi perkebunan sawit, petani sawit maupun pekebun.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

,

GIMNI Usulkan Kebijakan Minyak Goreng Kemasan Sederhana Diundur

 

Bisnis.com, JAKARTA – Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menyarankan agar pemerintah menunda kebijakan penggunaan kemasan sederhana dalam menjual minyak curah menjadi pada 2022.

Seperti diketahui, Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 36/2020 tentang Minyak Goreng Sawit Wajib Kemasan mengatur bahwa sosialisasi minyak goreng kemasan sederhana dimulai pada 2021 dan berlaku wajib pada 2022. Aturan tersebut mengatur bahwa ukuran kemasan tertinggi memiliki volume 25 kilogram dalam berbagai bentuk.

“Yang [bikin] heran, sekarang [Kementerian] Perdagangan tenang-tenang saja. Melihat kondisi saat ini, diundur saja ke 2022 [sosialisasinya],” ujar Ketua Umum Gimni Sahat Sinaga kepada Bisnis, Senin (23/11/2020).

Sahat mendata realisasi produksi minyak nabati pada kuartal I/2020 mencapai 1,75 ton. Adapun, realisasi pada kuartal II/2020 dan kuartal III/2020 secara konsisten menurun menjadi masing-masing 1,56 juta ton dan 1,51 juta ton.

Pada awal 2020, Gimni menargetkan produksi oleopangan nasional dapat mencapai 7,1 juta ton. Namun demikian, pandemi Covid-19 membuat Sahat merubah proyeksi tersebut menjadi sekitar 6,4 juta ton hingga akhir 2020.

Sahat menyatakan pendorong utama penurunan produksi tersebut disebabkan oleh menurunnya permintaan pada minyak curah. Dengan kata lain, ucapnya, permintaan minyak untuk warung makan kecil dan pedagang kecil berkurang selama pandemi.

Sahat meramalkan produksi minyak goreng curah hingga akhir tahun akan turun sekitar 35 persen menjadi 2,1 juta ton. “[Produksi minyak goreng curah] ini terendah 5 tahun terakhir.”

Seperti diketahui, potensi pasar minyak goreng di pasar tradisional yang dijual secara curah berkisar 4 juta ton per tahun. Adapun, 20% dari pasar minyak goreng pasar tradisional tersebut merupakan minyak jelantah.

“Jadi, [minyak goreng] yang dari pabrik itu cuma 3,3 juta ton. Dengan menghilangnya jelantah, berarti produksi naik. Alhasil, production cost turun. Maka dari itu, [harga minyak goreng di pasar tradisional diminta] jangan naik. [Kami diminta] cari untung di orang-orang kaya, di ritel modern,” ucapnya.

Sebelumnya, Sahat menyampaikan harga eceran terendah (HET) untuk minyak goreng dengan kemasan sederhana disepakati pada tiga ukuran, yakni Rp11.500 untuk ukuran 1 Kilogram, Rp6.000 untuk ukuran 0,5 kilogram, dan Rp3.250 untuk ukuran 0,25 kilogram. Adapun, HET bagi minyak goreng di pasar modern dapat mencapai Rp13.000—Rp14.000 untuk menyesuaikan margin.

 

Sumber: Bisnis.com

,

Vaksin Covid-19, GIMNI : Optimisme untuk Pelaku Industri

 

Bisnis.com, JAKARTA – GabunganIndustri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menyatakan komersialisasi vaksin Covid-19 pada 2021 akan memberikan optimisme bagi pabrikan. Pasalnya, berjalannya imunisasi vaksin Covid-19 akan membuat kegiatan ekonomi berangsur normal.

Ketua Umum Gimni Sahat Sinaga menyatakan perbaikan permintaan akan dimulai pada kuartal II/2021 saat vaksin mulai dikomersialisasikan. Adapun, permintaan pada kuartal I/2021 akan cenderung stagnan jika dibandingkan dengan kuartal IV/2020.

