Kementerian Pertanian (Kementan) tengah mencari pasar alternatif ekspor, khususnya komoditas perkebunan, sebagai strategi peningkatan kinerja ekspor di luar pasar Tiongkok. Mewabahnya Virus Korona tipe baru (Covid-19) telah melumpuhkan perekonomian Tiongkok, kegiatan ekspor-impor di negara tersebut dibatasi. Tiongkok adalah negara pertama yang mengalami musibah Covid-19 dan WHO telah menetapkannya sebagai pandemi global.

Covid-19 berasal dari Wuhan, Tiongkok, saat ini penyebarannya sudah meluas termasuk di Indonesia. Penurunan ekonomi Tiongkok sangat berdampak kepada Indonesia karena Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar, produk unggulan ekspor Indonesia mulai dari sawit, kelapa, kakao, karet, kopi, teh, lada, cengkeh, dan kayu manis, tidak bisa dikirim dalam volume besar bahkan dihentikan. Untuk mengantisipasi agar ekspor perkebunan Indonesia tidak menurun maka Kementan sudah mengambil langkah cepat dengan mulai mengkaji tujuan pasar ekspor baru.

Dirjen Perkebunan Kementan Kasdi Subagyono mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan enam strategi utama untuk memperkuat ekspor perkebunan di tengah pandemi Covid-19. Pertama, Kementan siap melakukan lobi perdagangan dengan mitra baru termasuk mendorong ek- spor langsung. Kedua, Kementan juga akan melakukan lobi mengenai kesepakatan tarif bea masuk di negara tujuan dan memberikan kemudahan perdagangan bilateral. Ketiga, meningkatkan jaminan atas kualitas dan ketersediaan produk secara berkelanjutan agar disukai negara mitra.

Keempat, Kementan akan meningkatkan kerja sama perdagangan untuk meningkatkan akses pasar melalui optimalisasi pemanfaatan perwakilan Indonesia di luar negeri. Kelima, Kementan akan berupaya untuk meningkatkan konsumsi domestik seperti program biodiesel 30% (B30) untuk minyak sawit mentah (crude palm oil/CYO) dan aspal untuk karet. Keenam, optimalisasi pelayanan jaringan informasi dan komunikasi secara terintegrasi mulai business to business atau government to government. “Kami akan tetap meningkatkan ekspor perkebunan di tengah pandemi Covid-19, karena meningkatkan ekspor merupakan amanah dari Presiden Joko Widodo,” ujar dia, kemarin.

Menurut Kasdi, dua komoditas unggulan perkebunan yaitu sawit dan karet harus ditingkatkan ekspornya selain ke Tiongkok. Tahun ini, Kementan menargetkan ekspor sawit ke Jerman naik 10%, Amerika Serikat dan Argentina naik 10%, Jepang naik 7,50%. Sedangkan untuk ekspor karet tahun ini, Kementan menargetkan ada pasar baru yaitu ke Afrika Selatan

 

Sumber: Investor Daily Indonesia