KELAPA SAWIT PUNYA ANDIL BESAR

 

Meningkatnya permintaan komoditas kelapa sawit mengerek kinerja ekspor barang melalui pelabuhan muat
wilayah Sumatra Utara pada Maret 2021 hingga 40,86% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Pengusaha di sektor kelapa sawit berharap pemerintah pusat terus meningkatkan serapan kelapa sawit dalam negeri agar harga bisa tetap bersaing.

Koordinator Fungsi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut Dinar Butar Butar mengatakan golongan barang yang mengalami peningkatan ekspor terbesar Maret 2021 adalah lemak dan minyak hewan/nabati, salah satunya kepala sawit.

“Golongan lemak dan minyak hewan nabati Maret 2021 bertambah sebesar US$235,12 juta atau meningkat 99,45% [month-to-month/m-t-m],” ujarnya, Selasa (4/5).

Dengan penambahan tersebut, total nilai ekspor golongan itu pada Maret tahun ini tercatat US$471,54 juta atau naik 45,28% dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar US$236,42.

Berdasarkan data kuartal 1/2020, ekspor golongan lemak dan minyak nabati tercatat US$1,05 miliar atau naik 48% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar US$719,95 juta.

Moncernya kinerja sektor minyak nabati tersebut telah memberi andil terhadap total nilai ekspor Sumut selama kuartal 1/2021 sebesar 48,11%.

Sekretaris Gabungan Pengusaha kelapa sawitIndonesia (Gapki) Sumut Timbas Prasad Ginting mengatakan tren kenaikan harga kelapa sawit dan minyak sawit mentah dalam beberapa pekan terakhir menjadi penyumbang nilai ekspor Sumut secara signifikan.

Beberapa faktor yang memengaruhi hal itu a.l peningkatan permintaan dari China, disepakatinya perdagangan bebas antara Indonesia dengan Swiss melalui sebuah referendum pada 7 Maret 2021, dan perubahan kurs rupiah.

Meski demikian, Timbas mengatakan jika dilihat dari volume eksporkelapa sawitjustru mengalami penurunan. Namun, karena adanya peningkatan harga komoditas sawit sehingga nilai ekspor secara total ikut terapresiasi.

“Kalau melihat dari volume ekspornya turun 12%, tetapi jangan salah, walaupun [volume] ekspor berkurang, nilai ekspor naik dan perubahan kurs juga berpengaruh di situ,” katanya.

Gapki optimistis bahwa tren peningkatan harga akan terus berlanjut dan berdampak pada peningkatan nilai ekspor CPO terutama seiring dengan bertambahnya permintaan dari Negeri Panda.

Timbas menjelaskan, peningkatan harga CPO dan turunannya pada 2020 membuat nilai ekspor dari Sumut naik 10,54% dibandingkan dengan 2019.

Pada 2020, nilai ekspor CPO dan turunannya dari Sumut mencapai US$2,52 miliar atau naik sebesar US$240 juta dibandingkan dengan nilai ekspor 2019 sebesar US$2,28 miliar. Jumlah ini memberi andil sebesar 31,17 % terhadap ekspor Sumut.

Untuk mempertahankan tren harga positif itu, Timbas mengharapkan kepada pemerintah pusat untuk konsisten dalam mengembangkan biodiesel dari kelapa sawit.

Menurutnya, bila produk turunankelapa sawitlebih banyak dimanfaatkan di dalam negeri, maka volume ekspornya pun akan berkurang. Hal ini membuat permintaan produk kepala sawit di pasar global makin tinggi.

“Kalau pasaran di luar negeri berkurang, tentu harga akan naik karena permintaan makin naik,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Indonesia merupakan negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Sumut adalah provinsi penghasilkelapa sawitkedua terbanyak setelah Riau.