“[Vaksin] memberikan optimisme. Kehidupan biasa bisa berjalan. Meskipun belum normal, tapi aktivitas kerja sudah mulai meningkat. Tentunya pendapatan ada tambahan. Kami melihat pada 2021 [volume produksi oleopangan[ akan berkembang sekitar 3 persen di atas 2020,” katanya kepada Bisnis, Senin (23/11/2020).

Sementara itu, Sahat menilai keberadaan vaksin akan berdampak lebih besar bagi pasar global. Sahat mencontohkan dengan melonjaknya permintaan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) ke China pada semester II/2020.

Seperti diketahui, Roda perekonomian Negeri Panda mulai kembali bergerak sekitar kuartal III/2020. Adapun, peningkatan ekspor CPO ke Negeri Panda disebabkan oleh kurangnya ketersediaan minyak kedelai yang selama ini dipasok oleh Amerika Serikat dan Argentina.

Oleh karena itu, Sahat meramalkan volume ekspor CPO nasional akan meningkat hingga 8 persen secara tahunan pada 2021 menjadi sekitar 35,8 juta ton. Di samping itu, harga CPO diramalkan akan stabil di kisaran US$700-US$800 per ton.

Price ekspor akan tetap stabil di atas,” ucapnya.

Pada awal 2020, Gimni menargetkan produksi oleopangan nasional dapat mencapai 7,1 juta ton. Namun demikian, pandemi Covid-19 membuat Sahat merubah proyeksi tersebut menjadi sekitar 6,4 juta ton hingga akhir 2020.

Sahat menyatakan pendorong utama penurunan produksi tersebut disebabkan oleh menurunnya permintaan pada minyak curah. Dengan kata lain, ucapnya, permintaan minyak untuk warung makan kecil dan pedagang kecil berkurang selama pandemi.

Sahat meramalkan produksi minyak goreng curah hingga akhir tahun akan turun sekitar 35 persen menjadi 2,1 juta ton. “[Produksi minyak goreng curah] ini terendah 5 tahun terakhir.”

 

Sumber: Bisnis.com

,

Asosiasi: Sawit Indonesia Seksi, Banyak Yang Iri

PaluGatra.com – Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP.,C.APO minta para pihak yang berkepentingan dengan kelapa sawit untuk tidak menengok persoalan yang ada pada industri kelapa sawit itu secara parsial.

Sebab saat ini kata lelaki 48 tahun ini, luas kebun kelapa sawit di Indonesia sudah mencapai 16,38 juta hektar.

Di tengah pandemi Covid-19, sampai September 2020, sektor minyak sawit memberikan sumbangan devisa ekspor sebesar USD 15 miliar.

Oleh sumbangan sawit ini, neraca perdagangan Indonesia pada periode itu dipastikan surplus.

Terus, ada sekitar 2,6 juta tenaga kerja langsung yang bekerja di sektor sawit dan sekitar 3 juta tenaga kerja tidak langsung.

Dari total luas lahan perkebunan sawit Indonesia yang mencapai 16,3 juta hektar, sekitar 7 juta hektar atau 43%, perkebunan sawit rakyat pula.

“Dengan luasan dan hasil segitu, semua cerita tentang sawit menjadi seksi dan oleh luasan segitu, mustahil enggak ada terjadi persoalan di dalamnya. Di satu keluarga saja yang anaknya cuma hitungan jari, masalah pasti ada. Tapi ketika ada masalah pada salah satu oknum, jangan masalah itu seolah-olah menjadi masalah semua. Enggak fair namanya itu,” ujar ayah dua anak ini dalam gelaran konfrensi pers di Palu Sulawesi Tengah, Jumat (20/11).

Kandidat doktor lingkungan Universitas Riau ini kemudian mengurai soal berita pelecehan dan pemerkosaan perempuan di perkebunan kelapa sawit dan pembakaran lahan untuk perkebunan kelapa sawit di Papua.

