Industri Sawit Mulai Kencangkan Ikat Pinggang

JAKARTA-lndustri perkebunan Kelapa Sawit nasional mulai melakukan sejumlah langkah efisiensi demi bisa bertahan di tengah pandemi Covid-19, pergerakan uang masuk dan keluar (arus kas/cash flow) mulai diatur lagi dengan berupaya memangkas biaya yang tidak perlu.

Meski melakukan efisiensi, industri hulu sawit hingga saat ini masih berjalan normal dan memastikan untuk menghindari opsi pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi para pekerja di industri tersebut.

Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kanya Lakshmi Sidarta mengatakan, pandemi Covid-19 sangat berdampak pada keberlangsungan dunia usaha atau industri, termasuk kelapa sawit. Agar industri sawit bisa bertahan di tengah pandemi maka perusahaan sawit harus melakukan strategi, salah satunya efisiensi. Bentuk efisiensi yang dilakukan perusahaan sawit di tengah pandemi Covid-19 di antaranya dengan pengaturan kembali rencana cashflow atau menyiapkan alternatif skenario krisis. “Kondisi ekonomi sedang sulit karena Covid-19, mau tidak mau hal ini berdampak pada seluruh lini industri termasuk sawit, kami masih bertahan, tapi kami lakukan efisiensi,” kata dia kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (14/4).

Namun demikian, Kanya memastikan, perusahaan sawit masih beroperasi di tengah pandemi Covid-19 dengan tetap menerapkan protokol Covid-19 seperti memakai masker dan mencuci tangan. Meskipun produktivitas pekerja tidak maksimal namun industri harus tetap berjalan dan hingga kini belum ada PHK di industri sawit. “Untuk saat ini, belum ada perusahaan sawit yang melakukan PHK dan belum ditemukan perusahaan sawit yang melakukan penutupan pabriknya. Tapi kami memang harus melakukan efisiensi,” ujar Kanya.

Gapki terus memperjuangkan hak pekerja di industri sawit terutama di hulu, bahkan Gapki terus membantu mereka dengan memberikan sembako. Gapki berharap Covid-19 segera berakhir karena membuat ekonomi lumpuh dan tidak bergerak, asosiasi tersebut juga prihatin melihat banyaknya PHK yang terjadi di beberapa sektor industri. Gapki juga peduli terhadap Covid-19 dan sudah menyerahkan sejumlah bantuan alat pelindung diri kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) dan Kementerian Pertanian (Kementan). “Covid-19 telah menjadi masalah global, jika pandemi ini berakhir maka produktivitas sawit akan dua kali lipat,” jelas dia.

Dalam kesempatan itu, Kanya menjelaskan, mewabahnya Covid-19 akan berdampak ke kinerja ekspor minyak sawit nasional, ekspor tahun ini diperkirakan lebih rendah dari 2019. Hal itu karena banyak negara tujuan ekspor yang juga terdampak

Covid-19 sehingga akses pintu masuk banyak yang ditutup. “Kami belum menghitung secara spesifik berapa persen penurunan ekspor minyak sawit, tetapi selagi Covid-19 belum teratasi dipastikan tahun ini nilai ekspor minyak sawit nasional akan turun dan tidak sebagus tahun lalu,” ujar Kanya. Pada 2019, ekspor minyak sawit nasional mencapai 35 juta ton (naik 4%) senilaiUS$ 19 miliar (turun 17%). Penurunan ekspor terbesar kemungkinan terjadi pada pasar Tiongkok, namun bisajadi negara tujuan lain juga signifikan mengingat sudah banyak negara di dunia yang juga menderita pandemi Covid-19 sehingga ekspor sawit Indonesia semakin tertekan. Dalam catatan Gapki, ekspor minyak sawit nasional pada Januari 2020 hanya mencapai 2,39 juta ton, atau turun 35,60% dari Desember 2019 yang masih 3,72 juta ton. Penurunan ekspor terjadi hampir ke semua negara tujuan terutama ke Tiongkok yang turun hingga 57% atau sekitar 381 ribu ton.

Berjalan Normal

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun mengatakan, industri Kelapa Sawit di dalam negeri masih berjalan normal meski ekspor terganggu akibat Covid-19. Selain dampak kebijakan pemerintah yang masih mengizinkan perkebunan dan industri hilir sawit beroperasi secara normal, masih aktifnya petani sawit memanen tandan buah segar (TBS) sawit dan menjualnya ke pabrik Kelapa Sawit (PKS) juga mendorong industri sawit nasional beroperasi normal. “Apalagi, harga TBS juga masih relatif baik dan ditambah tangki timbun masing-masing perusahaan masih bisa menampung produksi minyak sawit mentah (crude paint oil/CPO). Dalam rapat pengurus DMSI melalui video konferensi menyimpulkan meski permintaan turun namun industri masih berjalan normal,” ujar Derom Bangun seperti dilansir Antara.

Menurut Derom, meski stok tangki timbun di pabrik dan di pelabuhan bertambah, namun masih mampu menampung CPO sampai beberapa bulan lagi. Perusahaan industri sawit diperkirakan masih melakukan pembelian dan pengolahan TBS dan CPO hingga bulan Juni. “Karena masih berjalan normal maka belum ada rencana perumahan atau PHK di industri persawitan,” ujar Derom.

DMSI mendorong semua perkebunan dan industri kelapa sawit, termasuk petani, untuk mematuhi anjuran-anjuran pemerintah terkait menjaga jarak agar Covid-19 bisa cepat berlalu. DMSI yakin jika semua unsur-unsur industri sawit mematuhi praktik menjaga jarak tersebut, mencuci tangan dan lainnya yang dianjurkan pemerintah maka perkebunan dan industri Kelapa Sawit akan terhindar dari penyebaran Covid-19 sehingga operasional tetap berjalan lancar.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia