CPO MENGEJAR LEVEL TERTINGGI

 

Bisnis, JAKARTA – Harga minyak sawit atau crude Palm Oil diprediksi terus menguat, bahkan mencoba untuk menembus level 3.500 ringgit per ton, level tertinggi dalam 8 tahun terakhir sejalan dengan prospek ekspor yang kian moncer.

Founder Palm Oil Analytics Singapura Sathia Varqha mengatakan crude Palm Oil (CPO) pada perdagangan kemarin menunjukkan sinyal untuk rebound setelah mencatatkan pelemahan pada perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Rabu (16/12) harga CPO untuk kontrak Februari 2021 di bursa Malaysia parkir di level 3.441 ringgit per ton, terkoreksi 0,15%.

Padahal, pada pertengahan perdagangan sempat menyentuh level 3.504 ringgit per ton, level tertinggi CPO sejak 2012. Adapun, sepanjang 2020 harga telah menguat hingga 18,12%, menjadi salah satu kinerja harga komoditas agrikultur terbaik pada tahun ini.

“Harga tampak akan mendapatkan kembali pijakannya dari prospek ekspor yang lebih baik untuk periode Desember dan output produksi yang lebih rendah,” ujar Varqha dikutip Bloomberg, Rabu (16/12).

Mengutip data AmSpec Agri, ekspor CPO dari Malaysia berhasil naik 8,7% dalam 15 hari pertama Desember dibandingkan dengan periode yang sama bulan sebelumnya. Selain itu, lembaga surveyor lainnya, Intertek melaporkan adanya peningkatan ekspor pada periode yang sama sebesar 9,8%.

Sementara itu, data Asosiasi Pabrik Kelapa Sawit Semenanjung Selatan pada 1-15 Desember diperkirakan menunjukkan penurunan. Kelompok tersebut melaporkan bahwa laju pertumbuhan yang mencakup hasil tandan buah segar (TBS), tingkat ekstraksi minyak, dan produksi CPO dalam tekanan.

Untuk diketahui, data tersebut merupakan indikator terdekat untuk kinerja output minyak sawit mentah di Semenanjung Malaysia, salah satu wilayah produksi CPO terbesar di negara itu.

Dengan demikian, data-data itu cukup menggambarkan bahwa pasar CPO saat ini tengah didukung permintaan yang cukup baik, tecermin dari kinerja ekspor, saat produksi tidak sebaik ekspektasi sehingga stok cadangan Malaysia pun diyakini tergerus dan dapat menopang harga untuk bergerak naik.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesai Andy W. Gunawan menuliskan dalam publikasi risetnya bahwa produksi CPO Malaysia pada November turun 13,5% dibandingkan dengan bulan sebelumnya menjadi 1,5 juta ton atau turun 3% secara year on year (yoy).

Hal itu akan menjadi risiko kenaikan harga CPO global mengingat Malaysia adalah produsen CPO terbesar kedua di dunia.

Namun, Andy juga mencatat bahwa ekspor CPO Malaysia periode November turun 22,2% dibandingkan dengan bulan sebelumnya menjadi 1,3 juta ton atau turun 7,3% secara yoy yang justru akan menjadi katalis negatif. “Oleh karena itu, secara keseluruhan, kami berpendapat bahwa harga CPO global akan diperdagangkan dalam dua arah minggu ini, mengingat katalis dua sisi itu,” tulis Andy dalam risetnya.

TERBATAS

Kepala Strategi Perdagangan dan Lindung Nilai Kaleesuwari Intercontinental Gnanasekar Thiagarajan mengatakan bahwa harga CPO sangat rentan untuk terkoreksi karena dibayangi aksi profit taking. Kenaikan yang terjadi sejak awal paruh kedua tahun ini pun sudah mulai tampak terbatas.

“Rawan terkoreksi meskipun dari sisi sentimen ekspektasi ekspor yang baik, stok yang lebih rendah, dan masalah cuaca di Amerika Selatan, tampak akan mendukung harga yang dapat membatasi pe- nurunan,” ujar Thiagarajan, seperti dikutip Bloomberg.

Secara terpisah, analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan bahwa penguatan yang terjadi pada harga CPO saat ini merupakan faktor musiman, ketika akhir tahun umumnya menguat seiring dengan musim dingin yang juga mendukung komoditas energi.

Dia juga menjelaskan faktor global saat ini cenderung bullish untuk pasar risk asset, seperti kebijakan moneter the Fed, stimulus Pemerintah AS, serta vaksin Covid-19 yang dapat melemahkan dolar AS dan menguatkan harga komoditas secara keseluruhan.

Secara teknikal, jika harga CPO dapat mempertahankan kenaikannya setelah menembus level psikologis 3.500 ringgit per ton, mungkin akan menguji level 3.681 ringgit per ton sebelum terus melaju ke level resisten 3.933-4.000 ringgit per ton.

“Tetapi, saya tidak sarankan untuk beli di atas 3.700 ringgit per ton. Apalagi saat first attempt, sangat overbought dan rentan koreksi,” kata Wahyu kepada Bisnis.

Terlebih lagi, CPO juga mendapat katalis negatif baru seiring dengan kabar dari Dewan Energi Nasional Indonesia bahwa pemerintah sedang mengkaji rencana untuk memangkas volume biodiesel yang dicampur dengan bensin untuk program B30 Indonesia pada 2021.

Dewan Energi Nasional mengungkapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tengah berupaya mengurangi volume biodiesel menjadi 8,5 juta kiloliter dari rencana sebelumnya 9,2 juta kiloliter.

Padahal, keseriusan Pemerintah Indonesia menjalankan program B30 menjadi katalis sangat positif bagi harga CPO karena akan membantu penyerapan permintaan minyak sawit itu.

 

Sumber: Bisnis Indonesia