Industri Sawit Lindungi Hak Pekerja Perempuan

 

 

Perempuan yang bekerja di perkebunan kelapa sawit maka sudah selayaknya mendapat perhatian lebih. Ini adalah pengabdian yang luar biasa

Berbagai faktor/alasan yang menyebabkan perempuan memutuskan untuk bekerja, di antaranya membantu finansial keluarga untuk masa depan anak. Karenanya, jika perempuan sudah memutuskan untuk bekerja, pekerja perempuan memiliki peran ganda yaitu sebagai pekerja dan penanggung jawab pertumbuhan serta kualitas anak sebagai generasi penerus.

Seperti diketahui, sesuai dengan kodratnya pekerja perempuan secara berkala akan mengalami haid, kehamilan, melahirkan dan menyusui bayi. Untuk itu, dengan kondisi demikian memerlukan pemeliharaan dan perlindungan kesehatan yang baik agar generasi penerus terjamin kesehatannya.

Berdasarkan alasan di atas Kementerian Kesehatan mempunyai program Gerakan Pekerja Perempuan Sehat dan Produktif (GP2SP). Program ini kerjasama antara Kementerian Kesehatan dengan beberapa instansi, salah satunya perusahaan perkebunan kelapa sawit. Adapun tujuannya adalah untuk meningkatkan status kesehatan gizi pekerja perempuan demia mencapai produktivitas yang maksimal.

Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga, Kementerian Kesehatan, Riskiyana Sukandhi Putra mengatakan perempuan yang bekerja untuk membantu keluarga agar bisa mencapai kehidupan yang lebih baik. “Bahkan ada seorang perempuan yang bekerja di Perkebunan Kelapa sawit maka sudah selayaknya mendapat perhatian lebih. Ini adalah pengabdian yang luar biasa,” ujarnya, saat membuka Webinar Sosialisasi GP2SP di sektor Perkebunan Kelapa sawit di Wilayah Kalimantan, pada Kamis (26 Agustus 2021).

Selanjutnya, dr. Riskiyana menambahkan GP2SP memberikan jawaban berupa pilar-pilar yang menjadi dasar untuk peningkatan imun tubuh dan kebugaran. “Jika ini meningkat maka akan mengurangi absensi kehadiran pekerja perempuan di kantor atau tempat bekerja dan meningkatkan produktivitas. Di sisi lain akan mengurangi biaya di rumah sakit atau pengurangan biaya untuk disabilitas atau penyakit tertentu,” lanjutnya.

Terkait dengan sosialisasi program GP2SP di perusahaan perkebunan Kelapa Sawit, Sashenka F Tahija, Medical Doctor dari PT Hutan Hijau Mas, menjelaskan program yang ada di perusahaannya dalam mendukung program GP2SP, dengan mendirikan Komite Gender yang berfungsi memonitor program GP2SP. “Selain itu, Komite Gender juga bertujuan untuk kesejahteraan anak dan perempuan baik pekerja atau bukan, di area operasional perusahaan,” ucapnya.

“Saat ini, di perusahaan (Hutan Hijau Mas) memiliki 918 pekerja, 214 pekerja perempuan yang bekerja sebagai pemupuk, penyemprot, krani, pencatat TPA dan Guru PAUD,” imbuhnya.

Melihat jumlah pekerja di salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit yang jumlahnya di atas 200 pekerja perempuan, bukanlah angka yang sedikit. Pekerja perempuan memiliki peran ganda yaitu di pekerjaan dan di rumah.

Untuk itu, Yuli Adiratna, Direktur Bina Pemeriksaan Norma Ketenagakerjaan Kementerian Tenaga Kerja mengatakan bagi perusahaan yang sudah menerapkan GP2SP sudah sepantasnya mendapatkan reward dari Kementerian Kesehatan.“Terutama di perkebunan sawit yang karakteristiknya berbeda dengan industri lain. Pemukiman pekerja tidak jauh dari lokasi kerja maka perlu dielaborasi bagi pekerja perempuan di industri sawit,” ucapnya.

 

Sumber: Sawitindonesia.com