“Kalau sepintas kita baca, perkebunan kelapa sawit ini seolah-olah penyebab orang melakukan tindakan negatif. Enggak bener itu! Janganlah mengambil segelintir masalah untuk mendiskreditkan semua. Kalau lah upaya diskredit ini sengaja dilakukan, maksudnya apa? Ada apa dan siapa dibalik pendiskreditan ini?” Gulat bertanya.

Andapun kejadian tindakan asusila itu kata Gulat, dimana pun bisa terjadi, itu hanyalah kasuistik dan Gulat yakin aparat penegak hukum di Indonesia akan langsung sigap memproses kasus semacam itu.

Begitu juga dengan pemberitaan soal pembakaran lahan di Papua untuk perkebunan kelapa sawit, ini kejadian 7 tahun lalu, “Kok baru sekarang di share-share? Ada apa? Ini macam disain khusus seolah-olah tanaman sawit penyebab lingkungan dan alam rusak. Kalau terjadi pembakaran dengan sengaja, laporkan. Aparat pasti akan segera menindak. Kalau belum ditindak, persoalan itu saja yg disorot, jangan melebar kemana-mana,” pinta Gulat.

Sawit kata Gulat sudah menguasai 70% pasar global, itu menandakan semua orang di dunia ini butuh sawit.

“Tanaman ini banyak keunggulannya, ragam peneliti dunia sudah mengakui itu. Kalau kemudian ada oknum-oknum yang tidak senang dengan sawit ini lantaran di Negara nya hanya bisa tumbuh tanaman bunga matahari, kedele, jagung dan rapeseed, jangan sawit yang dijelek-jelekkan. Ingat, Tuhan YME sudah mengatur semua untuk hidup dan kehidupan kita. Mari kita syukuri apa yang ada di Negeri kita masing-masing dan jadikan itu jebatan hubungan baik lintas benua dan Negara,” pinta Gulat.

Ketua Apkasindo Sulawesi Barat, Andikasruddin Rajamuda, juga tak habis pikir dengan selalu berkoar-koarnya oknum LSM menjelek-jelekkan sawit.

“Sudah enggak berhasil mendekreditkan sawit dengan isu ini, besok ganti isu lain dan seterusnya. Tapi yang lebih saya sesali adalah oknum LSM itu anak bangsa pula. Terlalu! Jangan hanya lantaran by project atau order, tega menjual dan menjelekkan negara sendiri,” rutuknya

Andika pun menyoroti Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yang tidak gencar memberitakan keberhasilan program tentang sawit yang ada.

“Kan banyak itu yang berhasil. Mulai dari upaya mensustainablekan sawit, lewat Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), Beasiswa, Sarpras, SDM Petani, dan lain-lain. Kemana disain dan media BPDPKS selama ini?” Andi bertanya.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono sepakat dengan apa yang dibilang Gulat tadi.

“Kami memastikan tidak ada eksploitasi pekerja perempuan di industri kelapa sawit Indonesia, khususnya di kebun anggota GAPKI,” katanya.

Jika ada, tindak pidana pelecehan pekerja perempuan, aparat penegak hukum harus mengusut tuntas sesuai hukum yang berlaku. Sebab itu merusak citra seluruh industri kelapa sawit di mata publik.

“Kami memastikan perusahaan sawit anggota GAPKI sudah menyediakan lingkungan kerja yang kondusif dan layak bagi para pekerja di perkebunan sawit,” ujar Joko.

Anggota GAPKI kata Joko berkomitmen menerapkan prinsip keberlanjutan sesuai standar dan kriteria Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan akhir tahun ini, semua anggota GAPKI sudah mengantongi sertifikat ISPO.

Mendapatkan sertifikat ini kata Joko tidak mudah,  legalitas yang jelas termasuk kesehatan, keselamatan kerja dan hak pekerja menjadi bagian dari persyaratan itu.

“Perusahaan harus menunjukkan praktek penggunaan tenaga kerja yang baik dan harus mencapai kepatuhan ISPO,” Joko memastikan.

Lewat kolaborasi multipihak bersama lembaga pemerintah maupun organisasi internasional di bidang ketenagakerjaan kata Joko, GAPKI melakukan upaya berkelanjutan untuk mempromosikan praktik kerja yang layak (decent work).

Ada 6 (enam) agenda yang menjadi perhatian GAPKI dan mitrak kerjanya Mulai dari status pekerja, dialog sosial, perlindungan anak dan pekerja perempuan, pengupahan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hingga mendorong pengawasan oleh pemerintah.

GAPKI juga sudah berkolaborasi dengan ILO (International Labour Organisation) dan beberapa LSM internasional uuntuk membangun sistem praktik kerja yang layak di sektor perkebunan kelapa sawit.

Oleh sederet apa yang sudah dilakukan tadilah kemudian Joko menilai kalau insiden yang digambarkan dalam artikel AP itu tendensius.

“Itu sesuatu yang tidak dapat diterima oleh anggota GAPKI. Kami percaya jika jurnalis AP mengunjungi kebun perusahaan dari anggota GAPKI, mereka akan menemukan situasi di mana perempuan mendapatkan kesempatan dan peran yang positif,” jelas Joko.

Bagi Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, pola-pola diskredit yang dilakukan oleh orang kepada sawit hanya persaingan bisnis.

“Dari 50 tahun lalu pembusukan itu sudah ada dan telah mendarah daging. Tinggal lagi kita sekarang memperbaiki hal-hal yang kurang demi sawit berkelanjutan,” katanya.

 

Sumber: Gatra.com

,

Produksi CPO diproyeksi meningkat di tahun 2021

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Produksi crude palm oil (CPO) diperkirakan akan mengalami peningkatan di tahun mendatang. Meski begitu, peningkatan produksi tersebut tidak akan signifikan dibandingkan tahun 2020.

“Untuk tahun 2021, kita memperkirakan produksi akan meningkat tetapi tidak banyak, kalau sekarang 47 juta ton, maka tahun depan mungkin akan bertambah menjadi 48,5 juta ton atau 48 juta ton saja,” ujar Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun dalam diskusi secara virtual, Rabu (18/11).

Derom pun mengatakan, produksi CPO tahun ini akan lebih rendah dibandingkan 2019. Pasalnya, tahun lalu produksi CPO mencapai 47,18 juta ton. Sementara, produksi CPO sampai September 2020 sekitar 34,41 juta ton.

“Kemungkinan produksi akan di bawah sedikit, yakti 46,8 juta ton atau sekitar itu. Karena sekarang itu kuartal IV yang biasanya produksinya lebih rendah dari kuartal III,” terang Derom.

Lebih lanjut Derom mengatakan, di tahun mendatang kebutuhan minyak sawit di dalam negeri akan terus meningkat. Hal ini juga sejalan dengan program B40 yang rencananya dilaksanakan tahun depan.

Dia tak menampik produk minyak sawit Indonesia masih mengalami berbagai tantangan di luar negeri, misalnya berkaitan dengan kampanye hitam dan adanya penurunan konsumsi minyak sawit di India tahun ini. Karena itu, Derom pun mengatakan promosi minyak sawit masih perlu ditingkatkan.

Sementara itu, Derom memperkirakan harga CPO di tahun mendatang pun akan relatif sama seperti tahun ini atau cukup tinggi. Menurutnya, hal ini disebabkan pasokan minyak nabati dari negara lain berkurang. Apalagi, dia berpendapat ada negara yang menahan ekspor minyak nabati meski produksinya cukup besar.

Hal senada pun disampaikan oleh Wakil Ketua DMSI Sahat Sinaga, yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI). Menurutnya, harga minyak sawit di tahun depan juga akan tetap tinggi karena produksi minyak nabati lainnya turun. “Jadi ini adalah rumus supply dan demand, Apalagi per Juli 2021 ada blending B30 dengan B10 maka akan lebih menarik,” jelas Sahat.