Adapun harga tandan buah segar (TBS)kelapa sawitkelompok usia 10-20 tahun di Sumut mencapai Rp2.566 per kg untuk periode 28 April-3 Mei 2021 dan rata-rata harga crudepalm oil(CPO) Sumut juga menguat dari Rp604 menjadi Rpll.201 per kg.

Harga TBS ini menguat Rpl50 atau 6,2% dibandingkan dengan harga pada 21-27 April 2021 sebesar Rp2.416 per kg.

Harga tersebut disepakati berdasarkan rapat Kelompok Kerja Teknis Tim Rumus Harga TBS produksi petani Provinsi Sumut.

Ketua Kelompok Kerja Teknis Tim Rumus Harga Pembelian TBSkelapa sawitProduksi Pekebun Provinsi Sumut Ponten Naibaho mengatakan penetapan harga ini didasari oleh hargakelapa sawityang diperoleh dari PT Kharisma Pemasaran Bersama, Gapki, dan harga pasar.

Bila dibandingkan dengan harga sawit Sumut pekan terakhir April 2020, harga TBS naik Rpl.004 per kg atau menguat 39% dari Rpl.562 per kg.

Perinciannya, harga TBS periode 28 April-3 Mei 2021 untuk TBS umur 3 tahun Rpl.992 per kg, 4 tahun Rp2.179 per kg, 5 tahun Rp2.304 per kg, 6 tahun Rp2.369 per kg, 7 tahun Rp2.392 per kg, 8 tahun Rp2.455 per kg, 9 tahun Rp2.502 per kg.

Selanjutnya, harga TBS berumur 10-20 tahun dijual Rp2.566 per kg, 21 tahun Rp2.561 per kg, 22 tahun Rp2.526 per kg, 23 tahun Rp2.500 per kg, 24 tahun Rp2.415 per kg, dan 25 tahun Rp2.338 per kg.

Dinas Perkebunan Sumut menetapkan rata-rata harga CPO pekan ini dibanderol Rpll.201 per kg atau menguat Rp604 jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya.

Rata-rata dan harga kernel lokal juga naik menjadi Rp7.833 per kg atau menguat Rp652 dibandingkan dengan pekan sebelumnya.

KALIMANTAN BARAT

Dalam perkembangan lain, komoditas TBS kelapa sawit di Kalbar pada periode II April mencatat harga tertinggi sepanjang 2021 yakni untuk umur 10-20 tahun mencapai Rp2.236,76 per kilogram.

“Berdasarkan hasil penetapan harga untuk periode II April 2021 yang berlaku hingga pertengahan Mei 2021 telah mencatat harga tertinggi sepanjang delapan kali penetapan di 2021 ini,” ujar Kepala Dinas Perkebunan Kalbar Heronimus Hero dilansir dari Antara.

Dia menjelaskan bahwa tren permintaan minyak kelapa sawit mentah atau CPO dunia terus meningkat dan hal itu mendorong harga TBS sawit di Kalbar terus membaik dan stabil untuk harga tertinggi di atas Rp2.000 per kilogram.

Harga TBS sawit untuk periode sebelumnya I April 2021 ditetapkan untuk usia 10-20 tahun Rp2.216.20 per kilogram dan Periode II kembali naik mencapai Rp2.236,76 per kilogram.

Harga tersebut stabil tinggi karena faktor permintaan CPO tinggi. Untuk harga CPO sendiri saat ini di Kalbar Rp9.910,08 dan periode sebelumnya Rp9.772,72.

Hero menambahkan selain faktor permintaan luar, permintaan CPO dalam negeri kini juga meningkat. Hal itu karena oleh kebijakan pemerintah untuk kebijakan B20 dan B30.

“Penyerapan pasar untuk dalam negeri sekarang juga sudah tinggi dengan adanya kebijakan B30 oleh pemerintah. Jadi permintaan luar tinggi dan penyerapan pasar dalam negeri besar maka harga naik,” katanya.

 

Sumber: Bisnis Indonesia