Harga CPO yang diperkirakan tinggi di tahun mendatang pun, menurut Sahat akan mendorong petani untuk lebih rajin melakukan pemupukan, sehingga  produksi CPO diperkirakan bisa mencapai 48,5 juta ton.

 

Sumber: Kontan.co.id

,

Lika-liku 109 Tahun Sawit Indonesia

Pekanbaru, Gatra.com – Catatan Kementerian Pertanian itu masih tergolong baru, masih di tahun ini. Bahwa ternyata, luas kebun kelapa sawit di Indonesia sudah mencapai 16,38 juta hektar.

Oleh luasan itu, tiga tahun lalu, Elaeis Guinensiss ini menorehkan rekor tertingginya menyumbang devisa ke Negara, $US22,9 miliar atau setara dengan R320 triliun!

Di kawasan Serpong Provinsi Banten Kamis pekan lalu, dalam Forum Group Discussion (FGD) “Outlook Industri Kelapa Sawit Indonesia” bikinan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Fadhil Hasan dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengurai kalau prognosa produksi Crude Palm Oil (CPO) Nasional tahun ini mencapai angka 45 juta metrik ton.

Masih pada prognosa di tahun yang sama, ekpor biodiesel, CPO, Refined, Laurik dan lain-lain, kalau ditotal sudah mencapai 31,7 juta metrik ton.

Angka ini masih akan merangkak naik lantaran pada prognosa tahun depan yang dibikin Fadhil, produksi CPO plus Palm Kernel Oil (PKO) akan berada di angka 52,3 juta metrik ton. Ekspor 36,4 juta metrik ton.

Meski bergumul dengan sederet tantangan internal dan eksternal, mulai dari ketidakpastian berusaha akibat ego sektoral dan tantangan operasional dalam budidaya, industri sawit kata Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun, terus meningkat. Sederet terobosan dan inovasi seperti refine and unmodified oli, energi, hingga oleochemical terus berkembang.

Peraturan Menteri Keuangan nomor 11/2011 kata Derom telah mendorong hilirisasi. Ini terlihat dari kapasitas refinary yang di tahun 2011 masih 46 juta ton membengkak menjadi 65 juta ton 8 tahun kemudian.

Di bidang energi runut Derom, salah satu terobosan yang saat ini menjadi perhatian adalah Katalis Merah Putih. “Katalis merah-putih ini merubah sawit menjadi biohidrokarbon, menjadi asupan Kilang Biohidrokarbon untuk menghasilkan Diesel Bio H dan juga Bensin Bio H,” kata lelaki 80 tahun ini kepada Gatra.com, Selasa (17/11).

Lantas, produk minyak sawit spesifikasi baru bernama Industrial Vegetable Oil (IVO) sudah nongol pula. Adalah teman sekampus Derom, Sahat Sinaga dan kawan-kawan yang menggeber itu.

Biodiesel yang mulai dikembangkan pada tahun 2006 dengan bauran B-5 juga mengalami peningkatan signifikan. “Dengan meningkatnya kualitas Fatty Acid Methyl Esters (FAME), kita sudah bisa masuk ke bauran B-30,” kata alumnus Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Saat ini, kapasitas Biodiesel Indonesia kata Derom sudah mencapai 11,5 kilo liter per tahun. Kapasitas ini masih akan bertambah sekitar 600 kilo liter per tahun lantaran investasi di industri FAME, masih terus tumbuh.

Industri oleochemical. Delapan tahun terakhir, industri ini sangat pesat, baik kapasitas maupun jumlah produsen. “Tahun 2011, baru 5 perusahaan yang bergerak di industri ini dengan kapasitas total 2,3 juta ton. Sekarang, jumlah perusahaan sudah 21 dengan produksi sekitar 11,3 juta ton,” Derom merinci.

Pesatnya industri itu kata Derom tak lepas dari insentif investasi yang diberikan oleh pemerintah sejak 8 tahun silam. Maka tak heran, sekitar 85 produk sudah dihasilkan oleh industri ini.

Dari urain di atas, siapapun akan bilang kalau kelapa sawit memang moncer. Meski Indonesia sedang dihadang pandemi, industri kelapa sawit nyaris tak terganggu.”Delapan tahun terakhir sawit sudah berada pada posisi kontributor terbesar,” Derom memastikan.

Industri sawit, baik perkebunan dan industri hilirnya telah menyerap tenaga kerja yang sangat besar. Industri sawit ini telah berdampak kepada sekitar 25-30 juta jiwa orang Indonesia. “Tak ada yang bisa memungkiri kedigdayaan itu,” ujar Derom.

Secara keseluruhan kata Derom, industri sawit masih menjadi andalan untuk penopang perekonomian Indonesia. Industri ini juga mampu menjadi daya tarik bagi investor baik dalam maupun luar negeri.

Pada masa depan kata Derom, tantangan yang dihadapi oleh industri sawit makin berat dan bervariasi. Enggak hanya urusan lingkungan, tapi juga mutu sawit untuk makanan. “Kontaminasi 3-MCPD yang ditetapkan oleh Uni Eropa sebesar 2,5 ppm harus kita selesaikan dengan riset yang mendalam dan juga teknologi yang canggih,” pinta Derom.

Itu tantangan ke depan. Namun yang sedang terjadi juga masih banyak. Sebab sampai sekarang, tanaman asal Mauritius Afrika ini, masih terus direcoki oleh negara Eropa maupun Amerika.

Sawit tidak sehat, merusak hutan, melanggar Hak Azazi Manusia (HAM), masih menjadi isu seksi, tentu bagi pembenci sawit di dua benua tadi.

Di dalam negeri, klaim kawasan hutan masih persoalan pokok petani kelapa sawit swadaya. Sementara 41% (6,72 juta hektar) dari 16,38 juta hektar total luas kebun kelapa sawit di Indonesia, tadi, adalah milik petani.

“Saya senang, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) sangat gigih menyelesaikan kebun petani yang bermasalah dengan klaim kawasan hutan itu dan kami berterima kasih, Ibu Siti Nurbaya Bakar (Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan) yang menyambut baik Ketum dan Sekjen Apkasindo saat menyampaikan permasalahan petani. Komitmen dan pemahaman Ibu Menteri sangat kami hargai,” katanya.

Besok, deretan persoalan dan tantangan terkait sawit itu, bakal menjadi warna pada peringatan Hari Sawit Nasional (HSN) ke-109 yang akan digelar secara virtual yang dipusatkan di Jakarta.

Tiga tahun lalu acara serupa digelar di kantor dan halaman Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), di kawasan jalan Brigjen Katamso 51, Medan, Sumatera Utara (Sumut).

“Tiga tahun lalu itu kali pertama pengurus DMSI bersama sejumlah pemangku kepentingan industri sawit menggelar peringatan Hari Sawit Nasional,” ujar Derom.

Soal HSN ke-109 tadi, Derom menyebut kalau usia itu berdasarkan komersialisasi kelapa sawit pertama di Nusantara yang jatuh pada tanggal 18 November 1911.

Waktu itu, Adrien Hallet, pendiri Societe Financiere des Caouchoucs atau SOCFIN, menyulap lahan seluas 2600 hektar menjadi kebunan sawit di Sei Liput, Pulau Raja dan Deli Muda. Dia dibantu karibnya, M. Bunge.

Sambil mengurusi kebunnya, Adrien juga membantu temannya, Henry Fauconnier, yang membikin kebun kelapa sawit di Tennamaram dekat Rantau Panjang, Malaysia.

“Begitulah ceritanya. Walau tantangan berat soal sawit ini ada di depan mata, saya yakin dengan penelitian yang didukung oleh BPDP-KS dan kemampuan perusahaan-perusahaan menerapkan teknologi canggih, semua itu bisa kita atasi demi menjaga industri sawit masa depan tetap jaya,” ujarnya.

 

Sumber: Gatra.com